http://www.indomedia.com/bpost/042005/13/opini/opini1.htm
Rabu, 13 April 2005 01:58


Gubernur Itu Enak Tenan?
Oleh: Pribakti B

Lima SMS masuk ke handphone saya dari seorang teman. Macam-macam isinya, ada 
yang menggelitik, serius, tapi bisa pula diartikan guyon. Yang menarik adalah 
SMS yang intinya, pengirim berniat memboyong saya sebagai calon gubernur Kalsel 
dalam pilkada Juni mendatang.

Wah! Saya jawab lewat SMS: "Ha, ha,ha ... memangnya gubernur itu gampang dan 
enak?. Jadi gubernur ketoprak mungkin saya penuhi. Tapi, jadi gubernur beneran? 
Berat amat! Wong hidup saja masih grotal-gratul, terbentur kiri-kanan, kok mau 
diangkat sebagai calon gubernur. Apa tidak salah?"

"Ini sungguh-sungguh. Bapak itu hebat. Tidak punya capek, tidak dipusingkan 
oleh banyak soal. Padahal, saya tahu persoalan bapak tidak sedikit," ujarnya 
lewat telepon.

Saya pun garuk-garuk kepala. Ketombe berhamburan. Bayangkan, dari segi umur dia 
lebih muda dari saya walau kini sudah mulai beruban rambutnya. Pengalaman 
organisasinya segudang. Mulai pejabat di rumah sakit hingga tukang ojek 
diakrabinya. Otaknya encer, kendati tak mengenal apa yang dinamakan Sespim, 
Lemhanas dan kawan-kawannya. Pemahamannya soal hidup luar biasa, boleh disebut 
tidak pernah bengkok sedikitpun.

Kendati bukan konglomerat, dia saya anggap dekat dengan Sang Pencipta. Jika ada 
masalah sedikit, misalnya, otaknya langsung ingat Tuhan. Sulit mencari tempat 
parkir, umpamanya, dia 'mengadu' kepada Allah. Selagi bokek pun, dia mengeluh 
kepada Tuhan. Akhirnya, semua itu lewat dengan mudah.

Di mata saya, malah dia yang pantas jadi calon, sebab jadi gubernur itu harus 
bisa menjadi panutan masyarakat. Bahwa ada gubernur pilih kasih, itu soal lain. 
Bahwa ada gubernur yang memanfaatkan bupati atau walikotanya untuk 'nyetor' 
upeti atau mengutip hasil kongkalikong proyek daerah, itu pun 'tradisi'. 

Padahal, mereka tahu yang namanya kekuasaan itu pasti ada batasnya. Akan tiba 
waktunya gubernur diganti. Cuma masalahnya, menyoal pergantian ini seperti 
menggugat 'polisi tidur' yang bertebaran tiap 10 meter di kampung saya. Percuma.

Pembuatnya beranggapan itu hak mereka membikin gundukan -sekalipun tidak 
beraturan-- agar wilayahnya aman, meski tahu itu jalan umum yang dibuat 
developer atau pemerintah. Kebenaran pun secara pelan terpelintirkan.

Hal lain adalah saya tidak punya ilmu dan duit. Padahal, gubernur itu harus 
berilmu, dan ilmu itu pelik. Sedangkan duit perlu, setidaknya untuk membiayai 
lobi kiri kanan. Jelas tak mungkin saya melakukan lobi dengan mengundang makan 
di warung kaki lima. Harus di restoran atau hotel bagus.
Progress Report

Lalu, apa enaknya menjadi gubernur? Status baru itulah sesungguhnya yang 
memberikan kenyamanan jabatan dengan risiko yang justru berkurang, kata teman 
saya serius. Bukankah gubernur itu tinggal mengatur dana dari pusat ke pemda 
tingkat II, serta bagaimana menyeimbangkan tingkat pertumbuhan antarwilayah 
secara lebih adil?

Itu pun kalau mau menjadi gubernur yang baik. Kalau mau jadi gubernur yang 
brengsek malah lebih mudah lagi. Yang berat paling-paling waktu bertanding di 
pilkada untuk bisa terpilih. Bila tidak percaya, coba tanyakan saja kepada 
mereka yang disebut sebagai pasangan calon untuk jadi pejabat pemprop. Bahkan 
setelah terpilih, gubernur juga bisa duduk enak-enakan saja. Tinggal membalas 
budi para 'bandar' kemenangan dengan presentase proyek.

Begitulah. Walau sebenarnya banyak hal bisa dilakukan oleh seorang gubernur, 
tambahnya. Kalau bapak jadi gubernur di tengah penaikan harga BBM seperti 
sekarang, maka bapak harus buka posko 24 jam untuk menampung dan merespons 
persoalan publik. Rakyat boleh datang dan mengadu apa saja. Masalah yang 
mendesak dan bisa diatasi, harus segera ditangani. Tidak mungkin menyelesaikan 
semuanya (karena memang tidak semua perlu diselesaikan?), tapi respons cepat 
seperti ini pasti dihargai masyarakat.

Lebih dari itu, masih banyak ide lain seperti mengenai transparansi yang sedang 
gencar-gencarnya diminta rakyat, harus bapak penuhi. Kalau perlu jangan 
tanggung-tanggung, setiap bulan pasang laporan progress report kinerja pemprop 
di media massa. Terus, melakukan pemilihan 'pejabat teladan bulan ini' yang 
dipilih rakyat dan hanya berlaku satu bulan, begitu seterusnya. Kayak di 
Kentucky Freid Chicken, restoran ayam goreng tepung itu. Pokoknya jadi gubernur 
itu gampang dan enak tenan, katanya dengan senyum. Saya pun manggut-manggut.
Pe De

Jadi siapa sesungguhnya yang pantas menjadi calon gubernur? Apa saja syarat 
yang harus dipenuhi? Entahlah, saya tidak tahu persis. Tapi sepertinya untuk 
bisa menjadi calon, harus punya kelompok pendukung sekecil apa pun kelompok 
itu. Jika seorang calon sudah punya afiliasi partai politik, maka tinggal 
menggalang dukungan partainya supaya solid, serta mengeliminasi calon lain, 
jika ada.

Jika tidak punya partai, maka calon harus melirik kanan kiri, partai mana yang 
kira-kira bisa dijadikan kendaraan untuk menjadi bakal calon. Selain itu, 
syarat terakhir dan terpenting yang perlu dimiliki ialah rasa pe de. Tapi 
celakanya, banyak calon gubernur yang pe de-nya berlebihan.

Seorang politisi atau pejabat yang sesekali diberitakan atau dikutip media 
massa seolah-olah sangat populer, sehingga merasa pantas menjadi calon. 
Disangkanya jika fotonya terpampang di koran, spanduk atau baliho gede di 
persimpangan jalan, semua orang tahu dirinya dan mau mendukungnya.

Lebih konyol lagi, kalau sang calon yang karena keseringan matut-matut diri di 
depan cermin, lama-lama ia merasa pantas jadi calon gubernur. Apalagi ditambah 
dorongan dari lingkungan sekitarnya. Misalnya menyebut, "wah, bapak pantas jadi 
gubernur." Lama-lama sang bapak pun akan yakin, "lihat potongan saya, 
jahitannya pun sudah gubernur." Padahal nanti kalau mereka ternyata hanya 
mendapat suara minim -jangankan sepuluh persen-- satu persen saja ngos-ngosan, 
baru mereka shock - stroke dan kemudian mati ngenes.

Kata orang bijak, apa pun jabatan kita sebetulnya tergantung niat, karena niat 
itu punya kekuatan luar biasa. Jika niat itu lurus sering membuahkan di luar 
dugaan. Sebaliknya, jika niatnya punya pamrih acap berujung jeblok. Atau 
kalaupun dipaksakan sering berakhir dengan ngedumel di hati dan menyalahkan 
orang lain.

Memang, kebiasaan kita cenderung nikmat untuk berilusi. Puas pada diri sendiri. 
Kita mungkin sadar memasuki api yang menyala, tapi belum menyadari akibatnya. 
Seringkali kesadaran itu muncul belakangan, setelah langkah terbentur 
kiri-kanan, setelah kayu berubah jadi arang. Jabatan publik seperti bupati, 
walikota termasuk gubernur sesungguhnya adalah 'musibah' bukan berkah, karena 
mengemban amanat, nurani dan moralitas yang berat. Bagaimana, setuju?
Dokter RSU Ulin, tinggal di Banjarmasin

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke