http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/4/14/o2.htm Kamis Umanis, 14 April 2005 Kolom
Tumbangnya Simbol-simbol Reformasi SIMBOL bisa diwujudkan dengan benda, seseorang dan bangunan yang merupakan pertanda tegaknya keberadaan sebuah eksistensi. Ketika keluarga berencana mulai dikampanyekan di Indonesia menjelang akhir dekade enam puluhan, ia digambarkan dengan pasangan suami-istri yang membawa dua anak dengan sikap cerah. Itu adalah simbol kemakmuran. Sampai sekarang simbol itu masih dipakai, yang artinya gerakan keluarga berencana masih eksis dan diperlukan untuk kesejahteraan masyarakat. Di negara komunis, lambang palu arit merupakan simbol kemakmuran juga. Patung palu arit ada di mana-mana. Tetapi Lech Wallesa adalah simbol perjuangan rakyat Polandia untuk membebaskan diri dari dunia komunis tahun 1980 dan Saddam Hussein adalah simbol perlawanan rakyat Irak dan Arab terhadap Amerika Serikat. Ketika Lech Wallesa gagal menjabat presiden yang kedua kalinya, kini Polandia kembali dipimpin oleh pemimpin berhaluan sosialis, dan saat Saddam Hussein jatuh, boleh dikatakan perlawanan frontal terhadap Amerika Serikat di wilayah Arab sudah meredup. Hal demikian juga terlihat pada diri Soeharto, yang secara langsung meredupkan ''perjuangan'' rezim Orde Baru. Secara teori, untuk menghancurkan sebuah gerakan politik, metodenya cukup mudah. Artinya, tumbangkan terlebih dulu simbol-simbol perjuangan itu, maka secara perlahan ''anak-buahnya'' akan ikut hancur. Dengan demikian, bisa dipahami mengapa Amerika Serikat begitu membabi buta memburu Saddam Hussein dan menghancurkan patung-patungnya di Irak, menangkapi pengikut-pengikutnya dan mensponsori pembersihan lambang palu arit di Eropa Timur begitu Tembok Berlin runtuh tahun 1990. Jika konteks di atas pemaknaannya benar, sungguh ada alasan bagi rakyat Indonesia untuk khawatir atas perjalanan reformasi yang sempat digembar-gemborkan dalam enam tahun terakhir ini. Tertangkapnya Mulyana W. Kusumah atas kasus dugaan penyuapan yang dilakukannya kepada seorang pegawai BPK di sebuah hotel di Jakarta, hanya merupakan salah satu dari sejumlah simbol reformasi yang telah tumbang di Indonesia. Mulyana sebelumnya dikenal sebagai salah satu individu yang kental menyuarakan pembaruan politik di Indonesia. Ia, misalnya, ikut mendirikan Perhimpunan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia dan sempat memimpin Komisi Independen Pemantau Pemilu Indonesia. Jika perkembangannya berlanjut, bukan tidak mungkin KPU (Komisi Pemilihan Umum) juga bisa terlibat tuduhan korupsi. Ini berarti semakin banyak lagi simbol pembaruan politik Indonesia tumbang. Di awal tahun 2005 ini kita melihat betapa perjuangan reformasi mencapai titik nadir. Ketika masyarakat sedang ramai-ramainya menyoroti bencana tsunami Aceh, tiba-tiba saja seorang aktivis LSM Farid Faqih ditangkap dan dituduh menggelapkan bantuan material. Meski jalan prosesnya sempat kontroversial, indikasi penggelapan itu telah terlihat. Kita tahu LSM merupakan salah satu pilar reformasi yang berupaya membantu memberikan bimbingan kepada masyarakat, untuk lebih berdaya, lebih melek dan kritis melihat suatu permasalahan. Di tingkat partai, konflik yang terjadi pada tubuh PDI Perjuangan sudah sampai pada tingkat yang cukup mengkhawatirkan. Pendiri-pendiri partai ini kini telah tersisih oleh kekuatan yang dipandang sebagai status quo. Kemudian ditengarai ada sikap-sikap curang dalam pemilihan ketua umum saat kongres di Bali beberapa waktu lalu, di mana cara itu disebutkan identik dengan cara Orde Baru. Padahal, PDI Perjuangan jelas-jelas merupakan ikon terbesar dari reformasi Indonesia. Bersamaan dengan tertangkapnya Mulyana W. Kusumah, Partai Amanat Nasional juga ricuh di saat melakukan pemilihan ketua umum di Semarang. Amien Rais dituduh sebagai orang yang berada di balik layar atas terpilihnya ketua umum yang baru. Padahal, siapa pun mengetahui Amien Rais merupakan penggerak reformasi yang amat berani menghadapi rezim Orde Baru. Ia juga kerap disebut-sebut sebagai orang yang bersih dari KKN dan tidak mau campur tangan dengan urusan suap-suapan. PAN pun terancam pecah akibat tuduhan yang ditujukan kepada Amien Rais. (Kita tunggu perkembangan PKB yang juga akan mengadakan kongres beberapa hari mindatang). Dengan demikian, hanya tujuh tahun setelah tumbangnya Orde Baru, telah mulai kelihatan terkikisnya mental-mental reformis justru di tubuh simbol-simbol pembaru politik Indonesia itu. Beberapa analis sempat menyebutkan bahwa perkembangan politik Indonesia memperlihatkan grafik 20 tahunan. Jika tahun 1945 Indonesia merdeka, tahun 1965 merupakan puncak dari kegagalan kemerdekaan itu akibat terjadinya saling bantai di antara pengisi kemerdekaan Indonesia. Tahun 1985 terjadi lonjakan kemakmuran akibat naiknya harga minyak. Ini memunculkan kelas menengah baru di berbagai strata sosial masyarakat. Lantas prediksi pesimistis kembali muncul di tahun 2005 ini, bahwa Indonesia justru tidak bisa mempertahankan reformasinya yang mengakibatkan pembaruan politik gagal. Mudah-mudahan segala kasus yang terjadi di awal tahun 2005 ini tidak mencerminkan prediksi di atas. Kita jelas tidak ingin mengulangi kesalahan-kesalahan masa lalu. * GPB Suka Arjawa [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
