Tulisan tentang Soekarno apa pula itu? kemana larinya mutu analisa yang ada 
dikepala penulis? seperti siluman udang saja yang menulis. Banyak sekali point2 
aneh yang terlontarkan disini seperti seorang yang hanya berkutat pada textbook 
tidaklah mengerti sepenuhnya mengenai prinsip sosialis. begini bung, kalau anda 
pernah mendengar rumus Vicarious Experientsnya Bandura disana dia menjelaskan 
pada tahap perkembangan yang matang seseorang tidaklah perlu untuk melakukan 
tahapan belajar Incremental -bertahap, langsung- dalam memperoleh sesuatu, ia 
dapat mendalami segala sesuatu hanya sekedar dengan mencerap dari pengalaman 
yang pernah dialami lingkungan sekitarnya mirip seperti orang yang 
mendekontruksi sebuah text melalui analitik dan persepsi ala dekontruksi 
textnya Derrida pada akhirnya setiap pembacapun akan mendapatkan suatu skema 
atau pengalaman imajinatif yang tidak kalah sempurna bila dihadapkan pengalaman 
langsung. Kau tau ha mengapa pula ada zaman pra sejarah dan sejarah? karena
 tulisan, dengan penulisan, peninggalan orang bisa mempelajari secara jelas 
karakteristik suatu adat, sistem perpolitikan, kebijakan, hukum, hanya lewat 
tulisan dan apa pulak struktur yang ada dalam kegiatan konkrit? apakah konsep 
dari segala gerakan sosialis dapat dimengerti hanya melalui pengalaman langsung 
terjun kedunia sosial? hah? kemana otak lw itu? konsep adalah sebuah abstraksi 
dari ide yang akan mengantarkan seseorang kehadapan dunia nyata, dan karena 
taik yang bernama konsep itulah ada sebuah realisasi dari ideologi, karena 
Textbook, karena tulisan akan lahir sebuah ketetapan-ketetapan yang jelas 
mengenai batasan-batasan kegiatan praksis. Apakah seorang Lenin harus kembali 
keJerman dan merasakan pengalaman minum kopi dan menjilati pantat seorang 
hegelian muda agar mengerti betul makna tersirat dari manifesto komunis? ha? 
haaaaaaaa? kemana otak lw itu? bahkan seorang karl marxpun tidak memerlukan 
observasi langsung keberbagai daerah kapital dan menatap jalannya perekonomian
 secara partisipan untuk mengetahui langsung bagaimana kinerjanya. ITULAH BUNG 
MAKANYA ADA ISTILAH STUDI PUSTAKA. Bung ini lulus SD ga sih? 
 
Dan Soekarno itu kawan, janganlah lw ini asal ngomong, kalau ga tau mending 
diam sajalah tak usah lw sok tau, mungkin gw ini orang baru disini tapi kalau 
ngeliat orang bego sok tau jadi muak juga gw ngeliatnya tau kau ha? begini, 
mengenai Nasakom lw bisa baca dibuku DIbawah Bendera Revolusi atau tengok 
langsung wawancara Soekarno yang secara langsung dikutip oleh encarta 
ensiklopedi. Pada awalnya dia mengadakan pengakuran tersebut bukan karena baik 
hati, balas budi atau taik-taik yang lw lontarkan itu kawanku yang bodoh, 
bukan... bukan... oaaaaaalaaaaaaaaaa dengarkanlah buyuang! dia melakukan ini 
karena melihat adanya sebuah persamaan misi antara Islam dengan Komunis, dimana 
disitu mereka sama-sama berpondasikan pada satu kesejahteraan bersama, 
perlawanan terhadap ketidakadilan dan yang lain sebagainya dengan persamaan ini 
dia mengharapkan dua massa yang dikala itu sedang mengadakan baku hantam satu 
sama lain kembali bersatu dan melawan belanda secara langsung. Dan kawan jangan
 samakan PKI Muso dan Aidit, Muso dikala melakukan pemberontakan mendapatkan 
tentangan dari Tan Malaka yang dimana dia juga disaat itu menjabat sebagai 
perwakilan komitern Sosialis dari Indonesia diUni Sovyet. Disini terlihat bahwa 
ada blok-blok diantara organisasi merah itu sendiri, sehingga kebangkitan PKI 
Aidit adalah kebangkitan sosialis baru yang sama sekali berbeda dengan yang 
pertama, walaupun tidak mengartikan kualitasnya membaik. Lagipula jelas sekali 
lah dizaman Soekarno dulu tingkat korupsi sedikit, prestasi secara 
Internasionalpun kita sering terlihat sebagai pencetus pergerakan-pergerakan 
yang besar dalam skala global seperti pembentukan tiga poros besar 
Jakarta-Moskow-Peking, KTT Non-Blok, Asia Afrika dan masih banyak lagi yang 
lain. Begitupun juga selayaknya Nietzsche Soekarno juga mempunyai hidung yang 
tajam dalam menyium bau-bau busuk neoimperialis seperti bantuan-bantuan 
bersyarat dari PBB, hibah-hibah taek itu yang pada akhirnya hanyalah berakhir 
pada jual beli
 kekayaan serta kedaulatan negara, Soekarno telah mencium itu, begitupun pula 
kalau Soekarno masih memimpin tak ada itu AFTA, AFTA itu sama busuknya dengan 
bantuan bersyarat dan hibah taek lain yang merupakan tak-tik pinjaman yang 
berlatar jual beli kebijakan yang menguntungkan negara peminjam juga segelintir 
aristokrat2 yang doyan onani, namun merugikan satu negara. Lihat saja itu 
Brazil setelah dia berhasil terpancing memakan tulang sapi busuk yang 
diiming-iming oleh negara-negara otak bejad itu, perusahaan dalam negeri 
diswastanisasi, harga barang naik namun UMR mereka turun drastis, kewirausahaan 
yang ada dibrazil disulap menjadi buruh-buruh yang habis-habisan menyambung 
nyawa iblis. Lalu apa? kolaps, inilah yang akan terjadi kalau kita mengecap 
prinsip globalisasi perekonomian yang anarkis itu. Tapi gimanapun juga, saya 
percaya dengan kerja SBY sekarang ini, cukup memuaskan semuanya tampak membaik, 
cukup sudahlah romantika masa lalu ini, masih banyak sekali yagn harus dimaki,
 diberesi dan diurusi. Termasuk juga otak lw itu.

muskitawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Harus diakui penulis dibawah ini banyak bernarnya, SUKARNO tidak cocok
jadi pemimpin besar, prestasi dan jam terbanganya sebagai pemimpin
boleh dikatakan terlalu rendah dibandingkan kaliber2 lainnya yang
disebutkan dibawah tulisan ini.

SINGKATNYA SAJA, SUKARNO ITU PEMIMPIN AKAL2AN MEMANFAATKAN SITUASI
YANG BUKAN SAHARUSNYA UNTUK DIA DAN DIA BERHASI MENGAMBIL ALIH HANYA
DENGAN CARA2 YANG SEBENARNYA BUSUK.

Namun untuk kelas Indonesia, saya masih bisa menjadi pengagumnya,
bukan karena dia hebat, namun tidak ada yang lainnya yang bisa
dikagumi.  Dan saya tidak setuju dia dijadikan teladan pahlawan
sejarah, apalagi melihat prestasi anaknya, ibarat tidak jauh buah
jatuh dari pohonnya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.








--- In [email protected], "xifilsuf" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> --- In [EMAIL PROTECTED], "irmec" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > 
> > 
> > Aku mau respond sama tulisan JD..(sorry aku potong2 tulismu JD, aku
> > ambil yg pas dulu dgn postingku ini). Untuk Van Helsing (ben jij een
> > Nederlander?), sorry bikin penasarn..Begitulah kalau incapble untuk
> > nyetir..:-)), sehingga tergantung oleh jasa pak supir. OK .. katanya
> > nggak boleh basa-basi kata moderator, jadi aku mulailah.
> > 
> > Apa yang membuat Sukarno berani bereksperimen dgn nasokom? Apa
> > kesamaan Sukarno, Lech Wallesa, Spencer dan hampir mayoritas 
> > manajemen guru? Jawabannya ialah background mereka adalah 
> > engineering. Mereka adalah engineer. Aku hilangkan semua atrribute 
> > gelar, dalam definisiku engineer ngak mesti seorang yang tamat dari 
> > universitas (in fact, tamat dari fakultas teknik belum memberi 
> > jaminan bahwa mereka adalah engineer). Apak karakteristik dari 
> > engineer ialah kemauannya untuk membuat sesuatu yang bisa berguna 
> > bagi orang (baik dirinya maupun orang lain). Jika engineer sudah 
> > bisa modifikasi dikit, ambisi dari engineer ialah jadi designer. 
> > Sama seperti pemain musik.. pasti ingin jadi komposer. Dan untuk itu 
> > seorang designer tahu bahwa (meskipun ada teori2 yang basic yang dia 
> > harus tahu), antara "design- yang masih dikepala/bahkan yang sudah 
> > diatas kertas), dgn sesuatu yang in use/playable ada jarak...yang 
> > namanya uncertainties.
> 
> Kenapa Sukarno bisa nekat dengan Nasakomnya? Jawaban standard buku
> sejarah Indonesia yang mau ngasih muka ke Sukarno rata-rata bilang itu
> karena sedemikian cinta dan berhutang-budinya si Sukarno terhadap
> semua elemen di jamannya perjuangan. Nasakom jadinya, sebetulnya lebih
> merupakan refleksi dari rasa cintanya si Sukarno dari pada hasil
> pikiran yang rasional. Nasakom itu adalah ideologi yang
> dipaksa-paksakan serta dipas-paskan agar semua elemen yang ikut perang
> kemerdekaan bisa mendapat tempat. Itu alasan standard buku sejarahnya
> Indonesia.
> 
> Kemungkinan kedua yang saya lihat keluar dari kepribadiannya si
> Sukarno yang rada-rada pengecut itu. Kapan Sukarno pernah perang?
> Nggak pernah! Mungkin karena dia memang takut sama bedil. Proklamasi
> kemerdekaan Indonesia pun sebetulnya sama sekali bukan jasa-jasanya si
> pengecut Sukarno; tapi merupakan jasa-jasanya anak-anak muda di jaman
> itu yang nekat menculik si pengecut Sukarno serta memaksanya untuk
> berani mencuri kesempatan di sikon vakum kekuasaan setelah Jepang
> kalah untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Jadinya,
> kalau saja Indonesia itu betul-betul mengikuti ke-pengecut-an Sukarno,
> bisa jadi kita merdeka bukannya tahun 1945, tapi 1949 setelah Belanda
> mengakui kemerdekaan Indonesia. Bandingkan mentalitasnya si Sukarno
> ini dengan nama-nama yang Anda sebut di atas: Mao jelas-jelas terjun
> perang menghabisi si Jepang anjing dan si kuomintang kaki tangan
> Amerika itu. Lech Walesa berada di barisan terdepan berhadapan dengan
> bedil-bedilnya tentara Polandia. So, dengan mental pengecut model
> begini, yach sudah jelas si Sukarno itu jadi selalu skeptis dan secara
> naluriah hobby cari aman -- skeptisisme & naluri cari aman ini saya
> rasa memang mental tipikal Jawa. Karena itulah, pemberontakan di Jawa
> oleh orang Jawa itu gampang diberesin; habisin saja kepalanya, maka
> nanti kaki tangannya khan habis-habis sendiri mencari perlindungan
> sendiri-sendiri kayak si Harmoko setelah tahu Suharto pasti jatuh.
> Sekali Anda mengerti ini, gampang mengerti kenapa si pengecut Sukarno
> itu niatan merangkul si Na-Sa-Kom. Wong dia dari sononya memang sudah
> selalu takut konflik terbuka koq. Nggak percaya!? Lihat ini, PKI itu
> sebetulnya juga sudah berontak dari jamannya Muso di madiun, kemudian
> itu dihabisi oleh si TNI di bawah Nasution waktu itu; Sukarno sendiri?
> Kayak orang memble pengecut yang nggak berani bersikap takut membuat
> konflik dengan si komunis atau pun dengan si TNI.
> 
> Ketiga, ini konklusi deduktif dari pengalaman pribadi saya sendiri.
> Kenapa Sukarno ngotot sama Nasakom? Nah, mungkin..., mungkin sekali
> karena meskipun Sukarno itu cerdas sekali, juga lulusan sekolah
> Belanda di Indonesia; sayangnya Sukarno itu sama sekali nggak pernah
> melihat dunia. Sukarno itu 100% buatan Indonesia. Jadinya, semua
> pengetahuannya itu rata-rata cuman text-bookish, padahal textbook
> sendiri sering kali nggak bisa merefleksikan keadaan nyata. Contohnya:
> orang yang cuman mengerti komunisme dari baca-baca Marx Lenin Mao
> Bakunin, yach nggak mungkin bisa MEMAHAMI konfliknya si komunis dengan
> si nasionalis atau pun si agamis di kehidupan sehari-harinya (di Eropa
> sana). Sedikit kayak si Poltak misalnya, katanya dia spesialisasi
> Cina; tapi (kelihatannya) dia nggak ngomong Cina dan nggak pernah
> terjun langsung melihat Cina sehari-hari di Cina itu seperti apa;
> AKIBATNYA, semua pengetahuannya pun yach textbookish. Alias semua yang
> dibacanya itu tanpa disadarinya sebetulnya sudah diseleksi secara
> khusus untuk mengedepankan rasionalisasi yang tertentu tentang Cina.
> Atau juga tentang si komunis. Dari sini, otomatis semua yang diketahui
> oleh Sukarno itu rada-rada kayak khayalan toq. Karena itulah dia pun
> nggak bisa memperkirakan besarnya konflik nyata di antara ketiga
> ideologi itu (nasionalisme, komunisme, agamis). Sukarno mungkin yach
> nggak pernah tahu tentang fenomena muslim Crimea misalnya, di mana si
> AGAMIS (muslim) kongkalingkong sama Hitler (si fasis nasionalis)
> karena mereka punya musuh yang sama, yaitu si Stalin (komunis). Lihat
> model konfliknya, apa nggak 100% pleq dengan kongkalingkongnya
> Islam-TNI melawan PKI di Indonesia? Hal yang sama juga kelihatan di
> Yugoslavia, si muslim Bosnia jadi pro-Hitler si fasis nasionalis buat
> melawan si sosialis-komunis Tito. Polanya sama saja! Nah, 'tak jamin,
> ini semua nggak ada di teksbook! 
> 
> Tapi ini harus dialami langsung! Buat konteks Indonesia, maka ini
> contoh nyatanya datang dari pendirinya Boedi Oetomo itu. Nah, apa
> kesamaan mereka? Mereka semua lulusan Belanda dari negara Belanda.
> Mereka tinggal di Belanda. Jadi, kayak Anda tinggal di Amerika, maka
> tentu saja Anda merasakan langsung pengalaman hidup di sini, belajar
> mengapresiasi 'free-speech', demokrasi, pemilu model distrik, dst.
> Sama saja, si Boedi Oetomo itu waktu di Belanda juga ketularan serta
> merasakan langsung ide-ide nasionalisme model Hitler misalnya, yang
> mengimpikan kekaisaran Astro-Hunggaria dibangun lagi. Nah, karena
> mereka terekspose..., maka yach nggak heran setelah pulang ke
> Indonesia pun mereka mendirikan Boedi Oetomo yang nasionalistik itu.
> 
> Itu tentang Sukarno dan proyek sinting nasakomnya itu. Sebetulnya,
> Indonesia bakal 1000 kali lebih baik kalau saja si Sukarno di waktu
> itu nggak plin-plan, dan betul-betul cuman milih satu; entah komunis
> atau nasionalis atau pun agamis. Tapi bukannya sembarang mau dan terus
> berantakan sendiri!
> 
> Tentang tulisan Anda lainnya yang menyinggung 'social engineering':
> 
> 
> > Wah... aku sudah kepanjangan nih nulisnya. Tapi aku mau tutup dulu 
> > deh dgn beberapa reflections:
> >
> > 1. Kalau diperhatikan salah satu kelemahan dari ilmu sosial ialah
> > lebih banyak scientist dari pada "engineer"-nya. Scientist-nya lebih
> > pengen jadi pengamat, daripada pelaku yang ngambil risiko untuk
> > bereksperimen.
> 
> Insinyur kalau gagal experimen, paling banter yach rumahnya terbakar
> habis gara-gara eksperimennya menyebabkan kebakaran. Tapi kalau ilmu
> sosial gagal bereksperimen, kayak eksperimen sintingnya si Mao
> misalnya, jutaan orang bisa menderita!
> 
> 
> > 2. Point pertama tentuku bisa dibantai dgn alasan.. moral... bahwa
> > tidak mungkin bereksperimen dng social system.. Pertanyaan & PR
> > tentunya bagi para scientist.. jadi metode apa yang harus dilakukan
> > utnuk mencoba?
> 
> Bisa pake 'pilot project', bisa juga dari hasil observasi di kanan
> kiri yang kemudian dipikirkan masak-masak. Di Indonesia sendiri
> sebetulnya ada banyak 'social engineering' yang sudah jalan dan sukses.
> 
> Yang positif, tentu saja model-model BKKBN & KB itu. Juga model
> peningkatan gizi masyarakat, semua orang jadi ingat slogan '4 sehat 5
> sempurna'.
> 
> Yang negatif pun juga banyak, dan itu juga bisa kelihatan dari isi
> tulisan sebagian orang-orang di milis-milis begini yang isinya itu
> 100% merupakan sampah-sampah hasil indoktrinasinya Orba dulu. Misalnya
> saja, yang paling nyata: 
> 
> [1] praktis sedikit sekali orang Indo yang 'sadar' bahwa Indonesia itu
> betul-betul adalah negara artifisial yang sebelum tahun 1945 sama
> sekali nggak pernah eksis. Nah, orang-orang ini rata-rata imajinasinya
> sudah dijejali dengan omong kosong tentang nusantara, sumpah palapa,
> kebesaran si Gajah Mada dan majapahit sebagai cikal bakal Indonesia
> modern. Padahal, yach nonsense!;
> [2] Pancasila itu kalau mau didekons, yach jelas-jelas adalah paham
> yang fasis yang mengedepankan si 'ika' dan memarginalisasi si 'bhineka';
> [3] rata-rata orang Indo yach masih takut sama hantu SARA;
> 
> Coba Anda tanya sekarang..., kenapa koq bisa begitu isi kepalanya
mereka?
> 
> Yach karena mereka memang merupakan hasil suat 'social engineering'
> yang secara rasional mengedepankan rasionalitas tertentu yang sangat
> menguntungkan si penguasa.
> 
> Tapi sekarang pun Indonesia juga sedang eksperimen lagi dengan
> 'demokrasi'. Buat bule-bule, secara sangat picik sekali itu malah
> dibaca sebagai "negara Islam pun bisa berdemokrasi". Demokrasi yach
> jelas nggak salah, juga nggak jelek! Tapi, 'demokrasi' buat sikon
> Indonesia itu yach 100% mirip dengan bagusnya pernikahan buat anak
> umur 12 tahun. Belum waktunya dan bisa jadi malah nggak baik sama
sekali!
> 
> Tambah lama eksperimen serta main-matanya Indonesia dengan demokrasi
> ini pun tambah kelihatan cuman menimbulkan malapetaka di sana sini.
> Bukan cuman karena infrastrukturnya nggak siap (model menyelenggarakan
> pemilu pun sebetulnya nggak feasible buat kondisi keuangannya),
> suprastrukturnya pun nggak siap (model bossnya KPU pun bisa nyogok).
> 
> Anda lihat semua negara-negara ketiga yang baru merdeka itu, satu
> persamaan pentingnya ialah semuanya itu praktis tergantung sama si
> pemimpinnya. Cina jadi merdeka itu murni hanya karena seorang Mao;
> sedangkan Cina jadi kaya pun murni gara-gara seorang Deng Xiaoping.
> Singapore itu jadi kaya raya murni hanya gara-gara satu individu
> bernama Lee Kwan Yew. India jadi begini, itu murni gara-gara satu
> Gandhi dan kemudian satu Nehru. Sementara Venezuela pun bisa mulai
> mendistribusikan kekayaannya yach sekali lagi murni hanya gara-gara 1
> orang model Chavez.
> 
> Mau demokrasi? Isinya yach bakal kayak sampah-sampah di MPR/DPR-nya
> Indonesia. Isinya cuman bertengkar toq dan berperang sendiri buat
> kepentingan kelompoknya sendiri-sendiri. Atau juga kayak di Irak
> sekarang, Sunni Syiah & Kurdi baku hantam sendiri.
> 
> Dalam perkiraan saya sendiri, reformasi dan demokrasi di Indonesia itu
> pasti bakal mati sendiri secara alami setelah muncul satu 'orang kuat'
> model Chavez di Venezuela yang bisa memberi rasa keterarahan ke
> rakyat. MPR/DPR itu praktis adalah sampah, sementara lembaga
> presidennya sendiri yach praktis nggak bisa berbuat apa-apa karena
> cuman punya lima tahun masa kerja.
> 
> Lebih celaka lagi, pemilu di Indonesia tidak dijalankan serta
> dimenangkan secara distrik, tapi 100% berdasarkan perhitungan suara
> yang masuk. Artinya, secara logis mau siapa pun presidennya, yach
> tentu saja dia bakal lebih memprioritaskan serta memperhatikan si
> 50%-an pencoblos di Jawa. Alias: demokrasi sialan di Indonesia itu
> bakal tambah menyengsarakan daerah-daerah luar Jawa yang populasinya
> sedikit. 
> 
> Coba pikir logisnya saja: dengan bingkai serta kultur demokrasi model
> ini, maka kalau si SBY mau kepilih lagi maka tentu saja dia cukup
> berbaik-baikan dengan propinsi-propinsi yang pencoblosnya bisa
> diharapkan mencapai 50.01% di saat pemilu. Di lapangan, manifestasi
> dari sistem ini yach tentu saja bakal memanjakan Jawa Sumatra dan
> tambah menganak-tirikan daerah-daerah. Iya khan!
> 
> Tapi akhirnya..., Anda jangan lupa..., sikon sekarang ini pun yach
> masih merupakan suatu bentuk eksperimennya Indonesia!
> 
> 
> > 3. Ini point terakhirku di posting (masih banyak sebenarnya point2
> > lain sebenarnya). Point 1 & 2 membawa kita pada salah satu 
> > pertanyaan dasar, siapa yang boleh bereksperimen dgn social system. 
> > Apakah elite.. yang soon or later akan jadi status quo. JIka kita 
> > pengen involve public secara luas.. bagaimana encourage mereka untuk
> > berpartisipasi dalam eksperimen sosial.
> 
> Per definisi, yang namanya 'social experiment' yach sudah jelas bakal
> 'top-down'. Contoh paling gres dan teraktual, adalah eksperimennya si
> Chavez saat ini juga untuk meningkatkan hasil pertaniannya. Caranya,
> dia mentarget lahan buat sawah diperbesar melalui 'Farmland
> Redistribution Program', yang sebetulnya cuman euphemisme buat 'land
> reform' dalam logat Marxis, atau pun 'transmigrasi' dalam dialeknya
> Orba. See: http://www.npr.org/templates/story/story.php?storyId=4601443
> 
> Tentang eksperimen dengan demokrasi di Indonesia ini sendiri, yach
> jelas-jelas 'bottom-up'. 
> 
> Kadang keterarahan itu bisa merubah nama. Kalau 'top down' kayak di
> Chile atau di jaman Orba misalnya, maka namanya jadi 'social
> engineering'; tapi kalau 'bottom up' namanya jadi 'revolusi' atau pun
> 'reformasi'. Tapi intinya yach sama saja, sama-sama merupakan suatu
> 'social experiment'.
> 
> 
> Salam,
> JD
> 
> PS: tulisan saya tentang Mozart buat menanggapi ketololan si IS di
> banned di apakabar, jadi 'tak posting di proletar &
> apakabar_underground -- keduanya di '@ yahoogroups.com' juga. 
> 
> 
> > Cheers, 
> > Enda





Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 



---------------------------------
Yahoo! Groups Links

   To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
  
   To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
  
   Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke