bikin milis ambon aja yuk, abis si ambon ini menuh-menuhin proletar 
aja

--- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.kedaulatan-rakyat.com/article.php?sid=13699
> 
>       Monday, 25 April 2005, Kolom - Analisis
> 
> 
>       Memuliakan Mulyana Oleh : Harwanto Dahlan     
> 
> 
> 
>        PENANGKAPAN dan penahanan Mulyana W Kusumah dari KPU dengan 
tuduhan melakukan penyuapan terhadap pejabat audit BPK Khairiansyah 
masih menimbulkan kontroversi dan teka-teki. Soal uang yang akan 
digunakan untuk menyuap, misalnya, masih simpang-siur antara uang 
Mulyana sendiri, patungan di antara para pejabat KPU, atau dana 
taktis KPU. Yang menjadi teka-teki adalah mengapa baru sekarang hal 
itu terjadi ketika tugas utama KPU sudah selesai memberi legitimasi 
hasil pemilu dan menjadikan SBY-JK Presiden dan Wakil Presiden RI. 
Hanya satu yang sangat jelas bagi masyarakat yaitu bahwa hal ini 
pasti merupakan permainan politik tingkat tinggi. 
> 
>        Walaupun masyarakat tidak tahu pasti rincian permainan apa 
yang sedang terjadi, namun masyarakat juga orang yang berpikir. 
Dengan memperhatikan apa-apa yang terjadi sebelumnya, masyarakat bisa 
membuat prakiraan. Peristiwa penangkapan Mulyana didahului sebelumnya 
oleh ribut-ribut soal pembentukan "desk Pilkada" di Departemen Dalam 
Negeri. "Meja Pilkada" ini patut dipahami sebagai upaya Depdagri 
untuk mengambil alih 'proyek' KPU dalam pemilihan kepala daerah di 
seluruh Indonesia. Orang tidak perlu berpikir keras untuk tahu bahwa 
sedang terjadi rebutan lahan antara KPU dengan Depdagri dalam 
menyelenggarakan pilkada yang nantinya melibatkan anggaran ratusan 
miliar rupiah. Jika KPU bisa dibuat tidak layak menyelenggarakan 
pilkada, misalnya karena terlibat perkara korupsi, atau secara 
kelembagaan tidak cukup personil untuk melaksanakan proyek nasional 
(karena orang-orangnya sedang ditahan), maka sudah pasti "desk 
Pilkada", yaitu bagian dari Depdagri yang direncanakan mengurusi 
pilkada, yang akan mengambil alih tugas KPU. Apalagi sekarang sedang 
beredar isu bahwa yang dimaksud dengan Undang-undang Pilkada yang 
menyatakan "KPUD bertanggungjawab kepada publik" akan diarahkan pada 
pengertian bahwa yang namanya "publik" itu adalah "negara" (sama 
dengan Administrasi Negara yang kini diganti menjadi Administrasi 
Publik). Dan itu berarti pemerintah. Dan itu bermuara di "meja 
Pilkada" Depdagri.
> 
>       Konon peristiwa ini sudah sampai "ke atas" dan hasilnya Ketua 
BPK sangat tidak berkenan terhadap petugas audit yang bernama 
Khairiansyah karena telah mengobok-obok KPU. Wah, benar-benar tidak 
kita sangka ya kalau permainan politik tingkat tinggi yang sedemikian 
rumit sebenarnya bermotif sederhana, rebutan lahan. Mengapa demikian? 
Ya kalau niatnya memberantas korupsi sungguhan, tentunya KPK (Komisi 
Pemberantasan Korupsi) membuat prioritas kasus, dimulai dengan kasus 
besar seperti BLBI yang sekitar Rp 140 triliun, kemudian yang lebih 
kecil seperti di salah satu bank BUMN yang mencapai Rp 1 triliun, nah 
baru yang miliaran. Ini yang diterapkan Cina dengan prinsip "kalau 
mau menangkap ular, tangkaplah kepalanya."
> 
>       Namun yang tidak dipikirkan secara panjang oleh mereka-mereka 
yang bermain di kasus Mulyana dan KPU adalah efek domino seandainya 
KPU benar-benar dinyatakan lembaga yang korup oleh pengadilan. Bila 
KPU korup maka hasil kerja KPU harus dianggap produk yang juga korup, 
dan dengan begitu bisa dipermasalahkan keabsahan alias legitimasinya. 
Padahal, hasil kerja KPU yang pertama adalah pemilihan anggota DPR 
dan DPD, dan yang kedua adalah pemilihan presiden dan wakil presiden. 
Tanpa harus pusing kita bisa bermain domino: KPU korup, produk KPU 
tidak legitimate: DPR tidak sah, DPD tidak sah, dan akhirnya Presiden 
serta Wakil juga tidak sah! Betapa besar nanti akibat yang bisa 
diprakirakan muncul seandainya Mulyana diproses hukum, atau KPU 
dinyatakan korupsi. Bisa mungkin mereka-mereka yang kalah dalam 
pilpres mempersoalkan legitimasi Pemilu 2004.
> 
>       Untuk mencegah efek domino soal legitimasi, yang lebih 
penting dilakukan oleh lembaga-lembaga yang terkait seperti BPK, KPU, 
KPK, Lembaga Peradilan, atau bahkan mungkin kantor yang lebih tinggi 
adalah memuliakan Mulyana. Skenarionya bisa berupa Mulyana tidak jadi 
dituduh korupsi dan menyuap pejabat audit BPK karena ia mewakili 
lembaga yang harus tidak korupsi, supaya produk-produk lembaga itu 
juga tidak dipermasalahkan. Kini Khairiansyah harus siap-siap tidak 
bisa tidur karena tudingan bisa berbalik...
> 
>       Lalu hiruk pikuk dan lontaran-lontaran pernyataan untuk 
memberantas korupsi? Ah, orang awam juga lama-lama mengerti bahwa hal 
itu tidak serius. Kalau memberantas korupsi itu serius, tentunya 
Indonesia sudah jauh lebih makmur dulu-dulu dan Ibu Kartini bisa 
bangga di surga karena kaum perempuan Indonesia tidak perlu menjadi 
TKI di negeri orang. (Penulis adalah pakar politik UMY)-z.  
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke