Memberi komentar pendapat neuroscientists sebelum membaca buku
    mereka atau sekurangnya memahami garis besar buah fijkiran
    mereka ya nggak bener lah yaau... 

    Lagian anda ngutip omongan saya ngaco... 

On 24 Apr 2005, at 22:09, buyung sihombing wrote:

> 
> 
> 
> Jusfiq Hadjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>         Sejak beberapa dasawarsa terakhir kemajuan penelitian dibidang
>     neuroscience  ini amat mentakjubkan dan beberapa diantara mereka
>     sampai kekesimpulan, in a nutshell, bahwa Tuhan, seperti telah
>     dikatakan oleh Karl Marx seabad setengah yang lalu (cf. The
>     Jewish Question) bahwa manusialah yang menciptakan Tuhan dan
>     bukan Tuhan yang menciptakan manusia. Anthropolog Perancis
>     Pascal Boyer, dengan meneruskan tulisan Edelman menulis buku 'Et
>     l'homme cr�a les dieux" ("Dan manusiampun menciptakan Tuhan" yang
>     adalah pembalikan ungkapan "Dan Tuhanpun menciptakan manusia.." 
> 
>     Atau, menurut istilah Newberg, otak manusia itu wired sedemikian
>     rupa, sehingga ada kebutuhan untuk punya Tuhan. 
> 
>     Kesimpulan mereka itu, tentu saja masih dibicarakan dan
>     didiskusikan dengan sengit oleh masyarakat neuroscientist... 
> 
>     
> ==================================================================
> 
> BS:
> 
> I. Premis-premis:
> 
> (1) Otak manusia wired sedemikian rupa untuk memikirkan keberadaan dan 
> merasakan kebutuhan akan Tuhan.
> 
> (2) Di samping segala potensinya bagi segala kebaikan dan kemuliaan, manusia 
> juga memiliki berbagai individualitas dan ketidaksempurnaan. Akibatnya, 
> lahirlah berbagai macam konsep tentang apa itu Tuhan. Begitu juga, lahir 
> ketidakmampuan membayangkan apa itu Tuhan. 
> 
> (3) Kepercayaan akan adanya Tuhan tidak terbatas hanya pada manusia awam yang 
> tidak pernah mengecap pendidikan atau tingkat pendidikannya rendah. 
> Orang-orang terpelajar dan terpandai sekalipun masih banyak yang mempercayai 
> keberadaan "sesuatu" yang untuk mudahnya disebut Tuhan (mis. Plato, 
Descartes, Newton, Einstein, dll). 
> 
> II. Kesimpulan:
> 
> Keberadaan Tuhan tetap merupakan opsi yang hidup dan tidak dapat ditolak 
> dengan begitu saja. 
> 
> III. Jawaban terhadap keberatan-keberatan:
> 
> (i) Premis (3) mengandung asumsi kekuatan jumlah manusia (appeal to numbers) 
> dan maka dari itu fallacious. JAWAB: appeal to numbers menjadi fallacious 
> jika dan hanya jika apa yang diklaim dengan memakai appeal tersebut telah 
> terbukti keliru secara faktual dan berdasarkan konsensus luas. Tidak 
ada kekeliruan faktual dan tidak pula bertentangan dengan konsensus luas dalam 
meyakini keberadaan Tuhan. Jadi, tuduhan fallacy of appeal to numbers tidak 
berlaku. 
> 
> (ii) Keyakinan dan kebutuhan akan Tuhan hanya bersifat psikologis dan tanpa 
> basis faktual (empiris) yang sahih. JAWAB: Tuduhan yang serupa juga dengan 
> mudah bisa dibalikkan kepada penolak keberadaan Tuhan: penoalakan tersebut 
> juga tidak lebih dari psikologis dan sangat mungkin bersumber dari 
rasa frustrasi tidak mampu menghayati dan memaknai kehidupan seperti yang 
dijumpai dalam literatur ateis general maupun eksistensialis-ateistis. Dus, 
tudingan psikologisme bisa berjalan dua-arah dan tidak ada substansial yang 
bisa didapat dari permainan ini.
> 
> (iii) Kemajuan teknologi dan sains--seperti yang mulai dikumandangkan oleh 
> Auguste Comte (1798-1857)---bakal mengikis habis keyakinan-keyakinan teologis 
> dan metafisis manusia dengan mengubahnya menjadi keyakinan (pola-pikir) 
> saintifik. JAWAB: bahwa manusia tertentu telah berhasil menanggalkan 
pola-pikir teologis-metafisisnya dengan pola-pikir saintifik tetap tidak 
mengubah kenyataan bahwa manusia selalu merasakan insekuritas fundamental dalam 
dirinya yang kemudian sekarang "diobati" dengan "Tuhan" baru yang bernama 
science and technology. Tanpa bermaksud memperjanjang permainan 
psikologisme di atas, struktur psikologis manusia tetap rentan dengan 
keberadaan "lubang di dalam hati sanubarinya" (memakai istilah Santo 
Augustinus) yang harus diisi oleh "sesuatu" untuk menentramkan kegundahan 
eksistensial dirinya. Dus, tidak ada yang spektakuler dari perpindahan 
alegiansi 
dari satu "Tuhan" ke "Tuhan" lain dan justru hanya menegaskan hipotesis 
ontologis kemungkinan keberadaan Tuhan
>  *sebenarnya* yang benar-benar dapat mengisi kekosongan jiwa si manusia. 
> Struktur psikologis manusia dapat dijadikan datum tambahan untuk memperkuat 
> hipotesis ini. 
> 
> Salam,
> 
> buyung
> 
>  
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Yahoo! Small Business - Try our new resources site! 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ****** potonglah bagian bagian dari posting sebelumnya ******* 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> 




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke