http://www.indomedia.com/bpost/042005/26/opini/opini1.htm
Selasa, 26 April 2005 01:52



Manajemen Sebagai Kata Kunci Pembangunan Daerah
Oleh: Drs HM Karsayuda SH MAg


Apa yang terjadi jika politik selalu dijadikan panglima dalam pembangunan? 
Jawaban singkatnya, politik akan menjadi paradigma berpikir dalam pembangunan 
itu sendiri. Paradigma pembangunan yang bernalar politik yang pada dasarnya 
identik dengan kekuasaan akan menghasilkan zero sum game. Yaitu pertarungan 
yang mengharuskan pihak yang satu menang dan yang satu dikalahkan, jika yang 
satu berhasil maka yang lain perlu menghambat. Akibatnya pembangunan menjadi 
tidak berkesinambungan, karena ganti penguasa berarti ganti peraturan. 
Peraturan adalah bukti dari kekuasaan, dan kekuasaan adalah inti dari politik 
(Power is core of the politics; Muqoddim: 2004).

Dalam konteks Indonesia, hal ini bukan sesuatu yang aneh. Di mana setiap kali 
terjadi pergantian kepemimpinan, maka setiap kali itu pula terjadi perubahan 
kebijakan dan peraturan yang dibuat. Adalah bukan sesuatu yang aneh lagi jika 
setiap terjadi pergantian menteri pendidikan, maka akan terjadi pembaharuan 
kurikulum dan pencetakan buku pelajaran baru.

Mungkin menjadi semacam 'keharaman' tersendiri apabila seorang pemimpin yang 
baru terpilih masih mewarisi kebijakan pendahulunya, yang dalam konteks jabatan 
politik (presiden, gubernur, bupati/walikota) secara notabene adalah 
saingannya. Akibatnya sejak krisis moneter pada 1997 sampai sekarang, 
setidaknya republik ini telah empat kali melakukan suksesi kepemimpinan 
nasional. Namun terapi konkret pemecahan krisis tersebut, terkesan kurang 
mujarab.

Bagaimana dengan pembangunan di daerah? Tampaknya juga tidak jauh berbeda. 
Pembicaraan ringan di warung kopi sering mengatakan, setiap kali terjadi 
pergantian bupati maka setiap kali itu pula banyak jembatan yang secara fisik 
masih layak, 'kebelet' diganti, pasar yang masih layak menjadi harus direnovasi 
dan lain-lain.

Bahkan di beberapa daerah terjadi perubahan kebijakan yang dirasa sangat 
merugikan rakyat kecil, seperti dihapusnya subsidi pupuk kepada petani, tanpa 
ada gantinya. Pengalihfungsian hutan lindung menjadi hutan biasa, yang kemudian 
dijadikan lahan tambang dan berefek pada semakin rusaknya alam, pun nekad 
dilakukan penguasa di beberapa daerah di negeri ini.

Pertanyaannya, apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejala pembangunan 
berparadigma politik ini? Tulisan ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan 
tersebut, dengan melihat manajemen sebagai kata kunci pembangunan khususnya di 
daerah.

Manajemen Dan Pembangunan Daerah
Ruh dari manajemen adalah kontinyuitas, yaitu sesuatu yang diupayakan dapat 
digunakan secara berkelanjutan. Jika dalam pembangunan berparadigma politik 
sebagaimana di singgung di atas, pergantian kebijakan menjadi ciri khasnya, 
maka sebaliknya dalam pembangunan berparadigma manajemen segala sesuatu dilihat 
sebagai sebuah upaya untuk mengoptimalkan aset yang ada, termasuk aset yang 
diberikan manajemen sebelumnya.

Di AS misalnya, siapa pun yang memenangkan pemilu, baik Partai Republik maupun 
Partai Demokrat, pembangunan yang dilakukan selalu berkelanjutan. Menurut 
Dwijowijoto, hal ini dapat dilakukan karena pendekatan yang dilakukan adalah 
politik yang memperhatikan paradigma manajemen (Dwijowijoto: 2003). Pembangunan 
yang dipahami dalam makna manajemen, berarti bahwa terjadi proses value 
creation yang berkelanjutan. Selain itu, dalam pembangunan demikian 
mementingkan pendekatan kerjasama tim (Muqoddim: 2004).

Pembangunan dengan basis menejemen ini menarik diangkat dalam konteks 
pembangunan daerah. Sebab sebagaimana ramai diperbincangkan, tidak lama lagi 
beberapa daerah baik propinsi, maupun kabupaten/kota di Indonesia, termasuk 
Kalsel akan menggelar suksesi kepemimpinan daerah lewat pemilihan kepala daerah 
dan wakil kepala daerah secara langsung (pilkadal).

Atmosfer menjelang pilkadal khususnya di Kalsel semakin hari semakin memanas, 
dan ini akan terus terjadi hingga pelaksanaannya Juni nanti. Secara 
psikologis-politik, nuansa yang dihadirkan pilkadal jelas memiliki tantangan 
tersendiri. Sebab, siapa pun akan sulit memprediksikan siapa kandidat kepala 
daerah dan wakilnya yang dapat memenangkan suara rakyat.

Efek dari proses ini adalah akan terjadi shock yang cukup kuat bagi sebagian 
kalangan. Bagi kalangan yang calonnya kalah dalam pemilihan, efeknya adalah 
kekecewaan. Sedang bagi kelompok yang memenangkan pilkada, akan muncul rasa 
berkuasa yang bisa jadi berefek pada pergantian seluruh kebijakan yang dibuat 
pendahulunya. Dalam hal ini, akan muncul kepala daerah yang dengan 'semau hati' 
melakukan perombakan kebijakan, tanpa peduli apakah kebijakan yang dibuat 
pendahulunya masih relevan untuk dilanjutkan atau tidak.

Keadaan demikian yang harus diantisipasi dengan mengedepankan manajemen sebagai 
paradigma pembangunan daerah, terutama pascapilkadal nanti. Pembangunan dengan 
paradigma manajemen yang berkelanjutan di daerah, sudah harus digagas oleh 
siapa pun kepala daerah dan wakilnya terpilih nanti.

Pembangunan daerah yang berbasis manajemen hanya akan berkelanjutan, jika 
mengedepankan kerjasama semua elemen yang ada di daerah setempat. Bukan hanya 
eksekutif dan legislatif, tetapi juga sektor swasta, baik yang berskala besar, 
menengah dan kecil (UKM), LSM, mahasiswa, ulama, termasuk kelompok yang 
'terkalahkan' dalam pilkada.

Pemerintahan dengan paradigma manajemen akan menciptakan pemerintahan yang kuat 
di satu sisi, dan masyarakat yang kuat di sisi lain (strong government and 
strong society). Bukan sebaliknya hanya menciptakan pemerintahan yang kuat, 
tetapi menghadirkan masyarakat yang lemah (strong government and weak society). 
Hal ini dikarenakan hasil akhir dari proses kerjasama seluruh elemen tadi, 
adalah kemanfaatan dan kesejahteraan bagi rakyat sebagai pemegang kedaulatan.

Manajer Yang Baik

Paradigma pembangunan berbasis manajemen mengharuskan orang yang diberi 
wewenang untuk mengelola pembangunan tersebut, memiliki wawasan dan kemampuan 
manajerial yang baik. Dalam konteks pembangunan daerah adalah mutlak untuk 
menghadirkan kepala daerah, yang oleh UU No 32/2004 diberikan kewenangan untuk 
mengelola daerah sebagai manajer yang baik bagi daerahnya.

Dalam konsep besarnya manajemen adalah sistem yang mengarahkan kumpulan manusia 
menuju tujuan bersama baik untuk dirinya, maupun orang lain. Atau dengan kata 
lain, manajemen adalah pengorganisasian suatu tim untuk mencapai tujuan 
bersama. Dengan demikian, seorang manajer yang baik adalah orang yang dapat 
mengarahkan dirinya dan orang lain untuk bekerjasama mencapai tujuan yang 
diinginkan. Dengan demikian, kepala daerah dalam posisinya sebagai seorang 
manajer daerahnya diharapkan dapat mengarahkan dirinya, maupun orang lain untuk 
mencapai tujuan bersama. Dalam hal ini, tujuan pembangunan daerah.

Dalam mencapai tujuan bersama itulah, egoisme termasuk rasa memiliki kekuasaan 
yang lebih dibanding yang lain harus dikesampingkan. Kepala daerah tidaklah 
harus memposisikan dirinya sebagai atasan, melainkan sebagai partner (rekan) 
dengan teman-temannya di pemerintahan. Kendati secara struktural dia berada 
lebih tinggi. Dengan masyarakatnya, kepala daerah harus memiliki kesadaran 
bahwa ia diberikan amanah untuk menyejahterakan mereka. Masyarakat tidak harus 
diposisikan sebagai kaum terpinggirkan, melainkan potensi yang harus diajak 
bekerjasama untuk membangun daerah.

Kepala daerah yang demikian yang akan mampu menjadi manajer daerah yang baik, 
dan bukan sebagai 'raja' di wilayahnya. Sebagai seorang manajer yang baik, 
kepala daerah pascapilkadal memiliki tugas pertama untuk tidak asal 
'membongkar' bangunan yang telah dibuat pendahulunya. Melainkan melanjutkan 
pondasi yang sudah baik atau minimal mengkapitalisasi aset produktif yang 
ditinggalkan pendahulunya, dengan tentu saja harus menghilangkan berbagai 
kelemahan pemerintahan sebelumnya.

Berikutnya sebagai seorang manajer yang baik, kepala daerah harus dapat 
merangkul seluruh elemen yang ada di daerahnya, termasuk kelompok yang pada 
saat pemilihan berseberangan dengannya. Kepala daerah ke depan harus seorang 
figur demokrat yang mau mendengar saran dan pendapat orang lain, serta dengan 
bangga bekerjasama dengan siapa pun, tak terkecuali bawahannya. Sebab hanya 
dengan hal itu kita akan menyaksikan suatu kepemimpinan daerah yang berbasis 
pada manajemen, yang mampu membawa pembangunan daerah yang berkelanjutan dan 
melibatkan semua potensi yang ada, demi kesejahteraan rakyat daerah.

Anggota Masyarakat HST, tinggal di Barabai  e-mail: [EMAIL PROTECTED]

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke