Jawa Pos
Sabtu, 14 Mei 2005,


KPK Periksa Honor Hamid 
Wapres: Bila Jadi Tersangka, Langsung Dicopot dari Kabinet 




JAKARTA - Lampu hijau sudah dinyalakan dari istana. Wakil Presiden Jusuf Kalla 
meminta KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) tidak ragu-ragu untuk memeriksa 
menteri hukum dan HAM yang diduga tersangkut skandal dana siluman di KPU 
(Komisi Pemilihan Umum). 

Menurut Kalla, tidak ada yang kebal hukum bagi semua warna negara di republik 
ini. Karena itu, penanganan kasus dugaan korupsi di KPU diserahkan sepenuhnya 
kepada KPK. "KPK dan pejabat hukum bebas untuk memeriksa siapa saja dan dapat 
memeriksa seperti itu (Hamid Awaluddin)," kata Kalla di Istana Wapres kemarin, 
menanggapi pertanyaan soal apakah pemerintah akan mengizinkan KPK memeriksa 
Hamid jika diperlukan. 

Namun, berdasar pernyataan Hamid, Kalla masih yakin bahwa sejauh ini yang 
bersangkutan tidak terlibat dalam dugaan korupsi di KPU. "Sejauh apa yang 
dijelaskan kepada kita semua dan juga apa yang sudah dijelaskan oleh Saudara 
Hamid di media, bahwa saudara Hamid itu tidak mengetahui dan terlibat dalam hal 
apa yang banyak disiarkan (dugaan menerima dana taktis KPU sebesar sekitar Rp 1 
miliar) tersebut," papar Kalla. 

Ditanya apakah ada kemungkinan menonaktifkan Hamid jika nanti KPK telah 
menetapkan tersangka, Wapres mengiyakannya. Menurut dia, siapa pun pejabat 
negara yang sudah dinyatakan tersangka dan kasusnya sudah masuk pengadilan 
harus dinonaktifkan. "Siapa pun yang tersangka dalam struktur aturan hukum kita 
apabila sudah memasuki tahap pengadilan ya harus dinonaktifkan," papar dia. 

Sementara itu, KPK akan menyelidiki pernyataan Hamid Awalauddin yang mengakui 
menerima honor di luar gaji selama menjadi anggota KPU. "Kami akan menelusuri 
dari mana sumber uang honor itu dan apakah ada aturan internal pemberian 
honor," tegas Ketua KPK Taufikurrahman Ruki setelah menerima laporan audit 
investigatif Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap KPU dari DPR di DPR/MPR, 
kemarin. Hasil audit itu kemarin diserahkan ke KPK oleh Ketua DPR Agung 
Laksono. 

Ruki mengaku, KPK belum bisa menilai apakah honorarium yang diterima Hamid di 
luar gaji tetap tersebut legal atau ilegal. Karena itu, untuk melakukan 
penilaian, KPK akan menelusuri sumber dana dan ketentuan pemberian honorarium 
di luar gaji tetap tersebut. "Setelah kita telusuri sumber uang honor itu, baru 
bisa dinilai legal atau tidak,"tandasnya.

Sebelumnya, Hamid membantah telah menerima dana USD 105 ribu atau hampir Rp 1 
miliar seperti yang dibeberkan oleh Kepala Biro Keuangan KPU Aamdani Amin. 
Menurut Hamid, dirinya hanya menerima berbagai honor selain gaji sebagai 
pejabat KPU. 

Honor itu merupakan kompensasi dari berbagai kegiatan menjelang pemilu, seperti 
keikutsertaan di pokja, penghitungan suara, dan sosialisasi berbagai macam 
kegiatan. Besarnya bervariasi. Adakalanya Rp 1 juta, Rp 2 juta , Rp. 590 ribu, 
atau Rp 700 ribu. Yang jelas, kata Hamid, jumlahnya tidak sampai ratusan juta. 
"Biasanya, honor diberikan jika anggota KPU menjadi anggota panitia kerja. Itu 
pun sekadar untuk transpor," jelas Hamid. 

Menurut Ruki, setelah menerima hasil audit investigatif BPK terhadap KPU soal 
pengelolaan anggaran pemilu yang diserahkan DPR itu, Ruki berjanji, KPK segera 
menindaklanjutinya. Hal itu merupakan kelanjutan penyelidikan terhadap 
sembilaan kasus dugaan korupsi di KPU yang kini sedang ditelusuri bukti-bukti 
dan fakta-faktanya.

Dikatakannya, di antara sembilan kasus itu, lima kasus pengadaan logistik 
pemilu. Kasus lainnya adalah pengadaan buku petunjuk pemilih dan jasa asuransi. 
"Dua kasus lain yang kini kami tangani adalah penyuapan auditor BPK dan dana 
taktis KPU," urainya.

Soal keluhan BPK yang tak dapat melanjutkan audit investigatif terhadap 10 item 
proyek KPU, Ruki minta agar BPK segera melanjutkan audit investigatifnya 
terhadap item-item tersebut. Jika BPK merasa kesulitan memperoleh data 
gara-gara data KPU telah disita KPK, pihaknya siap membantu dan 
memfasilitasinya. "Dengan demikian, kerja sama antara BPK dan KPK dapat 
mempercepat proses ke pengadilan," tandasnya.

Sementara itu, Ketua DPR Agung Laksono berharap KPK dapat segera melakukan 
penyelidikan dan penyidikan terhadap KPU. Dia berharap hasil audit investigatif 
BPK dapat dijadikan salah satu pertimbangan dan alat bukti untuk melakukan 
tindakan terhadap KPU. "DPR berharap seluruh dokumen ditindaklanjuti secepatnya 
oleh (penyidik) KPK untuk dibawa ke pengadilan," kata Agung usai menyerahkan 
hasil audit investigatif BPK terhadap KPU kepada KPK di DPR/MPR kemarin. 


Auditor BPK Diteror

Sementara itu, auditorat Keuangan Negara III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 
Khairiansyah Salman kemarin mengungkapkan bahwa keamanan terhadap dirinya mulai 
terancam. Ancaman itu berasal dari kelompok tertentu yang menghendaki balas 
dendam kepada dirinya serta anggota subtim audit kotak suara lainnya. Ancaman 
itu diterima salah satu pengawalnya melalui short message service (SMS) sekitar 
dua hari yang lalu. 

Khairiansyah mengatakan bahwa dirinya sering menerima ancaman melalui SMS. 
Tapi, ancaman yang diterimanya kali ini cukup keras dan membahayakan 
keselamatan diri dan keluarganya. "Ancaman kali ini lebih mengarah ke fisik," 
katanya saat dikonfirmasi wartawan koran ini melalui telepon selulernya. 

Karena itu, kata dia, dirinya dan keluarganya mulai meningkatkan kewaspadaan. 
Selain itu, dia telah melaporkan ancaman ini kepada KPK. Kemudian, bagaimana 
respons KPK? "KPK sudah menindaklanjuti dengan memasang beberapa alat keamanan 
di rumah saya," ujar pria keturunan Padang kelahiran Medan itu.

Sementara itu, Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas membenarkan bahwa dirinya 
telah mendapatkan laporan dari Khairiansyah Salman mengenai adanya teror 
tersebut. Dia menegaskan bahwa KPK telah mengambil langkah-langkah antisipatif. 
Yakni, dengan lebih memperketat pengamanan terhadap 
Khairiansyah.(arm/ssk/lin/nur/yog) 





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke