Ini Sebagai Wujud Gerakan Buruh, Tani dan Mahasiswa Tahun 1998 yang gagal 
menjatuhkan rezim Orde Baru
(21 Mei 1998) 
Hati-hati Rezim Militerisme SBY + Orang Kiri Yang Oportunis (CC+Polit Biro yang 
disusupi kaum Stalinis)
 
Gerakan Perempuan Menolak Militerisme

...jika kami bunga 
engkau adalah tembok 
tapi di tubuh tembok itu 
telah kami sebar biji-biji 
suatu saat kami akan tumbuh bersama 
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

dalam keyakinan kami 
di mana pun tirani harus tumbang!

(Wiji Thukul, Solo, 87-88; dalam puisi "Bunga dan Tembok")

Militer, militerisme, dan militeristik adalah kosa kata yang tak asing lagi 
bagi kita yang hidup di era Orde Baru. Mengapa? Karen, Orde Baru itu sendiri 
merupakan ujud nyata militer, militerisme, dan militeristik. Lebih dari 32 
tahun, rezim Orde Baru telah memasok kesadaran palsu ke kepala kita dengan 
berbagai pilihan dan keputusan yang dikontrol dan dimanipulasinya. Dan di 
tengah pemerintahan transisi saat ini, meskipun sudah berjalan 6 tahun, namun 
akar-akar kekuasaan Orde Baru tak pernah mati. Dalam pemilu presiden 2004 kini, 
beberapa calon presiden dan wakil presiden yang berlatarbelakang militer dengan 
gigih ikut berkompetisi merebut kekuasaan atau ingin menjadi orang nomor 1 di 
negeri ini. Apa arti semua ini?

Pengalaman Pahit dalam Era Orde Baru

Sebagian besar masyarakat Indonesia telah merasakan pengalaman pahit kehidupan 
berpolitik selama 32 tahun di bawah pemerintahan rezim Orde Baru. Selama kurun 
waktu itu, kehidupan politik masyarakat kita ada dalam pasungan rezim 
militeristik dengan sistem komando, sehingga demokrasi di Indonesia pernah 
hanya menjadi utopia.

Rezim Orde Baru naik ke tampuk kekuasaan dengan dukungan personil-personil 
militer sehingga ketika ia menjalankan kekuasaannya juga dengan format militer. 
Ideologi militer (militerisme) adalah acuan kehidupan politik yang berupaya 
mengutamakan sistem komando, sentralistis, hirarkhis, seragam, dan disiplin.

Hadirnya tentara dalam suatu negara tidak akan menjadi persoalan politik bila 
hanya dilakukan dalam rangka terwujudnya militer profesional, yaitu sebatas 
sebagai agen pertahanan dan keamanan bangsa, contohnya di Inggris, Prancis, 
Amerika Serikat. Pembangunan militer Indonesia (infrastruktur dan sumberdaya) 
oleh Orde Baru tidak akan mengganggu jalannya roda pemerintahan yang 
demokratis, apabila tidak terjadi ekspansi politik militer di lingkungan sipil.

Untuk kasus Indonesia, Orde Baru telah melakukan intervensi pada politik sipil 
melalui doktrin Dwifungsi ABRI. Akibatnya, terjadi penyeragaman dalam segala 
sendi kehidupan di kalangan masyarakat sipil. Semua itu ditujukan untuk suatu 
misi suci yakni "demi persatuan dan kesatuan bangsa". Berbagai indoktrinasi 
dilakukan oleh pemerintahan Soeharto melalui Penataran P4, Kewiraan untuk 
mahasiswa, pendidikan Lemhanas untuk pegawai eselon I dan II, dan sebagainya.


Militerisasi dan Militerisme

Militerisme telah menjadi wacana populer di kalangan publik yang anti-Dwifungsi 
ABRI di Indonesia. Militerisasi dan militerisme dipahami banyak orang sebagai 
bentuk yang sama, yaitu dominasi dan intervensi militer dalam seluruh sektor 
kehidupan masyarakat. Dominasi militer dalam kehidupan masyarakat akan 
melahirkan pemerintahan yang militeristik.

Militerisme erat kaitannya dengan penggunaan kekerasan dalam pemerintahan dan 
dalam masyarakat. Militerisme berarti pula merasuknya nilai-nilai, sikap, dan 
perilaku militer dalam pemerintahan dan masyarakat, seperti komando, hirarkhi, 
disiplin, pemaksaan, loyalitas, kekompakan, dan sebagainya.

Militerisasi artinya militer masuk dan melakukan intervensi kedalam dunia 
politik yang sebenarnya menjadi urusan kaum sipil. Intervensi militer inilah 
yang menimbulkan tumbuhnya rezim otoriter atau rezim militer. Kemudian terjadi 
internalisasi nilai-nilai, ideologi, perilaku, organisasi, dan wacana militer 
kedalam kehidupan sosial atau masyarakat sipil.

Menjamin kelahiran demokrasi di ujung transisi yang serba tidak menentu seperti 
sekarang meniscayakan pembersihan intervensi dan ekspansi militer baik sebagai 
aspek maupun person; nilai-nilai maupun lembaga, dari seluruh ranah kehidupan 
kemasyarakatan yang non-militer. Oleh karena, demokrasi sebagai institusi 
sekaligus kode perilaku berseberangan jalan dengan militer dari sisi apapun. 
Demokrasi tidak akan tegak apabila jabatan-jabatan publik masih diduduki oleh 
tentara; lembaga militer diterima sebagai kekuatan politik alternatif; dan 
perilaku-perilaku militeristik diterima dan tumbuh subur di tengah kehidupan 
masyarakat.

Militerisasi di Indonesia dimulai dengan masuknya militer ke wilayah politik. 
Hal ini dilakukan oleh kalangan perwira yang mengambil-alih urusan-urusan 
non-militer. Kemudian militer merambah ke wilayah kehidupan sipil lainnya, 
seperti ekonomi, yang menjadi landasan material bagi kekuasaan mereka di ranah 
politik. Ekonomi menjadi sumber keuangan untuk membiayai kehidupan sehari-hari 
tentara.

Tabel 1 Jaringan Perusahaan Angkatan Darat di Bawah "Yayasan Kartika Eka Paksi"
Nama Perusahaan dan Sektor Usahanya
1. PT Aerokarto Indonesia
2. PT Asuransi Cigna Indonesia (asuransi)
3. PT Cilegon Fabricators (supplier)
4. PT Kayan River Indah Timber Plywood (Plywood)
5. PT Kultujaya Tri Usaha
6. PT Lukita Wahana Sari
7. PT Meranti Sakti Indah Plywood (perkayuan)
8. PT Meranti Sakti Indah
9. PT Mina Mulia Djaya Bhakti
10. PT Panca Usaha Palopo Plywood (perkayuan)
11. PT Pondok Indah Padang Golf
12. PT Privat Development Finance Company Ofina (keuangan)
13. PT Sinkora Indonesia Lestari
14. PT Sumber Mas Indonesia (HPH)
15. PT Sumber Mas Timber (kayu)
16. PT Tri Usaha Bhakti (Truba) Anugerah Elektronika (konstruksi)
17. PT Truba Gatra Perkasa
18. PT Truba Jurong Engineering (konstruksi)
19. PT Truba Jurong Engineering Pte. Ltd. (kontraktor)
20. PT Truba Sadaya Industri (industri)
21. PT Sakai Sakti (konstruksi)
22. PT Kayan River Timber Product (kayu)
23. PT Sempati Air (penerbangan)
24. PT International Timber Cooperation Indonesia (HPH)
25. PT Bank Artha Graha (perbankan)
26. PT Danayasa Artha (property) 
Sumber: Iswandi, Bisnis Militer Orde Baru, Rosdakarya, Bandung, 1998. 

Tabel 2 Jaringan Perusahaan Angkatan Laut di Bawah "Yayasan Bhumyamca" 
Nama Perusahaan dan Sektor Usahanya
1. PT Bhumyamca Sekawan (commercial estate)
2. PT Admiral Line (pelayaran laut dalam)
3. PT Yala Trada (perdagangan)
4. PT Yala Ladang Kurnia (perkebunan)
5. PT KGA (perkebunan tebu)
6. PT Bank Bahari (perbankan)
7. PT Dok Koja Bahari (galangan kapal)
8. PT ATMI (elektronika)
9. PT Halmahera Kay (perkayuan)
10. PT Bhumyamca Film (perfilman)
11. PT Persada Angkasa (konstruksi)
12. PT Samudera Guna Maritim Utama Konstruksi (konstruksi)
13. PT Yala Gada (penyelaman bawah air)
14. PT Yala Laut (penyeberangan Ferry Bali-Banyuwangi)
15. PT Yala Gitatama (EMKL)  
Sumber: Iswandi, Bisnis Militer Orde Baru, Rosdakarya, Bandung, 1998. 

Tabel 3 Jaringan Perusahaan Angkatan Udara di Bawah "Yayasan Adi Upaya" 
Nama Perusahaan dan Sektor Usahanya
1. PT Chandra Dirgantara (spare part pesawat terbang)
2. PT Upaya Guna Dirgantara (petikemas)
3. PT Kresna Puri Dirgantara (pelayanan jasa)
4. PT Dirgantara Husada (kimia)
5. PT Padang Golf Halim
6. PT Persada Purna Wira (jasa)
7. PT Surya Dirgantara
8. PT Purna Wira Sarana
Sumber: Iswandi, Bisnis Militer Orde Baru, Rosdakarya, Bandung, 1998. 

Tabel 4 Jaringan Perusahaan di Bawah "Yayasan Brata Bhakti" 
No. Nama Perusahaan dan Sektor Usahanya
1. PT Tansa Trisna (perdagangan, kayu, kimia, udang)
2. PT Bhara Induk (HPH, garmen)
3. PT Braja Tama (perdagangan)
4. PT Bhara Union (perdagangan umum, HPH) 
5. PT Asuransi Bhakti Bhayangkara (asuransi)
6. PT Sapta Pirsa Mandiri (klaim asuransi)
Sumber: Iswandi, Bisnis Militer Orde Baru, Rosdakarya, Bandung, 1998. 

Bahaya Militerisme

Mengapa orang menolak militerisme di Indonesia? Ada berbagai alasan penolakan 
itu. Dari tindak kekerasan yang militer lakukan selama ini, banyak pelanggaran 
hak asasi manusia telah terjadi. Pelanggaran itu beraneka ragam jenis dan 
bentuknya.

Tabel 5 Kejahatan Kemanusiaan oleh militer selama Orde Baru  

Peristiwa

Kasus

Tahun

Korban

Keterangan

G30S

Pembantaian massal

1965

500 ribu jiwa

Kasus politik

Papua/Irian

Pembantaian massal

1970-1990

8.000 ribu jiwa

Dituduh GPK

Timor Timur

Pembantaian massal

1973-1998

300 ribu jiwa

Dituduh GPK

DOM Aceh

Pembantaian massal

1980-1990

30 ribu jiwa

Dituduh GAM

Tanjung Priok

Pembantaian massal

1984

250 jiwa

Kasus politik

Makassar

Penolakan tarif

1985

4 mahasiswa

Tuntutan mahasiswa

Haur Koneng

Tanah

1993

25 orang

Dituduh PKI

Talangsari Lampung

Warsidi

 

25 orang

Dituduh GPK

Waduk Nipah

Pembuatan waduk

 

47 orang

Dituduh PKI

Badega

Penggusuran petani

 

230 KK

Perampasan tanah dengan kekerasan

Kedung Ombo

Pembuatan waduk

 

1.000 KK

Perampasan tanah dengan kekerasan

Marsinah

Pembunuhan

1994

1 orang

Tuntutan buruh

Udin (wartawan Bernas Yogyakarta)

Pembunuhan

 

1 orang

Pemberitaan

27 Juli

Kompetisi politik

1996

30 orang

Kasus politik

Trisakti

Turunkan harga

1998

4 orang

Tuntutan mahasiswa

Tim Mawar

Penculikan aktivis

1996-1997

22 orang

Kasus politik

13-14 Mei

Kerusuhan

1998

Ribuan jiwa

50 orang perempuan etnis Cina diperkosa

Lainnya

 

1970-1990

1 juta jiwa

Dituduh PKI/NII/GPK

Sumber: Pembebasan, No.13/Th. IV/ Juni 2004. 

Berbagai pelanggaran itu telah menorehkan luka batin yang amat memedihkan bagi 
generasi korban Orde Baru. Pelanggaran berat, kejahatan kemanusiaan, dan 
kekuasaan yang korup tetap menjadi tumpukan peristiwa yang membekas kuat dalam 
memori kolektif generasi ini. 

Dengan berbagai jenis dan bentuk pelanggaran kemanusiaan itu, yang merasakan 
dampak langsung kekerasannya ialah para perempuan dan anak-anak. Di 
daerah-daerah konflik, korban kekerasan dialami kaum perempuan. Mereka hidup 
dengan beban dan penderitaan yang berat di tengah hari-hari yang bersimbah 
darah. Di mata para korban pelanggaran HAM dan kalangan yang kritis atas 
kekuasaan negara, dominasi militer telah menimbulkan banyak derita, korupsi, 
dan kriminalitas lainnya.

Kekerasan berkaitan dengan ketidakberadaban (uncivility). Keberadaban 
(civility) bisa dimaknai sebagai toleransi, pluralisme, kompetisi, kesetaraan, 
dialog, dan kompromi. Kekerasan yang muncul di tengah masyarakat berjalin 
dengan nilai, etika, ideologi, wacana, perilaku yang gandrung menyelesaikan 
segalanya dengan fisik atau kekerasan.

Karenanya, gerakan masyarakat sipil menolak ketidakberadaban itu. Di Indonesia, 
gerakan perempuan, yang di satu sisi memperjuangkan kepentingannya yang khas, 
di sisi lain menjadi bagian dari gerakan masyarakat sipil, harus berhadapan 
dengan kekuasaan negara yang didominasi oleh kalangan militer. Bahkan dalam 
pemerintahan transisional kini, dominasi itu tidaklah hapus begitu saja. 
Militer masih ada di mana-mana di dalam pemerintahan kita dan mendikte penguasa 
sipil dalam pengambilan keputusan mendasar bagi keberlangsungan hidup rakyat 
dalam berbagai segi, termasuk kepentingan kaum perempuan. Sejak ORBA berkuasa, 
gerakan perempuan telah mengalami penghancuran yang luar biasa karena 
meniadakan organisasi-organisasi perempuan yang pernah ada sebelumnya, yang 
turut dalam menentukan perjalanan bangsa ini. Penghancuran suatu organisasi 
berarti penghancuran platform programnya, kegiatan-kegiatannya, visi-misi, 
prinsip perjuangan, tujuan, dan yang fatal ialah pemberangusan 
manusia-manusianya.

Beberapa alasan mendasar mengapa militerisme berbahaya bagi gerakan perempuan:

� Racun yang dihasilkan persenjataan militer membahayakan lingkungan dan 
kesehatan reproduksi (pembuatan senjata kimia dan biologis). Pangkalan perang 
dan industri persenjataan dapat mencemari udara, tanah, dan air.
� Adanya pangkalan perang meningkatkan pelacuran. Di beberapa negara yang ada 
pangkalan perangnya, angka pekerja seks komersial meningkat. Di Thailand 
misalnya, tahun 1966 jumlah PSK 1246 kemudian pada tahun 1972 menjadi 6234 PSK. 
Di Indonesia, ketika konflik merebak di beberapa daerah (Aceh, Maluku, Poso, 
Papua) gejala pelacuran meningkat. Oleh karena, kebutuhan seks para tentara 
meninggi selama masa perang.
� Militerisme meningkatkan kekerasan terhadap perempuan. Dalam perang atau 
konflik militer melakukan pemerkosaan sebagai alat pemusnahan suatu etnik atau 
kelompok masyarakat tertentu. Di Bosnia, hampir 20.000 perempuan menjadi korban 
pemerkosaan tentara Serbia pada tahun 1990.
� Militerisme memboroskan dana yang diperlukan oleh masyarakat. Perang, darurat 
militer atau apapun namanya selalu menghabiskan dana rakyat.
� Militerisme dan pendudukan militer membatasi ruang gerak untuk melakukan 
kegiatan.Pembatasan ruang gerak untuk melakukan kegiatan selama masa perang 
atau konflik dengan membuat pagar duri, blok, pos periksa atau penjagaan, dan 
sebagainya. Di daerah-daerah konflik di Indonesia, diperlakukan jam malam dan 
operasi-operasi yang ketat terhadap masyarakat sipil. Pembatasan ataupun 
pelarangan dilakukan oleh militer untuk membatasi akses masyarakat sipil 
memperoleh makanan, kerja, dan pengobatan. Untuk perempuan yang sakit, terluka, 
dan melahirkan atau hamil, akan membahayakan kehidupan mereka. Di Israel, 
terdapat 35 kasus kematian pada tahun 2000 akibat dibatasinya kegiatan mereka 
oleh militer Israel.
� Militerisme meningkatkan rasisme dan kegiatan anti-imigran. Tidak rahasia 
lagi bahwa militerisme menyuburkan prasangka rasisme atas nama kebangsaan. 
Penahanan orang berbangsa tertentu dalam perang, atau penangkapan orang-orang 
Timur Tengah di Amerika pasca pemboman menara kembar 11 September 2002. Amerika 
memberlakukan pelarangan ketat terhadap para imigran resmi maupun pencari suaka 
politik. Kalangan perempuan imigran mengalami perlakuan diskriminatif dan 
kekerasan negara.
� Militerisme membungkam perempuan. Selama perang, suara pertama yang dibungkam 
dari telinga masyarakat ialah suara perempuan. Pasca pemboman 11 September 
2002, suara perempuan yang menyerukan perdamaian melalui aksi-aksi jalanan 
dihapus oleh media dengan menyuarakan pidato-pidato George Bush. Hampir 48% 
perempuan Amerika menyatakan pendapat agar tidak dilakukan aksi militer usai 
peledakan itu.
� Militerisme melarang hak prajurit perempuan untuk menggugurkan kandungannya. 
Prajurit perempuan di Amerika tidak diizinkan undang-undang untuk melakukan 
pengguguran kandungan, apabila terjadi kehamilan tak dikehendaki.
� Militerisme mendorong penghapusan hak pilih. Militerisme mendorong negara 
memusatkan perhatiannya pada dukungan keamanan dan program militer. Kebijakan 
ini meniadakan keputusan politik pemerintah terhadap kepentingan perempuan, 
misalnya berkaitan dengan kesehatan reproduksi, pendidikan, perumahan, pangan, 
dan lainnya.

Dengan melihat konteks gerakan perempuan secara menyeluruh, maka upaya untuk 
memberdayakan dan penguatan kaum perempuan dari sisi politik, ekonomi, sosial, 
budaya, dan pendidikan amat bertentangan dengan militerisasi ataupun 
militerisme yang berkembang di Indonesia. Apalagi dalam konteks keadilan dan 
perdamaian secara menyeluruh di tanah air. Melalui pendekatan yang terpadu, 
yang memberikan pemahaman menyeluruh tentang keadilan gender, lingkungan hidup, 
ekonomi, politik, budaya dan hak asasi manusia, gerakan perempuan dapat 
berkiprah mewujudkan dunia yang damai dan berkelanjutan di masa mendatang. (HG)

Bahan Bacaan:
1.Sutoro Eko (ed.), Masyarakat Pascamiliter: Tantangan dan Peluang 
Demiliterisme di Indonesia, IRE Yogyakarta, 2001.
2. Iswandi, Bisnis Militer Orde Baru, Rosdakarya, Bandung, 1998.
3. Ryn Gluckman (ed.), Militarized Zones: Gender, Race, Immigration, 

 





                
---------------------------------
 Yahoo! Messenger  - want a free & easy way to contact your friends online?  

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke