http://www.sinarharapan.co.id/berita/0505/17/opi01.html
Pem-"belajar"-an Multikultural Oleh Fransiskus Borgias M. Secara realis, multikultural ialah kesadaran sosial bahwa di tengah masyarakat ada banyak budaya. Kesadaran itu berdimensi etis: ia menuntut tanggung jawab, selalu terarah ke ortopraksis (tindakan baik dan benar). Michel de Certeau menyebutnya heterologi (Heterologies: Discourse on the Other, Manchester Univ. Press, 1986). Dimensi etis itu menuntut tanggung jawab moral berupa penghormatan, pengakuan, cinta dan per-hati-an akan ada dan kehadiran sesama. Kata per-hati-an sengaja ditulis seperti itu agar segi hati ditonjolkan dalam relasi intersubjektivitas. Segi inilah yang oleh Pierre Bourdieu disebut habitus (Outline of a Theory of Practice, Cambridge Univ. Press, 1977), yaitu gugus kesadaran moral yang tumbuh dari internalisasi nilai kebaikan demi cinta, penghormatan, dan pengakuan akan sesama. Kedua filsuf ini menggemakan etika E.Levinas, filsuf eksistensialis-fenomenologis Prancis (tanggung jawab etis-asimetris dalam relasi intersubjektivitas). Jadi, multikultural berarti kesadaran akan ada dan kehadiran orang lain (heterologi), tanggung jawab etis-asimetris (habitus), dan spiritualitas qolbu, spiritualitas hati (per-hati-an). Meminjam Aa Gym, Qolbu perlu di-manage (manajemen Qolbu), supaya dari sana keluar benih yang baik untuk ditabur di "tanah" persemaian masyarakat, dan menjadi ragi, garam, terang. Itulah makna dasar kata multikultural. Kini kita dengar ungkapan metodologi pembelajaran. Kita harus berpikir ulang tentang maknanya. Tentu orang dengan sadar memilih pembelajaran dan bukan belajar (biasanya kita kenal metodologi belajar). Diksi mencerminkan filsafat yang dianut. Kita simak kata Pem-belajar-an itu. Di balik kata ini ada konsep, ide, gagasan dinamis. Subjek-lah yang harus menceburkan diri dalam kolam-virtual pem-belajar-an. Ia harus proaktif. Ibarat orang yang mau belajar renang: Ia harus ke kolam renang dan mencebur ke dalam kolam dan mulai renang. Setelah ia ada dalam kolam, barulah peran guru renang bisa dimulai. Itupun sebatas memberi arahan, sebab si pembelajar itulah yang punya tubuh untuk direnangkan. Jadi, di balik kata pem-belajaran ini, selain gagasan proses-dinamis, ada pengakuan mendasar akan arti penting sikap proaktif manusia. Hanya dengan itulah orang bisa mengembangkan diri lewat proses jatuh-bangun dalam perjalanan hidup. Itulah pengalaman. "Educare" Segi dinamis pem-belajar-an itu akan saya dalami dengan menilik majalah "baru" pendidikan. Cukup lama, lembaga di bawah KWI (Konferensi Wali Gereja Indonesia), yang menangani pendidikan Katolik, dikenal dengan nama, Majelis Nasional Pendidikan Katolik, MNPK. Singkatan inilah yang menjadi nama majalah lembaga. Selama sekian tahun majalah MNPK ini eksis. Sejak 2004, ada perubahan besar. Perubahan paling menarik ini ialah nama: dari MNPK ke "Educare". Ada beberapa hal menarik: Pertama, nama itu diambil dari Latin. Tetapi yang diambil bukan kata benda educatio (education), melainkan infinitive (infinitivus - Red) educare. Pilihan ini memperlihatkan filsafat decision makers. Kiranya mereka mau menekankan proses-dinamis. Kedua, juga mau ditegaskan bahwa pendidikan seperti budaya (dalam definisi kebudayaan dinamis, sebagai strategi dan bukan piranti, seperti dikatakan van Peursen lewat Strategi Kebudayaan, lebih merupakan kata kerja (verba) daripada kata benda (noun [nomina - Red]). Ketiga, menarik jika kita simak etimologi educare: e-x (keluar dari) dan ducare (menumbuhkan, memelihara, membesarkan, mendidik, mengusahakan). Educare berarti mengusahakan sesuatu dari proses dinamis. Educare juga dekat dengan educere (ex-ducere), artinya mengantar atau menuntun keluar dari: kesempitan, keterkungkungan, keterbelakangan, kebodohan, kegelapan budi. Seluruh proses inilah yang oleh Paulo Freire disebut "konsientisasi", penyadaran (Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan). Jika semua proses ini dilakukan dengan baik, maka masyarakat mampu mendidik diri, sehingga "tidak perlu" lagi sekolah sebagai lembaga-kaku-beku, seperti dicanangkan Ivan Illich, dalam Deschooling Society. Idealisme ini dikembangkan Y.B. Mangunwijaya, lewat sekolah Mangunan-nya, yang dimulai di kalangan terbatas di Yogyakarta, tetapi kini ditiru banyak pihak di seluruh Indonesia. Keempat, dalam arti dinamis itu, seluruh hidup dipahami sebagai "ruang virtual" sekolah tempat manusia membiarkan diri digembleng kurikulum hidup yang tertuang dalam empat patokan dasar: pembelajaran empirik (empirisme), generalisasi (J. Dewey), metode trial-and-error, justifikasi-falsifikasi (K.R. Popper). Dengan itu, akan terjadi pergeseran paradigma (T.S. Kuhn), dan peleburan horizon (H.G. Gadamer), sehingga terciptalah cakrawala baru hasil korelasi (kritis - P.Tillich) antara masa kini aktual (ruang pengalaman kini [hic et nunc - Red]) dan tradisi (ruang pengalaman faktual, sudah terjadi, masa silam, tetapi punya arti untuk masa kini). Bhineka Tunggal Ika Dalam arti ini, tidak ada manusia yang tamat sekolah hidup. Dari sini lahir ungkapan long life education (pendidikan sepanjang hayat), atau pendidikan berkelanjutan. Ini penting, sebab, menurut pepatah Latin, kita belajar bukan untuk sekolah (lembaga, dengan ujian, ijazah, daftar nilai, penentuan lulus, tidak lulus) melainkan untuk hidup (Non scholae sed vitae discimus - Red). Keduanya dapat dikaitkan sbb: fakta multikultural harus menjadi pokok pem-belajar-an. Pertama, ia harus tercantum dalam kurikulum. Kurikulum masyarakat multikultural Indonesia (semboyan kita mencerminkan filsafat multikultural, Bhineka Tunggal Ika), perlu mencantumkan penyadaran multikulturalisme, penyadaran keragaman. Kedua, tidak hanya dicantumkan, melainkan seluruh pem-belajar-an itu harus membuat orang sadar akan keragaman kultural. Semoga dari sana akan muncul, ketiga, apresiasi multikulturalisme. Keempat, dari situ muncul mentalitas dialogis yang menjadi conditio sine qua non (syarat mutlak - Red) era postmodern, baik dalam konteks kultur maupun politik. Kelima, di atas mentalitas itu akan muncul manusia ber-hati, ber-qolbu, humanum, merendah seperti tanah, terbuka terhadap orang lain, heterologi. Menarik jika menyimak etimologi humanum (Latin): kata itu berasal dari humus, tanah. Maka di sini saya hanya mau mengatakan bahwa pem-belajar-an multikultural mendesak untuk dipraktikkan jika kita mau setia pada bhineka tunggal ika, dan jika kita mau hidup sebagai manusia yang panggilan kodrati dan etisnya harus menghormati dan mencintai sesama. Jika tidak, sia-sialah semboyan bhineka tunggal ika dari Founding Fathers kita. Atas dasar kesadaran akan multikulturalisme, semoga kita tidak dihantui heterophobia, ketakutan akan yang lain. Sebaliknya, kita mengarungi sejarah dengan cita-cita dasar cinta akan sesama, heterofilia. Penulis adalah dosen Fakultas Filsafat UNPAR Bandung. Mendalami Multikulturalisme dan Intercultural Theology and Education, pada Katholieke Universiteit Nijmegen, Netherland. Copyright � Sinar Harapan 2003 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
