Kamis, 19 Mei 2005,
TPF: Polly Kontak Muchdi

Setelah Munir Meninggal Karena Racun Garuda
JAKARTA - Dugaan keterlibatan orang-orang Badan
Intelijen Negara (BIN) dalam pembunuhan Munir
perlahan-lahan mulai tersingkap. Tim Pencari Fakta
(TPF) Munir menemukan bukti terbaru bahwa tersangka
Pollycarpus Budihari Priyanto ternyata sering
menghubungi Kantor BIN di Pejaten, Pasar Minggu,
Jakarta Selatan.

Temuan tersebut diungkapkan Asmara Nababan, wakil
ketua TPF Munir, setelah bertemu dengan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden,
kemarin. Bahkan, menurut Asmara, TPF juga menemukan
petunjuk bahwa Pollycarpus menelepon Kantor BIN
beberapa saat setelah Munir terbunuh.

Pertemuan TPF dengan Presiden SBY berlangsung sekitar
satu jam mulai pukul 17.00. Selain presiden dan Seskab
Sudi Silalahi, pertemuan tertutup itu dihadiri Kapolri
Jenderal Pol Da�i Bachtiar sebagai penyidik, Kepala
BIN Syamsir Siregar, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh,
dan Menko Polhukam Widodo A.S. Dari TPF, selain
Asmara, juga tampak Ketua TPF Brigjen Pol Marsudhi
Hanafi. Itu pertemuan terlengkap yang pertama.

Menurut Asmara, Pollycarpus beberapa kali menghubungi
kantor BIN. "Yang kami laporkan ke presiden, salah
satunya, adanya kontak Pollycarpus dengan seseorang di
BIN secara berkali-kali. Itu menandakan ada hubungan
yang selama ini dibantah tidak ada hubungan sama
sekali (antara Polly dan BIN)," kata Asmara dalam
jumpa pers setelah pertemuan itu.

Saat ditanya wartawan, di ruang mana nomor telepon
yang sering dihubungi oleh Pollycarpus itu, Asmara
menyebut kantor salah satu deputi di BIN. "Nomor
telepon yang digunakan adalah milik Kantor Deputi V
BIN," ungkapnya. Deputi V BIN bertugas dalam bidang
pengadaan.

Apa itu berarti yang dimaksud adalah mantan Deputi V
BIN Mayjen (pur) Muchdi P.R. yang baru saja lepas
jabatan, Asmara mengiyakan. "Iya, Pak Muchdi." Asmara
menambahkan, hubungan telepon itu lebih dari dua kali.
Ini mengacu pada bukti print out telepon yang telah
diberikan oleh pihak PT Telkom.

"Kita cek ke Telkom. Telkom membuat pernyataan
tertulis bahwa (nomor telepon) itu terdaftar atas nama
BIN. Artinya, ada statemen tertulis," jelasnya.
Pollycarpus menggunakan beberapa nomor handphone
miliknya untuk berkomunikasi dengan orang di BIN itu.

Ditanya kapan Pollycarpus diketahui menelepon ke
kantor BIN tersebut, Asmara mengatakan, setelah
pembunuhan Munir. Asmara menolak menyebutkan kapan
pastinya. Dia hanya mengatakan bahwa kontak itu
dilakukan setelah media massa ramai memberitakan
kematian Munir karena diracun arsenik.

Apakah Pollycarpus mengaku telah menghubungi BIN?
Asmara mengatakan tidak tahu. Alasannya, Pollycarpus
saat ini dalam penyidikan pihak kepolisian. Yang
terang, kata dia, mengenai siapa orang yang ditelepon
Polycarpus, itu harus diselidiki secara hati-hati.
Penyelidikan itu diharapkan tidak menimbulkan
prejudice atau memojokkan serta mengambinghitamkan BIN
sebagai institusi. TPF juga sedang menyelidiki apakah
kontak Pollycarpus dengan BIN itu dilakukan secara
personal atau melibatkan institusi.

Asmara juga menjelaskan hasil pertemuan dengan
presiden. Menurut dia, pertemuan kemarin merupakan
tindak lanjut pertemuan TPF dengan SBY sebelumnya.
Presiden sepakat lebih menguatkan koordinasi antara
TPF dan institusi terkait, terutama Polri dan BIN.

Meski tidak memberikan target waktu, kata Asmara,
presiden sempat menyinggung agar kasus ini bisa
terungkap lebih maju dalam waktu sekitar 30 hari mulai
kemarin. "Tapi, 30 hari itu tidak konklusif, hanya
sempat disinggung," tegasnya. Target keberhasilannya,
menurut Asmara, adalah bagaimana membawa kasus
kematian Munir ini sampai ke pengadilan.

"Semualah terbongkar, siapa yang memberikan perintah,
siapa yang mendukung. Ini kan bukan tindakan pribadi
Pollycarpus. Ini kan sebagaimana yang kita duga
sebelumnya, ada sebuah konspirasi membunuh Munir. Itu
harus terungkap dan berakhir di pengadilan," papar
Asmara.

Seskab Sudi Silalahi mengungkapkan, dari pertemuan ini
diharapkan sudah tidak ada kendala lagi dalam
menindaklanjuti temuan TPF soal kematian Munir.
"Kapolri, Jaksa Agung, maupun BIN sudah memberikan
semacam komitmen mendukung upaya yang dilakukan TPF,"
ungkap Sudi.

Ketua TPF Brigjen Pol Marsudhi Hanafi menambahkan,
untuk memperlancar penyelidikan antara penyidik Polri,
TPF, kejaksaan, dan BIN, secara periodik akan diadakan
pertemuan lanjutan. Tujuannya, agar penyelidikan lebih
bisa bersinergi dan memudahkan pengungkapkan kematian
Munir.

Kepala BIN Syamsir Siregar tidak mau banyak
berkomentar. Bahkan, seusai acara dia buru-buru
pulang. Saat menuruni tangga yang terletak di sebelah
kiri ruang jumpa pers, Syamsir sempat terpeleset dan
terjatuh. Saat dikonfirmasi soal temuan TPF yang
menyebutkan Pollycarpus pernah menelepon BIN, Syamsir
mengaku belum tahu. "Nanti akan saya cek dulu,"
katanya singkat.

Sementara itu, Muchdi belum bisa dikonfirmasi soal
temuan TPF Munir yang memojokkan dirinya itu. Tadi
malam koran ini tidak berhasil menghubungi Muchdi
melalui dua telepon genggamnya.

TPF Belum Puas

Kemarin TPF kembali memeriksa mantan Sekretaris Utama
(Sestama) BIN Nurhadi Djazuli. Pemeriksaan kedua ini
berlangsung di gedung Pusdiklat Deplu, Jakarta
Selatan, mulai pukul 14.00 hingga 18.00. TPF dipimpin
langsung oleh Ketua TPF Brigjen Pol Marsudhi Hanafi.
Semua anggota TPF hadir dalam pemeriksaan tersebut.

Hanya, usai pemeriksaan, Nurhadi meninggalkan gedung
Pusdiklat Deplu secara diam-diam sehingga wartawan
yang menunggu berjam-jam pun kecewa. Begitu pula
halnya dengan beberapa anggota TPF yang cenderung
kucing-kucingan dengan wartawan.

Memang, sebenarnya, tempat pertemuan tersebut awalnya
dirahasiakan, tapi bocor juga ke telinga wartawan.
Untung, Sekretaris TPF Usman Hamid berhasil dicegat
wartawan dan menjelaskan mengenai materi pemeriksaan
terhadap Dubes Nigeria tersebut.

"Pertemuan efektif berlangsung empat jam. Ada tiga
tahap yang dilakukan TPF selanjutnya," kata Usman usai
pemeriksaan kemarin.

Tahap pertama yang akan dilakukan adalah mendalami
keterangan Nurhadi dan melakukan cross check dengan
keterangan yang dia berikan pada pertemuan pertama,
Senin 9 Mei lalu. Tahap kedua, TPF akan memeriksa
silang semua keterangan Nurhadi dengan keterangan
saksi yang lain. "Kita akan cross check dengan
informasi dan petunjuk yang didapat TPF," ungkap
Usman. Misalnya, keterangan dari Sumarno, mantan
Kabiro Umum Sestama BIN, dan Suwirto (Kabiro
Personalia) BIN.

Tahap ketiga, TPF akan menyerahkan keterangan Nurhadi
kepada penyidik untuk dibandingkan dengan keterangan
Nurhadi saat diperiksa penyidik Mabes Polri. Nurhadi
sempat dimintai keterangan oleh polisi pada pekan
lalu. "Nah, hasil itu kita gunakan acuan untuk tindak
lanjut berikutnya," katanya.

Meski hampir semua materi sudah ditanyakan kepada
Nurhadi, Usman mengaku pihaknya belum puas dengan
pertemuan kedua kemarin. Rencananya, TPF akan kembali
melakukan pertemuan dengan Nurhadi. Hanya, TPF belum
mengagendakan pertemuan ketiga.

"Belum puas, target info masih belum tercapai, sulit
mencari informasi yang detail. Tapi, keterangan yang
bersangkutan justru menimbulkan pertanyaan untuk
ditindaklanjuti," katanya. Usman menambahkan, semua
anggota TPF mengajukan 5 hingga 10 pertanyaan.

Apakah sudah ditanyakan mengenai skema pembunuhan
Munir? "Saya nggak akan sampai ke situ," jawabnya.
Lalu, apakah ada temuan baru? "Ada, ini yang akan
di-follow up oleh TPF dan penyidik Polri," ungkapnya.
Hanya, Usman tidak mau menyebutkan temuan baru
tersebut.

Sumber koran ini mengatakan, Nurhadi diyakini banyak
berbohong saat memberikan keterangan kepada TPF. "Saat
ditanya soal hubungan antara Garuda dan BIN saja, dia
mengaku tidak tahu. Dan bahkan, saat ditanya apa
wewenangnya sebagai Sestama, jawabnya teramat sangat
formal."

Secara terpisah, tadi malam, bertempat di galeri
Canna, Kelapa Gading, Jakarta Timur, lukisan bergambar
Munir dengan judul "Garuda�s Deadly Upgrade" karya
Dolorosa dijual. Hasil penjualan itu didedikasikan
untuk Munir. "Saya tergerak untuk mengekspresikan
kenangan untuk Munir. Dan saya mengharapkan karya itu
terjual. Setiap orang tentu punya kenangan tentang
Munir, walau saya tidak kenal secara pribadi
dengannya," kata Dolorosa.

Suciwati, janda Munir yang hadir dalam kesempatan
tersebut, mengatakan bahwa dirinya menganggap apa yang
dilakukan Dolorosa adalah dukungan moral. "Saya
menyambut baik siapa pun yang memberikan dukungan
kepada saya dalam mengungkap kasus ini," ujarnya. 

(ssk/pri/dja/naz)


http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=4988


                
__________________________________ 
Yahoo! Mail Mobile 
Take Yahoo! Mail with you! Check email on your mobile phone. 
http://mobile.yahoo.com/learn/mail 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke