http://www.indomedia.com/bpost/052005/26/opini/opini1.htm

Sepenggal Kisah Bersama Ibaruri Aidit
Oleh: Budi Kurniawan

"Bung datang ya. Ada pertemuan keluarga. Ibaruri datang dari Prancis." 
Begitulah sebuah undangan Ilham Aidit kepada saya, beberapa pekan silam. Agak 
kaget juga menerima undangan semacam itu. Betapa tidak, di antara sekian banyak 
anggota keluarga besar Dipa Nusantara (DN) Aidit yang selamat dan berhasil 
mempertahankan hidup pascatragedi 30 September 1965, saya menduga hanya saya 
orang luar yang diundang dalam pertemuan itu.

Minggu siang yang benderang di sebuah pinggiran situ di kawasan Ciputat, 
Tangerang, Propinsi Banten, dugaan itu terbukti. Begitu tiba, Ilham Aidit, 
putra DN Aidit langsung menyambangi dan menjabat erat tangan yang saya ulurkan. 
Duduk lesehan saya melihat ada Murad Aidit (adik DN Aidit) bersama beberapa 
anak dan cucunya, beberapa sepupu dan ponakan Ilham pun hadir. Ada sekitar 50 
orang yang hadir ketika itu. Beberapa saudara jauh DN Aidit yang datang dari 
Pulau Belitung pun terlihat hadir.

Setelah dikenalkan pada beberapa orang yang belum pernah saya temui, Ilham 
membimbing saya menemui seorang perempuan berkulit bersih, berambut pendek, 
mengenakan kemeja putih, berwajah bundar dan bertubuh tak terlalu tinggi. 
"Ibaruri," begitu ia mengenalkan dirinya.

Baru beberapa hari Iba, begitu ia biasa disapa, tiba di Jakarta. Sudah 
berpuluh-puluh tahun Iba tinggal di Prancis bersama suami dan keluarganya. Di 
Prancis pula Sobron Aidit, pamannya dan puluhan kaum eksil lainnya tinggal 
setelah mereka pergi dari Cina yang sebelumnya sempat menampung mereka.

Kedatangan Iba ke Jakarta ini rupanya dimanfaatkan keluarga besar Aidit untuk 
berkumpul, bercengkrama dan saling bercerita. Saya menyaksikan pertemuan itu 
berlangsung hangat dan bersahaja. Mereka tak banyak bicara politik. Kalau pun 
ada, hanya sekelebat. Murad misalnya, bercerita ia sedang menulis buku berjudul 
DN Aidit Pemimpin PKI Legendaris dan sedang sibuk bersama teman-temannya eks 
Tahanan Politik (Tapol) dan kaum kiri lainnya yang diganyang Orde Baru (Orba) 
melakukan gugatan kepada lima presiden di sebuah pengadilan di Jakarta Pusat. 
Seorang kerabat DN Aidit dari Belitung menceritakan pengalaman saudaranya yang 
kesulitan pulang kampung, karena tak ada angkutan dan karena bantuan DN Aidit 
ia bisa mendapatkan angkutan kapal gratis.

Keluarga besar Aidit itu juga menyantap beberapa makanan yang dihidangkan dalam 
pertemuan. Mereka juga berfoto bersama. Kala sore menjelang, pertemuan keluarga 
besar Aidit itu pun usai. 
***

Bagi banyak orang, pertemuan keluarga seperti yang dilakukan keluarga besar 
Aidit itu bukan hal yang istimewa. Semua orang bisa berkumpul, di mana dan 
kapan saja, tanpa tembok penghalang apa pun. Namun tak demikian halnya dengan 
keluarga Aidit. Stigma dan tudingan Orba yang berlangsung berpuluh-puluh tahun 
membuat mereka menjadi keluarga yang dianggap paling �berbahaya�.

Posisi DN Aidit sebagai ketua Centra Committee Partai Komunis Indonesia (PKI) 
lah yang menjadi penyebab utamanya. Maka ketika Tragedi 30 September 1965 
pecah, DN Aidit dan semua yang berhubungan dengannya menjadi sasaran paling 
utama yang diincar penguasa baru. Seperti yang ditulis dalam teks sejarah versi 
Orba, DN Aidit dikabarkan tewas ditembak tentara di Boyolali, Jawa Tengah. 
Hingga kini jenazah dan kuburan ayah lima anak yang ketika di tanah 
kelahirannya, Belitung, dikenal sebagai anak yang taat beribadah dan khatam 
Alquran berkali-kali itu tak pernah diketahui rimbanya.

Anggota keluarga DN Aidit sebagian ditangkap rezim Orba dan dijebloskan bersama 
tahanan lainnya ke Pulau Buru. Namun sebagian lainnya yang kebetulan berada di 
luar negeri, selamat. Melalui proses panjang dan berliku, mereka berhasil 
bertahan hidup di negeri orang hingga kini. Dua putri DN Aidit, Iba dan Ilya, 
kini bermukim di Prancis. Satu putranya, Iwan Hignasto Legowo, kini bermukim di 
Kanada. Dua adik DN Aidit, Sobron dan Asahan Aidit (kini mengganti namanya 
menjadi Asahan Alham -kependekan dari lafal Alhamdulillah) kini tinggal di 
Belanda dan Prancis.

Bersama mereka juga ada ratusan orang Indonesia dengan latar belakang profesi 
yang beragam --ada dokter, sastrawan, insinyur dan mahasiswa yang dikirim rezim 
Soekarno belajar ke luar negeri-- tertahan di luar negeri dan tak bisa lagi 
pulang ke Indonesia. Mereka kehilangan seluruh haknya, termasuk status 
kewarganegaraan. Dengan terpaksa mereka kemudian menjadi warga negara di tempat 
pelarian.

Keadaan yang muram itu berlangsung berpuluh-puluh tahun, hingga pada masa 
pemerintahan KH Abdurrahman Wahid, tiba sebuah titik terang. Gus Dur 
mengembangkan wacana pencabutan Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 yang 
melarang keberadaan Marxisme-Leninisme. Gus Dur yang sejak lama dikenal sebagai 
sosok yang humanis dan bisa diterima di berbagai kalangan itu, mengutus Menteri 
Hukum dan Perundang-undagan (Menkumdang) Yusril Ihza Mahendra ke luar negeri 
menemui orang-orang Indonesia yang telah kehilangan hak dan kewarganegaraannya 
itu.

Dalam sebuah pertemuan di Kedutaan Besar Indonesia di Den Haag, Belanda, 
ratusan orang Indonesia yang tidak bisa lagi pulang ke Indonesia berdatangan 
dari seluruh Eropa bertemu Yusril. Beberapa orang terharu dan menangis dalam 
pertemuan itu.

Tapi pertemuan itu akhirnya tak menghasilkan apa-apa. Yusril yang kemudian 
berselisih dengan Gus Dur, mengundurkan diri dari jabatan menteri. Pemerintahan 
Gus Dur dijatuhkan parlemen melalui Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan 
Rakyat (MPR) pada 21 Juli 2001. Megawati Soekarnoputri yang sebelumnya menjadi 
wakil presiden, menggantikan Gus Dur sebagai presiden. Dalam rentang 
kekuasaannya, Mega tak banyak berbuat untuk kaum eksil ini. Lalu nasib kaum 
eksil ini pun tak berubah hingga kini. Mereka tetap tak bisa pulang dan menjadi 
WNI seperti yang diidamkan. "Kami memang bisa datang, tapi tak bisa pulang," 
kata Sobron Aidit kepada saya beberapa waktu silam.
*** 

Presiden datang dan pergi silih berganti. Tapi tak ada yang merespon dan 
mengambil kebijakan konstruktif untuk menyelesaikan nasib korban politik di 
masa silam. Langkah DPR dan pemerintah yang melahirkan Komisi Kebenaran dan 
Rekonsiliasi (KKR) untuk menyelesaikan masalah politik di masa silam pun, tak 
banyak bergaung. Korban politik pun tak berani berharap banyak dengan kehadiran 
KKR ini. Mereka juga relatif kecewa dengan hakikat rekonsiliasi yang diinginkan 
pemerintah.

Dalam sebuah pertemuan dengan Ilham Aidit, saya menangkap kekecewaan itu. Dalam 
benak korban politik itu, yang dimaksud rekonsiliasi adalah hadirnya sebuah 
permintaan maaf dari mereka yang bersalah dan kemudian ada ganjaran hukuman. 
Karena sesungguhnya pelaku dalam tindakan politik itu jelas sosoknya. Yang tak 
jelas adalah hukumannya. Nah, persepsi soal itulah yang hingga kini sepertinya 
masih belum selaras.

Namun demikian pada lapisan atas, antara anak-anak korban dan anak-anak pelaku 
dan orang-orang yang berseberangan lainnya, rekonsiliasi terlihat tak jadi 
masalah. Paling tidak secara fisik. "Yang jadi soal adalah pada lapisan bawah," 
kata Ilham kepada saya. 

Ilham sempat berharap besar pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf 
Kalla. Dalam sebuah pertemuan dengan SBY sebelum menjadi presiden, Ilham sempat 
berbicara banyak soal rekonsiliasi itu. Sayangnya setelah menjabat presiden, 
SBY masih juga belum mengambil langkah konstruktif untuk menyembuhkan luka 
sejarah dan politik yang berlangsung lebih dari 34 tahun itu.
***

Sudah lama sebenarnya nama Ibaruri ada dalam ingatan saya. Melalui pamannya, 
Sobron Aidit, saya mengenal sedikit sosoknya. Iba adalah anak pertama pasangan 
DN Aidit-dr Tanti. Jauh sebelum Tragedi 30 September 1965 terjadi, Iba dan Ilya 
disekolahkan DN Aidit ke luar negeri (Moskow, Rusia). Ketika itu ada semacam 
naluri politik dalam diri DN Aidit untuk menyekolahkan anak-anak perempuannya 
ke luar negeri sehingga jika ada gejolak politik yang membahayakan, mereka bisa 
menyelamatkan diri. Sementara yang laki-laki seluruhnya bersekolah dan berada 
di Indonesia.

Iba dan Ilya sebenarnya sukses meraih gelar sarjana di Eropa Timur. Tapi gelar 
itu menjadi tak bermakna apa-apa ketika mereka kemudian �pindah� dan terpaksa 
berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu negeri ke negeri yang 
lain. Di Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya, gelar itu tak diakui.

Namun seperti kebanyakan korban politik lainnya, Iba tetap tegar. Berbekal 
berbagai bahasa yang ia kuasai, hingga kini Iba --juga keluarga Aidit lainnya-- 
mampu bertahan hidup. Iba memang agak menyesal juga karena tak bisa menjadi 
WNI. Tapi semua itu rupanya tak menghilangkan kecintaannya pada negeri ini. Ia 
juga tak menghiba-hiba untuk mendapatkan status kewarganegaraan itu.

Tak seperti pamannya Sobron Aidit, Iba termasuk jarang datang ke Indonesia. 
Namun kala datang, ia benar-benar memanfaatkan waktunya. Pada April dan Mei ini 
ia, misalnya, menemui keluarganya yang lain di Bandung, Jakarta dan Pulau 
Belitung, tanah kelahiran sang ayah, DN Aidit.

Dalam pertemuan dengan saya, Iba tak banyak bicara. Menurut Ilham, kakaknya itu 
masih menyangsikan situasi politik di Indonesia, sehingga ia lebih banyak 
memilih diam. Kediaman, yang saya kira, hanya bisa disembuhkan dengan langkah 
pemerintah yang lebih konstruktif untuk menyelesaikan dan menyembuhkan luka 
sejarah dan luka politik masa silam dan memberikan kepastian hukum di masa kini 
dan masa datang.


Alumni FISIP Unlam, tinggal di Jakarta
e-mmail: [EMAIL PROTECTED]

 




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke