http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/6/4/n8.htm
DPR Pertanyakan Pengadaan Senjata AK-101 Jakarta (Bali Post) - DPR mempertanyakan pengadaan 20 ribu senjata laras panjang AK-101 untuk Polri yang diduga tidak sesuai dengan rencana pembelian. Pengadaan senjata itu berpotensi menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 90 milyar. ''Menurut Pindad ada kasus saat Polri membeli AK versi 101,'' kata anggota Komisi I DPR Djoko Susilo, di Jakarta, Jumat (3/6) kemarin. Senjata yang dibeli dari Cina itu, kata Djoko, tenyata tidak bisa digunakan karena banyak yang rusak sebelum masa efektif pemakaiannya. Rusaknya senjata dalam umur pendek itu, kata Djoko, terjadi karena sewaktu memberi contoh, pihak rekanan memberikan senjata standar industri. Tetapi, saat dibeli, ternyata senjata yang diambil dibuat dari produksi semacam home industry. Ia mensinyalir senjata yang dibeli dengan harga murah itu dengan tujuan agar terdapat selisih harga yang ditetapkan dalam rencana anggaran semula. Sehingga pihak rekanan atau oknum pejabat yang terlibat mendapat keuntungan dari selisih harga yang telah ditetapkan itu. Setiap satu pucuk senjata, menurutnya, selisihnya mencapai 100 dolar. "Anggaran pembelian tetap harga pabrik, tetapi senjata yang diterima dari home industry. Dengan demikian ada dugaan mark-up sekitar 2 juta dolar AS,'' ujar anggota Fraksi PAN ini. Berdasarkan informasi Pindad, lanjutnya, harga per pucuk senjata berkisar antara 500 hingga 600 dolar AS. Dengan demikian, kalau dihitung kerugian negara karena senjata yang rusak itu, totalnya mencapai 10 juta dolar AS atau sekitar Rp 90 milyar. Terhadap kasus ini, Komisi I DPR menginginkan dilakukan investigasi untuk mengungkap masalah ini. Mereka menyarankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera melakukan penyelidikan. Untuk tahap awal, temuan-temuan yang sudah didapat akan dibahas Komisi I. Anggota Komisi I Ade Daud Nasution membenarkan adanya informasi dari Pindad tersebut. Menurutnya, senjata AK-101 itu tidak dibuat di pabrik senjata, tetapi dari semacam bengkel-bengkel kecil di Cina. ''Kan kacau itu. Masak baru saja dibeli tetapi kemudian sudah tidak bisa digunakan. Padahal senjata-senjata tahun 50-an saja masih banyak yang bisa digunakan,'' ucapnya. Untuk kepentingan pengadaan persenjataan, Ade mengusulkan agar memaksimalkan PT Pindad. Terkecuali untuk persenjataan berat dan canggih, maka membelinya memang harus dari luar negeri. ''Untuk apa beli dari luar negeri kalau ternyata hasilnya tidak bisa digunakan,'' ujar politisi dari PBR ini. (kmb4) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
