http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=200112&kat_id=16

     
Sabtu, 04 Juni 2005

Busung Lapar: Kemiskinan Material atau Non-Material? 

Oleh : 

Hayyan ul Haq 
Mahasiswa Program Doktor Utrecht Universiteit




Fenomena paradoks adalah istilah yang barangkali cukup tepat untuk 
menggambarkan terjadinya kasus busung lapar atau gizi buruk di NTB. Menteri 
Kesehatan sendiri menilai kasus ini sebagai suatu keanehan. Saat ini, hampir 
359 balita (0,7 persen dari 498.000 balita) dari jumlah balita di NTB terserang 
busung lapar, padahal provinsi ini surplus pangan.

Keanehan kasus busung lapar yang terjadi di NTB dapat dimaklumi jika kita hanya 
melihat dari aspek material. Logikanya tidak mungkin ada orang mati kelaparan 
ketika dia berada di sebuah rumah yang banyak cadangan makanannya. Kalau ini 
terjadi, berarti patut diduga bahwa cara hidup para penghuni rumahnya ''tidak 
normal''. Oleh karena itu, saya melihat kasus busung lapar yang terjadi di NTB 
ini, bukan semata-mata masalah kemiskinan. Ada kelalaian pemerintah dalam 
mengasuh masyarakatnya karena kasus ini telah terjadi dari tahun ke tahun. Ini 
bukan bencana, melainkan sebuah malpraktik pemerintahan. Kalau dikatakan bahwa 
kasus ini tidak diketahui oleh pemerintah, lalu siapa yang bertanggungjawab 
atas laporan data statitistik kesehatan masyarakat selama ini? Apa dan 
bagaimana cara aparat kesehatan mengapresiasi data gizi buruk masyarakat 
sehingga tidak diketahui dan tidak teratasi oleh pemerintah selama ini? Ini 
berarti, patut diduga, ada aparat yang terlibat dalam pemanipulasian data atau 
berbohong hanya sekadar membuat laporan ABS atau tidak bekerja dengan penuh 
kesungguhan. 

Dampak kebohongan dan sikap mental demikian kita rasakan saat ini. Kegagalan 
pemerintah dalam mengoptimalkan instrumen kebijakan yang tepat dapat 
mengakibatkan malpraktik dalam mengelola negara. Dalam konteks hukum dapat 
dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum.

Sumber daya nonmaterial
Selanjutnya, apakah benar kemiskinan dan ketidaktahuan masyarakat dalam 
memelihara kesehatan keluarga dengan benar merupakan akar masalah dari busung 
lapar ini? Tampak jelas bahwa hampir semua alasan yang dikemukakan itu 
sesungguhnya hanyalah gejala (simptom) atau akibat yang tidak dikehendaki 
(undesired effect). Ia muncul dari sebuah struktur yang sudah lama mengendap 
dalam sistem sosial kita. Munculnya simptom busung lapar ini menggambarkan 
betapa rapuhnya sistem sosial kita. Ternyata sistem interaksi yang dibangun 
selama ini tidak menampilkan semangat spiritual (kebaikan, kebenaran, dan 
keindahan) masyarakat Lombok yang terkenal religius. 

Sebagai contoh perbandingan kita bisa mencermati kasus Provinsi Krala di India 
yang dikategorikan sebagai provinsi miskin, namun memiliki Index Human 
Development (IHD) yang sangat memadai karena masyarakatnya terlatih 
mendistribusikan nilai-nilai kebaikan, kebenaran dan keindahan (nonmaterial 
resource). Jika ada orang yang kelaparan atau sakit, semua resource yang ada 
digunakan untuk si lapar dan si sakit. Ini menjadi bagian dari perilaku mereka 
yang telah terlatih bertahun-tahun, bahkan dari generasi ke generasi. 
Seharusnya semangat kebaikan inilah yang dijadikan muatan normatif utama dalam 
kebijakan publik. 

Dalam masyarakat yang terlatih mendistribusikan nilai-nilai spiritual di ranah 
tindakan itu, normalitas pengaturan diri dan sustainabilitasnya akan terjamin. 
Masyarakat Lombok yang dikenal sedemikian kuatnya dalam menjalankan semangat 
keagamaannya ternyata belum optimal menampilkan keshalehan sosialnya.

Alternatif kebijakan
Mencermati keanehan di atas, ada dua hal penting yang perlu dielaborasi: (i) 
pengoptimasian instrumen kebijakan, dan (ii) pendekatan nonmaterial resource. 
Dalam mengelola negara bukankah instrumen kebijakan yang merupakan modal 
pemerintah, dapat digunakan untuk mendistribusikan keadilan? Misalnya melalui 
kebijakan perpajakan atau melalui perbaikan sistem jaminan sosial (pendidikan 
dan kesehatan) dan perluasan aksesabilitas masyarakat terhadap sumber daya 
melalui skema ekonomi. Contoh konkrit yang sudah dirintis Tim P2BK Unram pada 
desa Aikmel di Lombok Timur. Tim itu merancang sebuah program untuk mengubah 
perilaku kesehatan masyarakat yang dirajut dengan kegiatan ekonomi sabagai 
katalisnya. 

Berbagai lembaga kesehatan, baik nasional maupun internasional (dari Cina, 
bahkan Program Kesehatan Masyarakat pada John Hopkins University, AS) datang ke 
daerah itu untuk mempelajari bagaimana program ini dapat berjalan dan berhasil 
dengan baik. Inovasi-inovasi sosial seperti ini dapat diadopsi dalam upaya 
pemberdayaan masyarakat sekaligus mendistribusikan keadilan.

Mencermati kasus busung lapar di NTB ini, tampaknya permasalahan pemberdayaan 
komunitas lebih banyak berkubang di level birokrasi. Hal ini sekaligus 
mengingatkan kita bahwa proses untuk hidup secara normal ini tidak saja 
ditentukan oleh individu itu sendiri, tetapi juga lingkungan sosialnya sebagai 
sebuah sistem, termasuk kebijakan pemerintah. Kerapkali kita menyaksikan banyak 
faktor penghambat itu bersumber dari lingkungan sosial atau karakter sosial 
yang membentuk struktur sosial masyarakat. Bertalian dengan hal tersebut, 
Amartya Sen dan Martha Nussbaum, melalui pendekatan kapabilitasnya sebagai 
kerangka berpikir, memperkenalkan dimensi etis --nonmaterial-- dalam 
pembangunan manusia yang berkelanjutan. Dimensi etis itu mencakup nilai-nilai 
seperti equality, freedom, proses pemanusiaan (well-being), justice, dan etika 
sosial lainnya. 

Pendekatan Sen ini ternyata cukup ampuh untuk menggunting hambatan yang 
bersumber pada struktur sosial masyarakat. Hal ini pernah diuji di Amerika 
Latin (Lihat tulisan dan laporan tahunan UNDP yang digarap Sakiko Fukuda, 
2002). Pendekatan kapabilitasnya Sen ini menitikberatkan peran 
individu/perilaku bukan pada struktur dalam melakukan perubahan. Dalam konteks 
inilah prinsip-prinsip the fifth discipline seperti personal mastery, mental 
model, team learning, shared vision, dan systems thinking relevan untuk 
diterapkan (Peter Senge 2000 dan Blank-Ons 2003). Tantangannya, bagaimana 
mengoperasionalisasikan gagasan Sen itu ke dalam kebijakan dan program 
inequality elimination yang akan diintrodusi.

Dalam konsep pembangunan ala Sen dan Nussbaum ini seseorang atau individu dapat 
menyerap intake atau produk (nonmaterial) yang dituangkan dalam sistem 
sosialnya dan mengembangkan aktifitas dan kapabilitasnya secara optimal dan 
terus-menerus sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya (Sen, 2002). Melalui 
pendekatan Sen ini, individu dan masyarakat distimulasi untuk mendistribusikan 
kapabilitasnya dalam mengkonversi komoditi menjadi functionings. Dalam hal ini 
termasuk program perluasan aksesabilitas masyarakat pada sumber-sumber 
kehidupan, termasuk perluasan public owners yang telah dirintis P2BK Unram di 
Aikmel, Lombok Timur dan Tanjung, Lombok Barat. Dalam hal ini, yang di shared 
adalah values-nya, bukan fisik atau income-nya. Dengan demikian, nilai, 
kebijakan, tradisi, ataupun kebiasaan yang dapat menghambat upaya 
pengkonversian karakteristik komoditi ke dalam functionings dan capabilities 
harus terus dieliminasi. Inilah salah satu inti gagasan Sen ''dari sustainable 
development menuju sustainable freedom''. 

Tawaran etis yang sangat fundamental dari Amartya Sen adalah bahwa kemiskinan 
itu terkait dengan persoalan kapabilitas. Untuk dapat hidup normal, kapabilitas 
ini tidak terkait dengan pendapatan atau kepemilikan. Sejumlah aplikasi empiris 
membuktikan bahwa income adalah indikator yang terbatas dan bukanlah indikator 
yang terbaik dalam mengukur well-being. Kemampuan mengkombinasikan potensi dan 
fungsi sehingga memungkinkan seseorang menjadi kapabel dalam melakukan sesuatu 
atau mencapai sesuatu tujuan sesuai dengan nilai yang dianutnya adalah inti 
gagasan Sen. 

Beberapa tahun yang lalu, di sebuah daerah kumuh di dekat Terminal Sweta, 
Lombok, saya mendengar ada seorang tua yang secara material tidak memiliki 
harta yang memadai, tapi bersedia menghibahkan tanah dan rumahnya untuk 
dijadikan pusat kegiatan pembelajaran bagi masyarakat di sekitarnya. Dan sudah 
tentu ada ribuan kasus yang sama seperti itu yang dapat terjadi di mana saja. 
Dalam pendekatan kapabilitasnya Sen, kedermawanan si miskin itu menunjukkan 
kemampuannya dalam mengkonversi komoditinya menjadi lebih berfungsi. Hal ini 
tidak digerakkan oleh pendapatan atau kondisi materinya. 

Dalam konteks pembangunan di Indonesia, seharusnya gagasan Sen ini dapat 
menjadi inspirasi dan layak dipertimbangkan dalam program pembangunan termasuk 
pengeliminasian kemiskinan. Jadi, tujuan pembangunan itu bukan sekadar memacu 
pertumbuhan ke pertumbuhan saja, tetapi sebagai alat yang ditujukan untuk 
menggunting seluruh hambatan yang dapat mengunci kebebasan setiap orang dalam 
mengaktualisasikan potensi dan energinya secara optimal tanpa hambatan menuju 
ideal state of social order.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke