http://www.padangekspres.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=732
Jangan Obral Isu Agama Oleh Asmuni M Th MA Oleh admin padek 1 Sabtu, 04-Juni-2005, 10:57:257 klik Isu yang paling dominan untuk menarik massa adalah isu-isu agama. Sehingga, bukan barang baru bila Muhammad Iqbal beranggapan bahwa bahasa agama merupakan cara yang dianggap paling efektif untuk merebut simpati massa. Karena itu, hingga saat ini, calon kepala daerah di berbagai daerah masih beranggapan bahwa agama dengan berbagai variannya tetap menjadi instrumen yang ampuh untuk membujuk rayu massa. Tidak mengherankan, Jusuf Kalla pun meminta agar calon kepala daerah dari partainya -Golkar- mempertajam pendekatan yang salah satu pendekatan utamanya adalah agama. Hanya, sangat disayangkan, pendekatan-pendekatan religius para calon kepala daerah tersebut kadang berlebihan. Bahkan, hal itu dianggap beberapa kalangan sudah sampai pada tingkat melecehkan agama. Misalnya, sekitar 4.550 eksemplar Alquran bergambar salah satu calon bupati di Jawa Barat yang disertai tulisan visi dan misi pilkada serta kata sambutan yang kemudian dibagikan ke masjid, pesantren, dan tokoh masyarakat. Ada juga calon bupati di Jawa Tengah yang mencantumkan foto serta visi dan misinya dalam Alquran yang kemudian juga dibagikan ke masyarakat. Juga, dari beberapa pertemuan calon bupati di DIJ, dijumpai sebagian kandidat yang ke mana pun membawa tasbih dan selalu mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, serta takbir. Kondisi itu jelas tidak dijumpai dalam keseharian sebelumnya dan lain sebagainya. Mengapa Agama? Agama menjadi urusan yang paling puncak pada masyarakat tertentu atau, meminjam istilah asing, merupakan the ultimate concern. Khususnya, agama-agama samawi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam, sangat jelas mengajarkan bahwa wahyu-wahyu yang datang dari langit itu hendaknya dijadikan pedoman hidup supaya umat manusia yang memeluk agama-agama samawi tersebut memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Agama menjadi sumber kebenaran, sumber moralitas dan etika, yang dikembangkan umat manusia. Pada posisi itulah kemudian agama dijadikan komoditas politik yang paling ampuh. Menurut Asghar Ali Engineer (1993: 29), "agama dan politik merupakan dua hal yang tak dapat dipisah-pisahkan dalam Islam." Karena itu, para calon kepala daerah dalam kampanyenya lebih tertarik menggunakan simbol-simbol agama -seperti yang pernah saya tulis di koran ini tahun lalu- disebabkan oleh, pertama, argumen-argumen keagamaan dalam politik akan dirasakan lebih bermakna daripada argumen nonagama. Rumadi, mengutip Robert Audi dalam Agama dan Nalar Sekuler dalam Masyarakat Liberal (2002) menyebutkan argumen penjelasan agama dalam politik merupakan penjelasan agama tanpa kandungan agama. Argumen agama diperlukan sebagai legitimasi teologis atas sebuah tindakan politik dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk mendukung tindakan tersebut. Kedua, mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat agamis simbolis yang belum sampai menjadikan agama sebagai way of life. Seperti kata Nurcholish Madjid, kadar religiusitas sebagian besar masyarakat Indonesia masih sebatas pada simbol-simbol agama. Namun, identitas agama yang dianutnya sudah mengidentitas dengan lekat yang sering dibela dengan pertaruhan nyawa. Tentu kondisi tersebut sangat mudah dibujuk dengan rayuan simbolis. Karena itu, tidak heran para kandidat tersebut menggunakan simbol agama untuk meraih suara dari golongan ini. Politisasi Agama Sebenarnya, penggunaan bahasa agama untuk kepentingan politik bukanlah hal baru. Perhelatan politik simbol juga pernah terjadi pada awal Islam. Misalnya, pada akhir pemerintahan Khulafaurrasidin, Ali Bin Abi Thalib, yaitu dalam perang antara Ali sebagai Khalifah dan Muawiyah. Ketika pasukannya terdesak, Muawiyah mengangkat mushaf Alquran dan berseru agar menjadikan Kitab Allah sebagai arbitrase/tahkim. Alquran sebagai kitab suci umat Islam dan kebenaran Ilahi dipertaruhkan dalam peperangan tersebut. Sehingga, tak ada alasan bagi kelompok Ali untuk menolak tawaran damai. Sejarah tersebut telah membuktikan bahwa simbol agama, Alquran, dijadikan alat kepentingan politik. Di Barat, pada abad pertengahan, pernah terjadi agama menjadi alat legitimasi kekuasaan raja-raja absolut. Untuk mempertahankan supremasi kekuasaannya, raja-raja di Barat mendekati kelompok agama agar mau menjustifikasi posisinya. Dalam hal ini, terjadilah "tawar-menawar" antara kedua kekuasaan tersebut. Kelompok agama mendapatkan imbalan berupa sumbangan tanah untuk kepentingan keagamaan. Hanya, penggunaan isu agama yang berlebihan bisa menyeret agama ke dalam politik kepentingan tertentu. Agama menjadi alat untuk mencapai puncak kekuasaan. Agama bukan menjadi faktor penentu yang mengarahkan etika politik pihak-pihak yang berkepentingan. Akhirnya, agama yang seharusnya ditempatkan pada posisi yang tinggi dan terhormat terkontaminasi kepentingan-kepentingan sesaat. Hal itu tentu sangat berbahaya bagi agama tersebut. Karena itu, penggunaan isu-isu agama dalam pilkada perlu hati-hati. Calon pemimpin lokal -bupati, wali kota, atau gubernur- tidak sepatutnya membawa isu-isu agama secara berlebihan hanya untuk tujuan meraih kekuasaan. Bahkan, daerah-daerah yang sebelumnya terpolusi konflik antarkelompok harus sangat hati-hati menggunakan isu agama dalam kampanye. *Penulis adalah staf peneliti di Pusat Studi Islam (PSI) Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
