http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/03/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Konsep Kesehatan Masyarakat ala Leimena 
Oleh Abraham Simatupang 

TAHUN ini genap 100 tahun kelahiran Dr J Leimena, yang lahir tanggal 5 Maret 
1905. Leimena yang sering dipanggil Om Jo, dikenal sebagai salah satu bapak 
bangsa (founding fathers) Indonesia, selain tokoh lain seperti Soekarno, 
Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, IJ Kasimo, Amir Syarifuddin, Jen-deral Nasution, 
Letjen DR TB Simatupang, dan lain-lain. 

Latar belakang sebagai seorang dokter, sedikit-banyak mempengaruhi cara pandang 
dan kiprah Leimena di dunia politik, terutama saat menjabat beberapa posisi 
penting, seperti Pejabat Presiden di era Sukarno dan Menteri Kesehatan sebanyak 
sembilan kali. Meskipun lebih banyak berkiprah di bidang politik dan 
kenegaraan, namun jasa-jasa dan pemikiran-pemikiran Leimena di bidang kesehatan 
tidak pula sedikit. 

Kita ambil contoh, konsep dan prinsip kesetaraan dan kesehatan yang diajukan 
oleh Margaret Whitehead (2000), ketua kantor regional WHO untuk Eropa, sarat 
dengan pesan-pesan yang sebenarnya sudah dikemukakan oleh Leimena di tahun 
1950-an, yang dikenal dengan Rencana Bandung (Bandung Plan). 

Kesan dan pengalaman Leimena sebagai dokter di beberapa daerah dan RS, terutama 
sebagai direktur di RS Immanuel, Bandung (1931-1941), rupanya telah memberi 
bekas yang dalam untuk memikirkan suatu konsep kesehatan masyarakat. Inti 
Rencana Bandung (Mengenang Dr J Leimena, 1995) adalah penggabungan antara 
usaha-usaha preventif dan kuratif. 

Daerah atau pemerintah Bandung dijadikan percontohan, karena, pertama-tama, 
menurut Leimena, sudah sejak lama masyarakat pedesaan sekitar Bandung 
mendapatkan pelayanan kesehatan dari dokter-dokter Zending (misi gereja) yang 
bekerja di RS Immanuel. Artinya sudah tercipta pola pikir masyarakat yang 
medicine minded. 

Kedua, keadaan ekonomi masyarakat di Kabupaten Bandung relatif lebih baik, 
karena sebagian pembiayaan kegiatan di pedesaan diharapkan datang dari pihak 
daerah. 

Rencana Bandung memiliki dua program besar. Bagian pertama mencakup usaha 
kuratif yang dipusatkan di rumah sakit pemerintah dan swasta. Di setiap 
Kawedanan pemerintah diharuskan membangun rumah sakit pembantu dengan kapasitas 
40-70 tempat tidur untuk menangani kasus-kasus ringan dan di setiap kecamatan 
dibangun Balai Pengobatan yang ditangani juru rawat dari RS Pembantu. 

Bagian kedua, mencakup usaha-usaha preventif yang berpusat di pedesaan. Juru 
Higiene (Juru Kesehatan) adalah kader yang dipilih dari desa setempat dan harus 
dianggap sebagai pamong desa seperti halnya kepala desa. 

Segenap program penyelenggaraan kesehatan rakyat perlu dimusyawarahkan dengan 
penduduk desa dan mendapat persetujuan mereka, dengan sendirinya pembiayaan 
hidupnya harus ditanggung oleh desa bersangkutan pula. 


Balai Pengobatan 

Tugas Juru Higiene mencakup pendidikan kesehatan, pengawasan kebersihan rumah, 
pasar, dan warung, pencatatan sumber-sumber penyakit seperti nyamuk, lalat, dan 
lain-lain. Bahkan pada tahapan berikutnya, didirikan pula Balai Pengobatan yang 
memiliki 10-15 tempat tidur perawatan. 

Setelah melalui pengkajian terhadap proyek percontohan ini, pada tahun 1954, 
Rencana Bandung diperluas di seluruh Indonesia dan rencana tersebut selanjutnya 
disebut Rencana Leimena yang menjadi tulang punggung sistem rujukan dan pusat 
kesehatan masyarakat yang kita kenal sekarang. 

Masalah kesehatan di jaman Leimena erat kaitannya dengan pola penyakit yang 
ada, keterbatasan sumber daya manusia dan penelitian kedokteran yang belum 
mengemuka. Di abad 21 ini, perkembangan dunia kedokteran dan kesehatan sangat 
cepat, terutama di bidang biomedis dengan pendekatan biomolekuler. 

Materi genetika manusia telah berhasil dipetakan melalui program Genome yang 
menguak banyak misteri kehidupan, sambil membuka luas pintu peluang-peluang, 
baik di bidang pemahaman akan proses-proses biologi makhluk hidup, terlebih 
terhadap kemungkinan-kemungkinan pencegahan maupun terapi penyakit-penyakit 
yang disebabkan atau dipengaruhi oleh materi genetika. Cloning, stem cell, 
adalah beberapa istilah yang sekarang sangat mengemuka di bidang kedokteran 
saat ini. 

Bangsa Indonesia tentu harus aktif ikut memberi sumbangan yang nyata dalam 
pengembangan iptek kesehatan seperti yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman, 
Puspitek Serpong, dan lembaga-lembaga penelitian yang tersebar di beberapa 
fakultas kedokteran lainnya. 

Namun harus diakui, di samping kemajuan kedokteran yang sangat pesat, 
meningkatnya penyakit-penyakit non-infeksi seperti, stroke, jantung, kanker, 
dunia kedokteran dan kesehatan masih pula bergelut dengan penyakit-penyakit 
"klasik" seperti kekurangan gizi dengan segala implikasinya, kematian ibu dan 
bayi serta balita yang tinggi, penyakit infeksi cacing, malaria, dan parasit 
lainnya, masih merupakan penyakit masyarakat umum di negara-negara berkembang, 
termasuk Indonesia. 

Tantangan ini memang sangat berat bagi bangsa kita, seakan-akan berperang di 
dua medan peperangan. Apalagi baru-baru ini kita disibukkan dengan kasus 
merebaknya (kembali) polio di Sukabumi dan busung lapar di NTB yang telah 
memakan korban jiwa. 


Kualitas Kesehatan 

Dalam laporan tahunannya, Depkes menyatakan bahwa upaya kesehatan di Indonesia 
belum terselenggara secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. 
Penyelenggaraan upaya kesehatan promotif dan preventif masih kurang. Pembiayaan 
kesehatan di Indonesia masih rendah, hanya rata-rata 2,2 persen dari Produk 
Domestik Bruto (PDB) atau sekitar US$ 12-18 per kapita/tahun (standard WHO, 
minimal 5 persen dari PDB). 


Di samping indikator-indikator langsung kesehatan seperti angka kematian ibu 
dan anak, kita juga mengenal Human Development Index yang memperhitungkan 
indikator kesehatan, yaitu indeks usia harapan hidup (life expectancy index), 
pendidikan dan pendapatan. 

Tampak bahwa dari tahun ke tahun, HDI Indonesia tidak beranjak naik tapi malah 
cenderung menurun, yaitu di peringkat 111 (2002), dan 112 (2003), dibandingkan 
Vietnam, misalnya, yang cenderung meningkat, yaitu peringkat 112 (2002), 109 
(2003), menurut data UNDP. 


Konsep Leimena 

J Leimena yang lulus dokter dari Stovia, tahun 1930, banyak melayani pasien dan 
menangani berbagai rumah sakit, sebelum akhirnya ditangkap oleh tentara Jepang. 
Mungkin di saat itulah panggilan dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat 
berkembang secara intens. 

Pada saat menjadi Menteri Kesehatan muncullah Rencana Bandung yang akhirnya 
menjadi Rencana Leimena, yaitu upaya kesehatan promotif dan kuratif, serta 
sistem rujukan (referral system). Ide dan konsep Leimena tentang pelayanan 
kesehatan bagi masyarakat ternyata sangat visioner. 

Di abad ke-21 ini, ketika sebagian besar penduduk negara-negara maju sudah 
menikmati pelayanan kesehatan yang jauh lebih baik dibandingkan negara 
berkembang, ternyata persoalan hak menurut keadilan (equity in health) dalam 
kesehatan mengemuka (Whitehead, 2000). 

Kesehatan itu Hak 

Kesetaraan dan kesejajaran (equity) dalam kesehatan adalah hak dasar manusia, 
dan ini bagian dari HAM yang diatur dalam Universal Declaration of Human Rights 
terutama Pasal 1, "Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan 
hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul 
satu sama lain dalam semangat persaudaraan." 

Kemudian pada Pasal 25 ayat 1, "Setiap orang berhak atas taraf hidup yang 
menjamin kesehatan dan kesejahteraan untuk dirinya dan keluarganya, termasuk 
pangan, pakaian, perumahan dan perawatan kesehatannya serta pelayanan sosial 
yang diperlukan, dan berhak atas jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, 
cacat, menjadi janda, mencapai usia lanjut atau mengalami kekurangan mata 
pencarian yang lain karena keadaan yang berada di luar kekuasaannya," dan ayat 
2, "Para ibu dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan bantuan istimewa. 
Semua anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus 
mendapat perlindungan sosial yang sama." 

Definisi equity dalam kesehatan mungkin justru lebih mudah bila didekati dari 
inequity seperti ditulis oleh Margaret Whitehead (2000): ... inequity has a 
moral and ethical dimension. It refers to differences which are unnecessary and 
avoidable but, in addition, are also considered unfair and unjust. So, in order 
to describe a certain situation as inequitable, the cause has to be examined 
and judged to be unfair in the context of what is going on in the rest of 
society. 

Whitehead menegaskan bahwa persoalan inequity masuk dalam ranah moral dan etik, 
menyangkut sesuatu yang tidak perlu terjadi, bisa dihindari dan tidak adil. 
Karena itu, segenap penyebab terjadinya kondisi inequity harus diteliti dan 
diupayakan untuk dikurangi. 

Equity tidak sama dengan equality. Equality berarti sama, sederajat, dan dalam 
konteks equity in health, menurut Oliver dan Mossialos (2004), masyarakat 
memiliki hak dan kesamaan derajat dalam hal mendapatkan akses pelayanan 
kesehatan. Kemudian mendapatkan peluang untuk menggunakan pelayanan kesehatan 
bagi mereka yang memerlukan pelayanan kesehatan secara sederajat. 

Selain itu juga memiliki hak dari hasil-hasil upaya kesehatan yang sama yang 
dapat diukur, misalnya usia harapan hidup yang meningkat dan lebih berkualitas. 
Bukan hanya sekadar bertambah usia, namun juga kualitas hidup yang lebih baik. 

Dikaitkan dengan indikator-indikator kesehatan yang ingin dicapai di tahun 2010 
yang dicanangkan Depkes, kita dapat melihat, Rencana Leimena yang dituliskan 
dan diujicobakan di tahun 1950-an ternyata masih bermanfaat dijadikan sebagai 
acuan untuk saat ini, bukan saja oleh negara kita, namun oleh dunia. Artinya, 
sejak semula Leimena melihat, pelayanan kesehatan haruslah ditangani secara 
komprehensif dan holistik. Pencapaian indikator-indikator kesehatan tidak dapat 
berdiri sendiri, namun saling terkait dengan sektor-sektor lain, yaitu 
pendidikan, ekonomi, politik, dan sosial-budaya. 

Upaya-upaya mengikutsertakan masyarakat untuk turut bertanggung jawab dalam 
kesehatannya sendiri adalah hal yang positif yang juga sudah dipikirkan oleh 
Leimena. Saat ini kita mengenal sistem pembiayaan pelayanan yang bervariasi 
mulai dari pembayaran langsung sampai dengan sistem asuransi, baik oleh 
pemerintah seperti Askes maupun swasta. 

Namun, karena krisis ekonomi yang berkepanjangan, di mana nilai ekonomi rakyat 
semakin menurun, semakin bertambahlah masyarakat miskin. Karena itu 
dikembangkan pelayanan khusus kesehatan Gakin, yang ditengarai belum jalan 
sesuai harapan. 

Dan, ini semakin menunjukkan betapa pentingnya cara pandang yang holistik bagi 
setiap pengambil kebijakan di bidang kesejahteraan rakyat. Kemampuan seseorang 
untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sepadan tidak lepas dari kemampuan 
ekonominya, artinya sejauh mana rakyat telah mendapatkan pekerjaan yang layak. 

Kemudahan dan kecepatan seseorang mendapatkan pertolongan kesehatan segera, 
tergantung keberadaan infrastruktur yang ada. Misalnya, kematian seorang ibu 
yang melahirkan mungkin dapat terhindari bila ia dapat segera dibawa ke rumah 
sakit terdekat, karena tersedia jalan dan kendaraan yang baik. Mungkin angka 
kesakitan dan kematian akibat diare dapat turun bila penduduk mendapatkan air 
yang bersih, dan seterusnya. 

Namun, justru inilah yang menjadi kelemahan kita. Kata-kata koordinasi, 
terpadu, seringkali terucap atau bahkan tertulis dalam program, namun dalam 
kenyataan di lapangan sangat berbeda. Jangankan antar-departemen atau badan, di 
dalam departemen itu sendiri masih sering tidak terjadi koordinasi yang baik, 
seperti tampak dalam penanganan kasus-kasus demam berdarah dengue, polio dan 
(ancaman) busung lapar yang merebak baru-baru ini. 

Bila Leimena masih hidup, mungkin salah satu komentar yang beliau lontarkan 
adalah: "Rustig, rustig," (tenang, tenang), yang bukan untuk sekadar 
meninabobokkan masyarakat, tapi masalah dihadapi dengan tenang sambil berpikir 
keras untuk segera mengambil tindakan-tindakan yang tepat guna menghadapi 
masalah tersebut. 

Selamat ulang tahun ke-100 Om Jo. * 


Penulis adalah staf pengajarFakultas KedokteranUniversitas Kristen Indonesia 


Last modified: 3/6/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke