http://www.suarapembaruan.com/News/2005/06/03/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY 

Data Upah Buruh Versi BPS Tidak Maksimal
JAKARTA - Data upah buruh, baik buruh tani, buruh industri, dan pembantu rumah 
tangga yang disiapkan Badan Pusat Statistik (BPS), dinilai belum maksimal. 
Pasalnya, data yang ada belum bisa dimanfaatkan untuk negosiasi antara buruh 
dengan pihak yang membutuhkan tenaga buruh. 

Hal itu dikatakan Lisa Kulp, dari Bank Pembangunan Asia (ADB) yang khusus 
menangani kemiskinan di Indonesia, pada lokakarya bertemakan "Kemiskinan, Upah 
dan Inflasi" di Jakarta, Kamis (2/6). 

Sebenarnya, data upah buruh itu digunakan ADB, yang bekerja sama dengan BPS 
sebagai indikator untuk mengukur kemiskinan di Indonesia. Pasalnya, data 
kemiskinan hanya bisa diperoleh setahun sekali. 

Menurut Direktur ADB untuk Indonesia David Green, pemerintah Indonesia perlu 
mempertimbangkan untuk membuat indikator kemiskinan untuk mengatasi penurunan 
kesejahteraan. Bahkan seharusnya, data-data tentang kemiskinan itu dapat 
disajikan setiap bulan bukan hanya satu tahun sekali. 

Dikatakan, sejauh ini bisa dimanfaatkan adalah data BPS yang dijadikan 
indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan. BPS sendiri mengeluarkan data 
kemiskinan hanya satu tahun sekali melalui data Survei Sosial Ekonomi Nasional 
(Susenas). 

"Kalau diketahui sejak awal tentang tingkat kesejahteraan daerah tertentu, 
penanganan khususnya dari ADB akan cepat dilakukan untuk daerah itu," ujarnya. 


Perubahan 

Sementara menurut Kasubdit Harga Konsumen BPS, Sasmito Wibowo mengatakan, 
perubahan pada nilai upah buruh tani merupakan indikator yang baik untuk 
melihat perubahan terhadap tingkat kemiskinan. 

Dari penelitian yang dilakukan bersama dengan ADB dari 2002-2004, ditemukan 
bahwa selama sembilan tahun terakhir terdapat kecenderungan penurunan tingkat 
upah buruh dengan diiringi kenaikan tingkat kemiskinan. 

Dari penelitian BPS bekerja sama dengan ADB, ditemukan perubahan nilai upah 
buruh tani dan bangunan terhadap tingkat kemiskinan. Hal ini terlihat selama 
periode 1996-2004, pada saat upah buruh dan NTP menurun, angka kemiskinan 
meningkat. 

Pengecualian terjadi pada periode krisis ekonomi selama pertengahan 1998 sampai 
pertengahan 2000. Namun dari 2001-2004, persentase penduduk miskin menurun 
dengan indikator upah buruh yang meningkat. 

Dari proyeksi penelitian tersebut, tingkat kemiskinan sempat meningkat di akhir 
2004 namun menunjukkan penurunan sejak awal 2005. Sementara untuk upah buruh 
bangunan yang merupakan indikator untuk melihat perubahan tingkat kemiskinan di 
daerah perkotaan, pada 2004 sebesar 23,9 persen. 

"Hubungan penduduk miskin dengan upah buruh memang tidak proporsional. Kalau 
upah buruh tani naik 20 persen, tidak serta merta penduduk miskin juga turun 20 
persen. Kita tidak sebutkan berapa persentasenya, kita hanya menyebutkan bahwa 
itu indikator dari tingkat kesejahteraan dan kemiskinan di Indonesia," ujar 
Sasmito. 

Penduduk miskin pada 2004 berjumlah 36,17 juta jiwa atau 16,7 persen dari 220 
juta penduduk Indonesia. Standar garis kemiskinan 2004 mengacu pada Susenas 
dengan ukuran konsumsi penduduk dibawah Rp 123.000 per kapita per bulan. (L-10) 


Last modified: 3/6/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke