http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/04/sh01.html


Tersangka Utama Bom Tentena Ditangkap


Jakarta, Sinar Harapan
Tim gabungan Mabes Polri, Polda Sulteng dan Polres Poso, Jumat (3/6) berhasil 
menangkap E, tersangka pelaku utama peledakan bom di Pasar Sentral Tentena, 
Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso. Tersangka dibekuk di tempat 
persembunyiannya di sebuah pulau di gugusan Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo 
Una-una. 

Sumber SH di Poso, Sabtu (4/6) siang menyebutkan, tersangka E kini sedang dalam 
perjalanan menuju Mapolda Sulteng untuk pemeriksaan lebih lanjut. Berdasarkan 
penyelidikan sementara, E bersama AT (yang kini masih buron) diduga kuat 
sebagai pelaku yang menaruh dua bom di Pasar Sentral Tentena yang meledak Sabtu 
(26/8) sekitar pukul 08.00 Wita dan 08.15 Wita.
"Empat saksi utama yang telah dimintai keterangan oleh tim penyidik bom Tentena 
menyebutkan beberapa saat sebelum bom meledak, E dan AT berada di lokasi 
kejadian. Sementara tersangka AM dan AL berada di sebuah jalan tidak jauh dari 
Pasar Sentral Tentena untuk mengamati aksi E dan AT tersebut," kata sumber yang 
tidak mau disebut namanya itu.


Tersangka E, AT, AL serta AKS adalah narapidana kasus korupsi dana 
pascakerusuhan Poso atau dikenal sebagai dana jaminan hidup (jadup) dan bekal 
hidup (bedup) pengungsi. Keempat narapidana itu ketika terjadi peledakan bom 
tidak berada di Rumah Tahanan (Rutan) Poso. 


Belakangan diketahui Kepala Rutan Poso, Has (yang kini juga ditahan) telah 
melepaskan E, AT, AL serta AKS tanpa izin pengadilan negeri setempat. Ketika 
keluar dari Rutan Poso, para tersangka itu dikawal Aiptu D, anggota Polsek Poso 
Pesisir yang kini juga telah ditahan di Mapolda Sulteng.

Dibenarkan
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulteng, Ajun Komisaris Besar Polisi 
(AKBP) Rais Adam yang akan dikonfirmasi mengenai hal itu tidak bisa dihubungi 
karena telepon genggamnya tidak aktif . Namun, Kepala Bidang Penerangan Umum 
Mabes Polri, Komisaris Besar (Kombes) Zainuri Lubis yang dihubungi SH, Sabtu 
siang membenarkan adanya penangkapan seorang tersangka oleh tim gabungan Mabes 
Polri, Polda Sulteng dan Polres Poso.


Para tersangka yang sudah ditangkap di antaranya Kepala Rutan Poso Has, Jup 
alias Rif, Sur, TF (wanita-red), AKS mantan panti jompo di Poso, Is, Sur, AY, 
Jun, Sah (warga Desa Pandanjaya), Buh, R dan Aiptu D, anggota Polsek Poso 
Pesisir. 
Sumber-sumber yang dekat dengan tim penyidik bom Tentena yang dihubungi SH, 
Sabtu siang menyebutkan, pihak kepolisian kini tengah mendalami peran dari 
masing-masing tersangka. Sebab, dalam pemeriksaan para tersangka yang berjumlah 
14 orang tersebut masih mengelak terkait kasus peledakan bom di Pasar Sentral 
Tentena.

Padahal, tim penyidik telah mendapatkan sejumlah keterangan saksi termasuk 
barang bukti berupa bahan trinitrotoluene (TNT) dari sejumlah tersangka seperti 
pada tubuh serta pakaian Kepala Rutan Poso, Has dan pada setang sepeda motor 
yang dikendarai tersangka E. Bahan TNT juga didapatkan di dalam mobil yang 
ditumpangi AKS, mantan kepala panti jompo di Poso. Petugas juga menemukan 
potongan pipa besi di sebuah blok di Rutan Poso serta di rumah dinas Has. 
Potongan pipa besi itu diduga kuat digunakan sebagai bahan peledakan bom di 
Pasar Sentral Tentena.


Selain bukti itu, petugas juga mendapati sebuah short massage service (SMS) - 
layanan pesan singkat telepon selular - dari salah seorang tersangka berinisial 
Is kepada Kepala Rutan Poso, Has yang bertuliskan: ".persiapkan bahan-bahan ke 
Tentena..." SMS tersebut dikirim dua hari sebelum peledakan bom di Pasar 
Sentral Tentena. Namun, Has menyangkal adanya SMS tersebut. 


Bukti lainnya, tim penyidik juga mendapat informasi bahwa Has dengan kendaraan 
dinasnya DN-45-E pada 24 Mei 2005 atau empat hari sebelum kejadian terlihat 
mengunjungi Desa Pandanjaya. Seperti diketahui Kamis (2/5) petugas menangkap 
tujuh warga Desa Pandanjaya karena diduga terkait kasus peledakan di Pasar 
Sentral Tentena. 


Ketika petugas mengkonfrotir bukti itu, Has menolak dengan menyatakan bahwa 
dirinya tidak ke Desa Pandanjaya."Yang berangkat ke sana adalah staf saya untuk 
mencari dukun berobat," kata petugas mengutip pembelaan Has.

Kemungkinan Motif
Sumber lainnya menyebutkan, motif peledakan bom di Pasar Sentral Tentena 
kemungkinan besar terkait pada dua hal pokok yakni pertama, untuk mengalihkan 
perhatian terhadap kasus korupsi dana pengungsi pascakerusuhan Poso karena 
belakangan desakan agar kasus tersebut diungkap tuntas mulai muncul kembali. 
Terakhir dalam pertemuan antara warga dengan sejumlah lembaga swadaya 
masyarakat (LSM) di Palu, Sulteng, desakan tersebut kembali mencuat. Kasus 
korupsi dana pengungsi pascakerusuhan Poso itu dikenal sebagai dana jaminan 
hidup (jadup) dan bekal hidup (bedup) sebesar Rp 40 miliar lebih. Sebagian 
tersangka yang kini diamankan pihak kepolisian diketahui adalah juru bayar dana 
pengungsi itu seperti AM dan AL.
Sedangkan, motif kedua, sengaja memunculkan kekacauan di Poso agar pemerintah 
pusat kembali mengalirkan dana pengungsi di daerah tersebut sehingga 
pihak-pihak yang selama ini mengkorup dana tersebut dapat kembali menikmati 
anggaran dana pengungsi itu. 


Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar di Jakarta, Jumat (3/6) siang mengungkapkan bom 
yang meledak di Pasar Sentral Tentena dirakit di Rumah Tahanan (Rutan) Poso. 
Dugaan itu diperkuat dengan ditemukannya beberapa bahan yang dipersiapkan untuk 
pembuatan bom seperti botol, tabung serta potongan besi. Bahan-bahan tersebut 
diperoleh setelah petugas menggeledah Rutan Poso.


"Penggledahan ini dilakukan setelah polisi memeriksa Kepala Rutan Poso, Has 
serta seorang narapidana AKS. Keduanya kini ditahan karena terlibat dalam aksi 
peledakan di Pasar Sental Tentena," tambah Kapolri. 


Perkembangan menarik datang dari Yogyakarta. Syaifullah, pelaku pengeboman 
Masjid Gede Yogya pada 2000 mengaku lima anak buahnya terlibat kasus peledakan 
bom di Pasar Sentral Tentena yakni JM, JR, SD, SY dan M. Dia juga mengaku telah 
merakit sebanyak 50 bom. Hal itu diungkapkan Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta 
(DIY) Brigjen Bambang Aris kepada wartawan di Mapolda DIY di Ringroad Utara, 
Yogyakarta, Jumat (3/6) siang. 


Berdasarkan keterangan Syaifullah, 50 bom yang telah dirakitnya sendiri selama 
di Poso itu terdiri dari berbagai bentuk, jenis dan ukuran. Bom-bom itu dibuat 
dari bahan serbuk black powder, detonator, sumbu, kotak/kontainer, pecahan besi 
dan paku berbagai ukuran. "Bom yang saya rakit modelnya adalah bom baker. 
Kemudian bahannya dari botol krating deng, ada detonator, ada paku di dalamnya. 
Bahan peledaknya dari potassium, arang dan belerang yang sudah dicampur," kata 
Brigjen Bambang Aris mengutip pengakuan Syaifullah.


Dari keterangan Syaifullah inilah, maka sejumlah nama yang disebut itu lantas 
dikirimkan ke Polda Sulawesi Tengah untuk membantu penyelidikan guna menguak 
tabir siapa para pelaku pengeboman di Pasar Sentral Tentena.

Instruksi Presiden 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginstruksikan pihak Kepolisian untuk 
meningkatkan kesiagaan mengungkap teroris di Tentena, Ambon dan dan daerah 
lain. Instruksi itu dikemukakan kepada Kapolri Jenderal Pol. Da'i Bachtiar yang 
melaporkan perkembangan keamanan kepada Presiden.

 
"Kemudian upaya pengungkapan jaringan yang telah dilakukan oleh Polri, baik 
kasus bom di Tentena, maupun penyerangan-penyerangan di Ambon dan kaitannya 
dengan lain-lain supaya terus dikembangkan, sehingga ditemukan jaringan yang 
lebih luas dan akarnya," kata Da'i Bachtiar di depan ruang VVIP Bandara Halim 
Perdanakusumah, Jakarta, Jumat (3/6) malam.
Sementara itu sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) mempertanyakan surat 
perintah penghentian penyidikan (SP3) dugaan korupsi dana kemanusiaan untuk 
korban konflik Poso. LSM itu antara lain Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak 
Asasi Mansuia (PBHI) dan Indonesian Coruption Watch (ICW) yang kemarin 
mendatangi Kejaksaan Agung.


Mereka mempertanyakan dikeluarkannya SP3 oleh Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan 
terhadap dugaan korupsi dana kemanusiaan konflik Poso. Maka mereka mendesak 
agar Kejagung mencabut SP3 tersebut dan menindaklanjuti laporan dugaan korupsi 
dana kemanusiaan Poso. 


Dalam pertemuan dengan Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaung Soehandoyo, 
Direktur Eksekutif PBHI Johnson Panjaitan memaparkan, dari hasil investigasi 
terhadap kelompok pengungsi yang seharusnya menerima bantuan pemerintah melalui 
kegiatan forum grup Discussion dan diskusi publik di enam komunitas pengungsian 
di Poso, ternyata masih ada pengungsi yang sama sekali belum menerima bantuan 
tersebut, padahal pengucuran bantuan sudah berlangsung sejak tahun 2002. 
(nor/han/yuk/ega/din)
 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke