http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=175789
Selasa, 14 Juni 2005, Faktor Ekonomi dan Pengetahuan Minim Oleh Niken Indar Mastri * Kasus busung lapar atau istilah medisnya maramus kwasiorkor yang menyerang anak balita (bawah usia lima tahun) sudah mencapai delapan persen. Ini merupakan tragedi yang cukup memilukan. Sesuai dengan proyeksi penduduk Indonesia yang disusun Badan Pusat Statistik, pada 2005 ini jumlah anak usia 0-4 tahun di Indonesia mencapai 20,87 juta. Itu berarti, saat ini ada sekitar 1,67 juta anak balita yang menderita busung lapar. Bahkan, di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), anak balita yang menderita busung lapar mencapai 10 persen dari total anak balita. Dengan demikian, sekitar 49.000 di antara 498.000 anak balita di NTB terjangkit penyakit busung lapar (koran ini, 28/5). Menurut penulis, ada dua hal yang umumnya memicu terjadinya busung lapar. Pertama, faktor ekonomi. Fenomena busung lapar berkaitan erat dengan fenomena kelaparan dan kemiskinan di Indonesia. Artinya, busung lapar, kelaparan, dan kemiskinan bagaikan suatu lingkaran setan yang cukup sulit diatasi. Sebab, timbulnya kasus busung lapar disebabkan kelaparan. Mereka yang kelaparan umumnya miskin. Kemiskinan tersebut menyebabkan terjadinya gizi buruk. Kedua, minimnya pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan anak. Banyak orang tua yang mampu memberi makanan pada balita, tapi tidak mengerti bagaimana cara memberi makan dengan baik dan benar sehingga asupan gizinya kurang. Minimnya pengetahuan masyarakat miskin akan ketersediaan bahan makanan yang mempunyai nilai bagi pertumbuhan fisik menyebabkan suplai karbohidrat dan zat besi dalam tubuh menjadi rendah dan tidak teratur. Akibatnya, perkembangan anak menjadi tidak normal dan kekurangan gizi. Di antara kedua faktor tersebut, perlu ada upaya yang tepat dan cepat untuk meminimalkan meluasnya kasus busung lapar. Pertama, optimalisasi layanan kesehatan terhadap keluarga miskin. Kita patut menyayangkan bahwa kasus busung lapar justru terjadi di era otonomi daerah. Padahal, salah satu tujuan atau pertimbangan dilaksanakannya otonomi daerah di kabupaten/kota merupakan langkah agar pemerintah lebih dekat dengan rakyat dan lebih bisa melayani kebutuhan riil masyarakatnya. Tetapi setelah penerapan otonomi daerah dilaksanakan, berbagai pelayanan kepada masyarakat tidak tambah baik, malah tambah buruk. Salah satu contohnya adalah pelayanan kesehatan di NTB (Nusa Tenggara Barat). Di wilayah tersebut, banyak kasus anak-anak yang mengalami busung lapar cukup parah. Dalam keadaan seperti itu, perlu ada penanganan maksimal yang harus dilakukan Dinas Kesehatan hingga jajaran terbawah. Misalnya, dengan memaksimalkan peran pos pelayanan terpadu (posyandu) dan pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Peningkatan peran kedua lembaga kesehatan itu dapat melalui pemberian gizi berupa makanan pendamping air susu ibu dan pemberian makanan tambahan, khususnya bagi keluarga miskin (gakin). Kedua, meningkatkan program penyuluhan dan pembinaan pada masyarakat miskin. Selama ini, pelayanan puskesmas dan posyandu masih dilakukan setengah hati. Hal itu disebabkan keterbatasan tenaga dan dana. Akibatnya, petugas kesehatan di lapangan hanya mampu melakukan penanganan pemberian vitamin dan nasihat pembinaan kepada orang tua yang membawa anak kurang gizi ke puskesmas. Seharusnya, para petugas juga dapat melakukan pendampingan terhadap keluarga kurang gizi. Bentuk pendampingan itu merupakan langkah tanggap darurat sebagai pemecahan masalah. Bagaimanapun, setiap keadaan darurat selalu membutuhkan cara dan pananganan yang cepat dan tepat. Hal yang sama juga perlu diberlakukan pada saat terjadinya gizi buruk atau busung lapar. Ketiga, pemerintah mau tidak mau harus menuntaskan masalah kemiskinan di Indonesia. Selain diperlukan adanya kebijakan yang efektif, baik melalui optimalisasi layanan kesehatan maupun kegiatan bimbingan dan penyuluhan kesehatan, pemerintah harus menekan angka kemiskinan itu sendiri. Kebijakan strategis harus dirancang untuk membuat kemiskinan berkurang baik secara kuantitas maupun kualitas. Pincangnya penerapan strategi pembangunan selama ini mengakibatkan mereka yang kaya bertambah makmur dan yang miskin bertambah melarat. Itulah ironi pedih di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Dalam hal ini, yang diperlukan ialah konsep modal sosial yang saat ini banyak diyakini pakar pembangunan menjadi salah satu faktor berpengaruh terhadap penanggulangan kemiskinan (Media Indonesia, 2/6). Modal sosial akan melahirkan kesetiakawanan sosial atau solidaritas sosial. Bila strategi pembangunan tidak diimbangi keberadaan modal sosial tersebut, kemakmuran tidak akan diikuti dengan kepedulian terhadap yang miskin. Kasus busung lapar yang menimpa anak balita di beberapa wilayah di Indonesia saat ini harus segera ditangani secara konkret. Upaya itu, misalnya, melalui program pemberian makanan pendamping air susu ibu dan pemberian makanan tambahan bagi anak balita. Dengan kata lain, tindakan paling nyata untuk meminimalkan meluasnya kasus tersebut adalah memberi anak balita makanan bergizi, seperti susu, telur, dan lainnya, secara teratur. Upaya lain adalah mengintensifkan aktivitas di pos pelayanan terpadu dan para kader serta menghidupkan sistem kewaspadaan pangan dan gizi sehingga kasus yang terjadi dapat dideteksi secara dini. * Niken Indar Mastri, mahasiswi Fakultas Peternakan, UGM Jogjakarta [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Has someone you know been affected by illness or disease? Network for Good is THE place to support health awareness efforts! http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
