Kecenderungan masyarakat dunia menuntuk hak dalam kebebasan pribadi
sebenarnya bukanlah hal yang baru.

Tuntutan kebebasan ini sudah ada sejak awal adanya budaya manusia,
namun memang kebebasan itu sendiri harus disunat demi hal2 yang jauh
lebih penting dari tuntutan itu sendiri, yaitu masalah keamanan group,
kelompok, atau bangsa itu sendiri baik dalam hubungannya dengan
ancaman dari luar maupun ancaman pengacauan dari dalam kelompok itu
sendiri.

Demikianlah, segala bentuk pembatasan kebebasan itu bentuknya bisa
berupa penyembahan kepada raja, upeti kepada raja, keharusan menyembah
patung A, B, atau C tergantung ketentuan dari raja yang berkuasa. 
Dalam hal ini juga termasuk aturan2 yang berupa moral maupun etika
yang sangat sering menjadi penyebab keluarga satu atau orang yang satu
membunuh yang lainnya misalnya karena perzinahan, perselingkuhan, dan
lain sebagainya yang menyebabkan kemananan internal dari suatu group
bisa ambrol dan dimanfaatkan group lain untuk menganeksasinya.

Demikianlah, dengan adanya kemajuan teknologi dalam bidang keamanan,
pengaturan, pengetahuan, dan segala bentuk pencatatan sosial, maka
pengontrolan, ataupun pembatasan kebebasan bisa secara bertahap
dilepaskan oleh sang penguasa.  Bahkan bentuk negara yang semula
berupa bentuk kerajaan juga beralih kepada bentuk republik baik
federal, uni, maupun commonwealth dimana tidak lagi dikenal penguasa
yang cuma oleh satu orang atau satu keluarga selama turun temurun.

Dizaman purbakala, satu kelompok suku Indian yang kecil bisa mempunyai
kemampuan untuk menyerang mengalahkan kelompok suku Indian yang lebih
kuat pada waktu tertentu.  Setelah sang raja berhasil ditawan, maka
raja dari suku yang kecil akan melakukan upacara pemenggalan kepala
raja yang kalah dimuka rakyatnya yang tertawan dan yang menyerah. 
Dalam upacara pemenggalan kepala inilah ditunjukkan bagaimana darah
sang raja yang kalah diminum oleh raja yang menang, dan jantungnya
dimakan oleh raja yang menang disaksikan oleh seluruh rakyatnya. 
Setelah upacara selesai, seluruh rakyat suku yang kalah akan menyembah
raja yang menang dan mengakui dengan sepenuh hati sebagai penguasa
yang syah.  Hal ini harus selalu dilakukan, karena hal seperti ini
sudah merupakan kepercayaan, bahwa seorang hanya bisa berkuasa apabila
memang keturunan dari orang yang hubungan dengan alam gaib dimana
dewa2 yang berkuasa menunjuk raja yang seharusnya berkuasa secara
turun temurun.  Demikianlah, hanya mereka yang berdarah raja saja yang
berhak untuk menjadi raja, oleh karena itu seorang rakyat biasa yang
bisa mengalahkan raja harus meminum darah rajanya dan memakan jantung
rajanya untuk mensyahkan orang itu mendapatkan darah raja yang
mengalir dalam darahnya sebagai bukti bahwa dia sudah menjadi orang
yang ditunjuk oleh alam gaib itu untuk menjadi penguasa selanjutnya
sesuai dengan darah yang berhak syah secara ketentuan yang ditetapkan
oleh dewa2nya dialam gaib tsb.  Tradisi suku2 Indian dahulu kala
bukanlah specifik milik bangsa Indian, melainkan juga berlaku bagi
bangsa2 diseluruh dunia yang masih berada dizaman purba dulu. Hal2
seperti inilah yang menjadi bahan study budaya manusia dalam memahami
masa depannya.

Demikianlah, berkembangnya budaya juga menyertai ilmu pengetahuan, dan
semua bidang kehidupan maupun pengaturannya dalam memanage group2 yang
lebih besar dalam hubungannya dengan group2 lainnya.  Dan untuk hal2
inilah kita akan menemui bagaimana struktur kerajaan dan kepercayaan
dari Yunani Kuno, Romawi, hingga akhirnya muncul republic pertama di
Amerika ini yang mempraktekan filosofi dari JJ Rosseau tentang "Trias
Politica" yang dinegara Perancis sendiri tak mungkin dipraktekan. 
Juga dengan lahirnya "Republic" dimulailah system sekulerisme dimana
seorang penguasa bisa berganti secara periodic melalui pemilihan umum
yang berdasarkan evaluasi masyarakatnya sendiri.  Kalo dulu rakyat
harus menyembah dan mengabdi kepada rajanya yang bertanggung jawab
kepada alam gaib yang dikuasai simbol Tuhan, Dewa, Allah, ataupun
jenis2 Setan, maka dengan lahirnya Republic ini, sang pemimpin bukan
lagi disembah, justru sebaliknya harus mengabdi kepada kepentingan dan
kesejahteraan rakyatnya.

Kesimpulannya:

Tradisi zaman dulu kala, rakyat menyembah Raja karena Raja adalah
wakil alam Gaib yang dikuasai Dewa2, Tuhan2, Allah2an, ataupun
setan2an.  Raja inilah yang jadi penghubung yang menyampaikan
kebutuhan2 alam gaib kepada masyarakatnya dalam menciptakan variasi2
persembahan yang dilakukannya.  Pendeta2nya diangkat raja untuk
melaksanakan upacara2 persembahan tsb, yang sering memerlukan korban2
jiwa yang dikorbankan.  Raja yang berkuasa itu ditunjuk oleh alam
gaib, dan keturunan Raja juga akan berkuasa sama seperti Raja
berdasarkan darah keturunan tadi.  Siapapun rakyat jelata yang tidak
berdarah Raja bisa jadi penakluk Raja yang harus meminum darah Raja
sebelumnya dan memakan jantungnya untuk mendapatkan pengesyahan
pengangkatan Raja baru sebagai bukti orang ini juga mempunyai darah
keturunan Raja.

Pergeseran penyembahan dari banyak Dewa2 penguasa alam gaib kepada
penyembahan satu Tuhan atau satu Allah diakhirat yang oleh kaum agama
dinamakan pergeseran dari Politheist menjadi Monotheist, dulunya
dianggap sebagai kemajuan yang significant yang menjadi tanda dari
kemajuan kebudayaan manusia.  Secara scientific, anggapan ini sekarang
tidak lagi dianggap sebagai lompatan kemajuan daripada budaya manusia
(meskipun masih banyak umat agama yang menganggapnya demikian). 
Dizaman sekarang, pergeseran Politheist menjadi Monotheist sama sekali
tidak significan, dan baru kita sadari bahwa tidak ada batas dalam
pergeseran tsb karena memang tidak ada pergeseran apapun yang terjadi
selain daripada kemajuan manusia dalam membuat nomenklatur yang di-era
komputerisasi dan databases sekarang ini kita namakan system Hirarki
ataupun system Tree.  Tidak ada system monogami yang katanya cuma
mengenal satu Tuhan ternyata masih bisa ditranslasi sebagai Trinitas
atau sebagai Asmaul Husna yang keduanya baik mewakili 3 sifat ataupun
mewakili 100 sifat dalam satu Tuhan.  Hal yang sama sebenarnya
tidaklah berbeda dengan hirarki kekuasaan Dewa2 yang teratas dikuasai
oleh Zeus, atau Trimurti yang merupakan satu Dewa dengan 3 kepala
dengan 6 tangannya yang tetap merupakan satu tubuh dalam hirarki yang
sebenarnnya yang dianggap sebagai mewakili poltheisme.  Jelasnya,
tidak ada perbedaan dalam monotheis dan politheis selain klassifikasi
umat monotheist yang ingin membasmi kelompok yang dituduhnya politheist.

Dengan terus berkembangnya budaya, teknologi, ekonomi, maupun system
kenegaraan, maka perkembangan kepercayaan juga berkembang makin jauh
melepaskan diri dari ikatan2 penafsiran tunggal hanya dari satu
penguasa negara.  Kalo dizaman dulu hanya raja yang bisa membuat
tafsirnya, maka dizaman sekarang setiap orang boleh membuat tafsirnya
sendiri tanpa takut dihukum mati.  Kesemuanya ini mengakibatkan
perubahan2 drastis yang tidak bisa dicegah lagi, siapapun, atau
penguasa manapun yang berusaha menahannya akan terguling dengan
sendirinya, hanya penguasa2 yang mampu beradaptasi dengan situasi baru
ini sajalah yang akan berhasil berkuasa menjadi penguasa yang
sebenarnya.  Banyak penguasa2 dunia yang tidak mampu memahami
pergeseran budaya manusia yang terjadi sekarang ini yang tidak lagi
bisa dengan mempelajari teladan2 dizaman dulu kala dalam memegang
tampuk pemerintahan.  Saya tidak bisa memberi secara detail perbedaan2
yang ada, tetapi secara garis besarnya sama2 harus kita mengetahuinya
demi keselamatan kita bersama dari kesalah pahaman dalam menafsirkan
penempatan agama atau kepercayaan kita sendiri.

1)****Kalo dulu, rakyat menyembah raja secara turun temurun karena
raja adalah mewakili alam gaib untuk menyampaikan kepada rakyatnya
persembahan yang dibutuhkan penguasa alam gaib itu.  Dengan singkat,
rakyat hanya bisa sejahtera kalo persembahannya diterima oleh alam
gaib, dengan kata lain, kehidupan kita sebenarnya untuk memenuhi
kepentingan alam gaib tadi.

2)****Berbeda dizaman sekarang, Penguasa naik melalui pemilihan umum
berdasarkan pengabdian sang pemimpin kepada rakyatnya bukan seperti
dulu dimana rakyatnya yang harus mengabdi kepada pemimpin dalam
menterjemahkan kepentingan alam gaib yang diabstraksikannya.

Ringkasan dari tulisan ini adalah:

Seorang pemimpin bisa terpilih karena pengabdian kepada kesejahteraan
rakyatnya bukan karena bisa memaksa rakyat menghaturkan persembahan
kepada dirinya.

Pemimpin dizaman dulu mewakili kepentingan alam gaib (agamanya), dan
rakyat wajib menyembah kepada kekuasaan ini demi kesejahteraannya. 
Demikianlah, umat dulu melakukan upacara persembahan demi kepentingan
alam gaib (agama) dengan mengorbankan kepentingannya.

Pemimpin dizaman sekarang mewakili kepentingan kesejahteraan rakyatnya
(bukan agamanya), sedangkan umat sekarang tidak lagi melakukan upacara
persembahan melainkan melainkan upacara sembahyang menyampaikan
permohonan agar menambah rezeki diluar standard kesejahteraan yang
telah disediakan oleh penguasanya.

Dengan kata lain, umat dulu melayani permintaan kesejahteraan bagi
Tuhannya, namun umat sekarang justru minta Tuhannya untuk memeberi
kesejahteraan kepada mereka melalui sembahyangnya.

Semoga dengan tulisan yang ringkas diatas ini bisa memberi peta posisi
anda antara Negara dan Kepercayaan.

Ny. Muslim binti Muskitawati.




Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke