http://www.indomedia.com/bpost/062005/18/opini/opini1.htm
Busung Lapar Oleh: Alfitri Dalam pemberitaan di media masa akhir-akhir ini, heboh masalah gizi yang disebut busung lapar yang dalam Bahasa Belanda disebut Honger Oedeem (HO). Istilah ini dihubungkan dengan kelaparan yang diakibatkan kekurangan pangan. WHO memperkenalkan dengan istilah Kurang Energi Protein (KEP) atau Protein Energy Malnutrition. Secara klinis gambaran penyakit kekurangan gizi pada balita dibedakan antara kwashiorkor, marasmus dan marasmic-kwashiorkor. Sediaoetama (1989) menyatakan, kwashiorkor dapat diartikan sebagai penyakit KEP dengan kekurangan protein sebagai penyebab dominan. Marasmus digambar dengan defisiensi energi yang ekstrim, sedangkan marasmic-kwashiorkor merupakan kombinasi defisiensi energi dan protein. KEP berat yang terjadi sekarang juga dipertanyakan. Kenapa terjadi di NTB yang terkenal sebagai daerah lumbung padi? Sebenarnya gizi selalu terkait dengan berbagai dimensi, meskipun jelas merupakan masalah kesehatan. Penanggulangannya tidak efektif hanya dengan pendekatan medis, pemecahannya memerlukan analisis ekonomi dan manajemen. Walaupun pada hakikatnya masalah gizi merupakan masalah kekurangan pangan, pemecahannya tidak dengan sendirinya berupa peningkatan produksi atau penyediaan pangan saja tetapi juga memerlukan peninjauan aspek kelancaran distribusi, keterjangkaun daya beli dan kestabilan harga. Sebagai contoh, sejak Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984, dimana produksi pangan khususnya beras melebihi rata-rata kebutuhan penduduk, tetapi data menunjukkan, masa itu prevalensi gizi kurang pada kelompok penduduk tertentu terutama wanita hamil dan anak balita masih tinggi. Kekurangan gizi yang dialami pada masa balita berakibat negatif terhadap tumbuh kembangnya. Dampak dimaksud, menurut Soekirman (2000), akibat negatif dari kekurangan gizi terhadap kesejahteraan perorangan, keluarga dan masyarakat sehingga merugikan pembangunan nasional. Secara umum KEP pada balita, antara lain dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian anak, di masa dewasanya dapat menurunkan produktivitas kerja dan menimbulkan generasi dengan IQ yang relatif lebih rendah. Masalah gizi secara langsung disebabkan oleh makanan (konsumsi) dan status kesehatan (penyakit infeksi). Penyebab tidak langsung adalah ketahanan pangan rumah tangga, pola pengasuhan anak serta pelayanan kesehatan dan kesehatan lingkungan keluarga. Ini terbukti dari beberapa kasus yang ditemui. Tidak selalu Balita KEP disebabkan kekurangan pangan dan atau kemiskinan, tapi juga bisa karena adanya penyakit tertentu. Bahkan Balita KEP bisa juga ditemui pada keluarga mampu, disebabkan pola makan dan pola asuh balita yang salah. Biasanya berpangkal dari pendidikan dan atau pengetahuan gizi yang rendah. Ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tecermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. UU Nomor 7 Tahun 1996 mengatur hak azasi manusia atas akses pangan. Ini berarti, setiap individu manusia Indonesia berhak memperoleh pangan yang cukup, aman dan bergizi. Ketahanan pangan dapat terjamin apabila ketersediaan pangan dan aksesibilitas terhadap pangan terjaga, baik dari produksi maupun pembeli. Sebagian besar mata pencaharian penduduk Indonesia di bidang pertanian, dan jika kita membicarakan produksi pertanian gambaran pertama yang kita lihat adalah beras. Sebagian besar makanan pokok penduduk Indonesia adalah beras. Penggunaan beras yang paling utama adalah sebagai pangan (sekitar 90 persen), hanya sebagian kecil digunakan untuk makanan ternak dan industri. Untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri, pemerintah melalukan peningkatan luas lahan/panen dan peningkatan hasil per hektare dengan adanya Bimas, Inmas dan Insus. Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki keanekaragaman sumberdaya hayati terbesar didunia, tetapi tidak banyak produk pertanian yang bisa diandalkan. Coba bandingkan dengan negara Asean lainnya, Thailand terkenal dengan beras, ayam, hingga buah-buahannya atau Malaysia dengan kelapa sawit, ikan Louhan hingga ayam hias. Keberhasilan yang mereka dapat tentu saja dengan manajemen agrosistem yang baik. Bagaimana dengan Indonesia? Berbagai kebijaksanaan yang ditempuh pemerintah hingga saat ini masih menyisakan pertanyaan bagi kita. Apakah petani telah mencapai kesejahteraan? Sistem pertanian (peternakan, perikanan dan perkebunan) kita selama ini telah dijejali/dimanjakan dengan berbagai hasil teknologi berupa; bibit unggul, pupuk dan pakan serta berbagai obat-obatan pertanian. Pada gilirannya ketergantungan pada hasil teknologi tersebut membuat petani kita rentan terhadap kenaikan harga input pertanian. Mahalnya harga pupuk, pakan dan obat-obatan serta marjin pemasaran menyebabkan biaya tinggi dalam produksi pertanian tidak sebanding harga jual hasil pertanian. Belum lagi dengan penaikan harga BBM yang mengakibatkan berbagai harga kebutuhan petani kita meningkat tapi tidak diiringi dengan penaikan harga hasil pertanian. Petani tetap saja tercekik oleh sistem yang tidak menguntungkan, sehingga banyak hasil panen petani tidak mencukupi kebutuhan setahun karena habis terjual untuk berbagai kebutuhan. Apalagi petani penggarap, nasib mereka jauh dari sejahtera. Akhirnya selalu saja yang mengambil keuntungan adalah mereka yang punya akses distribusi dan pemodal besar. Di sisi lain, upaya pemerintah menasionalkan beras sebagai makanan pokok. Ini membuat beberapa daerah di Indonesia Timur yang makanan pokoknya sagu atau jagung, beralih mengonsumsi beras sebagai makanan pokok. Akibatnya, ketergantungan dan kebutuhan beras nasional makin meningkat. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, perlu ditumbuhkan sektor pangan dan pertanian yang efesien serta penciptaan kesempatan kerja. Efesiensi biaya pertanian dapat dilakukan dengan cara: Penggunaan pupuk dan obat-obatan secukupnya dengan memperhatikan dampak lingkungan; Menjaga input pertanian agar didistribusi merata dan terjangkau petani, melakukan penelitian dan pengembangan bibit unggul yang berasal dari sumberdaya hayati Indonesia dan penelitian dan pengembangan pemanfaatan musuh alami hama tanaman, peningkatan sumberdaya (pengetahuan dan keterampilan) petani; setiap petani hendaknya tidak hanya mengandalkan pada satu komoditas dan kebijaksanaan pangan lainnya yang mendukung (harga dan ekonomi makro lain), di samping itu setiap proyek/program pertanian hendaknya benar-benar sesuai dengan kondisi lokal sehingga bisa berkelanjutan. Sebagai upaya pemantapan ketahanan pangan, setiap daerah (kabupaten/kota) hendaknya memiliki perencanaan ketersedian pangan baik pada tingkat konsumsi maupun penyedian untuk mencapai Pola Pangan Harapan (PPH). Basis data yang dapat digunakan dalam perencanaan ketersedian pangan bisa berasal dari dari Neraca Bahan Makanan (NBM) dari sektor pertanian. Atau jika data NBM belum tersedia di semua kabupaten, data Pemantauan Konsumsi Gizi (PKG) dari sektor kesehatan yang setiap tahun dilaksanakan dapat dijadikan data dasar perencanaan ketersediaan pangan. Data ini sebagai bahan kebijakan pemerintah kota/kabupaten untuk menganalisa berbagai komiditas untuk meningkatkan ketahanan pangan daerah, agar terpenuhi kebutuhan gizi penduduk dengan mengacu pada PPH. Kasus Busung Lapar atau gizi buruk akan segera diketahui dan mendapat penanganan yang baik, jika setiap balita aktif mengikuti kegiatan Posyandu. Karena, Posyandu --selama dilaksanakan-- merupakan sarana untuk memantau pertumbuhan balita dan menapis Balita KEP melalui penimbangan berat badan. Selain itu Posyandu memberikan pelayanan kesehatan lain lain imunisasi, diare, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), ibu hamil dan menyusui serta KB dan lain-lain. Selama ini kegiatan Posyandu masih belum maksimal. Lihat saja Sistem Lima Meja di Posyandu sekarang jarang dilaksanakan, termasuk kinerja kader Posyandu masih belum optimal. Mengingat pentingnya manfaat Posyandu, hendaknya keberadaannya ditingkatkan lagi dengan mengembalikan konsep bahwa posyandu dari masyarakat untuk masyarakat. Di samping pelatihan/penyegaran kader, perlu juga pemberian insentif bagi mereka serta peningkatan kerja lintas sektor. Sebagai usaha perbaikan gizi, pemberdayaan masyarakat juga perlu dilakukan dengan menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan keluarga, sikap dan perilaku gizi seimbang sehingga terbentuk keluarga mandiri sadar gizi (kadarzi), yaitu keluarga yang berperilaku gizi seimbang, mampu mengenali masalah kesehatan dan gizi bagi setiap anggota, mampu mengambil langkah untuk mengatasi masalah gizi keluarga. Salah satu indikator kadarzi adalah mengonsumsi makanan yang beraneka ragam. Dengan mengonsumsi makanan yang beraneka ragam, berarti mengurangi pemenuhan kebutuhan gizi (energi) yang bersumber pada makanan pokok (nasi). Secara teori juga meningkatkan PPH yang selanjutnya mengurangi konsumsi dan ketergantunga pada beras sebagai sumber energi utama. Kinerja Kelembagaan Pangan dan Gizi daerah juga perlu ditingkatkan dalam menangani masalah pangan dan gizi. Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) merupakan suatu wadah untuk mengumpulkan informasi pangan dan gizi secara dini, mengolah dan menyajikan informasi pangan dan gizi serta melaksanakan tindak lanjut/intervensi terhadap masalah pangan dan gizi. Keberadaan Tim SKPG dari kabupaten hingga desa yang terdiri atas berbagai instansi juga perlu dimaksimalkan dalam mengumpulkan informasi berupa: Indikator umum seperti konsumsi pangan, status gizi dan harga pangan pokok; Indikator bersifat lokal. Misalnya, makin banyak penduduk yang mencari nafkah ke luar daerah, meningkatnya kriminalitas dan lain sebagainya tergantung daerah masing-masing. Upaya yang terpenting pada akhirnya tergantung komitmen pemerintah untuk menangani masalah pangan dan gizi bersama. Pemerhati pangan dan gizi, tinggal di Marabahan [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
