http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/25/daerah/1838202.htm
Dulu Kabut, Sekarang Asap INGATAN orang akan Kota Bandung yang sejuk, asri, hijau, dan lepas dari hiruk-pikuk lalu lalangnya kendaraan kini punah sudah. Dalam kenangan Hadi Rana (46), pegawai negeri sipil di salah satu instansi pemerintah, Kota Bandung di masa lalu adalah keindahan. Hadi yang menghabiskan masa kecil di kawasan Cihampelas masih bisa menggambarkan betapa nyamannya Bandung pada tahun 1960-an. Menurut Hadi, dulu kawasan yang kini terkenal sebagai pusat penjualan busana jins itu masih lengang. "Kalau jalan-jalan, saya masih bisa melihat kabut turun sepanjang jalan," tutur Hadi. Kala itu angkutan kota masih jarang. Alat transportasi utama adalah opelet. Memasuki tahun 1980-an mobil mulai banyak. Lama-kelamaan Jalan Cihampelas dipenuhi toko dan menjadi sumpek. Sekarang memang terlihat asap putih serupa kabut di sana. Namun, bukannya kabut yang membuat sejuk, melainkan asap dari knalpot kendaraan yang bisa bikin gerah. Kota Bandung memang telah bermetamorfosis. Kota yang mojang-nya terkenal geulis-geulis itu kini lebih banyak menuai keluhan. Kota Bandung terletak pada ketinggian 791 meter di atas permukaan laut (dpl). Bahkan, bagian utara mencapai ketinggian 1.050 meter dpl. Karena ketinggiannya itu, ibu kota Provinsi Jawa Barat ini berhawa sejuk dan saat itu tumbuh banyak bunga di berbagai sudut kota. Walaupun tak begitu mudah menemukan bunga lagi di sana, Bandung tetaplah mendapat sebutan Kota Kembang. Bukan hanya julukan itu yang melekat pada Kota Bandung. Haryoto Kunto dalam bukunya yang berjudul Wajah Bandung Tempo Doeloe (1984) memaparkan, di Bandung tempo dulu bisa ditemui taman, lapangan terbuka, dan boulevard yang menghiasi wajah kota. Arsitektur gedung-gedungnya pun beragam. Dari gaya klasik penuh ornamen, art nouvo dengan konsep alam, hingga art deco yang menampilkan kesederhanaan. Tak heran jika Kota Bandung juga berjuluk Parijs van Java. Kecantikan panorama alam sekitar Kota Bandung juga menjadi daya tarik wisata yang memikat. Sebutlah kawasan Lembang yang bila berlanjut ke Tangkubanparahu hanya perlu waktu sekitar 25 menit. Begitu pula Air Terjun Maribaya yang berjarak enam kilometer dari Lembang. Apabila tidak macet, Bandung-Lembang bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Selain itu, meski sekarang dibayang-bayangi kerusakan lingkungan, kawasan Bandung Utara seperti Dago dan Punclut masih menyajikan panorama yang memesona. Dalam surat bertahun 1937 yang berjudul Our Impressions of Bandung, Tuan dan Nyonya W Finnimore dari London menuliskan, Bandung istimewa jatuh dalam pilihan karena dekat letaknya, mudah dicapai dari segala tempat, dan banyak panorama indah dalam bentuk keajaiban alam yang langka ditemui di tempat mana pun di dunia. Semua itu terdapat lengkap dalam suatu wilayah yang tidak begitu luas (Kunto, 1984). SEIRING dengan berjalannya waktu, tujuan wisata di Kota Bandung pun bergeser. Sejarah mencatat, Braga dikenal sebagai de meest Europeesche winkelstraat van Indie atau jalan kompleks pertokoan Eropa yang paling terkemuka di Nusantara. Namun, wisata panorama tetap menjadi primadona. Tujuan wisata bergeser ketika akhir tahun 1990-an mulai bermunculan toko-toko pakaian sisa ekspor yang lekat disebut factory outlet (FO). Kini FO tersebar di kawasan Jalan Riau dan Dago. Tak dapat disangkal, hasrat memiliki pakaian bermerek dengan harga miring terakomodasi dengan berbelanja di FO. Merek-merek terkenal seperti Versace, Aigner, Guess, dan Calvin Klein bisa dengan mudah ditemukan di gerai-gerai FO. Sebutan Parijs van Java pun lebih tepat untuk urusan busana daripada arsitektur gedung dan lanskap kota. DATA Dinas Pariwisata Kota Bandung menunjukkan, pada tahun 2004 kunjungan wisatawan domestik mencapai 1.687.355 dan wisatawan mancanegara sebanyak 73.194 orang. Menurut Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Bandung Edy Rachmat, kedatangan para wisatawan berpengaruh positif pada pendapatan asli daerah. Namun, Edy tidak merinci berapa besar kontribusinya. Sayangnya, citra kota belanja yang telanjur kuat melekat membuat obyek wisata lain kurang dilirik. Padahal, selain sebagai surga belanja, Kota Bandung juga memiliki berbagai alternatif tempat wisata. Museum Geologi, misalnya, menawarkan wisata edukasi. Obyek wisata yang terletak di Jalan Diponegoro ini menyimpan sedikitnya 250.000 koleksi batuan dan mineral serta sekitar 60.000 koleksi fosil. Selain itu, Museum Geologi juga dilengkapi dengan auditorium sebagai sarana edukasi. Para wisatawan bisa melihat fosil asli hewan purba, seperti Stegodon trigonocephalus. Wisata edukasi plus budaya juga bisa dinikmati di Museum Sri Baduga yang terletak di dekat Lapangan Tegallega. Sedikitnya 5.854 koleksi dipamerkan di sana, antara lain koleksi geologi, geografi, biologi, arkeologi, etnografi, histografi, dan filologi. Salah satu wisata budaya yang banyak diminati turis mancanegara adalah Saung Angklung Udjo (SAU). Di SAU, wisatawan bisa menikmati pertunjukan angklung dan tarian anak-anak yang diadakan setiap sore. (d01/d06/d10) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
