MEDIA INDONESIA
Minggu, 03 Juli 2005


                     Pendidikan dan Cara Berpikir Bangsa

 
SALAH satu urusan besar bangsa ini ialah bagaimana merombak cara berpikir yang 
menghormati jalan pintas. Yaitu, mengejar hasil tanpa mengindahkan proses.

Akibatnya, sangat merugikan bangsa. Contohnya, korupsi adalah jalan pintas 
menuju kaya (sebagai hasil akhir) dengan tidak perlu kerja keras, jujur, 
produktif, dan efisien (sebagai proses). Contoh lain, orang tidak mau antre 
yang tertib, tetapi main serobot. Yang penting tujuan tercapai, dan bukan soal 
bagaimana caranya.

Adalah mengerikan cara berpikir busuk itu justru diagungkan dan dilembagakan 
Departemen Pendidikan Nasional. Sebuah departemen, yang mestinya bertugas 
mengubah cara berpikir bangsa, agar semakin cerdas.

Semua kita tahu pendidikan merupakan proses yang sangat panjang. 

Pendidikan sangat menghormati proses, dan sangat yakin dan percaya bahwa hasil 
yang baik karena proses yang baik. Karena itu, Departemen Pendidikan Nasional 
merupakan lembaga yang seharusnya paling dituntut untuk mengedepankan dan 
membela prinsip berpikir dan bersikap menghormati proses untuk mencapai hasil.

Tetapi, apa yang terjadi? Departemen Pendidikan Nasional justru merupakan ujung 
tombak terdepan bagi pelestarian cara berpikir yang merusak bangsa, yaitu 
menjunjung tinggi hasil, meremehkan proses. Sesungguhnya, itulah yang terjadi 
dengan ujian nasional, yang sekalipun telah ditentang oleh sejumlah pakar 
pendidikan, tetapi toh tetap dengan keras kepala dan dengan kekuasaan 
dilaksanakan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Ujian nasional adalah instrumen untuk mengukur hasil proses belajar mengajar 
secara nasional. Hasilnya diukur dengan standar yang sama, padahal prosesnya 
belum dibuat sama. Misalnya, terdapat ketimpangan jumlah dan mutu guru bahasa 
Inggris dan matematika. Tidak aneh, kalau banyak yang tidak lulus gara-gara 
bahasa Inggris dan matematika.

Menteri Pendidikan Nasional rupanya buta dengan realitas bahwa belum ada 
kesetaraan proses belajar mengajar secara nasional, karena itu tidak ada 
kesetaraan kualitas pendidikan secara nasional. Eh, dengan tidak peduli pada 
kesenjangan itu, tetap dipaksakan ujian nasional.

Padahal, sangat dasar, ujian hanyalah salah satu instrumen untuk mengukur hasil 
pendidikan, setelah melalui proses belajar mengajar yang intensif. Perkembangan 
dan kemajuan anak didik dicermati dari waktu ke waktu, dan bukan main sulap, 
mendadak di ujung diuji.

Dalam perspektif itu, ujian akhir semestinya bukan satu-satunya penentu 
prestasi anak didik. Ujian akhir bukanlah pisau guillotine yang memenggal leher 
anak didik, tanpa memedulikan proses belajar dari hari ke hari.

Mengejar hasil tanpa menghiraukan proses, adalah cara berpikir yang telah 
merusak bangsa. Ia menyuburkan jalan pintas, mengembangkan mentalitas 
menerabas, antara lain menyebabkan korupsi subur di negeri ini. Ironisnya, di 
negeri ini, justru Departemen Pendidikan Nasional, yang memupuk mental mengejar 
hasil akhir, tanpa menghormati proses.

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke