Barangkali, apa yang mendasari manusia zaman dahulu
(dan yang masih dipertahankan dengan mati-matian oleh
sebagian manusia zaman sekarang) berpikir bahwa
manusia adalah suatu makhluk yang sangat berbeda
dengan makhluk lainnya, adalah karena perbedaan
kehidupan yang sangat nyata tersebut.

Dengan segala keterbatasan pemahamannya, manusia
sampai pada kesimpulan bahwa pasti ada sesuatu
kekuatan yang maha kuat yang telah menciptakan
manusia, dan memberikannya hidup yang sangat berbeda
ini.

Manusia, sebenarnya bukanlah makhluk yang paling
unggul.

Dari segi kekuatan, apa yang dimiliki manusia tentulah
tidak ada apa-apa dibanding kekuatan yang dimiliki
oleh seekor gajah.

Dari segi kecepatan berlari, seekor anjing akan dapat
mengalahkan manusia. Apalagi seekor citah.

Dari segi ketajaman mata, mata manusia tidak ada
apa-apanya dibanding mata seekor elang.

Kemampuan manusia untuk mobile, memindahkan dirinya
sendiri juga sangat terbatas, karena ia hanya
mengandalkan kedua kakinya untuk berpindah tempat.
Bandingkan dengan kemampuan burung-burung yang mampu
bermigrasi lintas benua.

Adalah sebuah kesalah-kaprahan yang maha nyata,
beberapa ajaran agama menyatakan bahwa tuhan (mereka)
telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk,
dan merupakan ciptaan yang paling sempurna.

Ketakjuban manusia (yang sampai melahirkan statemen
diatas) terhadap taraf kehidupan manusia tentu
membuatnya tidak sampai berpikir tentang
perbandingan-perbandingan di atas.

Bukan cuma itu, manusia juga sempat berpikir bahwa
kita semua diciptakan dari awal dengan bentuk seperti
ini. Dan manusia yang pertama diciptakan adalah Adam.
Pengetahuan yang kita peroleh, adalah Tuhan yang
mengajarkannya pertama kali kepada Adam.

Salah satu kesalah-kaprahan yang maha nyata lainnya.

Hal yang membuat manusia semakin maju meninggalkan
kerabatnya yang lain adalah kemampuan untuk
mempelajari sesuatu, dan menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.

Makhluk-makhluk maha kuat seperti dinosaurus tidak
berdaya menghadapi bencana, sehingga mereka musnah.
Namun, ada makhluk yang mampu bertahan menghadapi
bencana yang telah memusnahkan dinosaurus tersebut,
yaitu mamalia.

Dan akhirnya salah satu keturunan mamalia tersebut
menguasai bumi ini, yaitu manusia.

Namun demikian, tentu tidak semua manusia yang bisa
beradaptasi dan mempergunakan otaknya. Disaat
pemahaman manusia tentang suatu hal berubah, di saat
ia mencapai kemajuan yang maha penting, ada sebagian
(besar) manusia lain yang tetap mempertahankan hal-hal
yang terbukti salah.

Penggantungan, pembunuhan, dan pembakaran biadab yang
dilakukan oleh lembaga keagamaan terhadap para ilmuwan
yang mengemukakan kebenaran adalah contoh nyata. 

(Adakah mereka minta maaf?)

Suatu saat, agama hanya akan dikenang sebagai mitos
yang berkembang karena keterbatasan pengetahuan
manusia. Kelahiran agama-agama besar berlangsung
sekitar 2000-1500 tahun yang lalu, namun saat ini
kelahiran agama-agama yang memiliki pengikut cukup
signifikan bisa dikatakan tidak ada.

Namun cuma sebagian kecil manusia yang mau menyatakan
secara terbuka, bahwa mitos-mitos dalam agama
(regardless segala kemuliaan yang diklaim oleh
penganutnya) adalah sesuatu yang TIDAK benar.

Dan sebagian kecil manusia yang lebih mampu berpikir
itulah yang dinamakan para ateis.


*Xyzman

Indonesian Atheist

[email protected]
http://geocities.com/indonesian_atheist
http://groups.yahoo.com/group/ateis








--- yanandapr <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Panjang keterangan anda, tetapi tetap belum mengerti
> apa intuisi itu 
> sesungguhnya!
> 
> Intuisi tak mungkin berkembang jika
> logika-intelektual lahiriyah 
> tidak sempurna.
> 
> Jika anda ngaku dulu pernah menggunakan intuisi,
> ketahuilah bahwa 
> itu hanyalah refleks-refleks (naluri) semata, karena
> anda mengatakan 
> tak melibatkan pikiran (logika lahir) saat itu.
> Perlu anda ketahui 
> bahwa binatang pun punya refleks-refleks
> native/alamiah (naluri).
> 
> Intuisi itu berada diatas
> logika-pikiran-intelektual, dan yang 
> sejatinya disebut berpikir (tafakkur) itu adalah
> adanya PROSES 
> MELOMPAT / MENINGKAT dari pengolahan
> logika-lahir-material ke logika-
> bathin-immaterial.
> 
> Masih bingung...?
> 
> Kasus kucing vs manusia yang anda ajukan adalah
> tetap sama saja. 
> keduanya belajar hubungan sebab-akibat yang masih
> dalam tataran 
> panca-inderawi semata. Dan itu tidaklah menjadi
> pembeda antara 
> manusia dan binatang.
> 
> Coba anda pahami etika, estetika, moral, cinta
> itu...
> Kira-kira peralatan inputnya dari mana? apakah dari
> pancaindera anda?
> Itu anda kategorikan material ataukah immaterial?
> 
> Apakah anda sudah puas dengan temuan korelasi antara
> perubahan emosi 
> dgn perubahan proses hormonal itu? Itu tidak
> menjawab hubungan sebab-
> akibat bung! Itu hanya mendeskripsikan efek pada
> tubuh saja, dan 
> sama sekali tidaklah membuktikan hubungan
> sebab-akibat.
> 
> Bagaimana jika seandainya saya katakan bahwa anda
> mencintai anak dan 
> istri anda hanyalah semata-mata karena anda
> kelebihan hormon 
> adrenalin dalam tubuh misalnya, apakah anda
> setuju??? 
> Lantas jika metabolisme hormon ini dihambat apakah
> lantas tiba2 anda 
> menjadi kehilangan rasa cinta tersebut! Apakah anda
> percaya dengan 
> paham materialisme macam ini?
> 
> Begitu...

...

_____
There is no thing such as genie, Satan, or god. (Xyzman)


                
____________________________________________________ 
Yahoo! Sports 
Rekindle the Rivalries. Sign up for Fantasy Football 
http://football.fantasysports.yahoo.com


Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke