http://www.mediaindonesia.com/read/2011/12/24/286619/70/13/Kedamaian-kian-Hilang


Kedamaian kian Hilang 
Sabtu, 24 Desember 2011 00:00 WIB Komentar: 13
0   0LEMBARAN almanak 2011 segera berakhir dan bersalin dengan 2012. Banyak 
yang sudah dicapai dalam rentang 365 hari silam, tetapi tidak sedikit yang 
membuat kita menghela napas panjang, pesimistis bahkan waswas. 

Salah satu yang merisaukan kita selama tahun ini ialah kekerasan yang seakan 
menaburi segenap penjuru Tanah Air. Seolah tidak ada lagi tempat damai di 
negeri ini. 

Ada penembakan misterius di Papua serta pembantaian keji di Mesuji, Lampung dan 
Sumatra Selatan. Ada pembakaran kantor dinas dan rumah pribadi gubernur serta 
perusakan rumah-rumah ibadah. 

Di Gedung DPR tempat para wakil rakyat terhormat, kekerasan juga terjadi. 
Kesantunan berpolitik kian pupus. Yang muncul ialah perang kata-kata vulgar, 
menjurus ke caci maki yang menjijikkan. 

Kekerasan juga dipertontonkan secara arogan oleh pejabat pemerintah. Mereka 
yang seharusnya menjadi contoh menjunjung hukum secara angkuh mengangkangi 
putusan pengadilan. Lihat saja Wali Kota Bogor Diani Boediarto yang tidak 
melaksanakan putusan Mahkamah Agung, tetapi tetap melarang jemaat GKI Yasmin 
beribadah di gereja mereka. 

Rakyat yang terimpit secara ekonomi menyaksikan kekerasan demi kekerasan 
berlomba muncul tanpa negara berdaya meredam itu. Para elite pemerintahan hanya 
sibuk membangun citra dan rajin mematut diri. 

Kekerasan yang muncul di mana-mana ditiru secara sempurna oleh pelajar dan 
mahasiswa. Tengoklah di jalan-jalan utama di kota-kota besar, para pelajar 
begitu mudah tawur. Mereka tidak lagi hanya mengantongi batu, tetapi membawa 
golok dan samurai dalam tas sekolah. Mereka tidak lagi sekadar berniat 
mencederai lawan, tetapi bernafsu membunuh. 

Juga di kampus-kampus, mahasiswa secara brutal merusak ruang-ruang kuliah, 
menghancurkan perabotan laboratorium, dan mengobrak-abrik ruang praktikum hanya 
karena persoalan sepele. 

Negara dan pemerintah yang bertugas menciptakan kedamaian hanya berdiam diri. 
Akibatnya rakyat menyelesaikan masalah dengan cara mereka sendiri, termasuk 
menggunakan kekerasan. 

Kita prihatin karena pemerintah hanya menjadi penonton ketika kedamaian 
dicabik-cabik. Kita juga prihatin ketika rakyat lari tunggang langgang 
menghindari kekerasan untuk mencari kedamaian, pemerintah tidak berdaya memberi 
perlindungan. 

Rakyat butuh negeri yang damai dengan pemimpin yang mengayomi. Bukan pemimpin 
yang hanya menonton ketika rakyat ditebas dan dibantai. 

Negeri yang damai semestinya bukanlah sebuah impian. Para pemimpin diberi 
amanah mewujudkannya

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke