http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/01/04/index.shtml?ArtId=009_014&Search=Y
Sunni, Syiah, dan Ruang Kosong Budaya
Muhammad Ja'far, PENELITI INDOPOL RESEARCH CENTRE
Dan berbagai kesalahpahaman yang terjadi antara umat Islam Sunni dan Syiah
Indonesia, salah satunya disebabkan oleh absennya budaya sebagai perangkat
dakwah dan dialog.
Perangkat hardware (teologi, syariah, fikih) lebih dikedepankan ketimbang
software (budaya, akhlak, moral).
Padahal yang kedua justru lebih efektif untuk membangun harmoni.
“ N ahdlatul Ulama (NU) itu “N Syiah minus Imamah.
Syiah itu NU plus Imamah.“ Demikian pernyataan populer almarhum Abdurrahman
Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah.
Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan
posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud
budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Ini substansi pernyataan Gus
Dur di atas.
Namun sangat memprihatinkan, barubaru ini terjadi tindak kekerasan terhadap
muslim Syiah di Sampang, Madura, salah satu basis NU. Sebuah pesantren Syiah
dibakar massa karena aliran itu dinilai sebagai ajaran sesat. Tindak serupa ini
bukan yang pertama, baik di Madura maupun di daerah lain di provinsi yang sama,
Jawa Timur. Sebelumnya, di Bondowoso, Pasuruan, Malang, dan Bangil pernah
terjadi penyerangan terhadap muslim Syiah.
Eskalasi ini terjadi kira-kira dalam tempo empat tahun terakhir. Seharusnya ini
menjadi catatan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi Jawa Timur beserta jajaran
keamanannya untuk mengantisipasi dan mencari solusi.
Sebelum eskalasi konflik terjadi, horizon keislaman di Jawa Timur sangat
kondusif.
Aroma Islam toleran sangat kuat di provinsi ini. Kekhasan corak keislaman
seperti ini tak lepas dari akar budaya Nahdlatul Ulama (NU) yang tertanam kuat.
Said Agil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar NU, menegaskan bahwa selama ini
Madura memiliki preseden positif soal hubungan antara muslim Sunni dan Syiah.
Said mensinyalir kejadian ini diletupkan pihak ketiga yang ingin merusak
keharmonisan tersebut.
Sunni-Syiah bersaudara Secara substansial, hubungan antara muslim Sunni dan
Syiah tidak memiliki rintangan signifikan bagi terjalinnya keharmonisan. Karena
dua mazhab dalam Islam ini justru memiliki banyak titik kesamaan ketimbang
perbedaan. Teologi Syiah dan Sunni tidak memiliki perbedaan mendasar. Baik
dalam hal konsep ketuhanan (tauhid), kenabian, kitab suci Al-Quran, maupun
kepercayaan akan hari akhir dan persoalan teologis lainnya. Ini bisa dirujuk
pada literatur teologi dan juga filsafat dari keduanya. Bahkan keduanya sering
dipertemukan pada tokoh yang sama dengan pemikiran yang sepaham.
Kajian tentang dialog Sunni-Syiah semakin intensif menemukan banyak kesamaan di
satu sisi, dan menyadari bahwa perbedaan yang selama ini digaungkan sebenarnya
tidak menyangkut aspek yang fundamental dari ajaran masing-masing. Namun,
sayangnya, semakin dekatnya persaudaraan antara pemikiran Syiah dan Sunni ini
hanya berhenti pada tataran elite. Umat secara mayoritas belum diberi asupan
dakwah yang memadai tentang persaudaraan Sunni-Syiah. Ibarat piramida, di pucuk
sebenarnya bertemu, namun di bawah terpisah jauh. Karena itu, yang berkembang
di tingkat massa justru kesalahpahaman satu dengan yang lain.
Mulai soal teologi hingga syariah. Di antaranya, kesalahpahaman bahwa AlQuran
Syiah dan Sunni berbeda, soal nikah mut’ah, penghormatan kepada sahabat, tata
cara ibadah salat, dan lain sebagainya.
Pada tingkat “elite”, kesalahpahaman ini dianggap tidak berdasar secara
akademis, bahkan sekadar asumsi belaka.
Namun, faktanya, kesalahpahaman ini fundamental, signifikan, dan berefek besar.
Walhasil, ada jurang pemisah yang lebar antara proses dialog akademis pada
tingkat intelektual dan pemahaman umat mayoritas. Ini terjadi karena belum
dilakukan strategi dakwah yang secara serius berupaya untuk “membumikan” proses
dialog yang terjadi pada tingkat “langit” tersebut. Kalaupun ada, hanya berupa
produk buku dan produk akademis elitis lainnya. Padahal massa pada tingkat
bawah memiliki “bahasa” tersendiri.
Metode dakwahnya seharusnya dilakukan secara lebih sederhana.
Sejauh ini, jalinan dialog dan harmoni Syiah-Sunni kurang memaksimalkan
perangkat budaya sebagai mediumnya.
Padahal dalam budayalah kita menemukan jejak-jejak harmoni antara muslim Sunni
dan Syiah Indonesia.
Budaya sangat efektif untuk menerjemahkan hasil dialog akademis pada tingkat
intelektual ke dalam bahasabahasa yang sederhana yang mudah dicerna oleh umat
secara keseluruhan.
Dan berbagai kesalahpahaman yang terjadi antara umat Islam Sunni dan Syiah
Indonesia, salah satunya, disebabkan oleh absennya budaya sebagai perangkat
dakwah dan dialog. Perangkat hardware (teologi, syariah, fikih) lebih
dikedepankan ketimbang software (budaya, akhlak, moral). Padahal yang kedua
justru lebih efektif untuk membangun harmoni.
Absennya budaya ini menciptakan sebuah “ruang kosong” yang menjadi jurang
pemisah antara dialog akademis (elite agama) dan umat.
“Ruang kosong budaya” inilah yang kemudian diisi dan dimanipulasi oleh pihak
atau kelompok tertentu, dengan kepentingan tertentu pula, untuk menciptakan
kesalahpahamankesalahpahaman antara muslim Syiah dan muslim Sunni. Sebagaimana
ditegaskan Said Agil Siradj. Dengan memanfaatkan “ruang kosong budaya”
tersebut, pihak ketiga tersebut merekonstruksi sebuah pemahaman yang saling
menyesatkan antara Sunni dan Syiah, sehingga muncul kecurigaan, kebencian, dan
motif untuk berkonflik di antara keduanya.
Ke depan, agenda yang sangat penting untuk dilakukan adalah penelitian
komprehensif, baik kualitatif maupun kuantitatif, tentang peta kesalahpahaman
tersebut. Bagaimana proses terbangunnya kesalahpahaman itu, seperti apa pola
dan modusnya, seberapa jauh efek sosialkulturalnya? Sebab, menurut saya, di
tiap daerah, kesalahpahaman yang berkembang tidak sama karakteristiknya. Di
beberapa provinsi, kesalahpahaman yang berkembang lebih kuat pada isu teologis,
seperti kecurigaan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda. Sedangkan di
provinsi lainnya, kesalahpahaman lebih mengarah pada aspek ibadah dan fikih.
Ini menunjukkan bahwa ada karakteristik yang berbeda, yang menimbulkan efek
kesalahpahaman yang juga berbeda.
Dengan bekal pemetaan, kita bisa mendiagnosis “penyakit” kesalahpahaman ini.
Setelah semua diketahui, akan lebih mudah untuk memberikan “obatnya”.
Salah satunya dengan menggunakan pendekatan budaya. Peta kesalahpahaman dapat
dijadikan sebagai blueprint proses dialog Sunni-Syiah. Jadi, harus ada sebuah
kajian dan penelitian yang komprehensif terhadap persoalan ini, sebagai bagian
dari upaya dialog Syiah-Sunni. Walhasil, konflik yang terjadi di Sampang bisa
dilihat dari sudut pandang ini. Konflik ini sengaja dilecutkan oleh pihak-pihak
tertentu dengan memanfaatkan “kosongnya budaya”. ●
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/