Antek Amerika itu khan enggak harus pro-Amerika.  Lebih berguna kalo ada antek 
Amerika yang anti-Amerika.

Ny. Muslim binti Muskitawati.










--- In [email protected], "Teddy S." <teddyr@...> wrote:
>
> Ke Iran Setelah 20 Tahun Diembargo Amerika
> 
> Baru sekali ini saya ke Iran. Kalau saja PLN tidak mengalami kesulitan 
> mendapatkan  gas dari dalam negeri, barangkali tidak akan ada pikiran untuk 
> melihat kemungkinan mengimpor gas dari negara para mullah ini.
> 
> Sudah setahun lebih PLN berjuang untuk mendapatkan gas dari negeri sendiri. 
> Tapi hasilnya malah sebaliknya. Jatah gas PLN justru diturunkan terus 
> menerus. Kalau awal tahun 2010 PLN masih mendapat jatah gas 1.100 mmscfd, 
> saat tulisan ini dibuat justru tinggal 900 mmscfd. Perjuangan untuk 
> mendapatkan tambahan gas yang semula menunjukkan tanda-tanda berhasil, 
> belakangan redup kembali.
> 
> Gas memang sulit diraba sehingga tidak bisa terlihat ke mana larinya. Bisa 
> jadi gas itu akan berbelok-belok dulu entah ke mana baru dari sana dijual ke 
> PLN dengan harga yang sudah berbeda. Padahal PLN memerlukan gas sebanyak 1,5 
> juta mmscfd. Kalau saja PLN bisa mendapatkan gas sebanyak itu penghematannya 
> bisa mencapai Rp 15 triliun setiap tahun. Angka penghematan yang mestinya 
> menggiurkan siapa pun.
> 
> Maka saya memutuskan ke Iran. Apalagi upaya mengatasi krisis listrik sudah 
> berhasil dan menuntaskan daftar tunggu yang panjang itu pasti bisa selesai 
> bulan depan. Kini waktunya perjuangan mendapatkan gas ditingkatkan. Termasuk, 
> apa boleh buat, ke negara yang sudah sejak tahun 1980-an diisolasi oleh 
> Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya itu. Siapa tahu ada harapan untuk 
> menyelesaikan persoalan pokok PLN sekarang ini: efisiensi. Sumber pemborosan 
> terbesar PLN adalah banyaknya pembangkit listrik yang "salah makan". Sekitar 
> 5.000 MW pembangkit yang seharusnya diberi makan gas, sudah puluhan tahun 
> diberi makan minyak solar yang amat mahal. Salah makan inilah yang membuat 
> perut PLN kembung selama ini.
> 
> Kebetulan Iran memang lagi memasarkan gas dalam bentuk cair (LNG). Iran lagi 
> membangun proyek LNG besar-besaran di kota Asaleuyah, di pantai Teluk Parsi. 
> Saya ingin tahu benarkah proyek itu bisa jadi? Bukankah Iran sudah lebih 20 
> tahun dimusuhi dan diisolasi secara ekonomi oleh Amerika Serikat dan 
> sekutu-sekutunya dari seluruh dunia? Bukankah begitu banyak yang meragukan 
> Iran bisa mendapatkan teknologi tinggi untuk membangun proyek LNG 
> besar-besaran?
> 
> Saya pun terbang ke Asaleuyah, dua jam penerbangan dari Teheran. Meski 
> Aseleuyah kota kecil ternyata banyak sekali penerbangan ke kota yang hanya 
> dipisahkan oleh laut 600 km dari Qatar itu. Bandaranya kecil tapi cukup baik. 
> Masih baru dan statusnya internasional. Pesawat-pesawat lokal seperti Aseman 
> Air terbang ke sini. Inilah kota yang memang baru saja berkembang dengan 
> pesatnya. Iran memang menjadikan kota Asaleuyah sebagai pusat industri 
> minyak, gas dan petrokimia. Beratus-ratus hektar tanah di sepanjang pantai 
> itu kini penuh dengan rangkaian pipa-pipa kilang minyak, kilang petrokimia 
> dan instalasi pembuatan LNG.
> 
> Saya heran bagaimana Iran bisa mendapatkan semua teknologi itu di saat Iran 
> lagi diisolasi oleh dunia barat. Memang terasa jalannya proyek tidak bisa 
> cepat, tapi sebagian besar sudah jadi. Kilang minyaknya, kilang 
> petrokimianya, kilang etanolnya sudah beroperasi dalam skala yang raksasa. 
> Hanya kilang LNG-nya yang masih dalam pembangunan dan kelihatannya baru akan 
> selesai dua tahun lagi.
> 
> Memang kalau saja Iran tidak diembargo proyek-proyek itu pasti bisa lebih 
> cepat. Namun Iran tidak menyerah. Iran membuat sendiri banyak teknologi yang 
> dibutuhkan di situ. Hanya bagian-bagian tertentu yang masih dia datangkan 
> dari luar. Entah dengan cara apa dan entah lewat mana. Yang jelas 
> barang-barang itu bisa ada. Orang, kalau kepepet biasanya memang banyak 
> akalnya. Asal tidak mudah menyerah. Demikian juga Iran. Bahkan keperluan 
> listrik untuk industri petrokimia itu Iran akhirnya bisa membuat pembangkit 
> sendiri. Termasuk bisa membuat bagian yang paling sulit di pembangkit 
> listrik: turbin. Maka Iran kini sudah berhasil menguasai teknologi pembangkit 
> listrik tenaga gas, baik open cycle maupun combine cycle.
> 
> Kemampuan membuat pembangkit listrik ini pun semula agak saya ragukan. Belum 
> pernah terdengar ada negara Islam yang mampu membuat pembangkit listrik 
> secara utuh. Karena itu setelah meninjau proyek LNG saya minta diantar ke 
> pabrik turbin itu. Saya ingin melihat sendiri bagaimana Iran dipaksa keadaan 
> untuk mengatasi sendiri kesulitan teknologinya.
> Ternyata benar. Pabrik turbin itu sangat besar. Bukan hanya bisa merangkai, 
> tapi membuat keseluruhannya. Bahkan sudah mampu membuat blade-blade turbin 
> sendiri. Termasuk mampu menguasai teknologi coating blade yang bisa 
> meningkatkan efisiensi turbin. Baru 10 tahun Iran menekuni alih teknologi 
> pembangkit listrik ini. Sekarang Iran sudah memproduksi 225 buah turbin dari 
> berbagai ukuran. Mulai dari 25 MW sampai 167 MW. Bahkan Iran sudah mulai 
> ekspor turbin  ke Libanon, Syria dan Iraq. Bulan depan sudah pula mengekspor 
> suku cadang turbin ke India. Bulan lalu pabrik turbin Iran ini merayakan 
> produksi bladenya yang ke 80.000 buah!
> 
> Kesimpulan saya: inilah Negara Islam pertama yang mampu membuat turbin dan 
> keseluruhan pembangkit listriknya. Saya dan rombongan PLN diberi kesempatan 
> meninjau semua proses produksinya. Dari A sampai Z. Termasuk memasuki 
> laboratorium metalurginya. Dengan kemampuannya ini, untuk urusan listrik, 
> Iran bisa mandiri. Bahkan untuk pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik 
> yang lama Iran tidak tergantung lagi ke pabrik asalnya. Mesin-mesin Siemen 
> lama dari Jerman atau GE dari USA bisa dirawatnya sendiri. Iran sudah bisa 
> memproduksi suku cadang untuk semua mesin pembangkit Siemen dan GE. Bahkan 
> sudah dipercaya oleh Siemen untuk memasok ke negara lain. "Anak perusahaan 
> kami sanggup melakukan pemeliharaan pembangkit-pembangkit listrik PLN dengan 
> menggunakan suku cadang dari sini," kata manajer di situ. Pabrik ini memiliki 
> 32 anak perusahaan, masing-masing menangani bidang yang berbeda di sektor 
> listrik. Termasuk ada anak perusahaan yang khusus bergerak di bidang 
> pemeliharaan dan operasi pembangkitan.
> 
> Bisnis kelihatannya tetap bisnis. Saya tidak habis pikir bagaimana Iran tetap 
> bisa mendapatkan alat-alat produksi turbin berupa mesin-mesin dasar kelas 
> satu buatan Eropa: Itali, Jerman, Swiss dan seterusnya. Saya juga tidak habis 
> pikir bagaimana pabrik pembuatan turbin ini bisa mendapatkan lisensi dari 
> Siemen.
> 
> Rupanya meski Iran membenci Amerika dan sekutunya tapi tidak sampai membenci 
> produk-produknya. Iran membenci Amerika hanya karena Amerika membantu Israel. 
> Ini jauh dari bayangan saya sebelum datang ke Iran. Saya pikir Iran membenci 
> apa pun yang datang dari Amerika. Ternyata tidak. Bahkan Coca-cola dijual 
> secara luas di Iran. Demikian juga Pepsi dan Miranda. Belum lagi Gucci, Prada 
> dan seterusnya.
> 
> Intinya: dengan diembargo oleh Amerika Serikat dan sekutunya, Iran hanya 
> mengalami kesulitan pada tahun-tahun pertamanya. Kesulitan itu membuat Iran 
> kepepet, bangkit dan mandiri. Kesulitan itu tidak sampai membuatnya miskin 
> apalagi bangkrut. Justru Iran dipaksa menguasai beberapa teknologi yang 
> semula menjadi ketergantungannya.
> 
> Banyaknya proyek yang sedang dikerjakan sekarang menunjukkan bahwa 
> pembangunan ekonomi Iran terus berjalan. Mulai dari pengembangan bandara di 
> mana-mana, pembangunan jalan layang sampai pun ke industri dasar. Tidak 
> ketinggalan pula industri mobil.
> Kegiatan ekonomi di Iran memang tidak gegap-gempita seperti Tiongkok, tapi 
> tetap terasa menggeliat. Pertumbuhan ekonominya sudah bisa direncanakan 6 
> persen tahun ini. Mulai meningkat drastis dibanding tahun-tahun pertama 
> sanksi ekonomi diberlakukan. "Sebelum ada sanksi ekonomi, Iran hanya mampu 
> memproduksi 300.000 mobil setahun. Sekarang ini Iran memproduksi 1,5 juta 
> mobil setahun," ujar seorang CEO perusahaan terkemuka di Iran.
> 
> Kami mendarat di bandara internasional Imam Khomeini Teheran menjelang waktu 
> shalat Jumat. Maka saya pun ingin segera ke masjid: sembahyang Jumat. Saya 
> tahu tidak ada kampung di sekitar bandara ini. Dari atas terlihat bandara ini 
> seperti benda jatuh di tengah gurun tandus yang maha luas. Tapi setidaknya 
> pasti ada masjid di bandara itu.
> Memang ada masjid di bandara itu tapi tidak dipakai sembahyang Jumat. Saya 
> pun minta diantarkan ke desa atau kota kecil terdekat. Ternyata saya kecele. 
> Di Iran tidak banyak tempat yang menyelenggarakan sembahyang Jumat. Bahkan di 
> kota sebesar Teheran, ibukota negara dengan penduduk 16 juta orang itu, hanya 
> ada satu tempat sembahyang Jumat. Itu pun bukan di masjid tapi di universitas 
> Teheran. Dari bandara memerlukan waktu perjalanan 1 jam. Atau bisa juga ke 
> kota suci Qum. Tapi jaraknya lebih jauh lagi. Di Negara Islam Iran, Jumatan 
> hanya diselenggarakan di satu tempat saja di setiap kota besar.
> 
> "Jadi, tidak ada tempat Jumatan di bandara ini?," tanya saya.
> "Tidak ada. Kalau kita kita mau Jumatan harus ke Teheran (40 km)  atau ke Qum 
> (70 km). Sampai di sana waktunya sudah lewat," katanya.
> Shalat Jumat ternyata memang tidak wajib di Negara Islam Iran yang menganut 
> aliran Syiah itu. Juga tidak menggantikan shalat dzuhur. Jadi siapa pun yang 
> shalat Jumat tetap harus shalat dzuhur.
> 
> Karena hari Jumat adalah hari libur, saya tidak dijadwalkan rapat atau 
> meninjau proyek. Maka waktu setengah hari itu saya manfaatkan untuk ke kota 
> suci Qum. Jalan toll-nya tidak terlalu mulus tapi sangat OK: enam jalur dan 
> tarifnya hanya Rp 4000. Tarif itu kelihatannya memang hanya dimaksudkan untuk 
> biaya pemeliharaan saja.
> 
> Sepanjang perjalanan ke Qum tidak terlihat apa pun. Sejauh mata memandang 
> yang terlihat hanya  gurun, gunung tandus dan jaringan listrik. Saya 
> bayangkan alangkah enaknya membangun SUTET di Iran. Tidak ada urusan dengan 
> penduduk. Alangkah kecilnya gangguan listrik karena tidak ada jaringan yang 
> terkena pohon. Pohon begitu langka di sini.
> 
> Begitu juga letak kota suci Qum. Kota ini seperti berada di tengah-tengah 
> padang yang tandus. Karena itu bangunan masjidnya yang amat besar, yang 
> berada dalam satu komplek dengan madrasah yang juga besar, kelihatan sekali 
> menonjol sejak dari jauh.
> 
> Tujuan utama kami tentu ke masjid itu. Inilah masjid yang luar biasa 
> terkenalnya di kalangan ummat Islam Syiah. Kalau pemerintahan Iran dikontrol 
> ketat oleh para mullah, di Qum inilah pusatnya mullah. Demokrasi di Iran 
> memang demokrasi yang dikontrol oleh ulama. 
> 
> Presidennya sendiri dipilih secara demokratis untuk masa jabatan paling lama 
> dua kali, tapi sang presiden harus taat kepada pemimpin tertinggi agama yang 
> sekarang dipegang oleh Imam Khamenei. Siapa pun bisa mencalonkan diri sebagai 
> presiden (tidak harus dari partai) tapi harus lolos seleksi oleh dewan ulama.
> 
> Tapi Sang Imam bukan seorang diktator mutlak. Dia dipilih secara demokratis 
> oleh sebuah lembaga yang beranggotakan 85 mullah. Masing-masing mullah itu 
> pun dipilih langsung secara demokratis oleh rakyat.
> Dalam praktek sehari-hari ternyata tidak seseram yang kita bayangkan. Amat 
> jarang lembaga keagamaan ini mengintervensi pemerintah. "Dalam lima tahun 
> terakhir kita belum pernah mendengar campur tangan dari mullah ke 
> pemerintah," ujar seorang CEO perusahaan besar di Teheran.
> 
> Saya memang kaget melihat kehidupan sehari-hari di Iran, termasuk di kota 
> suci Qum. Banyak sekali wanita yang mengendarai mobil. Tidak seperti di 
> negara-negara di jazirah Arab yang wanitanya dilarang mengendarai mobil. 
> Bahkan orang Iran  menilai negara yang melarang wanita mengendarai mobil dan 
> melarang wanita memilih dalam pemilu bukanlah negara yang bisa menyebut 
> dirinya Negara Islam.
> 
> Dan lihatlah cara wanita Iran berpakaian. Termasuk di kota suci Qum. Memang 
> semua wanita diwajibkan memakai kerudung (termasuk wanita asing), tapi ya 
> tidak lebih dari kerudung itu. Bukan jilbab, apalagi burqah. Kerudung itu 
> menutup rapi kepala tapi boleh menyisakan bagian depan rambut mereka. Maka 
> siapa pun bisa melihat mode bagian depan rambut wanita Iran. Ada yang dibuat 
> modis sedikit keriting dan sedikit dijuntaikan keluar dari kerudung. Ada pula 
> yang terlihat dibuat modis dengan cara mewarnai rambut mereka. Ada yang 
> blonde, ada pula yang kemerah-merahan.
> 
> Bagaimana baju mereka? Pakaian atas wanita Iran umumnya juga sangat modis. 
> Baju panjang sebatas lutut atau sampai ke mata kaki. Pakaian bawahnya hampir 
> 100 persen celana panjang yang cukup ketat. Ada yang terbuat dari kain biasa 
> tapi banyak juga yang celana jean. Dengan tampilan pakaian seperti itu, 
> ditambah dengan tubuh mereka yang umumnya langsing, wanita Iran terlihat 
> sangat modis. Apalagi, seperti kata orang Iran, dari 10 wanita Iran yang 
> cantik adalah 11! Sedikit sekali saya melihat wanita Iran yang memakai 
> burkah, itu pun tidak ada yang sampai menutup wajah.
> 
> Sampai ke kota Qum, sembahyang Jumatnya memang sudah selesai. Ribuan orang 
> bubaran keluar dari masjid. Saya pun melawan arus masuk ke masjid melalui 
> pintu  15. Setelah shalat dzuhur saya ikut ziarah ke makan Fatimah yang 
> dikunjungi ribuan Jemaah itu. Makan ini letaknya di dalam masjid sehingga 
> suasananya mengesankan seperti ziarah ke makan Rasulullah di masjid Nabawi. 
> Apalagi banyak juga oarng yang kemudian shalat dan membaca Quran di dekat 
> situ yang mengesankan orang seperti berada di Raudlah.
> 
> Yang juga menarik adalah strata sosialnya. Kota metropolitan Teheran dengan 
> penduduk 16 juta dan dengan ukuran 50 km garis tengah adalah kota yang sangat 
> besar. Sebanding dengan Jakarta dengan Jabotabeknya. Tapi tidak terlihat ada  
> keruwetan lalu-lintas di Teheran. Memang Teheran tidak memiliki kawasan yang 
> cantik Jalan Thamrin-Sudirman namun sama sekali tidak terlihat ada kawasan 
> kumuh seperti Pejompongan dan Bendungan Hilir.  Memang tidak banyak 
> gedung-gedung pencakar langit yang cantik, tapi juga tidak terlihat gubuk dan 
> bangunan kumuh.
> Kota Teheran tidak memiliki bagian kota yang terlihat mewah, tapi juga tidak 
> terlihat ada bagian kota yang miskin. Teheran bukan kota yang sangat bersih 
> tapi juga tidak terasa kotor. Di jalan-jalan yang penuh dengan mobil itu saya 
> tidak melihat ada Mercy mewah apalagi Ferrari, tapi juga tidak ada bajaj, 
> motor atau mobil kelas 600 sampai 1.000 cc. Lebih 90% mobil yang memenuhi 
> jalan adalah sedan kelas 1.500 sampai 2.000 cc. Saya tidak melihat ada 
> mall-mall yang besar di Teheran, tapi saya juga sama sekali tidak melihat ada 
> pedagang kaki lima, apalagi pengemis. Wanitanya juga tidak ada yang sampai 
> pakai burqah, tapi juga tidak ada yang berpakaian merangsang. Orangnya 
> rata-rata juga ramah dan sopan. Baik dalam sikap maupun kata-kata.
> 
> Pemerataan pembangunan terasa sekali berhasil diwujudkan di Iran. Semua rumah 
> bisa masak dengan gas yang dialirkan melalui pipa tersentral. Demikian juga 
> 99% rumah di Iran menikmati listrik –untuk tidak menyebutkan 100%.
> 
> Melihat Iran seperti itu saya jadi teringat makna kata yang ditempatkan di 
> bagian paling tengah-tengah al Quran: Wal Yatalaththaf!
> Bagaimana Iran ke depan? Mengapa setelah lebih 20 tahun diisolasi dan 
> diembargo Amerika Serikat Iran tidak kolaps seperti Burma, Korut atau Kuba?
> 
> Banyak faktor yang melatar belakanginya. Pertama, saat mulai diisolasi dulu 
> kondisi Iran sudah cukup maju. Kedua, tradisi keilmuan bangsa Iran termasuk 
> yang terbaik di dunia. Ketiga, Iran penghasil minyak dan gas yang sangat 
> besar. Keempat, jumlah penduduk Iran cukup besar untuk bisa mengembangkan 
> ekonomi domestic. Kelima, tradisi dagang masyarakat Iran sudah terkenal 
> dengan golongan bazarinya.
> 
> Tradisi dagang itu tidak mudah dikalahkan. Pedagang selalu bisa berkelit dari 
> kesulitan. Ini berbeda dengan tradisi agraris. Seperti Tiongkok, meski 60 
> tahun dikungkung oleh komunisme Mao Zedong yang kaku, penduduknya tetap tidak 
> lupa kebiasaan dagang. Demikian juga warga Iran. Ini terbukti sampai sekarang 
> pun. Setelah lebih 20 tahun diisolasi pun sektor jasa masih menyumbang sampai 
> 40% GDP negara itu.
> Penduduk Iran yang 75 juta orang juga menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. 
> Apalagi saat mulai diisolasi oleh Amerika tahun 80-an, kondisi Iran sudah 
> tidak tergolong negara miskin. Kelas menengah di Iran sangat dominan. Inilah 
> factor yang dulu membuat revolusi Islam Iran tahun 1979 berhasil menumbangkan 
> diktator Syah Pahlevi. 
> 
> Keberhasilan itu disebabkan  masyarakat di Iran didominasi kaum bazari. 
> Pedagang kelas menengah. Yakni bukan konglomerat yang ketakutan ditebas 
> penguasa, dan bukan pedagang kecil yang takut kehilangan tempat bergantung.
> 
> Belum lagi kekayaan alamnya. Iran adalah negara kedua terbesar penghasil 
> minyak dan gas alam. Bukan hanya memiliki cadangan besar, tapi juga mampu 
> melakukan drilling dan pengolahan sendiri. Tidak ada lagi ketergantungan akan 
> teknologi  drilling dan pengolahan.
> Salah satu sumber gasnya, yang baru saja ditemukan, akan membuat negara itu 
> kian berkibar. Di lepas pantainya, di Teluk Parsi, ditemukan ladang gas 
> terbesar di dunia. Ladang itu setengahnya berada di wilayah Qatar dan 
> setengahnya lagi di wilayah Iran.  Tahun 1999 lalu Qatar sudah berhasil 
> menyedot gas bawah laut itu dari wilayah Qatar. Kalau Iran tidak menyedotnya 
> dari wilayah Iran tentu semua gas itu akan disedot Qatar. Karena itu Iran 
> juga bergegas menyedotnya dari sisi timur. Tahun 2003 lalu Iran sudah 
> berhasil menyedot gas itu dan akan terus meningkatkan sedotannya. "Tiga tahun 
> lagi kemampuan Iran menyedot gas itu sudah sama dengan Qatar," ujar CEO 
> perusahaan gas di sana.
> 
> Untuk menggambarkan seberapa besar potensi gas itu baiknya dikutip kata-kata 
> CEO yang saya temui di atas. "Seluruh gas Iran di situ harganya USD 12 
> triliun," katanya. Ini sama dengan 12 kali seluruh kekuatan ekonomi Indonesia 
> yang USD 1 triliun saat ini. "Kalau gas itu diambil dalam skala seperti 
> sekarang baru akan habis dalam 200 tahun," tambahnya.
> 
> Gas itu letaknya memang 3.000 meter di bawah laut, namun dalamnya laut 
> sendiri hanya 50 meter. Secara teknis ini jauh lebih mudah pengambilan gasnya 
> daripada misalnya gas bawah laut Indonesia di Masela, di laut Maluku Tenggara.
> Memang masih ada kendala ekonomi yang mendasar. Defisit anggaran masih 
> menghantui, subsidi masih besar, laju inflasi masih tinggi dan akses 
> perdagangannya masih  terjepit oleh sanksi Amerika. Inflasi yang tinggi itu 
> akibat naiknya harga bahan makanan, gas dan BBM. Bahkan akibat inflasi itu 
> Iran harus mencetak mata uang dengan pecahan lebih besar dari rupiah. Kalau 
> pecahan rupiah paling besar Rp 100.000, real Iran terbesar adalah 500.000 
> real (1 real hampir sama dengan Rp 1). Bahkan ada juga real lembaran 
> 1.000.000, meski penggunaannya hanya di lingkungan terbatas.
> 
> Seperti Indonesia, Iran juga merencanakan menghapus empat nol di belakang 
> real yang terlalu panjang itu. Hanya saja penghapusan nol tersebut baru akan 
> dilakukan setelah inflasinya stabil kelak. Itulah sebabnya pemerintah Iran 
> kini mati-matian  memperbaiki fondasi ekonominya. Tahun lalu parlemen Iran 
> sudah menyetujui dilaksanakannya "reformasi ekonomi". Sebuah reformasi yang 
> sangat penting dan mendasar. Inti dari reformasi itu adalah menjadikan 
> ekonomi Iran sebagai "ekonomi pasar". Artinya harga-harga harus ditentukan 
> oleh pasar. Tidak boleh lagi ada subsidi. Reformasi ekonomi itu ditargetkan 
> harus berhasil dalam lima tahun ke depan.
> 
> Begitu pentingnya reformasi untuk meletakkan dasar-dasar ekonomi Iran itu, 
> sampai-sampai Presiden Ahmadinejad berani mengambil resiko dihujat dan 
> dibenci rakyatnya dua tahun terakhir ini. Subsidi pun dia hapus. Harga-harga 
> merangkak naik. Ahmadinejad tidak takut tidak popular karena ini memang sudah 
> masa jabatannya yang kedua, yang tidak mungkin bisa maju lagi jadi presiden.
> 
> Bahwa kini Iran memilih jalan ekonomi pasar sungguh mengejutkan. Alasannya 
> pun "sangat ekonomi": untuk meningkatkan produktivitas nasional dan keadilan 
> sosial. Subsidi (subsidi BBM tahun lalu mencapai USD 84 juta), menurut 
> pemerintah, lebih banyak jatuh kepada orang kaya. Karena itu daripada 
> anggaran dialokasikan untuk subsidi lebih baik langsung diarahkan untuk 
> golongan yang berhak.
> 
> Pemikiran reformasi ekonomi seperti itulah yang tidak ada di negara-negara 
> lain yang diisolasi Amerika Serikat. Inilah juga faktor yang membuat Iran 
> tidak akan tertinggal seperti Burma, Kuba atau Libya. Dengan bendera sebagai 
> Negara Islam pun Iran tetap menjunjung tinggi ilmu ekonomi yang benar. 
> Tradisi keilmuan di Iran, termasuk ilmu ekonomi, memang sudah tinggi sejak 
> zaman awal peradaban. Inilah salah satu bangsa tertua di dunia dengan 
> peradaban Arya yang tinggi.
> Dalam situasi terjepit sekarang pun, tradisi keilmuan itu tetap menonjol. 
> Iran kini tercatat sebagai satu di antara 15 negara yang mampu mengembangkan 
> nanoteknologi. Iran juga termasuk 10 negara yang mampu membuat dan 
> meluncurkan sendiri roket luar angkasa.
> 
> Di bidang rekayasa kesehatan, Iran juga menonjol: teknologi stemcell, kloning 
> dan jantung buatan sudah sangat dikenal di dunia. Bahkan untuk stemcell Iran 
> masuk 10 besar dunia.
> 
> Maka tidak heran kalau Iran juga tidak ketinggalan dalam penguasaan teknologi 
> perminyakan, pembangkit listrik dan otomotif. Jangankan jenis teknologi itu, 
> nuklir pun Iran sudah bisa membuat, lengkap dengan kemampuannya memproduksi 
> uranium hexaflourade yang selama ini hanya dimiliki oleh enam negara.
> 
> AS kelihatannya berhasil membuat Burma, Korut, Kuba dan Libya menderita 
> dengan embargonya. Tapi tidak untuk Iran. Ke depan posisi Iran justru kian 
> baik, antara lain karena "dibantu" oleh Amerika Serikat sendiri. Sudah lama 
> Iran ingin menumbangkan Saddam Husein di Iraq, namun selalu gagal. Perang 
> Iran-Iraq yang sampai 8 tahun pun tidak berhasil mengalahkan Saddam Husein. 
> Iran tidak menyangka bahwa Saddam dengan mudah ditumbangkan oleh AS.
> 
> Dengan tumbangnya Saddam Husein maka Iraq kini dikuasai oleh para pemimpin 
> yang hati mereka memihak Iran. Banyak pemimpin Iraq saat ini adalah mereka 
> yang di masa Saddam dulu terusir ke luar negeri, dan mereka bersembunyi di 
> Iran. Bahkan saat terjadi perang Iran-Iraq dulu, mereka ikut angkat senjata 
> bersama tentara Iran menyerbu Iraq.
> Demokrasi yang diperjuangkan AS di Iraq telah membuat golongan mayoritas 
> berkuasa di Iraq. Padahal mayoritas rakyat Iraq adalah Islam Syi'ah. Golongan 
> Sunni hanya 40 persen, itu pun tidak utuh. Yang separo adalah keturunan Arab 
> sedang separo lagi keturunan Kurdi. Ada kecenderungan keturunan Kurdi memilih 
> berkoalisi dengan Syi'ah. Padahal yang golongan Arab itu pun masih juga 
> terpecah-pecah ke dalam berbagai kabilah. Saddam Husein, misalnya, datang 
> dari suku Tikrit yang jumlahnya hanya sekitar 10% dari penduduk Iraq.
> 
> Dengan gambaran seperti itu maka masa depan hubungan Iran dan Iraq tinggal 
> menunggu waktu yang tepat untuk menjadi amat mesra. Waktu yang tepat itu 
> adalah ini: mundurnya AS 100% dari Iraq. Dan itu tidak akan lama lagi. Pekan 
> lalu pimpinan Iraq sudah mengatakan "Iraq hanya perlu bantuan militer untuk 
> menjaga perbatasan, bukan untuk urusan dalam negeri".
> 
> Maka tidak lama lagi Iraq akan menjadi "negara ketiga" yang akan mengalirkan 
> barang dari dan ke Iran. Dan kalau ini terjadi, masih ada gunanyakah Iran 
> diisolasi?
>  
> Dahlan Iskan
> CEO PLN
> 
> http://www.pln.co.id/?p=2825
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke