http://www.lampungpost.com/opini/20731-warisan-berubah-menjadi-kutukan.html


      Warisan Berubah Menjadi Kutukan        
      Kamis, 05 January 2012 06:19  

      Sudjarwo 

      Guru besar, Direktur Pascasarjana Unila




      Syahdan suatu peristiwa, satu keluarga besar memiliki kekayaan berupa 
tanah yang cukup luas. Keluarga ini tampak bahagia karena memiliki tempat 
peternakan, perkebunan, sekaligus persawahan sendiri. Semua kebutuhan hidup 
dapat mereka penuhi sendiri. Alhasil, keluarga petani cultivation sekaligus 
substitution ini hidup sejahtera. Pada saat generasi satu masih tampak gemah 
ripah loh jinawi, subur kang sarwa tinandur, kata istilah pedalangan untuk 
keluarga ini.


      Keluarga ini di samping memiliki kekayaan lahan, tetapi juga memiliki 
anak yang cukup banyak karena lambang keberhasilan keluarga pada waktu itu juga 
ditentukan antara lain oleh banyaknya anak. Mereka menjadi anak-anak yang 
cerdas, tetapi karena pendidikan belum menjadi idola dan investasi masa depan, 
tingkat pedidikan mereka pun tidak begitu tinggi. Akhirnya rata-rata mereka 
menikah di usia muda.


      Berkah yang ada selama ini menjadi bencana begitu orang tua mereka 
meninggal dunia. Harta melimpah mereka bagi-bagi dengan cara mereka. Gusti 
Allah telah memberi contoh pada generasi sebelumnya bagimana pengelolaan harta 
waris bisa menjadi bencana, ternyata pada keluarga ini berulang. Tidak satu 
sentimeter pun tanah luas tersisa. Semua mereka jual baik dengan cara baik-baik 
maupun cara licik. Sisa sosial lainnya ialah di antara mereka menjadi saling 
bermusuhan, bahkan dendam kesumat terbentuk karena merasa tidak mendapatkan hak 
sebagaimana menurut persepsinya. Jadilah untuk keluarga ini warisan berubah 
menjadi kutukan.


      Tamsil di atas itu untuk keluarga yang berserak di muka bumi ini. Untuk 
negara juga perlu kita pertimbangkan. Tuhan telah mewariskan di bumi ini dari 
tambang, hutan, perkebunan, dan lain sebagainya. Semua berubah menjadi “Bethoro 
Kolo” yang siap menelan kita karena ketidakmampuan kita mengelola alam ini 
dengan arif.


      Berkah adanya batu bara di sekitar Muara Enim, justru membuat orang harus 
sengsara berjalan di jalan macet karena truk pengangkut batu bara. Belum lagi 
usia jalan yang makin singkat karena beban tonase yang berat. Bagaimana berkah 
hutan lindung register di Lampung dan Sumatera Selatan berubah menjadi kebun 
sawit yang menghancurkan tatanan sosial masyarakat. Bagaimana berkah tambang di 
Bima yang berubah menjadi medan pembantaian. Bagaimana Papua yang damai berubah 
menjadi medan perang karena salah kelola berkah alam yang ada.


      Semua tamsil di atas seharusnya membuat kita semua mawas diri. Ternyata 
sebenarnya Tuhan itu sayang kepada kita semua, dengan memberikan limpahan 
kekayaan yang luar biasa besarnya, tetapi akibat salah urus yang terjadi justru 
kutukan yang datang. Kebijakan aneh sering kita lakukan, sebagai contoh apa 
sudah benar kalau negara lautan seperti kita justru mau mengonsumsi ikan 
ternyata harus membeli ikan dengan negara lain. Apa sudah benar kalau kita 
membeli beras ke negara lain, sementara di tempat kita ahli pertanian 
berlimpah, lahan pertanian luas. Semua ini seolah menjadikan pembenaran suatu 
pepatah aksiomatik yang mengatakan ayam mati di lumbung padi. Sementara itu 
kita sibuk berdebat yang salah ayam atau lumbungnya.


      Kerusakan alam secara fisik dibarengi kerusakan sosial dengan maraknya 
aksi-aksi masyarakat yang tidak puas, ini merupakan buah yang harus kita petik. 
Sangat tidak adil jika pemimpin yang hanya ada di belakang meja, kemudian kalau 
turba naik kendaraan udara, berkomentar yang tidak berdasarkan fakta. Demikian 
juga rakyat harus sadar jika tidak memiliki hak di suatu wilayah, kemudian 
berbondong-bondong menduduki daerah yang bukan haknya secara hukum, ini 
merupakan tindakan pelanggaran hukum. Teman-teman dari lembaga swadaya 
masyarakat juga punya tugas kemasyarakatan untuk mereka, yaitu di samping 
advokasi, justru yang paling penting adalah memberi edukasi kepada mereka.


      Hal tersebut tampaknya mudah, akan tetapi sebenarnya cukup sulit untuk 
dilakukan jika tidak ada koordinasi yang baik antarkita semua. Jangan biarkan 
rakyat menjadi yatim piatu karena tidak mendapatkan pengayoman dari negara. n
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke