Refleksi: Suatu catatan penting bagi sobat-sobatku yang mau berprofesi sebagai 
pencuri atau koruptor. Sisipkan duit untuk mendapat pelayanan baik bila Anda 
ditangkap dan dipenjarakan. Sesuai artikel dibawah ini tarifnya Rp. 
2.000.000,-- untuk dapat tidur di kamar.  Sejalan dengan berita pembayaran ini, 
barangkali  bisa menjadi pertanyaan ialah berapa banyak dibayar oleh Tommy 
Soeharto, Menteri Agama, Abdullah Puteh, Bob Hassan etc untuk dapat tidur di 
kamar?



http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/09/fea02.html



Hadiah Terindah untuk Seorang Terpenjara
 Oleh
Mudhi Sabda H. Lesminingtyas


Menjelang akhir tahun 2004, Ati-adik rohani saya-menelepon dari Kalimantan 
Barat. Ia menceritakan bahwa adiknya, Willy, yang tinggal di Jakarta sudah 
hampir 2 bulan mendekam di tahanan polres karena kasus penipuan. Walaupun saat 
itu kesibukan kerja sangat tinggi, tetapi saya yakin Tuhan tidak menginginkan 
saya mengabaikan Willy. 

Saya juga yakin tidak ada keterbebanan tanpa jalan keluar. Saya pun langsung 
mencarikan pengacara atas biaya dari Ati. 
Setelah 2 bulan mendekam di polsek, Willy dipindahkan ke sebuah rutan di 
Jakarta. Willy ditempatkan di sebuah barak bersama ratusan tahanan. Sebenarnya, 
Willy membutuhkan uang Rp 2 juta untuk bisa masuk kamar supaya ia tidak harus 
tidur berdesak-desakan layaknya ikan asin di emper-emper atau orong bangsal. 

Tanpa "menyewa kamar" di rutan, Willy mau tidak mau harus tidur bersama 
penjahat kelas teri yang tidak berduit. Sebenarnya, pengacara menyarankan kami 
untuk menyediakan uang sewa kamar untuk Willy. Namun, saya dan Ati justru 
berharap Willy mendapatkan pelajaran yang berharga dari penderitaannya selama 
di penjara.
 
Walaupun ada oknum penegak hukum yang menawarkan kebebasan dengan sejumlah 
uang, saya dan Ati tidak mau melibatkan diri dengan hal-hal yang berbau 
ketidakadilan dan KKN. Kami berdua justru berharap dengan terkurung di penjara, 
Willy bisa duduk diam, mendengar dan menerima Firman Tuhan. Setidaknya kami 
berharap bisa mengetuk pintu hati Willy hingga tersedia tempat bagi Tuhan di 
hatinya. 

Sejak Willy mendekam di rutan, saya rindu untuk melawat, sekadar meminjamkan 
telinga dan hati saya. Namun, banyak hal mengerikan yang diceritakan pengacara 
Willy, membuat hati saya ciut dan tidak ada nyali sedikitpun untuk datang 
sendirian ke rutan. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa di dalam rutan praktik 
UUD (Ujung-Ujungnya Duit) masih tetap kental. 
Suatu sore Ati menelepon dan meminta saya untuk membelikan soft lens, 
obat-obatan, serta keperluan Willy yang lainnya yang harus saya antar ke rutan 
esok paginya. 

Saya bingung dan resah, karena jadwal kunjungan bertepatan dengan acara copy 
darat anggota milis Kristen-Katolik yang saya ikuti. 

Seperti dihadapkan dengan buah simalakama, kalau saya mengunjungi Willy, 
berarti saya tidak menikmati pesekutuan dengan orang-orang terhormat itu. Namun 
kalau saya menikmati "pesta kecil" itu, berarti saya mengabaikan satu jiwa yang 
sedang kesepian dan terpenjara. 

Saya sempat bergumul cukup lama dan menggugat, "Tuhan, dari dulu saya sudah 
melayani orang-orang miskin yang kelaparan dan menggelandang, haruskah saya 
juga melawat orang yang di penjara?". 
Suara hati saya pun mulai menegur "Kamu pikir, Amanat Agung dalam Matius 
25:31-46 sudah kau lakukan dengan sempurna? Kamu jangan terlalu cepat puas, 
masih banyak yang belum kamu lakukan untukKu. Lihatlah, apakah kamu dengan 
senang hati melawatKu di penjara?" 

Walaupun saya telah membulatkan tekad untuk melawat Willy, tetapi Tuhan tidak 
serta merta memberikan jalan mulus dan kemudahan. Dari sekian banyak optik yang 
saya datangi, tidak ada satupun yang punya stok soft lens minus 11 seperti yang 
dibutuhkan Willy. 

Dengan putus asa, saya menelepon Willy untuk memintanya bersabar sambil 
menunggu pengacaranya datang. Tetapi Willy terus mengeluh karena matanya sakit. 
Willy minta saya untuk terus mencarikan soft lens tersebut di Pasar Baru. Mau 
tidak mau, dari Bogor saya harus bersusah payah ke Jakarta, berdesak-desakan 
dan keluar masuk kompleks perbelanjaan yang sudah tidak elite itu. 

Acara jumpa darat dengan teman-teman sungguh menyenangkan. Suasana hangat dan 
penuh persaudaraan itu membuat saya enggan untuk meninggalkannya. 

Ada perasaan sedih dan kecewa ketika alarm reminder ponsel saya berdering, 
tanda saya harus segera berangkat ke penjara. Berat rasanya saya meninggalkan 
"pesta kecil" dengan makanan lezat dan istimewa itu. 

Ego saya pun sedikit berontak seraya berkata "Willy, kenapa sih kamu bikin 
kejahatan dan pakai ngrepotin saya segala? Melawat sih melawat, tapi saya kan 
juga berhak untuk bersuka cita. Masak sih kamu tega merampas kesempatan emas 
saya bersama teman-teman seiman?"
Untung saja, pemberontakan itu segera saya tepis sendiri dengan mengingat 
perkataan Tuhan Yesus "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk 
salah seorang dari saudaraKu yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk 
Aku". Saya pun segera meninggalkan pesta menuju ke penjara.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kompleks rutan, bulu kuduk saya 
berdiri begitu membayangkan tampang para penghuninya yang sangar, kasar, dan 
dekil. Walaupun di setiap pintu penjagaan, jelas-jelas tertulis "Kunjungan 
Tidak Dipungut Biaya" tetapi dalam praktiknya tetap saja UUD. 

Untuk sampai ke dalam dan bertemu dengan tahanan, saya harus melewati 4 (empat) 
pintu, masing-masing dengan salam tempel sebesar Rp. 10,000. "Willy, kasus 
umum, Pasal 378" dengan gaya sok PD saya mengucapkan "password" yang dipesan 
pengacara, saat masuk pintu pemeriksaan. 
Entah pada pintu yang ke berapa, saya diminta masuk ke ruang tertutup untuk 
diperiksa. Semua isi tas harus dikeluarkan. Beberapa saat kemudian, saya 
diminta berdiri tegak dan mengangkat kedua tangan layaknya tawanan tertangkap 
musuh. 
Sesaat kemudian seorang petugas perempuan meraba seluruh permukaan tubuh saya. 
Kantong-kantong saku saya tak ada yang terlewat dari pemeriksaan. Begitu 
petugas tahu bahwa saya membawa HP, saya diminta untuk menitipkannya dengan 
biaya Rp. 10,000 juga. "Duit lagi, duit lagi" kata saya dalam hati setengah 
geregetan.

Ketika saya sudah lolos pemeriksaan di bagian perempuan, saya pun masuk ke 
pintu kerangkeng yang berikutnya. Namun sebelum badan saya masuk kerangkeng 
seluruhnya, tiba-tiba seorang penjaga laki-laki menangkap tangan saya dengan 
kasar "Eits, dicap dulu!" katanya.
Tanpa permisi dan tanpa menanyakan saya suka atau tidak suka, petugas itu 
membubuhkan stempel di atas pergelangan tangan kiri saya. Walaupun hati saya 
berontak diperlakukan seperti binatang, namun saya tak mampu menolaknya. 
Terlebih kejadiannya sangat cepat dan petugas tidak meminta persetujuan saya 
terlebih dulu. Begitu sampai di dalam kerangkeng, beberapa pembesuk laki-laki 
mentertawakan saya sambil berkata "He,he,he.Mbak disangka laki-laki, ya?!" 

Saya pun baru sadar, ternyata dari sekian banyak pembesuk perempuan, hanya saya 
yang distempel. Saya cuma mesam-mesem, setengah malu bercampur geli "Akhirnya 
si tomboy ini kena batunya juga" dalam hati saya meledek diri sendiri.
Ketika sampai di dalam, saya agak kesulitan mencari Willy karena memang 
sebelumnya belum pernah bertemu. Namun melihat saya clingak-clinguk, Willy pun 
menghampiri saya sambil menyodorkan tangan, "Ini Mbak Ning, temannya Koko ya?" 
Saya pun menyalaminya sambil tersenyum. Agak lama kami berputar-putar memilih 
tempat. 
Beberapa pembesuk yang punya cukup uang memang membayar petugas supaya bisa 
duduk dan mengobrol di sofa di ruangan kantor rutan. Namun sayang waktu itu 
ruangan sudah dipenuhi oleh beberapa tahanan dan keluarganya yang tentunya 
sudah lebih dulu membooking. "O...ternyata bukan cuma hotel yang fullbook" kata 
saya dalam hati.
Semula Willy mengajak saya berdiri di emper kantor rutan yang cukup terlindung 
dari sengatan matahari. Namun tak lama, kami diusir oleh petugas karena tempat 
itu juga sudah "dipajak" oleh tahanan lain.
Saya dan Willy pun pindah ke tempat lain. Setelah menengok ke sana ke mari, 
tidak ada pilihan lain kecuali jongkok berimpit-impitan dengan narapidana lain. 
Saya berusaha mengambil jarak kira-kira 20 cm supaya tidak bersinggungan dengan 
Willy yang kulitnya borokan dan menjijikkan itu. 

Namun pundak dan badan saya justru menempel dengan tahanan lain yang tak kalah 
dekil dan sangar dari Willy. Siang itu, tidak ada pilihan lain bagi saya 
kecuali merelakan diri berimpit-impitan dengan orang-orang yang tak layak dan 
tak berharga di mata dunia.

Walaupun saya sudah mengenakan baju yang sederhana mungkin, tapi sejujurnya 
penampilan saya siang itu paling mencolok. Asli, waktu itu semua orang pasti 
akan setuju kalau saya paling cantik di antara pembesuk lainnya. 
Walaupun banyak pembesuk perempuan yang berdandan menor, tapi jelas terlihat 
bahwa dadanan dan penampilan mereka sangat jauh dari kesan terpelajar. Gincu 
tebal, eye shadow mencolok dan blus on ngejreng kemereh-merahan tidak sanggup 
menyembunyikan raut muka yang tak berpengharapan dan jauh dari suka cita.

Karena wajah Willy masih tegang dan sedikit sangar, saya pun menawarkan makanan 
dan minuman. Tanpa rasa canggung sedikitpun, Willy langsung membuka bungkusan 
yang saya berikan. Hati saya sangat miris ketika melihat Willy melalap habis 
makanan yang saya bawakan. Sungguh, Willy tampak kelaparan.
Hati saya semakin teriris, ketika Willy menceritakan malam-malam panjang selama 
di rutan. Gara-gara tidak bisa membayar uang kamar Rp. 2 juta, Willy terpaksa 
tidur di emper-emper atau lorong bangsal. Biasanya sehabis dibesuk orang yang 
terlihat intelek semacam saya atau pengacaranya, Willy juga harus memberikan 
"upeti" kepada petugas. 
Untuk sekali keluar menemui tamu, Willy harus membayar uang pintu Rp. 20,000 
dan untuk bisa menggunakan HP, ia pun harus membayar "pajak" kepada petugas.

Ketika bel tanda jam besuk berakhir, saya pun begegas keluar. Sama seperti 
waktu masuk, untuk keluarpun saya harus melewati beberapa kerangkeng besi yang 
dilengkapi dengan gembok yang teramat besar. 
Sebelum saya meninggalkan gerbang paling depan, saya menengok ke kanan dan ke 
kiri untuk meyakinkan bahwa tidak ada teman atau kenalan yang melihat saya 
keluar dari hotel prodeo itu. 
Di sepanjang perjalanan dari rutan Salemba hingga Bogor, telapak tangan kanan 
saya harus menutup punggung tangan kiri yang masih menyisakan stempel. Di bis, 
sesekali saya mengintip stempel di tangan seraya berkata "Inilah hadiah yang 
terindah buat seorang terpenjara". 

Hadiah terindah memang bukanlah materi yang kasat mata, tetapi kerelaan saya 
untuk merendahkan diri, menyangkal keinginan daging dan kesanggupan melewati 
perjuangan panjang untuk bisa melawat dan "jongkok bersama" dengan orang 
terpenjara, serta stempel yang masih melekat dan menandakan bahwa saya berteman 
dengan seorang terpenjara, yang oleh dunia dipandang sebagai "sampah 
masyarakat".

Penulis adalah pekerja di sebuah NGO internasional

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke