http://www.sinarharapan.co.id/berita/0507/11/sh05.html


 
Soal BBM, Pemerintah Pura-pura Tak Cerdas?  
Oleh Wartawan "SH"
RUDY VICTOR SINAGA


JAKARTA - Tahun 2005 ini PT Pertamina (Persero) mendapat jatah konsumsi bahan 
bakar minyak (BBM) dari pemerintah sebanyak 59,6 juta kiloliter. Dari jumlah 
tersebut jenis premium 15 juta kiloliter atau 41,1 juta liter per hari. Apakah 
alokasi ini cukup untuk memenuhi konsumsi sektor transportasi utamanya mobil 
dan motor?
 
Sampai tahun 2004 Departemen Perhubungan mencatat, jumlah motor yang 
berseliweran di seluruh Indonesia kurang lebih 24 juta unit. Jika diasumsikan 
rata-rata setiap harinya satu kendaraan menempuh jarak 30 km setara satu liter 
premium, maka konsumsi per hari seluruh motor sebanyak 18 juta liter.
Apabila ditambahkan dengan mobil yang berjumlah lebih dari 6 juta unit, maka 
untuk jarak yang sama per harinya dan rata-rata pemakaian bahan bakar per liter 
untuk 6 km, maka seluruh mobil yang lalu lalang di jalan-jalan di Indonesia 
mengonsumsi lebih dari 30 juta liter. Jadi, total konsumsi untuk mobil dan 
motor lebih dari 48 juta liter per hari. Dengan demikian volume premium yang 
ditargetkan oleh pemerintah masih di bawah konsumsi riil.

Fakta kedua, Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia 
(Gaikindo) Bambang Trisulo beberapa waktu lalu di Jakarta, memprediksi 
penjualan mobil tahun ini akan mencapai 550.000 unit. "Kita perkirakan tahun 
2005 industri mobil tumbuh 8,6 persen. Tetapi itu masih perkiraan pesimistis, 
jadi bisa lebih dari itu," tuturnya, seraya menyebutkan realisasi penjualan 
tahun 2004 mencapai 480.000 unit.
 
Sementara Ridwan Gunawan, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia 
(AISI) menyatakan rasa optimisnya bahwa penjualan sepeda motor tahun 2005 tidak 
meningkat lebih dari 35 persen. Dari dua perkiraan pertumbuhan itu, bila 
diambil angka rata-rata maka kita akan mendapatkan besaran kenaikan volume 
kendaraan roda dua dan roda empat sebanyak 20 persen. 
Hari-hari terakhir ini pemerintah disibukkan dengan kelangkaan BBM dan antrean 
panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) khususnya untuk premium.
 
Alih-alih mencari penyebab atau akar permasalahan, pemerintah justru mengimbau 
(dan kemungkinan akan diikuti sanksi) lewat Inpres No. 10 Tahun 2005 tentang 
Penghematan Energi) yang diumumkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di 
Jakarta, Minggu (10/7), agar masyarakat atau konsumen menghemat pemakaian 
energi.

Direktur Utama Pertamina, Widya Purnama, memperkirakan konsumsi BBM bisa 
berkurang 10 persen bila imbauan penghematan itu benar-benar dilaksanakan.
 
Tetapi dari kalkulasi di atas, imbauan penghematan itu tidak akan efektif. 
Pasalnya, konsumsi hanya bisa diturunkan 10 persen, itu pun perkiraan 
optimistis. Padahal jumlah kendaraan bertambah lebih dari 20 persen. Artinya, 
sekali lagi, konsumsi akan tetap melebihi target alokasi.

Belajar dari Negara Lain 
Sekali lagi, untuk soal BBM dan masalah energi umumnya, pemerintah tidak pernah 
menunjukkan sikap yang cerdas. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono justru 
menampilkan profil pemimpin yang lamban bersikap. Itu bisa dilihat dari tarik 
ulur pergantian Dirut Pertamina. Kabarnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla 
menginginkan sosok yang berbeda dengan kehendak Presiden, padahal untuk soal 
itu 100 persen merupakan hak prerogatif Presiden.

Sikap kurang cerdas dan lamban juga tampak dari strategi pemerintah mengatasi 
kelangkaan BBM. Imbauan penghematan jelas-jelas bukan strategi paling tepat 
untuk persoalan genting yang tengah dihadapi bangsa ini. Itu hanya solusi 
jangka pendek dan tidak mungkin diterapkan terus-menerus.
 
Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan pemerintah? Jawabannya, tidak bisa 
tidak pemerintah harus menaikkan harga BBM. Sulit? Rasanya tidak, jika Presiden 
Yudhoyono konsisten dengan pernyataannya di awal periode kepemimpinannya bahwa 
dirinya siap menanggung konsekuensi dari kebijakan yang tidak populer asalkan 
bisa menyelamatkan bangsa Indonesia.
Kepala Negara seharusnya sadar bahwa imbauan berhemat tetap akan menempatkan 
ekonomi dan bangsa di pinggir jurang. Analis industri migas Dirgo Purbo kepada 
SH mengeluarkan unek-uneknya tentang sikap pemerintah. "Subsidi BBM ini ibarat 
membuat Presiden seperti diborgol. Keuangan negara dipersulit sehingga 
program-program pembangunan terhambat. Mengapa beban itu tidak coba dilepaskan 
saja?" katanya.

Pemerintah perlu belajar dari negara-negara lain yang bisa dengan cepat pulih 
dari keterpurukan ekonomi pasca krisis ekonomi 1998. Pemerintah Meksiko, 
misalnya, berani mengambil sikap tidak populer, salah satunya dengan menerapkan 
harga BBM mengikuti harga pasar. 

Duta Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Meksiko, Ahwil Lutan, dalam 
perbincangan dengan SH beberapa waktu lalu bercerita, harga BBM dan gas di 
"Negeri Sombrero" itu tidak lagi disubsidi oleh negara. Hasilnya, dalam waktu 
singkat Meksiko yang sempat terpukul dengan pendapatan per kapita di bawah US$ 
1.000 sewaktu krisis ekonomi, kini bangkit dan pendapatan per kapita sudah 
mencapai US$ 6.200. 

Jadi, menurut Ahwil Lutan, Presiden Yudhoyono harus berani menaikkan harga BBM. 
"Itu justru mendidik masyarakat kita. Kalau memang tidak punya uang, jangan 
beli mobil atau kendaraan. Jangan sampai ambil kredit sana-sini untuk beli 
mobil tetapi tidak mampu beli BBM," lanjutnya. 

Transportasi Buruk 
Korea Selatan yang juga cepat pulih dari krisis ekonomi tahun 1998, juga 
menerapkan harga BBM tanpa subsidi. Akhir tahun lalu, ketika harga minyak 
mentah masih bertengger di kisaran US$ 30-35 per barel, SH yang sempat 
berkunjung ke sana mendapati harga bensin di negeri Ginseng itu jika 
dirupiahkan kurang lebih Rp 3.700 per liter. Tentu sekarang harganya makin 
mahal seiring dengan naiknya harga minyak mentah di pasar dunia.

Bagi orang-orang yang berpikiran dangkal, pasti menolak usulan kenaikan harga 
BBM dengan alasan ekonomi Indonesia tidak sebaik Korea Selatan. Ini mirip 
dengan penolakan besar-besaran ketika Liquified Petroleum Gas (LPG) akan 
dinaikkan oleh Pertamina mengingat harganya yang masih disubsidi. Tetapi 
bagaimana dengan Meksiko yang sebenarnya setara dengan Indonesia? Mengapa 
mereka bisa sedangkan kita tidak? Dan justru sekarang negara itu jauh lebih 
baik daripada Indonesia yang begini-begini saja hingga kini. 

Jadi, janganlah mengait-ngaitkannya dengan kondisi masyarakat. Ini murni 
merupakan cerminan apakah kita bisa bersikap cerdas menyikapi persoalan ekonomi 
dan keberlangsungan negara. Menarik mendengar penuturan analis migas Dirgo 
Purbo tentang langkah yang perlu diambil oleh pemerintah. Selama ini, katanya, 
masyarakat mengeluhkan infrastruktur jalan yang buruk, jeleknya sarana dan 
prasarana transportasi sehingga masyarakat tetap membeli kendaraan yang 
mengakibatkan konsumsi BBM terus meningkat. Dan untuk mensubsidi konsumsi BBM 
itu pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp 70 triliun untuk tahun 
ini. 

"Lebih baik duit subsidi sebanyak itu dipakai untuk membangun jalan tol, 
subway, jembatan, dll. Tol Cipularang sepanjang 41 kilometer cuma menghabiskan 
biaya Rp 1,7 triliun. Monorel sekitar Rp 6-7 triliun. Bayangkan, betapa 
banyaknya infrastruktur yang bisa dibangun jika dana subsidi itu dialihkan," 
Dirgo mengingatkan. 

Dan jika alasan itu masih tetap tidak bisa mengena di hati Presiden, maka 
benarlah bahwa pemerintah memang benar-benar tidak cerdas. Atau justru 
berpura-pura tidak cerdas? ***

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke