http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=36512
RABU, 18 Januari 2012 | 247 Hits

Wahada Mony *)
Pembangunan KTI, Butuh Solusi Pempus
Membangun Infrastruktur pembangunan di daerah tidak semudah meletakan konsep 
aktual yang disandarkan oleh pempus.


Namun butuh juga kepedulian pemerintah dalam implememtasi pembangunan yang 
komprehensif dari berbagai sektor. Bicara soal pembangunan di Kawasan Timur 
Indonesia (KTI) memang sudah sejak lama didengungkan dalam skala agenda 
pemerintah, hal ini juga tak kurung mengundang berbagai pengamat, maupun ekonom 
dan arsitek pembangunan untuk turut membahasnya. Akan tetapi kemacetan agenda 
pada sub pembangunan ini begitu panjang dan menggelisahkan di kawasan KTI 
sepanjang beberapa kurun waktu terakhir paska momentum Otonomi Daerah di 
laksanakan yang tak kunjung berhasil di daerah kawasan ini. 

Kawasan KTI memang terbentang luas di negara ini, dengan berbagai potensi 
wilayah yang dimiliki, mempaunyai karakteristik daerah yang varian, serta 
kecenderungan memiliki geopolitik daerah yang beragam. Sehingga tidak mudah 
untuk meletakan dasar pembangunan yang merata untuk berbagai kawasan dan antar 
daerah. Tentu pemerintah pusat butuh kebijakan tersendiri dalam mengagendakan 
lokus pembangunan pada KTI. 

Jika menatap agenda pembangunan di negara ini, cukup meyakinkan bahwa niscaya 
cerminan pembangunan infrastruktur nasional adalah pembangunan infrastruktur di 
tiap wilayah atau provinsi di Indonesia. Perkembangan pembangunan infrastruktur 
di masing-masing pulau di Indonesia memperlihatkan perbedaan yang cukup 
berarti. Dominasi pembangunan infrastruktur sangat ditentukan oleh kondisi 
geograsfis dan demografis dari suatu wilayah. 

Dominasi infrastruktur ini dapat mencerminkan pula tingkat aktivitas ekonomi 
dalam suatu wilayah. Perkembangan pembangunan infrastruktur untuk masing-masing 
pulau yang ada di Indonesia. Hal ini pula yang menjadi hambatan pembangunan 
infrastrukrur Kawasan Timur Indonesia. Pada hal sejatinya jika Indonesia ingin 
percepatan mencapai kemajuan maka pendekatan potensi atau potential approach 
yaitu potensi yang mendorong tumbuhnya komoditas unggulan, hendaknya menjadi 
komintmen kuat terhadap pembangunan infrstruktur kawasan timur Indonesia. 
Hingga sejauh ini, problem pembangunan di KTI masih sulit di atasi, problemnya 
sudah melebar hingga hampir di seluruh daerah di KTI. Karena perannya pempus 
masih di dominasi oleh kebijakan pembangunan yang sepihak. 

Realitas Pembangunan 
Pembangunan Kawasan Timur Indonesia (KTI), dalam satu dekade terakhir 
menunjukkan kecenderungan positif dan indikator-indikator makro ekonomi 
menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di kawasan ini mengalami percepatan. 
Sayangnya, masih banyak tantangan pembangunan yang harus menjadi perhatian. 
Jumlah penduduk miskin di KTI masih berada di angka rata-rata 25%. Kementerian 
PDT telah menetapkan 199 Kabupaten di Indonesia sebagai Daerah Tertinggal dan 
62% daerah tertinggal ini berada di KTI. Daerah-daerah di KTI juga masih minim 
dalam hal infrastruktur. Sebut saja Maluku, Papua dan Nusa Tenggara yang masih 
minim akses terhadap pelayanan kesehatan dasar, Maluku dengan akses dan 
infrastruktur transportasi laut yang masih kurang, serta Sulawesi yang 
infrastruktur pendukung kerja sama regionalnya juga masih kurang. Hal ini cukup 
mempengaruhi ketertinggalan daerah di kawasan ini yang cukup akut. 

Belum lagi pembangunan di kawasan Timur Indonesia masih tertinggal dibandingkan 
dengan saudaranya, Kawasan Barat Indonesia (KBI). Dengan skala perbandingan 
tingkat kepadatan penduduk serta pemanfaatan sumber daya manusia dan alam yang 
masih rendah, di mana jumlah penduduk KTI sebanyak 13 % dari penduduk 
Indonesia, rata-rata pertumbuhan ekonomi dan IPM di KTI lebih rendah daripada 
rata-rata nasional. Indikator sosial seperti AKI, AKB maupun angka harapan 
hidup di KTI lebih buruk dari nasional. Bahkan 3 propinsi teratas dalam angka 
kematian bayi dan ibu terletak di KTI (NTB, NTT, Malut dan Sulteng), tingkat 
partisipasi sekolah di KTI selalu lebih rendah pada rentang usia masuk sekolah 
apa pun di banding nasional (2007). Inftrastruktur KTI jelas lebih tertinggal 
dari nasional. 

Fakta dan data tersebut diatas telah menunjukkan bahwa KTI sangat membutuhkan 
percepatan dalam proses pembangunannya. Hal ini dimaksudkan agar tidak lagi 
terjadi ketimpangan pembangunan antar kawasan sebagai akibat sentralisasi roda 
pemerintahan dan pembangunan di masa lampau. Sejalan dengan kebijakan 
desentralisasi, maka masing-masing daerah bertanggung jawab untuk meningkatkan 
intensitas pembangunannya. Hal ini bisa tercapai apabila segenap komponen dan 
pelaku pembangunan di daerah dapat terlibat secara aktif dalam proses 
pembangunan. Berbagai langkah akan ditempuh, antara lain dengan membuka akses 
informasi dan jaringan komunikasi antarberbagai pihak di daerah.

Mesti sudah dilakukan langkah-langkah strategis oleh pemerintah serta 
masyarakatnyadi daerah. Upaya ini selain untuk mengejar ketinggalan dengan 
kawasan lain, juga untuk meningkatkan kemandirian daerah yang lebih berkualitas 
dan berefek ganda, yaitu disatu pihak memiliki daya saing tinggi menghadapi 
pasar global, juga mampu mengolah sumberdaya alamnya guna menciptakan 
kemandirian dalam meningkatkan kesejahteraannya. Akan tetapi butuh rencana 
strategi dari pemerintah pusat guna mendorong kemampuan dalam mengelolah dan 
membangun daerahnya baik dari sisi anggaran maupun dalam hal teknis pembangunan 
lainnya. 

Kebijakan Renstra
Pemerintah melalui Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas 
mengumumkan dimulainya pembahasan master plan percepatan dan perluasan ekonomi 
Indonesia 2011-2015. Salah satu hal yang menarik bagi masyarakat di Kawasan 
Timur Indonesia (KTI) adalah keinginan pemerintah untuk mengalihkan konsentrasi 
industri ke luar Jawa, dari sekitar 30 persen saat ini menjadi 40 persen dari 
total industri di Indonesia. 

Selain melihat perencanaan pembangunan pempus diatas, patut pula menengok 
perbedaan karakteristik wilayah. Artinya bahwa, perbedaan karakteristik wilayah 
berarti perbedaan potensi yang dimiliki, sehingga membutuhkan perbedaan 
kebijakan untuk setiap wilayah. Untuk menunjukkan adanya perbedaan potensi ini 
maka dibentuklah zona-zona pengembangan ekonomi di daerah. 

Zona Pengembangan Ekonomi Daerah (ZPED) adalah pendekatan pengembangan ekonomi 
daerah dengan membagi habis wilayah sebuah daerah berdasarkan potensi unggulan 
yang dimiliki, dalam satu daerah dapat terdiri dari dua atau lebih zona dan 
sebuah zona dapat terdiri dari dua atau lebih cluster. ZPED juga adalah salah 
satu solusi yang dapat diterapkan untuk membangun ekonomi suatu daerah untuk 
mewujudkan kesejahteraan masyarakat di masa depan. Pola pembangunan ekonomi 
dengan pendekatan Zona Pengembangan Ekonomi Daerah (ZPED), ini bertujuan 
bertujuan untuk, (pertama) Membangun setiap wilayah sesuai potensi yang menjadi 
keunggulan kompetitifnya/kompetensi intinya, (kedua) Menciptakan proses 
pembangunan ekonomi lebih terstruktur, terarah dan berkesinambungan, serta 
(ketiga) Memberikan peluang pengembangan wilayah kecamatan dan desa sebagai 
pusat-pusat pertumbuhan ekonomi daerah. 

Hal ini sejalan dengan strategi pembangunan yang umumnya dikembangkan oleh para 
ahli ekonomi regional dewasa ini. Para ahli sangat concern dengan ide 
pengembangan ekonomi yang bersifat lokal, sehingga lahirlah berbagai Strategi 
Pembangunan Ekonomi Lokal (Local Economic Development/LED). Oleh karena itu, 
pemerintah pusat juga harus mendorong kekuatan ekonomi lokal di daerah. Karena 
kekuatan potensi ekonomi lokal daerah yang berada pada kawasan timur Indonesia. 
sehingga butuh renstra khusus yang relevan dalam merancang pembangunan untuk 
kawasan timur Indonesia. 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke