http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/10/nas07.htm
Ke Singapura Tak Cuma Berwisata (1)
Cek Kesehatan, Mengapa Takut?
PEMERIKSAAN PROSTAT: Pasien sedang menjalani pemeriksaan dengan
cystoscopy untuk mengetahui kondisi penyakit prostat. (46n) - SM/Humaini As
Selama beberapa hari belum lama ini, Humaini As, wartawan Suara Merdeka, ke
Singapura untuk memenuhi undangan National University Hospital (NUH) dalam
rangka promosi rumah sakit tersebut. Berikut laporannya.
SIAPA bilang orang datang ke Singapura hanya untuk belanja? Juga tak selamanya
tepat bahwa datang ke kota singa itu hanya untuk berwisata. Kini, orang datang
ke negara tersebut bisa dengan tujuan lain, yakni mengecek kesehatan. Apalagi
negeri itu memang sedang gencar-gencarnya mempromosi kesehatan.
Selain melancong, orang mengunjungi Singapura bisa juga untuk berobat atau
sekadar mengecek kesehatan. Dengan demikian, akan diperoleh manfaat ganda,
yaitu mengetahui kesehatan dirinya dan jika perlu sekaligus melakukan perawatan
serta menyegarkan pikiran dengan melihat-lihat Singapura.
Namun terlepas dari semua itu, sampai saat ini masih ada orang yang takut
mengecek kesehatan. Banyak alasan yang muncul mengapa orang enggan pergi ke
dokter untuk mengecek kesehatannya. Kebanyakan karena mereka tidak senang bila
kemudian dibayangi banyak pantangan setelah tahu dalam tubuhnya ada
ketidakberesan.
Akan tetapi, orang-orang seperti itu bisa jadi akan berubah pikiran bila
menerima tawaran dari National University Hospital (NUH). Sebab, cek kesehatan
di Singapura ada bonusnya, yaitu menikmati kenyamanan metro-polis dunia.
Semua tahu, negara tersebut mengandalkan pariwisata. Segala upaya dilakukan
dengan harapan orang asing yang datang ke sana akan merasa nyaman. Pulang dari
negeri itu bisa tambah pengeta-huan. Jiwa juga segar setelah bere-kreasi.
Dengan program bonus tersebut, diharapkan orang yang datang ke Singapura tidak
hanya tambah pengetahuan dan segar jiwanya, namun juga mengetahui keadaan
fisiknya. Apakah badan benar-benar sehat atau sehat dengan catatan. Atau orang
akan tahu apakah sekarang sedang sakit tapi masih masuk kategori ringan atau
sudah perlu penanganan ekstra.
Negara yang besarnya hampir sama dengan Kota Semarang itu kini makin gigih
menjual kelebihan yang dimilikinya, khususnya bidang kesehatan yang dikelola
pemerintah. Melalui manajemen baru, NUH dengan kelompoknya berusaha melayani
pasien dari luar negeri. Karena itu, mereka berusaha menghilangkan stigma bahwa
pelayanan rumah sakit tidak menyenangkan atau birokratis.
"Kesan itu kami hilangkan dan bisa dibuktikan," kata Kamaljeet Singh Gill,
General Manager National Healthcare Group International Business Development
Unit (NHG IBDU).
Sambil berkeliling ruangan yang nyaman karena bersih dan sejuk, Gill meyakinkan
apa yang dikatakannya itu bukanlah kebohongan. "Sejak empat tahun lalu kami
berusaha menepis pendapat umum yang mengatakan bahwa periksa di rumah sakit
pendidikan akan dijadikan ajang penelitian para calon dokter."
Di rumah sakit itu pendaftaran pasien diatur sedemikian rupa sehingga orang
tidak perlu lagi antre. Beberapa ruangan rumah sakit berdinding kaca yang
sekaligus berfungsi sebagai pembatas antar-ruang pemeriksaan dokter spesialis.
Dengan dinding kaca, orang bisa melihat ke mana-mana kecuali ke kamar periksa.
Masyarakat yang berminat tak perlu repot mengurus segala sesuatunya. Sebab,
sudah ada perwakilan yang siap membantu. Selainj itu, selama promosi, biaya
pengobatan relatif murah. "Rp 5 juta untuk tiga hari dua malam, sudah termasuk
biaya cek kesehatan, fiskal Rp 1 juta, dan menginap di hotel berbintang tiga.
Biaya tidak termasuk pengurusan paspor, namun kami siap membantu mengurus
paspor," kata Merry Sunarto (24), perwakilan NUH Jawa Tengah.
Untuk informasi, ada layanan telepon 24 jam di nomor 0811270832. Jika ingin
langsung mengurus sendiri ke Singapura bisa juga menghubungi nomor telepon (65)
6779 2777 atau faksimile (65) 6777 8065, email:[EMAIL PROTECTED] (46n)
http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/11/nas06.htm
Ke Singapura Tak Cuma Berwisata (2)
"Lho Kok Ada Tawar Menawar?"
SIAP MELAYANI: Perawat National University Hospital (NUH) siap melayani
pasien yang datang. (57v) - SM/Humaini As
DI lantai sembilan apartemen di People Park China Town, saya bertemu dengan
dokter Jaya dari Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, yang mengantar tantenya
untuk kontrol di sebuah rumah sakit swasta. Kedatangannya ini yang kali ke-3.
Untuk berhemat, dia menginap di apartemen karena tarif sewanya hampir separo
dibandingkan hotel berbintang kecil. "Karena ada hubungan jalur khusus maka
kami mendapatkan apartemen ini. Jika untuk yang mau sederhana cukup nyaman ada
AC, bisa masak air," katanya.
Apa yang disampaikan oleh dokter Jaya memang benar. Menginap di apartemen
rata-rata satu kamar tarifnya antara 50-75 dolar Singapura semalam. Pilihan
untuk berhemat asal tidak menuntut banyak. Enaknya, satu kamar bisa dipakai
oleh tiga orang, sementara itu jika di hotel harus membayar tempat tidur
tambahan. Itu saja kalau pengelola hotel mengizinkan.
Ada yang saya catat khusus dalam percakapan dengan dokter Jaya yang setiap
harinya bertugas di RS Eddy Sudrajat. "Kalau tidak mengetahui kondisi di sini,
orang berobat jadinya mahal." tuturnya.
Dia memberikan contoh, seorang kenalannya yang ibunya harus dioperasi karena
sakit kanker payudara. Ketika dokter menyebutkan sejumlah dana untuk biaya
operasi, orang tersebut mundur teratur karena tidak memiliki uang sebanyak yang
disebutkan.
Begitu pasien akan mundur, sang dokter menanyakan, seberapa ia mampu bayar.
Setelah pasien tersebut menjelaskan kemampuan membayarnya, dokter itu
mengatakan "oke".
Akhirnya dengan jumlah uang yang dimiliki oleh ibu penderita kanker payudara
itu, operasi dilakukan.
"Lho, kok ada tawar-menawar?"
"Kata orang di rumah sakit swasta di sini biasa terjadi begitu"
Sari pembicaraan itu kemudian saya cek silang pada Mar, sebut saja begitu
karena ia keberatan namanya ditulis lengkap. Mar, eksekutif senior dari
National Healthcare Group International Business Development Unit (NHG IBDU)
mengiyakan.
"Itulah salah satu dari alasan kami untuk ikut membuka pelayanan bagi pendatang
lain negara. Selain kami ingin meringankan beban pasien, juga memanfaatkan
kelebihan kemampuan layanan kami. Kenapa tidak?"
NUH adalah salah satu dari 15 jaringan yang masuk dalam National Healthecare
Group (NHG) di negeri Singa itu.
Masing-masing adalah Alexandra Hospital, National University Hospital (NUH),
Tan Tock Seng Hospital (TTSH), Institute of Mental Health/Woodbridge Hospital,
John Hopkins, NUH International Medical Centre, National Skin Centre, NHG
Polyclinics, The Cancer Institute, The Eye Institute, NHG College, NHG
Diagnostics, NHG Gulf, NHG Pharmacy dan Netcare Internet Service.
Stadium Dini
"Ada kemajuan. Mungkin juga karena ketika datang tante masih dalam stadium
dini. Di sini di kemoterapi." papar dokter Jaya tentang penyakit tantenya.
"Rambutnya nggak rontok ya? tanya saya.
"Nggak. Juga tak terasa mual seperti keluhan yang biasa terjadi. Mungkin jenis
kemoterapinya lain. Itu kan juga tergantung seberapa stadiumnya,"
Saya yang awam mengangguk saja, teringat beberapa kenalan yang di kemoterapi
dengan berbagai keluhan. Tapi ada juga yang sepertinya tak berefek samping
mual, pusing.
Mungkin juga karena diagnosis dokter di NUH pas sehingga penerapan
kemoterapinya bisa pas.
Saya jadi ingat Gill, Kamaljeet Singh Gill "Bos"nya Mar yang mengatakan
peralatan di NUH selalu ditingkatkan menjadi paling mutakhir.
"Rumah sakit pertama di Singapura yang meraih tiga kali sertifikasi ISO kurun
waktu setahun adalah NUH. Penghargaan itu merupakan pengakuan komitmen kami
yang berkesinambungan memberikan perawatan dan layanan berkualitas memenuhi
standar kualitas internasional kepada pasien" kata Gill. "Jangan panggil saya
Gila ya" ucapnya berseloroh.
Ketiga ISO yang dimaksud adalah ISO 9001:2000 (mutu sistem manajemen), ISO
140001:1996 (sistem manajemen lingkungan), dan ISO 18001:1999 (penanganan dan
keselamatan).
"Lebih dari itu, bulan September 2004 NUH adalah rumah sakit pertama di
Singapura yang meraih akreditasi dari Joint Commission International yang
merupakan kepanjangan tangan akreditasi utama Amerika Serikat," ujar Gill yang
peranakan India.
Rasanya sangat wajar jika NUH memperoleh penghargaan bertubi-tubi dalam waktu
singkat.
Selain kasat mata orang bisa melihat lingkungan yang bersih, pengaturan ruang
dan peralatan yang lengkap serta maju, kualitas SDM-nya juga bisa sangat
dipertanggungjawabkan.
"Sebagian besar petugas klinik NUH juga mengajar di Fakultas Kedokteran
Universitas Nasional Singapura. Peran ganda mereka menjamin agar tetap
mengikuti segala perkembangan dalam teknologi dan ilmu kedokteran maupun
berpartisipasi dalam perkembangan melalui riset yang relevan."
Ilmu tentunya diperuntukkan untuk pengobatan dan penyembuhan pasien. (Humaini
As-29v)
http://www.suaramerdeka.com/harian/0507/12/nas05.htm
Ke Singapura Tak Cuma Berwisata (3-Habis)
Pasien Indonesia Disediakan Kamar Besar
BUS RUMAH SAKIT : Bus yang khusus disediakan oleh NUH untuk melayani tamu
yang datang, siap di terminal khusus (14) - SM/Humaini
UMUMNYA orang Singapura disiplin. Mungkin karena pekerjaan dan ritme hidup
selalu dibatasi waktu serta lingkungan sibuk menjadikan mereka harus ketat
mengatur semuanya. Paling tidak hal itu dijalani oleh Mar, Senior Executive
National Healthcare Group International Business Development Unit, yang menjamu
saya di National University Hospital (NUH).
Pria energik (39) itu spontan bereaksi atas tulisan saya pertama. Di situ saya
tulis alamat lengkap NUH sebagai informasi bagi masyarakat yang ingin
berhubungan langsung. "Jangan menghubungi kami langsung, silakan saja ke Merry.
Ia representative NUH", katanya.
Saya jadi teringat, meskipun Mar adalah tokoh penting dalam pengembangan NUH
dan jaringannya, namun secara terang-terangan menolak disebut namanya lengkap
apalagi kontak personnya.
Ia punya pengalaman privasinya terganggu. Seorang pasien yang kebetulan dari
Indonesia selalu menghubungi menanyakan segala sesuatunya sehingga Mar merasa
risih.
Maunya Mar, pasien itu menghubungi rumah sakit atau dokter yang menangani, atau
bagian yang dibutuhkan secara langsung. Karena di rumah sakit itu sudah ada
pembagian tugas yang jelas dan terkoordinasi rapi.
Mar tidak ingin disibukkan hal-hal seperti itu lagi, karena untuk Jawa Tengah
sudah ada Merry Sunarto yang setiap saat pesawat teleponnya siap dihubungi
untuk urusan pemeriksaan. Telepon Merry, perwakilan NUH Jawa Tengah adalah
0811270832.
Saya memaklumi jika Mar tidak mau terganggu mengingat yang harus ditangani
begitu banyak. Selain promosi ke Indonesia untuk menjaring pasien, negara lain
yang menjadi tujuan pemasaran adalah Thailand, Malaysia, Brunei, Bangladesh,
India Selatan, Cina dan Vietnam. "Ada beberapa yang datang dari Filipina.
Mereka mungkin mengetahui kami lewat internet," kata Mar.
One Stop System
Kenyamanan yang diberikan oleh NUH kepada pasien, khususnya dari luar negeri
adalah setiap bagian pemeriksaan di situ tuntas dilakukan penanganan. Contohnya
dalam pemeriksaan penanganan berat badan.
Pertama dilakukan wawancara dengan pasien tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan kebiasaan makan, keluarga, aktivitas, dan lain-lain.
Batasan-batasan tentang berat badan ideal dijelaskan kepada pasien, sampai pada
akhirnya yang dinamakan morbid obesity yaitu kelewat gemuk dan berbahaya bagi
kesehatan.
Penanganan untuk program ini secara terpadu dijelaskan kepada pasien oleh
dokter, psikolog, ahli gizi dan instruktur senam. Jika perlu lagi dilakukan
penyedotan lemak atau operasi lain.
Dengan penjelasan itu pasien akan sangat memahami keadaan tubuhnya. Kalau toh
dalam penanganan kegemukan tersebut diperlukan cek laboratorium, pasien tak
perlu harus pindah ke tempat pemeriksaan lain karena semua sudah disiapkan
dalam satu lokasi dalam ruang itu. One Stop System itulah metode untuk semua
jenis pemeriksaan yang disiapkan oleh NUH demi memberi pelayanan prima kepada
pasien. Pasien tak harus berjalan jauh-jauh ke lain ruangan.
Kegemukan sengaja saya ambil sebagai contoh dalam penulisan ini karena
merupakan tren yang banyak diminati oleh masyarakat mampu. Atau juga mereka
yang peduli terhadap kesehatan. Berat badan yang terkontrol biasanya terkait
dengan kesehatan yang terjaga.
"35% penduduk Singapura dewasa mengalami kegemukan, dan 16% di antaranya
obesitas" kata Mar.
Rata-rata pelaksanaan program ini memerlukan waktu 16 minggu atau empat bulan
dengan tahap-tahap yang sudah diatur rapi, termasuk di antaranya diskusi, tur
kecil ke supermaket untuk mengenalkan jenis-jenis makanan yang boleh dan tidak
boleh dimakan.
"Pasien diharapkan mengerti betul masalahnya dan termotivasi untuk gigih
menurunkan berat badan," kata Mar lebih jauh. Katanya lagi, untuk menjadikan
pasien tak terbebani dengan pengobatan, para dokter melepas baju khas dokter
yang putih. Mereka hanya mengenakan kemeja atau blus biasa.
Kamar Besar
Lepas dari ruang Weight Management Programme, saya diajak berkeliling ke
ruangan lain melewati ruang periksa kanker, mata, liver dan bayi tabung. Di
situ bank sperma sudah habis sejak beberapa bulan lalu. Ternyata sangat
diminati, sehingga masih dibutuhkan donor sperma.
Dengan berjalan cepat seperti umumnya orang-orang di sana, Mar menunjukkan
contoh kamar VIP di mana di situ keluarga pasien boleh menunggu. Ukurannya
lebih kurang 4 X 5 meter.
Ada beberapa ruang yang disediakan seperti itu karena manajemen menyadari,
umumnya orang Indonesia dan Malaysia datang ke rumah sakit dengan keluarga
besar. "Jika ada yang sakit, semua keluarga dibawa," katanya sambil tertawa.
Yang saya lihat adalah satu kamar ada tempat tidur pasien, sofa untuk penunggu,
dan kulkas.(Humaini As-14v)
[Non-text portions of this message have been removed]
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/