HARIAN TERBIT 8 July 2005 - 16:59 Gerakan penghematan rugikan rakyat, SBY harus tangkap penyelundup BBM
JAKARTA - Gerakan penghematan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dinilai merugikan rakyat, karena gerakan itu akan mendorong kenaikan harga BBM. Selain menyengsarakan rakyat, gerakan itu juga tidak akan efektif. Untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, sebaiknya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menangkap para penyelundup dan pengoplos BBM yang terus merajalela. "Penghematan BBM itu sangat kecil pengaruhnya untuk mengatasi kelangkaan BBM. Masalah utama adalah mengatasi penyelundupan dan pengoplos BBM yang terjadi dimana-mana. Karenanya, mereka harus ditangkap," kata anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional M Nadjib dan Endin AJ Soefihara dari Fraksi PPP menjawab Harian Terbit di Jakarta, Jumat [8/7]. Direktur Eksekutif Masyarakat Profesional Madani, Ismed Hasan Putro mengemukakan, kelangkaan BBM selain dipicu harga minyak dunia yang terus melambung, juga diakibatkan pemakaian BBM di dalam negeri yang terus meningkat akibat kendaraan pribadi yang terus bertambah. Saat ini konsumsi premium saja sudah naik 10,8 persen di atas kouta yakni dari 42 ribu kiloliter per hari menjadi 46 ribu kiloliter. Salah satu upaya untuk mengatasi kelangkaan BBM, menurutnya, adalah pembatasan kendaraan pribadi dengan membuat kebijakan pajak ganda. Hingga kini, kebijakan pembatasan kenderaan pribadi belum ada sehingga tidak jarang dalam satu rumah banyak dijumpai 3-4 mobil. Hal ini tentunya sangat mempengaruhi terhadap permintaan BBM, padahal dengan 1 mobil saja sebenar-nya tidak ada masalah. Menurutnya, anjuran penghematan, tentu saja kalangan industri akan mengurangi mobilitas usahnya sehingga tidak mampu memberi kontribusi banyak terhadap pertumbuhan ekonomi. "Jadi saya kira langkah (penghematan BBM) tidak sejalan dengan upaya untuk memperbaiki ekonomi nasional," tegasnya. Ia menambahkan, persoalan kelangkaan BBM ini tidak lepas dari ketidaksinkronan menteri ekonomi SBY dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang tepat ditambah lagi kondisi pertamina yang tidak profesional. Untuk itu, lanjut dia, selain mengajak masyarakat hemat BBM sebaiknya pemerintah mengevaluasi diri dan Pertamina memperbaiki kinerjanya. Endin dan M Nadjib juga me-nyoroti kinerja pemerintahan SBY-Kalla dalam mengatasi persoalan BBM. Penghematan itu hanya sebagian kecil, dan pengaruhnya hanya sedikit sekali untuk mengatasi kelangkaan BBM. "Gerakan penghematan yang dilakukan pemerintah, itu hanya satu sisi kecil saja. Tapi, yang besar belum dirancang secara baik dan menyeluruh," kata Na-djib. Misalnya, tambah Nadjib, sampai sekarang belum ada suatu lembaga atau departemen yang mengurus energi Indonesia, institusi yang ada masih terpisah-pisah, sehingga mulau polecy hingga distribusinya amburadul. Endin mengemukakan, pemerintah seharusnya membuat grand desain ekonomi secara menyeluruh, bukan terpengal-penggal seperti sekarang, sehingga pemerintahan SBY-JK tidak terkesan kagetan [terkejut] dalam menghadapi setiap persoalan ekonomi yang muncul. "Gerakan penghematan BBM itu laksana orang kehausan cuma dikasih premen, jadi sebatas upaya kuratif. Pemerintahahan SBY-JK saat ini terlihat tidak memiliki konsep ekonomi yang jelas untuk jangka panjang. Karena itu, seharusnya kelangkaan BBM seperti sekarang ini dihadapi de-ngan langkah-langkah yang sis-tematis dan menyeluruh." ujar Endin. (fur/thm) [Non-text portions of this message have been removed] Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
