Refl: Mengapa harus malu, bukankah impor ikan adalah sesuai dengan politik 
ekonomi NKRI dalam mana para petinggi negara dan begundal-begundal di daerah 
harus mendapat komisi. Bukankah kalau para petinggi kaya raya adalah kemajuan 
negara? 

http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/01/26/ArticleHtmls/Industrialisasi-Versus-Impor-Ikan-26012012012017.shtml?Mode=0

Industrialisasi Versus Impor Ikan

Kita seharusnya malu, negara kepulauan Indonesia, yang memiliki potensi 
perikanan berlimpah, dihadapkan pada kenyataan harus mengimpor ikan. Tengok 
Malaysia, negara daratan itu mampu mengekspor ikan kerapu ke Hong Kong dengan 
harga lebih murah, padahal bibitnya diimpor dari Indonesia.

Wacana industrialisasi perikanan terus digulirkan Kementerian Kelautan dan 
Perikanan untuk mengatasi impor ikan yang semakin sulit dibendung dan 
dikendalikan.
Bahkan ikan impor dalam kemasan pun bebas masuk tempat pelelangan ikan (TPI) 
dan dijual di pasar-pasar tradisional. Secara teori, apa yang diwacanakan soal 
industrialisasi tersebut memang ideal, tetapi seharusnya tidak gegabah 
diterapkan. Sah-sah saja jika ada anggapan bahwa di perairan Indonesia timur 
potensi ikan tangkapan masih berlimpah, sekalipun tidak ada data pendukung yang 
menguatkan asumsi tersebut. Kajian stok ikan nasional sudah lama tidak pernah 
dilakukan, sehingga validitas klaim tersebut diragukan. 
Ada baiknya kita menyimak hasil kajian yang telah dilakukan Badan Pangan Dunia 
(FAO). Sejumlah parameter menunjukkan bahwa status perikanan dan populasi ikan 
pelagic maupun demersal di perairan Indonesia sudah tidak sehat. Fakta yang 
terjadi, dengan kapal besar, nelayan memperluas jangkauan, meningkatkan 
kapasitas penangkapan, maupun menambah jumlah hari melaut, sementara hasilnya 
tidak sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Hal ini menunjukkan 
bagaimana kondisi ikan yang sebenarnya. Kebutuhan konsumsi ikan yang semakin 
meningkat setiap tahun, maupun pasar internasional, juga membuat eksploitasi 
sektor perikanan berlangsung secara besar-besaran.

Hasil penelitian yang dilakukan FAO pada 2010 menyebutkan pula, kondisi sumber 
daya ikan nasional maupun dunia saat ini menyusut drastis. Pada 2008, stok ikan 
laut dunia yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi tinggal 15 
persen. Sebanyak 53 persen stok ikan sudah dimanfaatkan secara maksimal dan 
tidak mungkin dieksploitasi lagi. Sedangkan sisanya sudah over-exploited atau 
stoknya menurun. Gambaran pemanfaatan sumber daya ikan di seluruh perairan 
Indonesia yang diterbitkan oleh Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumber Daya 
Ikan tahun 2006 menunjukkan hal yang sama. Tidak mengherankan jika sering 
terjadi bentrokan fisik antara nelayan tradisional dan ABK kapal asing akibat 
berebut wilayah penangkapan di tengah laut.
Konflik antarnelayan tradisional pun sering terjadi di lokasi rumpon di 
perairan dangkal dan laut dalam.
Biaya mahal Membangun gudang ikan, sebagaimana diusulkan Kamar Dagang dan 
Industri Indonesia (Kadin), di sentrasentra perikanan tangkap, khususnya di 
Indonesia timur, akan terhambat stok ikan dan pasokan listrik. Gudang ikan 
kapasitas 30 ton atau seukuran kontainer 40 feet dengan biaya investasi Rp 1,5 
miliar, misalnya, memerlukan listrik 40 ribu watt, biaya operasional Rp 20 juta 
per bulan. Sementara itu, pasokan listrik sebesar itu masih belum tersedia di 
daerah pesisir dan pulau-pulau kecil.

PLN sendiri masih kesulitan menerangi permukiman penduduk tingkat kecamatan di 
wilayah timur. Idealnya, gudang penyimpanan seharusnya dilengkapi freezer 
selain cold storage.
Mesin freezer akan membekukan ikan hingga minus 40 derajat celcius untuk 
mempertahankan kualitas ikan dan mencegah berkembang-biaknya bakteri. Proses 
pembekuan ini mutlak dibutuhkan sebelum ikan dipindahkan ke cold storage dengan 
suhu minus 18 derajat celcius sambil menunggu untuk dikapalkan.

Biaya lain yang harus dihitung adalah beban transportasi yang memang selama ini 
menjadi kendala serius di ranah bahari ini. Setidaknya untuk mencukupi 
kebutuhan bahan olahan industri perikanan di Jawa dan Sumatera, dibutuhkan 
kapal carrier berukuran 200 gross tonage (GT), mesin minimal 450 PK dengan kapa 
sitas palka 80-100 ton. Biaya membeli solar (BBM) sekitar Rp 100 juta untuk 
kebutuhan selama 10 hari melaut trayek pulang-pergi. Biaya gudang dan 
transportasi tersebut tentunya menyebabkan harga ikan lebih mahal, belum 
termasuk biaya investasi kapal dan biaya rutin yang harus dikeluarkan, seperti 
menggaji ABK dan biaya merawat kapal.

Beberapa hal yang lolos dari pengamatan, selama ini petani budi daya dan 
industri tambak harus mengeluarkan biaya ekstra agar survive.
Untuk menyiasati penyakit dan virus yang merebak akibat kontaminasi zat kimia 
dari konsentrat pakan, lahan tambak harus dilapisi terpal plastik.
Air laut yang sarat pencemaran untuk bahan baku tambak udang, bandeng, atau 
kerapu lumpur memerlukan treatment khusus pula agar ikan tetap sehat. Sementara 
itu, budi daya air tawar dihadapkan pada persoalan makin terbatasnya sumber air 
dan melambungnya harga pakan. Demikian pula industri pengolahan mempunyai 
risiko lebih tinggi akibat kenaikan tarif listrik, mahalnya bahan baku, dan 
tuntutan peningkatan kesejahteraan karyawan.

Faktor dominan yang menyebabkan budi daya udang vanamei tidak sukses adalah 
mahalnya biaya produksi (pakan, BBM). Sebagai ilustrasi, biaya pakan udang 
vanamei dengan kepadatan 150 ekor per meter persegi dengan produksi 6 ton per 
musim tanam mencapai Rp 9.000 per kilogram. Setiap kilogram udang yang 
dibudidayakan selama 120 hari membutuhkan 2 liter solar untuk biaya aerator 
penghasil oksigen. Sedangkan harga jual udang vanamei Rp 46 ribu per kilogram. 
Gambaran biaya di atas belum termasuk investasi awal dan biaya rutin.

Jika saja pemerintah mampu menurunkan harga pakan hingga 40 persen atau 
menciptakan pakan alternatif (organik), budi daya udang dengan sendirinya 
tumbuh subur. Pengusaha budi daya laut juga megap-megap karena mahalnya harga 
pakan. Untuk setiap kilogram ikan kerapu (grouper) yang dibudidayakan di 
keramba apung selama 6-8 bulan, dihabiskan Rp 40 ribu untuk membeli pakan 
olahan industri. Kesulitan serupa dialami petani budi daya ikan air tawar, 
seperti ikan lele, gurame, nila, patin, yang sangat bergantung pada pakan 
konsentrat (pelet). Dampaknya juga mempengaruhi tingkat konsumsi makan ikan 
nasional yang selama ini stagnan di angka 28 kilogram per kapita per tahun. 
Senyampang harga ikan lebih mahal dari harga beras, jangan berharap industri 
perikanan akan maju dan gemar makan ikan diminati masyarakat.
Malu Jika dicermati, dana triliunan rupiah dihabiskan untuk membiayai 
peningkatan produksi perikanan, seperti sistem cluster, revitalisasi tambak, 
restrukturisasi pelabuhan, minapolitan, serta program 1.000 kapal nelayan.
Awalnya, program tersebut gempita ketika dicanangkan, akan tetapi patut 
disesalkan sepi produktivitas dan bahkan sektor perikanan terpuruk.

Kita seharusnya malu, negara kepulauan Indonesia, yang memiliki potensi 
perikanan berlimpah, dihadapkan pada kenyataan harus mengimpor ikan. Tengok 
Malaysia, negara daratan itu mampu mengekspor ikan kerapu ke Hong Kong dengan 
harga lebih murah, padahal bibitnya diimpor dari Indonesia. Bahkan mampu 
menyuplai ikan lele ke Batam dengan harga Rp9.000 per kilogram, sedangkan lele 
lokal dijual di atas Rp 10 ribu per kilogram.

Demikian pula Vietnam, yang potensinya jauh lebih kecil, mampu membudidayakan 
udang windu (Paneus monodon) dan menjadi negara eksportir windu, yang 
spesiesnya berasal dari tlatah Majapahit. Sementara itu, Korea Selatan sukses 
meriset jenis rumput laut asal Indonesia dan mendapat hak paten atas rekayasa 
mesin yang mampu membuat kertas dari hasil riset tersebut. 

     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke