Senang tapi Tak Tenang 

Friday, 27 January 2012 

Saya sering memperoleh peringatan dan pencerahan hidup dari orangorang yang 
dianggap orang kecil, bawahan, dan awam meskipun bagi saya semua orang sama 
derajatnya.


Salah satunya dari tukang urut yang kadang saya panggil ke rumah setelah capai 
bermain golf. Namanya Mas Sabarno.Tipikal seorang Jawa,asli Solo,yang selalu 
mendambakan hidup tenang, damai, meski tidak kaya-raya.“Sekarang ini banyak 
orang mengejar kesenangan hidup, tetapi tidak tenang,”katanya.Mengejar 
kesenangan sesaat, tetapi ujungnya masuk tahanan. Ada tipe orang yang memang 
selalu ingin hidup damai, harmonis, bebas dari konflik. 

Namun ada pula orang yang memandang konflik dan persaingan itu bagian dari 
hidup yang mengasyikkan.Tak ada kemajuan dan prestasi luar biasa tanpa sebuah 
risiko yang sangat menggelisahkan.Mereka yang berhasil meraih prestasi di atas 
rata-rata,perjuangan hidupnya juga di atas rata-rata.Yang kadang terjadi, orang 
kagum dan iri melihat orang lain sukses,tetapi tidak mau tahu dan meniru 
kerjakerasuntukmeraihkesuksesan itu.

Para atlet kelas dunia yang sekarang kaya-raya, mereka telah mengorbankan 
waktunya untuk bersenang-senang. Mereka mengisi waktu dengan latihan keras dan 
disiplin tinggi.Tapi kita hanya melihat sukses dan senangnya, tidak mau tahu 
perjuangan mereka sehingga sampai ke sana. MasSabarnomungkinmewakili budaya 
agraris, mental petani desa yang akrab dan damai dengan lingkungan alamnya. 

Dia terkesan dengan Pak Harto yang selalu tersenyum dan bersikap kebapakan 
ketika berdialog dengan petani desa.“Hidup itu yang paling penting tenang dan 
aman.Bukan berlomba-lomba mengejar kekayaan,tidak peduli halal atau 
haram,”tandasnya. Untuk apa pangkat tinggi, hartamelimpahkalauyangdikejar- 
kejar harta haram dan mengorbankan harga diri? Mimpi indah warga desa tentang 
kehidupan yang tenteram, aman, dan damai tampaknya semakin jauh.

Dulu pasar-pasar tradisional di kota kecil menjadi sarana berkenalan da 
bersosialisasi para pengunjung dari desa yang berbeda sambil membawa dagangan 
hasil panennya. Orang pergi ke pasar sambil menambah kenalan.Tapi semua itu 
sekarang sudah berubah total. Gaya hidup dan ekonomi kota yang justru masuk ke 
desa. Mainan tradisional anak-anak hasil kerajinan tangan sudah tergeser oleh 
mainan impor.

Masuknya televisi dan telepon seluler ke desa membawa perubahan drastis dalam 
pola pikir dan pola hidup warga desa. Sawah kehilangan daya tarik dan 
keindahannya. Serial sinetron dan gemerlap iklan di televisi telah mengubah 
mimpi dan imajinasi orang-orang desa untuk bisa hijrah tinggal di kota atau 
setidaknya berperilaku seperti orang kota yang serbaglamor.Mereka tidak tahu,di 
kota terdapat kantong kemiskinan dan jaringan kejahatan yang mengerikan. 

Ketenangan hidup terasa semakin mahal.Pejalan kaki di kota yang sudah benar 
mengambil posisi pun bisa tertabrak mobil karena sopirnya ugalugalan atau 
tengah mabuk.Pelajar yang telah bekerja keras agar lulus ujian bisa tersalip 
prestasi angkanya oleh mereka yang mencontek dan difasilitasi pengawasnya. 
Sarjana dengan IPK tinggi tidak ada jaminan lolos seleksi lamaran kerja kalau 
tidak memiliki koneksi dan uang sogok. 

Ketika sudah bekerja, promosi tidak selalu didasarkan prestasi,melainkan 
pertemanan etnik,agama, partai atau almamater. Demikianlah, secara lahiriah 
pusat-pusat perbelanjaan di kota besar selalu ramai.Jumlah kendaraan automotif 
selalu bertambah. Namun ketenangan hidup malah merosot.Orang tua dan pendidik 
di sekolah semakin berat bebannya karena mendapat imbas kehidupan sosial yang 
beringas. Belum lagi beredarnya narkoba dan pornografi yang tidak selalu 
terdeteksi oleh orang tua dan guruguru di sekolah. 

Sungguh mencengangkan, Indonesia menjadi pasar terbesar kedua sabusabu di dunia 
setelah Thailand. Adakah semua ini membuat kita pesimistis? Meminjam istilah 
yang sering digunakan Presiden SBY, kita semua sangat prihatin dengan keadaan 
ini. Tapi bagi rakyat tentu tidak cukup hanya dengan pernyataan prihatin.Mereka 
menuntut perbaikan nyata dan terukur. Perlu proyeksi, misalnya, antara angkatan 
kerja dan lowongan kerja. Perlu perencanaan matang antara jumlah kenaikan mobil 
dan pembangunan jalan. 

Kita salut akhir-akhir ini pemerintah juga menaruh perhatian pada wilayah 
”terpinggir” atau ”terdepan”yang terletak di perbatasan RI yang warganya tidak 
bangga dan percaya diri ketika bertemu dengan warga negara lain yang tinggal di 
seberang perbatasan. Namun sesungguhnya, sebelum jauh-jauh memperbaiki wilayah 
”perbatasan”,yang namanya bandara internasional juga sebuah zona perbatasan 
yang mesti memperoleh perhatian lebih serius.

Bandara Singapura dan pesawat SQ, misalnya, adalah wajah terdepan negara dan 
masyarakat Singapura yang akan memberikan kesan pertama orang luar tentang 
negara itu. Mestinya Bandara Soekarno- Hatta didesain sedemikian rupa 
keindahan, ketertiban, keamanan, dan kenyamanannya mengingat bandara adalah 
wajah terdepan Indonesia.  

PROF DR KOMARUDDIN HIDAYAT 
Rektor UIN Syarif Hidayatullah 

http://www.seputar-indonesia.com/edisic ... 464155/38/

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke