Refl: Pernyataan anggota DPR ini membuktikan bahwa pemberantas korupsi berjalan 
pincang sekalipun digembar-gemborkan oleh SBY dan komplotannya, jadi dibutuhkan 
pendekatan baru dan pendekatan baru akan bisa berjalan baik membutuhkan 
pendekar baru yang berdedikasi bukan tebang pilih.


http://www.antaranews.com/berita/294842/anggota-dpr-pemberantasan-korupsi-butuh-pendekatan-baru
Anggota DPR: pemberantasan korupsi butuh pendekatan baru 
Sabtu, 28 Januari 2012 13:09 WIB | 

Pekanbaru (ANTARA News) - Anggota Komisi III DPR RI yang membidangi hukum dan 
HAM, Bambang Soesatyo dari Fraksi Partai Golkar menegaskan, pemberantasan 
korupsi butuh pendekatan baru dan jangan hanya melalui imbauan atau wacana.

"Terbukti, cara-cara itu tidak efektif lagi dan pemberantasan korupsi malah 
hanya akan terus terjebak dalam kebuntuan," katanya kepada ANTARA News 
Pekanbaru, Sabtu.

Dikatakannya, menemukan pendekatan baru yang lebih efektif merupakan hal 
penting, jika masih ingin melanjutkan implementasi rencana pemberantasan 
korupsi.

"Sebab, apa yang terjadi sekarang, tak lain adalah kebuntuan pemberantasan 
korupsi. Publik sedang bertanya, di mana `kubur` skandal Bank Century? Mengapa 
pemerintah tidak tertarik menuntaskan kasus mafia pajak?," ujarnya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, menurut dia, lebih bermakna sebagai gugatan 
publik atas kebuntuan proses hukum kasus-kasus korupsi berskala besar.

"Sementara itu, jumlah kasus korupsi terus meningkat. Tengok saja di penghujung 
2011, Kapolri Jenderal Timur Pradopo mengungkapkan, jumlah kasus korupsi yang 
ditangani Polri selang tahun lalu meningkat cukup tinggi," ungkapnya.

Dikatakannya, kalau pada 2010 Polri hanya menangani 585 kasus, selang 2011 
jumlahnya melonjak sampai 1.323 kasus.

"Kenaikannya terbilang sangat tinggi, yakni 55,78 persen," katanya.

Arti dari lonjakan kasus tersebut, demikian Bambang Soesatyo, ialah kinerja 
pemberantasan korupsi sangat mengecewakan.

"Tidak mengherankan jika survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) menunjukkan 
anjloknya kepercayaan publik kepada pemerintah. Hingga Desember 2011, 
kepercayaan publik menurun menjadi 44 persen dari bulan yang sama tahun 
sebelumnya yang masih pada 52 persen," tuturnya.

Diakuinya, pemerintah telah menerbitkan Inpres Nomor 17 Tahun 2011 tentang 
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.

"Inpres ini kelanjutan Inpres Nomor 9 Tahun 2011. Dan dua Inpres ini boleh 
diterjemahkan sebagai keinginan presiden meningkatkan aksi pencegahan dan 
pemberantasan korupsi," katanya.

Namun, menurutnya, aksi pencegahan dan pemberantasan korupsi itu butuh 
kepemimpinan yang kuat, berani serta independen.

"Tidak sebatas pidato atau wacana, melainkan harus dengan aksi nyata, tanpa 
pandang bulu. Kalau hanya mengandalkan Inpres dan imbauan, publik bisa 
berasumsi, itu hanya sikap berpura-pura. Seolah serius, padahal tidak," tandas 
Bambang Soesatyo. 

(M036/S023) 

Editor: Ella Syafputri

COPYRIGHT © 2012


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke