Refl: Bagaimana sikap komunitas di lain tempat, terisitimewa di Pulau Jawa, 
senang atau tidak senang dengan FPI dan konco-konco mereka?


http://www.sinarharapan.co.id/content/read/komunitas-dayak-islam-memang-tidak-menghendaki-fpi/
5.02.2012 12:17

Komunitas Dayak Islam Memang Tidak Menghendaki FPI
Penulis : Aju/Lili Sunardi/Vidi Batlolone/Saiful Riza/Web Warouw/Tutut Herlina 

 (foto:SH/Aju)
PONTIANAK - Komunitas suku Dayak beragama Islam di Provinsi Kalimantan Tengah 
memang tidak menghendaki kehadiran Front Pembela Islam (FPI), sehubungan aksi 
penolakan berujung demonstrasi besar-besaran di Bundaran Besar, Jalan Meranti, 
dan Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangkaraya, akhir pekan lalu. 

Hal itu dikemukakan Sabran Achmad, salah satu tokoh suku Dayak beragama Islam, 
saat dihubungi SH dari Pontianak, Rabu (15/2). “Ini murni aspirasi masyarakat. 
Kami di Provinsi Kalimantan Tengah menginginkan kedamaian, masyarakat sudah 
telanjur memandang negatif terhadap FPI,” ungkapnya. 

Menurut Sabran, harus disadari tidak sedikit masyarakat beragama Islam di 
Indonesia yang sudah gerah dengan aksi kekerasan yang dilakukan FPI di sejumlah 
daerah. Budaya kekerasan yang dilakukan FPI, menurutnya, telah merusak citra 
agama Islam secara keseluruhan.

Kemarin, ratusan aktivis dari berbagai latar belakang juga menyerukan penolakan 
terhadap aksi-aksi kekerasan yang selama ini dilakukan FPI dengan menggelar 
aksi damai di Bundaran HI, Jakarta. 

Gerakan yang mengatasnamakan Indonesia Damai Tanpa FPI ini meminta pemerintah 
tegas terhadap FPI. Sejumlah aktivis pendukung pluralisme hadir dalam aksi ini, 
antara lain Innayah Wahid, Hanung Bramantyo, dan Nia Dinata. 

Aksi damai ini sempat diwarnai ricuh saat orator aksi dipukul oleh orang tak 
dikenal. Polisi hari ini menetapkan satu tersangka atas pemukulan tersebut. 

Sosiolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Arie Sudjito mengatakan, penolakan 
FPI dan organisasi sejenis yang gemar melakukan tindak kekerasan oleh komunitas 
warga, akan menjadi pola umum ke depan jika pemerintah terus bersikap tidak 
peduli. 

“Karena hukum di Indonesia tidak dijalankan secara adil, maka setiap ormas, 
kelompok masyarakat akan memilih caranya sendiri-sendiri untuk menghadapi 
ancaman,” katanya. 

Menurutnya, penolakan masyarakat Dayak terhadap kehadiran FPI di Kalteng 
sebenarnya bersifat antisipatif, karena pemerintah dan aparat keamanan tidak 
mampu lagi mengantisipasi kedatangan FPI.

Tudingan 

Sementara itu, Juru Bicara FPI Munarman bersikukuh penolakan terhadap kehadiran 
FPI di Kalteng dilakukan preman yang dipimpin Gubernur Kalteng Agustinus Teras 
Narang. Perkumpulan Dayak Islam, menurut Munarman, juga merupakan organisasi di 
bawah kendali Teras Narang. 

“Pemimpin organisasi Dayak Islam adalah seorang pegawai pemda, sekaligus mantan 
ketua Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah). Saya tahu siapa dia,” 
katanya. 

Ia meyakini hubungan FPI dan masyarakat di Kalimantan tidak terganggu, karena 
di sana beberapa kantor perwakilan FPI telah didirikan. Salah satunya di Kota 
Waringin dan Sampit. 

Sebaliknya, ia menilai, suku Dayak yang cenderung melakukan kekerasan terhadap 
suku lainnya. “Dulu ribuan orang Madura mati, itu karena siapa? FPI tidak 
pernah membunuh ribuan orang,” katanya. 

Namun Sabran menegaskan penolakan kehadiran FPI justru karena di Kalteng pernah 
terjadi konflik rasial suku Dayak dan Madura pada 2001, dan penolakan ini untuk 
kebaikan semua pihak. 

“Demonstrasi besar-besaran suku Dayak di Palangkaraya bertujuan pencegahan. 
Muspida Provinsi Kalimantan Tengah telah melakukan tugas secara baik, benar, 
tegas dan tepat, sehingga keributan tidak menjalar,” ujarnya. 

Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalteng, Lukas Tingkes, sebelumnya 
mengatakan penolakan FPI sudah dilakukan satu bulan sebelumnya. DAD selalu 
berkoordinasi dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah agar 
permasalahan rencana pelantikan FPI dibatalkan, karena situasi tidak kondusif.

Di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, kemarin, digelar pertemuan sejumlah 
warga suku Dayak di Rumah Betang, Jalan Letjen Sutoyo, Pontianak Selatan, dalam 
menyikapi situasi yang terjadi di Palangkaraya. 

Pertemuan dipandu Pelaksana Harian Ketua DAD Kalbar Yakobus Kumis dan dihadiri 
Direktur Bina Mitra Polisi Daerah Kalbar Komisaris Besar Polisi Suhadi Siswo 
Wibowo. Di dalam pertemuan, warga suku Dayak di Kalbar menyatakan tetap berada 
di barisan terdepan di dalam menciptakan situasi keamanan dan ketertiban 
masyarakat. 

Kapolri Jenderal Timur Pradopo menganggap penolakan masyarakat Palangkaraya 
terhadap FPI wajar. Tindakan itu semata-mata agar tidak memanaskan situasi di 
wilayah Kalteng.

Kepolisian, kata Timur, dapat memahami keinginan Pemerintah Daerah Kalteng 
menolak keberadaan FPI. Menurutnya, pemda memang ingin mencegah situasi-situasi 
tidak kondusif, yang mungkin timbul dari keberadaan FPI di daerah tersebut.

Sementara Kepala Divisi Humas Polri Irjen Saud Usman Nasution mengatakan, 
pihaknya tidak dapat memberikan sanksi kepada ormas yang melakukan aksi 
anarkis. Tetapi hanya akan memproses anggotanya, yang terbukti melanggar pidana 
dalam setiap aksinya di lapangan.

“Kita proses hukum semua yang melakukan tindak pidana, tidak pandang bulu, dari 
mana pun ormasnya. Tapi, untuk pembinaan ormasnya akan kita serahkan kepada 
Kemendagri yang memang memiliki kewenangan untuk membina ormas,” katanya di 
Jakarta, Selasa (14/2). 

Seperti diketahui, UU No 8 Tahun 1985 dan Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 1986 
tentang Ormas menyebutkan, pembubaran setiap ormas hanya bisa dilakukan melalui 
fatwa Mahkamah Agung setelah sebelumnya, ormas tersebut melakukan pelanggaran 
dan mendapat teguran tiga kali.

Tersangka Pemukulan 

Sementara terkait dengan insiden pemukulan terhadap aksi damai tolak FPI di 
Bundaran HI kemarin, polisi telah menetapkan satu tersangka dari empat orang 
yang diamankan Polda Metro Jaya. Tiga orang lainnya masih berstatus sebagai 
saksi.

"Pelaku yang melakukan pemukulan terhadap koordinator aksi 'Indonesia Tanpa 
FPI' Bhagavad Sambadha berinisial J," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro 
Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, saat dihubungi SH, hari ini. Menurutnya, tiga 
orang lainnya yang masih berstatus saksi berinisial A, B, dan S.

Dikatakannya, penyidik sejauh ini masih terus memeriksa sejumlah saksi yang 
saat kejadian berada di lokasi. Selain itu, polisi juga masih memeriksa rekaman 
video yang berisi kejadian saat aksi pemukulan terjadi.

Namun menurutnya, dari keempat orang itu belum ditemukan kartu identitas salah 
satu organisasi apa pun sehingga polisi masih mendalami motif pemukulan 
tersebut. "Kami akan terus dalami apakah mereka berasal dari salah satu 
organisasi massa, atau bertindak atas inisiatif pribadi," ucapnya. 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke