Refl: Korupsi tidak mengenal kelamin. Kebetulan kedudukan dalam fungsi 
masyarakat berbasiskan gender tidak seimbang maka lelaki mendominasi dalam 
kasus korupsi di NKRI.

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=37093

KAMIS, 22 Februari 2012 | 


Triyono Lukmantoro*
Sekali Lagi, Perempuan dan Korupsi


Sejumlah perempuan terlibat dalam beberapa kasus korupsi. Media massa pun 
memberitakan berbagai kejadian itu secara besar-besaran.

Sebuah nama yang sempat menghiasi pemberitaan media adalah Artalyta Suryani, 
yang terlibat dalam kasus suap terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan. 

Artalyta juga semakin populer ketika sel penjara yang dihuninya dikabarkan 
disulap bagaikan kamar hotel berbintang lima. Karena Artalyta, yang berstatus 
sebagai pengusaha, dikenal amat dekat dengan aparat hukum dan birokrat negara, 
maka label negatif semacam “Tante Lobi” dan “Tante Suap” pun ditorehkan media 
kepadanya.

Nama-nama perempuan lain yang sekarang menghiasi ruang dan waktu media karena 
tersangkut aneka skandal korupsi adalah Wa Ode Nurhayati, Nunun Nurbaeti, 
Miranda Swaray Goeltom, Mindo Rosalina Manulang, dan figur yang paling menjadi 
pusat perhatian adalah Angelina Sondakh. 

Sosok terakhir ini makin populer karena telah ditetapkan oleh Komisi 
Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka dalam kasus korupsi Wisma Atlet 
SEA Games. 

Tidak hanya itu, Angie—sapaan Angelina—juga dianggap memberi keterangan palsu 
ketika bersaksi untuk terdakwa Muhammad Nazaruddin. Media pun menyajikan 
pemberitaan evaluatif dengan mendeskripsikan Angie berhidung panjang layaknya 
tokoh Pinokio yang senang berbohong. 

Tudingan negatif secara berhamburan pun kemudian diarahkan kepada kaum 
perempuan. Ungkapan seperti “feminisasi korupsi” atau “fenomena bad women” 
sulit dielakkan bergulir. Perempuan ternyata mampu juga berbuat korup. 
Perempuan bisa saja menjadi sosok penjahat yang tidak kalah bejatnya dengan 
kaum pria dalam aksi-aksi menggangsir uang negara. 

Perempuan yang selama ini diidentikkan dengan figur yang penuh kelembutan dan 
pasti tidak senang bertindak korup pada kenyataannya doyan juga mengambil harta 
yang bukan menjadi haknya. 

Gaya hidup beberapa nama perempuan yang terlibat dalam sejumlah tindakan 
korupsi pun diekspos secara kolosal. Mereka digambarkan suka mengoleksi tas 
berharga miliaran rupiah, berdandan menor dan glamor, menyimpan benda-benda 
bercita rasa artistik, dan seterusnya.

Pada intinya adalah media terperangkap dalam histeria penilaian bahwa kaum 
perempuan sungguh-sungguh berbahaya ketika mendapatkan kekuasaan. Pada situasi 
ini Megawati Soekarnoputri, seorang politikus perempuan yang menjabat Ketua 
Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), berupaya menampik sudut 
pandang yang memojokkan perempuan itu. 

Mega menegaskan bahwa perilaku korup lebih cenderung dijalankan pria daripada 
perempuan. Dengan nada bercanda, Mega menyatakan supaya kader-kader PDIP yang 
berjenis kelamin lelaki ingat anak-istri. Secara naluriah, ujar Mega, kaum 
lelaki mencari nafkah, sedangkan kaum perempuan yang menyimpannya (Tempo.co 
edisi Jumat, 10 Februari 2012, 12.33 WIB). 

Pemikiran Esensialistik
Aneka pemberitaan yang ditampilkan media, berbagai ulasan yang dihadirkan dalam 
ruang publik, dan pandangan Megawati tentang relasi perempuan dan korupsi 
sangat menunjukkan pemikiran esensialistik. Artinya adalah perempuan dianggap 
sebagai sosok yang serbamonolitik dan tidak pernah berubah.

Stereotip yang mapan dalam wilayah pemikiran ini adalah perempuan diidentikkan 
dengan kasih sayang, kelembutan, penuh perhatian, tidak mungkin terlibat dalam 
kejahatan, sangat mustahil tega mencuri uang rakyat, dan pastilah berbuat 
antikorupsi. 

Terdapat sisi positif pada pemikiran esensialistik ini, yakni hal yang penuh 
kebaikan pasti melekat pada kaum perempuan. Namun, sisi negatifnya tetap saja 
muncul, yakni ketika esensialisme itu telanjur menancap dalam kesadaran sosial, 
maka kekecewaan terhadap perempuan pun berubah menjadi sejenis kepanikan moral 
yang berkepanjangan.

Sisi ketidaklaziman bahwa perempuan ternyata begitu tega bertindak koruptif 
diungkapkan secara luar biasa. “Wilayah gelap” perempuan yang suka beraksi 
curang disajikan secara berlebihan. Tapi, esensialisme perempuan yang 
serbaberbaik hati dan menghindarkan diri dari bertingkah bejat ternyata telah 
berakhir. 

Sebenarnya, pemikiran esensialistik yang menganggap sikap dan perilaku 
perempuan memang begitu peduli pada pihak lain dan tidak sudi berkompromi 
dengan korupsi semacam itu bahkan bisa ditelusuri dari pemikiran kaum feminis 
sendiri. Para pemikir feminis gender memiliki pandangan bahwa lelaki dan 
perempuan berbicara dalam bahasa moral yang berlainan.

Mereka juga meyakini bahwa perempuan lebih memegang prinsip etika kepedulian 
daripada etika keadilan. Kejahatan hanya dapat dikurangi jika kita menerima dan 
melawan kecintaan kita sendiri terhadap kejahatan (Rosemarie Putnam Tong, 
Feminist Thought: A Comprehensive Introduction, 1989).

Pandangan esensialistik itu seakan-akan tidak terbantahkan. Hanya saja ada 
ketersesatan yang harus mendapatkan pembongkaran. Perempuan bukanlah figur yang 
bersifat tunggal. Ada berbagai macam perempuan yang memiliki latar belakang 
ras, agama, etnisitas, kelas sosial, dan kekuasaan yang berbeda-beda. 

Perempuan yang berada dalam domain mayoritas, seperti etnisitas, agama, kelas 
sosial, dan kekuasaan yang menentukan tentu saja berlainan dalam berpikir, 
bersikap, dan bertindak apabila dibandingkan dengan perempuan yang berada dalam 
kedudukan minoritas. Struktur sosial yang melingkupi pasti memberi peluang yang 
berlainan bagi setiap perempuan. 

Persoalan Kekuasaan
Fenomena sejumlah perempuan yang terlibat dalam berbagai skandal korupsi tidak 
tepat lagi jika dibahas dengan menggunakan sudut pandang relasi gender. Lebih 
mengena jika persoalan ini diuraikan dengan mengerahkan perspektif sosiologis 
yang membahas tentang kekuasaan dan perilaku menyimpang. 

Korupsi, sebagai perilaku menyimpang, jelas sekali bertautan dengan persoalan 
kekuasaan. Perempuan yang menduduki kekuasaan, baik secara politis maupun 
bisnis, memiliki kesempatan yang lebih banyak berbuat korup dibandingkan lelaki 
atau perempuan yang tidak berposisi sebagai penentu dalam wilayah otoritas 
politik dan finansial yang dimilikinya.

Penjelasan yang sangat baik tentang hubungan perilaku menyimpang dengan 
kekuasaan dikemukakan Alex Thio (Sociology: A Brief Introduction, 2005). 
Tindakan menyimpang, misalnya tipe kejahatan tertentu (korupsi), sangat 
ditentukan kekuasaan.
Bahkan, kekuasaan menjadi sebab penting bagi tindakan menyimpang. Terdapat tiga 
alasan yang mampu menjelaskannya. Pertama, pihak yang lebih berkuasa mempunyai 
motivasi untuk bertindak menyimpang lebih kuat.

Kedua, pihak yang lebih berkuasa bisa menikmati peluang-peluang yang lebih 
besar untuk menjalankan penyimpangan. Ketiga, pihak yang lebih berkuasa 
ditundukkan oleh kontrol sosial yang lebih rendah.

Korupsi sangat jelas lebih berkaitan dengan persoalan kekuasaan daripada soal 
esensialistik keperempuanan. Siapa pun yang lebih berkuasa pasti terdorong 
untuk melakukan aksi-aksi korupsi.

Ini karena dalam kekuasaan tersebut terbuka kesempatan atau peluang untuk 
melancarkan keinginan biadab. Terlebih lagi ketika kontrol sosial terhadap 
pemangku kekuasaan itu demikian rendah maka aksi-aksi merampok uang rakyat itu 
gampang direalisasikan. 

Dapat disimpulkan bahwa pertautan korupsi dan kekuasaan muncul dari motivasi 
tinggi dan peluang besar yang dimiliki si pelaku dan rendahnya kontrol sosial. 
Ketika kaum perempuan terbenam dalam situasi ini niscaya mereka akan 
mempraktikkan korupsi, demikian pula halnya dengan kaum lelaki.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke