SP 11 Maret Aseli Isinya Penangkapan Suharto Bukan Pengangkatan !!!
Pada waktu pasca G30S, terjadi pengerahan pelajar dan mahasiswa serta rakyat
jelata untuk melakukan demonstrasi besar2an yang belum pernah terjadi di
Indonesia, demonstrasi ini bertujuan menumbangkan Sukarno, tapi tidak secara
langsung kata2nya. Yang dipaksa untuk dilakukan Sukarno adalah mengutuk dan
membubarkan PKI, membubarkan kabinet, mengganti semua menteri2. Dan kita sama2
tahu tuntutan ini otomatis akan menyebabkan Sukarno tumbang.
Demonstrasi dibiayai oleh kedubes Amerika di Jakarta, selagi teman2 berdemo,
saya waktu itu sebagai wakil ketua KAPPI (disekolah) duduk2 nongkrong didalam
kedubes Amerika di Jakarta sambil minum2 coca cola, disediakan combro, crocket,
pisang goreng, risoles, dll. Saya waktu itu dalam hati berpihak kepada Sukarno
karena Bung Karno dekat dengan keluarga dan orang tua.
Jadi saya mulai bisa jujur mengakui bahwa memang kesalahan fatal bersumber
utama adalah Sukarno sendiri, dia memusuhi Amerika gara2 dia diminta mundur
secara terhormat dengan menyelenggarakan pemilu. Tapi Sukarno kepingin jadi
presiden seumur hidup, maka bapak kita ini bikin skenario "ganyang Malaysia"
dan minta dipayungi oleh Cina dan Soviet.
Jadi kalo diwaktu itu saya berpihak pro-Sukarno, tidak bisalah disalahkan
karena saya punya vested interest tersendiri, wajar setiap orang ingin
melindungi kepentingannya yang membuatnya bahagia.
Sebagai wakil ketua KAPPI, saya tahu banyak sekali, antara lain memang SP 11
Maret itu ada, tapi isinya bukan menunjuk atau mengangkat Suharto tapi
menangkap, memecat, dan menuduh Suharto sebagai pengkhianat, subversi, kontra
revolusi dan agen CIA. Ini dibicarakan bersama oleh wakil2 mahasiswa, jendral
Kemal Idris, Amier Mahmud dll di Gelanggang Remaja Bulungan, sayapun hadir dan
tidak peduli apa isinya SP 11 Maret yang asli itu. Kemudian memang saya dengar
sendiri bahwa isi SP 11 Maret itu diubah isinya dan Sukarno dipaksa tanda
tangani ditodong pestol oleh tiga jendral (Jusup, Amir M, Kemal) dan Sukarno
ternyata menolak tidak takut dia ditembak.
Tapi ternyata enggak ditembak, dia cuma digertak sambel aja, malah karena dia
kepala batu tak mau tanda tangani dia diangkut dari Bogor dibawa langsung ke
RSGS, dua hari kemudian dia dinyatakan mati. Seluruh rakyat di Indonesia
bersuka cita. Soal ada yang berduka cita waktu itu hanyalah basa basi, dan
inipun penting karena Amerika tahu bahwa Sukarno itu pemimpin yang populer
sehingga cara2 menjatuhkannya pun tidak terlalu menghina meskipun perbuatan
Sukarno lebih banyak kehinaannya dan menghina Barat, menghina rakyatnya
sendiri, dan menghina negara2 tetangganya sebagai anjing imperialisme.
Jadi Suharto juga penjahat, dulu dia korupsi tapi dilindungi Sukarno, tapi
harus diakui dia juga berjasa, dan JASA SUHARTO YANG PALING BESAR ADALAH
MENGGULINGKAN SUKARNO. Dan ini yang tidak boleh kita lupakan.
> "ajeg" <ajegilelu@...> wrote:
> Menurut berbagai sumber, baik lawan
> maupun kawan Soekarno, Surat Perintah
> 11 Maret itu memang ada. Antara lain
> seperti diungkap AH. Nasution:
> "Memang ada hal-hal yang dipertanyakan
> orang sampai sekarang. Dan tidak ada
> yang berterus-terang mengatakan dimana
> Supersemar itu sekarang. Saya sebagai
> Ketua MPRS juga membaca jelas naskah
> Supersemar itu."
Sebenarnya kita tidak bisa berdebat kusir tentang palsu tidaknya super semar,
atau berdebat masalah apakah Suharto kudeta atau tidak. Perdebatan2 semacam
begitu sama sekali tidak mengungkapkan keadaan yang sebenarnya pada waktu itu.
Jadi disini sekedar saya kasih gambaran, bahwa ekonomi RI waktu itu betul2
hancur luar biasa, bahkan lebih parah dari Gaza yang diblokade sekarang ini.
Listrik semuanya mati, yang nyala itu cuma dirumah pejabat dan militer, beras
hanya dipunyai pegawai negeri dari pembagian pemerintah, kain blacu pun enggak
ada, untuk bikin baju dan celana ada pembagian di koperasi yang jatah setiap
keluarga dipasung dan cuma satu merek yaitu RATATEX, minyak goreng cuma boleh
sebotol dan itupun ngantrinya sehari penuh. Busung lapar ditemukan di
Karawang, Bekasi, Jawa Tengah dan diluar Jawa.
Pokoknya yang saya ceritain itu cuma setitik aja karena yang sebenarnya lebih
parah dari itu, para pencoleng jangan ditanya lagi. Jadi dengan kondisi tsb,
janganlah debat2 lagi, semua orang mengharapkan Sukarno cepat2 mati. Yang
ditangkapin, diculik, hilang mendadak lebih banyak daripada yang dilakukan
Suharto, tuduhan yang paling ditakuti masyarakat waktu itu adalah kontra
revolusi, dituduh subversi, dituduh kaki tangan imperialis, dituduh manikebu,
dan soal tuduhan2 untuk alasan ditangkap puluhan kali lipat lebih banyak
daripada dizaman Suharto.
Koran2 dizaman Sukarno tidak boleh mengkritik sedikitpun juga, bahkan cuma
menyenggol sedikit aja langsung ditangkap, digebukin sampai mati dipenjara.
Dengarkan radio Malaysia ditangkap sekeluarga, dipenjara, rumahnya disegel.
Waaah... kalo saja anda2 itu mau hidup disituasi seperti begitu barulah bisa
mengerti kenapa Super Semar boleh saja dipalsu.
Orang enggak peduli apakah namanya itu kudeta atau peralihan yang
konstitusional, yang mempermasalahkan itu khan setelah Suharto berhasil ambil
alih dan membunuh mati Sukarno di RSGS, yang enggak kebagian rezeki kemudian
cuap2 bahwa itu kudeta tidak konstitusional dlsb.
Suharto boleh dianggap bangsat, tetapi sekali lagi saya ungkapkan disini,
Sukarno itu biang bangsat !!!!
Jadi anda2 harus tahu dulu bahwa G30S itu cuma gerak tipu, istilahnya pukulan
di Barat tapi suaranya ada di Timur, dan gebukannya baru terjadi di Utara, baru
proses penghancurannya dari arah selatan.
Sukarno banyak akal tipunya, rakyat sangat takut, sejak diumumkan adanya G30S,
tidak ada koran atau rakyat yang berani berkomentar !!! Bahkan Suharto juga
takut ngomong, dia ciut nyalinya, jelas dia bukan penggeraknya. Tidak ada
orang Indonesia yang berani melakukan gerakan seperti itu meskipun berpangkat
jenderal yang paling tinggi.
Tujuan utama G30S adalah menculik Sukarno, sedangkan penculikan jendral2 cuma
gerak tipu saja.
Tidak ada yang pernah menanyakan, apakah berhasil atau tidak penculikan Sukarno
itu. Tapi disini saya jelaskan, tujuan penculikan Jendral adalah untuk
membungkam gerakan militer yang membela Sukarno, dan memberi kesempatan
perwira2 dibawah untuk bergerak dibawah perintah CIA.
Jadi kalo penculikan jendral2 sukses besar, silahkan anda pikir sendiri apakah
berhasil atau tidaknya penculikan Sukarno. Memang bukan tujuannya membunuh
Sukarno, skenarionya, Sukarno didikte untuk melakukan begini dan begitu setelah
semua jendral2 pentingnya dibunuh. Barulah Sukarno disuruh mengundurkan diri
atas kemauannya sendiri seperti Suharto.
Tapi rupanya, meskipun Sukarno yang sudah berhasil diculik, digertak, diancam,
dan bahkan pembantaian jendral2 yang diculik yang belum mati dilakukan di
lubang buaya disaksikan Sukarno sendiri, tapi Sukarno yang biasa licik pada
kali ini juga mau menggunakan langkah2 liciknya untuk melepaskan diri dari
cengkraman yang tidak terlihat rakyatnya, namun semua akal licik Sukarno kali
ini gagal.
Niat Sukarno melepaskan diri secara per-lahan2 digagalkan, SP 11 Maret yang
semula oleh Sukarno mau dijadikan pemukul malah memukul diri sendiri. Entah
bagaimana caranya, yang pasti SP 11 Maret yang aseli itu kemungkinan besar
berisi penangkapan Jendral Suharto untuk dipenjarakan, dan Suharto juga gerak
cepat, Sukarno itu sudah dipenjarakan di Istana Bogor, langsung SP 11 Maret itu
diketik ulang, isinya bukan untuk menangkap Suharto sebaliknya berisi
menyerahkan kekuasaan kepada Suharto.
Begitulah, Suharto yang mulanya takut2, gara2 mau ditangkap Sukarno akhirnya
jadi nekad, prinsipnya "dia yang mati atau aku yang mati", ya situasi begini
jelas, yang mati akhirnya Sukarno, karena Suharto dibacking CIA. Dalam kasus
ini Sukarno tak berdaya, biarpun Cina dan Russia membacking dia, ternyata sorry
aja, CIA jauh lebih sakti, dan kita tahu nasib Sukarno jatuh secara memalukan.
Amerika dan CIA-nya tidak mau ada huru hara, semua pengambil alih kekuasaan
se-bisa2nya dilakukan se-normal2 mungkin sesuai dengan hukum yang berlaku,
tujuannya agar segala yang sudah berjalan jangan malah macet dan hancur
semuanya sehingga ngebangunnya jadi lebih mahal.
Sukarno udah bilang, revolusi butuh korban, dan susah untuk menyalahkan
siapapun selain Sukarno untuk jatuhnya korban2 lebih dari 10 juta hanya dalam
waktu 6 bulan. Berita dunia yang dikuasai Barat Cuma menulis korban yang jatuh
hanya 5000 jiwa, kemudian diralat oleh Suharto katanya korban yang jatuh 10
ribu jiwa, kemudian diralat lagi gara2 Australia bilang korban yang jatuh lebih
dari 100 ribu, maka Suharto mengaku korbannya hingga 200 ribu, barulah setelah
Suharto berkuasa selama 20 tahun, kembali Amerika memerintahkan Suharto mundur
tapi Suharto menggunakan langkah bandel melawan seperti Sukarno, maka berita
disebarkan Cornel University bahwa korban2 yang jatuh sekitar 2 juta jiwa.
Tapi saya yang melakukan ekspedisi langsung keseluruh Jawa, rata2 paling
sedikit separuh penduduk hilang disetiap kampung atau desa, sehingga bisa
diprediksi bahwa jumlah korban PASTI diatas 10 juta jiwa, tidak mungkin dibawah
angka ini.
Bayangin ya, jumlah korban perang dunia kedua yang berlangsung hampir 10 tahun
berjumlah 15 juta jiwa, dan itupun mayoritas militer, dan yang jadi tertuduh
adalah Hitler dan Jepang. Dunia waktu itu heboh, marah besar, Hitler dan
Jepang jadi penjahat perang.
Lhaaaa... di Indonesia cuma 6 bulan jatuh korban lebih dari 10 juta jiwa dan
korban2nya sama sekali bukan militer, dalam keadaan damai bukan situasi perang.
Ini benar2 paling mengerikan lebih mengerikan dari Hitler dan Jepang.
Kejahatan kemanusiaan yang paling akbar melebihi kejahatan pembantaian Yahudi
yang dilakukan Muhammad dizaman dulu. Ternyata Indonesia yang belajar dari
nabi Muhammad berhasil melaksanakan Sunnah nabi dengan membantai lebih dari 10
juta manusia yang dianggapnya kafir.
Ny. Muslim binti Muskitawati.
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/