Refl: Sudah ada banyak kementrian itu dan ini, tetapi rakyat tetap miskin. 
Miskin dan terkebelangan tak terpisahkan, apakah dengan membuat kementrian baru 
akan menyelesaikan masalahnya, apabila kementrian yang ada tidak mampu 
menyelesaikan masalah yang mereka harus tangani dalam 60 tahun lebih 
merdeka-meredeka?

http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=37265

ABTU, 02 Maret 2012 | 1040 Hits
Dari Seminar Daerah Perbatasan DPD RI
Empat Gubernur Usulkan Pembentukan Kementerian Daerah Perbatasan



Kesejahteraan. Itulah masalahnya. Seberapa besar perhatian pemerintah itu. 
Karena ini terkait dengan kedaulatan negara. Wilayah perbatasan rata-rata 
tertinggal, miskin, terbelakang dan lain-lain. 

Sentuhan wilayah perbatasan harus memiliki terobosan khusus. Karena kawasan 
perbatasan merupakan kawasan terdepan bangsa ini.

“Orang mengatakan pulau-pulau terbelakang atau terluar, saya rasa ini keliru, 
seharusnya pulau-pulau terdepan. Karena pulau-pulau itu berada di beranda 
negara ini,” kata Wakil Ketua DPD RI, La Ode Ida, dalam Key Note speakernya 
saat seminar tersebut.
Dalam seminar tersebut, menghadirkan empat Gubernur sebagai pemateri, yakni 
Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo 
Sarundajang, Gubernur Riau Rusli Zainal, dan Wakil Gubernur Kalimantan Barat 
Christiandy Sanjaya.

Gubernur Maluku mengatakan, harus ada perhatian penuh, dan badan atau 
kementerian yang mengurusi wilayah perbatasan. Sehingga penanganan permasalah 
di wilayah perbatasan bisa ditangani secara khusus. Karena daerah perbatasan 
meski tertinggal, namun memiliki kekayaan yang banyak. 

“Contohnya saat ini di Maluku, terdapat Blok Masela. Blok ini merupakan 
cadangan minyak terbesar di Indonesia. Tapi Blok ini berada di daerah 
perbatasan antara Indonesia dan Australia. Maka harus ada perhatian khusus,” 
kata Ralahalu, dalam memaparkan materinya.

Ada masalah yang sangat penting juga, yakni batas laut di perbatasan dengan 
negara tetangga. Kadang, batas laut tidak jelas, ini menyebabkan banyak nelayan 
terperangkap, dan harus diadili di negara luar, karena dianggap melewati 
teritorial.
“Saat kami kunjungan ke Darwin, ada beberapa orang Indonesia yang ditahan di 
sana. 

Masalahnya mereka menangkap ikan melewati batas laut, katanya masuk wilayah 
Australia. Kami meminta perhatian pemerintah pusat agar memperhatikan batas 
wilayah dengan jelas. Misalkan garis perbatasan laut antara Indonesia Australia 
harus jelas. Nelayan kita yang ditangkap, kapalnya dihancurkan, dan mereka 
menjalani hukum di sana,” ungkap Ralahalu lagi.

Maka itu perlu untuk memperhatikan wilayah perbatasan secara serius. Harus ada 
kemauan politik yang nyata, dengan program pemberdayaan di daerah perbatasa 
yang rill. Sehingga masyarakat di darah perbatasan merasa diperhatikan, dan 
menumbuhkan rasa nasionalismenya. 

Banyak kementerian, tapi tak menyentuh daerah-daerah terluar. Maka harus ada 
kementrian yang mengurusi ini. “Kami usulkan agar direkomendasikan oleh DPD 
untuk menambahkan fungsi kementerian kelautan dan perikanan menjadi, Kementrian 
Kelautan Perikanan dan Daerah Perbatasan,” usul Ralahalu.

Di sisi lain Gubernur Sulut mengatakan, banyak pulau yang hilang, karena 
terjadi abrasi. Ada juga karena patahan. Pulau-pulau terdepan Indonesia 
mestinya lebih diperhatikan, sehingga orang yang tinggal di pulau terdepan 
tidak marasa diskriminasi. 

“Ini bisa menjadi bumerang, orang yang tinggal di daerah perbatasan bisa 
mengklaim dirinya bukan orang Indonesia, jika perhatian itu datang dari negara 
tetangga,” katanya.

Menurutnya, pulau-pulau terluar banyak merupakan daerah yang tergabung dalam 
provinsi kepulauan. Maka RUU Provinsi Kepulauan juga harus diperhatikan. “Rumus 
menghitung DAU misalkan, adalah dihitung berdasarkan luas daratan dan jumlah 
manusia. Sementara daerah kepulauan luas wilayah terbesarnya adalah laut. 
Apakah laut bukan wilayah? Sehingga tak dihitung dalam menentukan besaran DAU. 
Laut merupakan wilayah terintegrasi, laut ini yang menghubungkan pulau-pulau,” 
tegasnya. 

Gubernur Riau Rusli Zaenal, mengungkap, banyak pulau yang belum punya nama. Ini 
menjadi perhatian bersama, pemerintah provinsi dan pusat. “Pada hakikatnya 
persoalan mendasar di daerah perbatasan sama. Mulai dari masalah pendidikan, 
ekonomi, infrastruktur dan lainnya. Kami berbatasan langsung dengan Malaysia,” 
katanya.

Ada enam wilayah di Riau yang sangat dekat dengan Malaysia. Misalkan Pulau 
Meranti, hanya dua kilo meter dengan Malaysia. Pulau Batu Mandi juga demikian, 
dekat dengan Malaysia. “Makanya pulau Mandi ini kami jadikan sebagai pagar 
hidup. Kami harap ini juga menjadi perhatian kita bersama,” katanya.

Perhatian pemerintah harus lebih serius. “Harus mengusulkan untuk menambah 
fungsi menteri perikanan, kelautan, dan wilayah perbatasan. Agar fungsinya 
dalam mengurus wilayah perbatasan lebih tegas,” kata gubernur.

Atau, kata dia, Badan Nasional Pengelola Perbatas di bawah Kementerian Dalam 
Negeri dimekarkan menjadi Menteri Daerah Perbatasan. Jika masalah perbatasan 
tak diurus oleh instasi tersendiri, maka selamanya masalah perbatasan terus 
mengemuka dan tak pernah ada solusinya. Dan ini menciptakan disintegrasi, 
karena nasionalisme akan berkurang.

Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya menyebut masalah wilayah perbatasan 
adalah masalah lokal, nasional, bahkan internasional. Misalkan masalah 
kemiskinan, kesejahteraan. Kemudian masalah infrastruktur.”Selain itu juga 
adalah masalah ilegal loging yang menjadi masalah nasional, dan internasional. 
Yang menjadi pertanyaan apakah kita tak bisa lagi selesaikan masalah-masalah 
ini? Karena masalah perbatasan sudah ada jauh puluhan tahun lalu hingga saat 
ini,” katanya.

Dia menuturkan, Kalbar itu tertinggal. Dan pihaknya terus berusaha mengurusi 
wilayah perbatasan. Sebagaimana diketahui wilayah Kalbar berbatasan dengan 
Malaysia. “Biarlah kita jauh dari unsur politik. Tapi sulit karena isu 
perbatasan adalah isu politik. Misalkan kalau ada yang pindah negara itu 
hebohnya bukan main. Diberitakan sana-sini. Tapi kalau ditanyakan mengapa 
pindah, ternyata masalahnya kesejahteraan, isunya adem-adem saja. Perasaan 
tenang-tenang saja tuh,” jelasnya.

Keempat gubernur sepakat untuk membentuk instansi selevel kementerian untuk 
mengurus wilayah perbatasan. Apakah dengan menambah fungsi kementerian 
kelautan, ataukan membentuk Kementerian Perbatasan. Karena akan sia-sia, 100 
seminar dilakukan untuk bahas perbatasan juga tak akan ada efeknya bagi daerah 
perbatasan.
Tapi dengan adanya instasi tersendiri yang selevel kementrian, maka wewenangnya 
jelas.

Dia bisa menyusun programnya secara mandiri, dan menjalankannya. Meski ada 
instansi perbatasan, namun jika berada di bawah kementrian, maka sulit untuk 
mengatur wilayah perbatasan, karena secara otomatis kewenangannya sedikit. Bagi 
empat gubernur itu, ini merupakan solusi awal, solusi berikutnya dijalankan 
dengan program untuk daerah kepulauan yang diprogramkan oleh kementrian 
dimaksud. DPD setuju dengan usulan ini, mereka akan merekomendasikannya kepada 
pemerintah pusat, yakni presiden agar dipertimbangkan.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke