http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/03/04/ArticleHtmls/Cari-Angin-Orang-Miskin-04032012003002.shtml?Mode=0





Cari Angin Orang Miskin 

Putu Setia 





Aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga bahan bakar minyak sudah terjadi di 
berbagai kota. Padahal pemerintah masih bingung—mungkin juga ragu—seberapa 
besar kenaikan itu. Itu pun kalau jadi naik. Berbeda dengan era “sebelum 
reformasi”, pembahasan kenaikan harga bensin, solar, dan minyak dilakukan tanpa 
hiruk-pikuk. Tiba-tiba saja, di malam hari, seorang menteri mengumumkan 
kenaikan harga itu. 

Sekarang pemerintah tak bisa mengambil kebijakan sendiri. Harus meminta 
pendapat ke parlemen. Termasuk mungkin menyerap pendapat dari koordinator 
lapangan aksi unjuk rasa. 

Lagi pula, pemerintah sekarang maunya adil dan sangat memihak orang miskin. 
Jika harga bahan bakar minyak dinaikkan, harga bahan kebutuhan pokok pasti 
melambung, maka orang miskin harus dibantu. Perlu diberikan subsidi secara 
langsung lewat apa yang disebut BLT—bantuan langsung tunai. Tak bisa kasbon, 
harus tunai. 

Berapa layaknya besar uang tunai itu? Dulu, menurut seseorang yang disebut 
miskin di kampung saya, besarnya Rp 100 ribu per bulan. Dan ia mendapatkan 
tunai selama enam bulan. Sekarang, kata dia, jumlah itu harus naik. Dia 
menghitungnya begini. 

Orang kota yang punya mobil sedikitnya menghabiskan 30 liter Premium setiap 
minggu. Sebulan, habis 120 liter. Kalau seliter Premium disubsidi pemerintah Rp 
2.000, maka orang kaya menerima subsidi Rp 240 ribu setiap bulan.“Orang miskin 
paling tidak harus mendapat tunai Rp 200 ribu sebulan, itu baru adil,”kata dia. 

Untuk apa uang itu, tanya saya. Dia menjawab enteng: “Ya, untuk beli pulsa, ini 
kan kebutuhan pokok sekarang.”Saya kaget. Jadi, orang miskin membeli pulsa, 
orang miskin punya handphone? Saat kekagetan itu saya ceritakan kepada seorang 
staf lurah, dia malah tertawa.“Bapak terlalu lama tinggal di kota, sudah tak 
tahu kemajuan desa. Hampir semua penduduk punya handphone, termasuk anak-anak 
TK. Itu memang kebutuhan pokok sekarang,” katanya. 

Di desa-desa, warung penjual pulsa sudah lebih banyak dari warung sembako. Saya 
lihat pula hampir di setiap desa ada papan bertulisan “Terima gadai HP”. Dari 
staf lurah itu, saya tahu, tak ada orang yang kelaparan di desa, asalkan dia 
mau bekerja apa saja. Istilahnya, serabutan. Kalau mengurangi makan dari tiga 
kali sehari menjadi dua kali, misalnya, itu hal biasa. Jatah makan yang 
dihilangkan diganti dengan membeli pulsa. Penggunaan pulsa terbanyak untuk SMS. 
Mereka suka ngerumpi? “Tidak juga, mereka menebak-nebak undian lewat SMS, ada 
juga yang memasang nomor togel (toto gelap).Yang remaja dan anak-anak baru 
ngerumpi,” kata staf lurah itu. 

Tapi, dari mana ceritanya mereka berpredikat “orang miskin”? Itu karena 
kriteria dari “atas”, tak punya lahan pertanian dan tak punya pekerjaan tetap. 
Mereka setiap hari bekerja, namun tak punya pekerjaan tetap. Hari ini jadi 
tukang bangunan, esoknya berburu burung, esoknya ngojek, tergantung situasi. 
Adapun predikat “orang miskin”sama sekali tak membuat malu, termasuk ambil 
jatah “raskin” (beras untuk orang miskin), meskipun jika mutu berasnya jelek 
dikasih ke ayam peliharaannya. Malah orang bermobil pun bisa mendapat “surat 
miskin”, karena dengan surat itu, berobat, termasuk rawat inap, di rumah sakit 
bisa gratis. 

Orang-orang miskin itu tahu bagaimana pejabat di kota menghamburkan uang dan 
“orang kota”korupsi miliaran rupiah. Mereka menonton televisi, paling tidak di 
balai desa, dan mereka selalu merasa diperlakukan tidak adil. Karena itu, 
urusan BLT mereka sebut hak dan harus naik. Saya kira ada yang salah dalam hal 
ini, tapi saya malas menuliskannya sekarang. ● 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke