Hehehe Mendingan dia nyumbangnya biar cuma 1 juta rupiah tapi beneran. Kagak kayak lu yang nyumbangnya fiktif doang, alias kibulan kosong. Segitu lu berani kaing-kaing kayak anjing kejepit buntut.
Hehehe --- In [email protected], item abu <itemabu@...> wrote: > > > Walau SR bergerak tanpa pamrih dan tidak mengutip biaya operasional, > > keajaiban terjadi terhadap para relawannya. Karman, misalnya. Setelah > > menyalurkan bantuan Rp 1 juta, malamnya dia menerima e-mail order batik > > dari London, Inggris, senilai Rp 700 juta. Sebuah BUMN perkebunan juga > > order pakaian seragam untuk karyawannya. > > > > âGusti Allah itu keren banget,â kata pria nyentrik yang langsung > > membeli kontan mobil Nissan Navara seharga Rp 400 jutaan ini. > Â > Hehehe... cuma ngasih 1 juta lalu dpt duit banyak unt foya2 beli mobil. Lalu > apanya yg keren dr si auloh kalo si auloh yg bikin tu orang dpt keuntungan > banyak? > Â > Tu orang dgn mudahnya beli mobil ratusan juta, tp ngasihnya cuma 1 juta > doang. Padahal biaya suryana ngelacur aja lbh dr 1 juta. > Â > Gua sih ga akan bilang tu orang sbg dermawan, hehehe.. > Â > Â > > From: Sunny <ambon@...> > >To: Undisclosed-Recipient@... > >Sent: Tuesday, March 13, 2012 6:45 AM > >Subject: [proletar] Sedekah Rombongan; Pemburu si Sakit, Miskin, dan > >Orang-Orang Terabaikan > > > > > >Â > >Ref: Mungkin tidak keliru untuk dipahami bahwa NKRI tidak berkewajiban untuk > >menjamin kehidupan memada bagi warganegaranya yang berkekurangan dan oleh > >karena itu harus diberikan sedekah? > > > >http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=37401 > > > >SELASA, 12 Maret 2012 | 208 Hits > > > >Sedekah Rombongan; Pemburu si Sakit, Miskin, dan Orang-Orang Terabaikan > >Info Akurat, Setengah Jam Langsung Sikat > > > >ââSaya sampai dalam setengah jam di RS Fatmawati. Langsung ketemu di > >sana ya.â Pesan singkat (SMS) itu diterima Jawa Pos Jumat (9/3) pukul > >08.30. Pengirimnya seorang pengusaha muda Jakarta yang tak mau ditulis > >identitasnya. > > > >Dia hanya dikenali dengan akun @pitungmasakini di Twitter. > > > >Pagi itu relawan Sedekah Rombongan (SR) ini membantu seorang ibu bernama > >Rina, warga Pancoran Mas, Depok, yang janinnya meninggal di dalam rahim. Dia > >menerima informasi awal bahwa bayi yang meninggal di perut ibu itu sudah dua > >hari belum bisa dioperasi karena kekurangan biaya. > > > >Tepat pukul 09.00 Pitung sudah datang di bagian gawat darurat kebidanan RS > >Fatmawati, Jakarta Selatan. Suami si ibu itu tampak panik dan terus > >menangis. Pitung lantas mengajak Jawa Pos menemui dokter yang merawat. > >âKalau memang harus dioperasi, kami siap bantu. Saat ini juga,â katanya. > > > >âAnda siapanya Bu Rina?â tanya dokter. > >Pitung menggeleng. âSaya bukan siapa-siapanya. Saya tidak kenal. Yang saya > >dengar ibu ini butuh bantuan, karena itu saya ke sini,â ujar pria yang > >punya aneka usaha di Jakarta ini. > > > >Rupanya, bukan uang masalah utamanya. Tapi, kondisi fisik Rina yang tidak > >memungkinkan untuk segera dioperasi. Kadar gulanya tinggi dan tensi darahnya > >juga naik. âBisa berbahaya bagi si ibu,â ujar dokter. Perawat memberikan > >obat perangsang kontraksi agar janin yang sudah tak bernyawa itu bisa > >dikeluarkan secara normal. > > > >Pitung lantas menenangkan suami Rina dan menyampaikan bantuannya. âYang > >sabar ya, Pak. Ikhlas. Insya Allah almarhum anak Bapak jadi tabungan di > >surga,â kata pria berkacamata ini. > > > >Sabtu dini hari kemarin, si bayi malang berhasil dikeluarkan dan ibunya > >selamat. Seluruh biaya ditanggung SR. > > > >Menyampaikan titipan langit tanpa rumit, sulit, dan berbelit-belit. Itu > >prinsip gerakan ini. Mereka bermarkas di www.sedekahrombongan.com dan akun > >@SRBergerak di Twitter. âKalau memang akurat, ada relawan yang dekat, > >setengah jam maksimal kita sikat,â kata Saptuari Sugiharto, founder dan > >inisiator gerakan ini. > > > >Ditemui awal Maret lalu di Jogjakarta, Saptuari membawa timnya dalam formasi > >lengkap. Ada Marjunul yang pengusaha komputer; Sukarman, pengusaha batik dan > >dosen; Muhammad Iqbal, pengusaha desain grafis; dan Nasrudin Sani, seorang > >Crew Kaos Khas Jogja. Mereka punya tempat rapat di sebuah warung tenda di > >Jalan Tirtodipuran, selatan Keraton Jogja. âIni sebenarnya aksi jalanan. > >Kami bergerak karena kepercayaan,â ujar Saptuari. > > > >Awalnya, Juni tahun lalu, pengusaha pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2007 ini > >bertemu Putri Herlina, pengasuh anak-anak yang dibuang di Yayasan Sayap Ibu > >(JP 8/3, hal 1). âSaya posting soal anak-anak panti itu di internet. > >Rupanya banyak teman yang merespons,â katanya. > > > >Hari demi hari, makin banyak yang menitipkan dana untuk disalurkan Saptuari. > >Tak hanya ke Sayap Ibu, tapi juga ke panti panti lainn. âSaya salut dengan > >teman-teman yang bersedekah. Mereka begitu percaya,â kata alumnus Fakultas > >Geografi UGM angkatan 1998 ini. > > > >Selama lima bulan, Saptuari hanya ditemani istrinya, Sitaresmi, berkeliling > >menyalurkan bantuan. âKami prioritaskan yang kebutuhannya darurat, obat > >yang tak terbeli, susu yang habis, obat tak tertebus, atau rumah yang mau > >digusur,â ujarnya. > > > >Periode awal dia dan Sita menyalurkan Rp 174,5 juta dana titipan. Dia lantas > >mengkhususkan rekening untuk sedekah yang dipisah dengan akun pribadi untuk > >bisnis. âKami tak pernah mengambil satu rupiah pun uang donatur. Semua > >biaya operasional, bensin, makan, dan semuanya dari kantong sendiri,â > >katanya. > > > >November 2011, Saptuari mulai mengajak rekan-rekannya untuk fokus dalam > >gerakan. Mereka membangun situs www.sedekahrombongan.com dengan bantuan > >seorang pakar online yang jago SEO (search engine optimization). âKami > >upload foto dan kisah hidup para penerima sedekah sebagai pertanggungjawaban > >bagi donatur. Mereka bisa memonitor tiap hari,â ujar pemilik 56 cabang > >Kedai Digital, distro Kaos Jogist, dan restoran Bakso Iga Lunak ini. > > > >Walau tim inti hanya tujuh orang, mereka punya puluhan relawan bayangan di > >seluruh Indonesia. Sudah ratusan orang yang dibantu. Rata-rata kondisi > >mereka mengenaskan dan terabaikan. âLihat ini, Mas. Namanya Dik Anisa > >Azzahra,â ujar Sukarman sembari menunjukkan foto di iPad-nya. Anisa yang > >baru berusia 2,5 itu menderita tumor ganas retinoblastoma yang menyerang > >kedua matanya. Kondisinya sangat memprihatinkan. Kedua bola matanya (maaf) > >keluar karena diserang tumor. > > > >Begitu mendapat info tentang Anisa, tim @SR langsung berangkat ke Wonogiri > >dan mengevakuasinya ke RS Mata Yap Jogjakarta. Lalu, Anisa dibawa ke RS > >Sardjito. Sekarang Anisa memasuki tahap kemoterapi keempat. > > > >Cerita lain, ada Rara Ainunnisa, 5, warga Prambanan, Klaten, yang tercebur > >di dandang (panci) besar berisi air mendidih saat hajatan tetangganya. > >Selama tiga bulan anak buruh pembuat tahu itu tak tertangani karena tak ada > >biaya. Sekujur tubuhnya melepuh dan bernanah. Karena panas dan gatal, > >sehari-hari Rara tak memakai baju dan hanya menangis sambil tiduran di > >kamar. > > > >Akhirnya, Nasrudin Sani dari SR menemukannya saat berkeliling mencari > >sasaran sedekah. Rara langsung dievakuasi malam itu juga. Sekarang, setelah > >dirawat empat bulan di RS, Rara sudah boleh pulang. âKisah yang seperti > >ini banyak, bisa dibaca di web kami. Bahkan, ada yang mengajukan jamkesmas > >delapan tahun selalu ditolak,â ujar Sukarman. > > > >Mereka beroperasi dengan BBM (BlackBerry Messenger) group. Jika ada > >informasi, foto korban akan diunggah di BBM untuk meminta tanggapan rekan > >yang lain. âKomandonya, sikat, sikat, sikat!!â ujar Sukarman. > > > >Di mobil masing-masing, mereka juga sudah siap amplop dengan nominal mulai > >Rp 500 ribu hingga Rp 10 juta. Jika saat berkeliling ada target yang layak > >dibantu, seketika bantuan langsung diberikan. Tunai dan saat itu juga. > >âKami mengandalkan feeling,â ujar dosen lulusan Institut Seni Indonesia > >ini. > > > >Beragam reaksi mereka temui di lapangan. Mulai dikira simpatisan partai > >politik, mau maju pilkada, sampai dituding praktik pesugihan. âAda kakek > >sudah tua, tapi malam-malam masih memikul dagangan. Saya berhenti dan > >mengacungkan amplop. Eh, dia malah lari sambil berteriak pesugihan, > >pesugihan,â ujar Marjunul lalu tersenyum. > > > >Saptuari memang sangat anti dengan bantuan yang menggunakan embel-embel. Dia > >pernah menolak dua mobil bantuan dari sebuah partai politik Jakarta karena > >ada syarat harus ada nama ormas itu bodi mobil. âKami hanya mengandalkan > >kepercayaan melalui web internet dan Twitter itu,â kata Saptuari. > > > >Selama wawancara dengan Jawa Pos, sekitar tiga jam, saldo di akun SR terus > >bertambah hingga Rp 11 juta. âBiasanya, begitu kami posting foto, langsung > >masuk. Kami pernah menerima transfer Rp 100 juta dari seorang pengusaha muda > >yang namanya minta nggak dikenal,â katanya. Hingga Maret, total sedekah > >dari donatur yang disalurkan sudah tembus Rp 1,7 miliar. > > > >Walau SR bergerak tanpa pamrih dan tidak mengutip biaya operasional, > >keajaiban terjadi terhadap para relawannya. Karman, misalnya. Setelah > >menyalurkan bantuan Rp 1 juta, malamnya dia menerima e-mail order batik dari > >London, Inggris, senilai Rp 700 juta. Sebuah BUMN perkebunan juga order > >pakaian seragam untuk karyawannya. > > > >âGusti Allah itu keren banget,â kata pria nyentrik yang langsung membeli > >kontan mobil Nissan Navara seharga Rp 400 jutaan ini. > > > >Marjunul juga begitu. Omzet tokonya naik pesat sejak bergabung di Sedekah > >Rombongan. Dia iseng menghitung. Rupanya, uang yang disalurkan melalui > >tangannya digandakan belasan kali lipat melalui transaksi bisnisnya. > > > >Lalu, M. Iqbal yang tak pernah kenal dengan Sandiaga Uno, tiba-tiba > >ditelepon dan diminta mengerjakan proyek besar puluhan juta rupiah dari > >Adaro. âSaya juga kaget. Bisnis saya ini di Jogja, kok Adaro percaya,â > >kata Iqbal. > > > >Lain lagi dengan Nasrudin Sani. Sepuluh tahun berpacaran, Nasrudin yang > >dipanggil Demang ini tak pernah direstui orang tua sang pacar. Melamar > >berkali-kali selalu ditolak. Eh, setelah bergabung Sedekah Rombongan, Demang > >justru ditantang ayah si gadis untuk segera menikah. âInsya Allah tahun > >ini,â katanya lalu tersenyum. > > > >[Non-text portions of this message have been removed] > > > > > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
