wow !! ... bakalan repot ntar kalo bulan puasa, palagi buat yang fanatik!!
ribet nentuin waktu mahgrib bag. timur dan barat deh...


________________________________
 From: Sunny <[email protected]>
  
 

  
Ref: Alasannya hebat, yaitu “membangkitkan kembali rasa persatuan dan 
nasionalisme, penyatuan zona waktu adalah sebuah keharusan. Dengan satu waktu, 
seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke merasakan ikatan yang kokoh, 
merasakan satu negara, satu bangsa, satu bahasa dan satu waktu: waktu 
Indonesia”. Jadi waktu adalah obat persatuan perut lapar dan marginalisasi?

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/satu-waktu-satu-indonesia/
9.03.2012 10:04

Satu Waktu, Satu Indonesia
Penulis : Djasarmen Purba, SH* 

(foto:dok/ist)
Apa jadinya, seandainya suatu hari pasukan Amerika Serikat yang berpangkalan di 
Darwin, Australia melakukan serangan ke Papua pada pukul 06.00 WIT atau pukul 
04.00 WIB di Jakarta, di saat para petinggi militer dan kepala negara masih 
terlelap dalam mimpinya.

Pusat komando di Jakarta terlambat bereaksi dan dalam sekejap Papua dengan 
mudah diduduki.

Bayangkan pula, misalnya pada pukul 06.00 WIT atau pukul 04.00 WIB, saat 
orang-orang di Indonesia bagian barat masih tertidur, terjadi bencana tsunami 
yang begitu besar dan dahsyat di Maluku seperti Aceh tahun 2004 lalu yang 
memutuskan seluruh jalur komunikasi dan informasi serta mengakibatkan korban 
jiwa ribuan orang. Jakarta lagi-lagi akan terlambat merespons bencana tersebut.

Begitu juga sebagai contoh negara Malaysia, Singapura berbeda satu jam waktunya 
dengan provinsi perbatasan seperti Sumatera Utara maupun Kepulauan Riau. Kedua 
negara tersebut tidak lagi mempergunakan patokan GMT.

Selisih waktu satu jam masing-masing zona waktu Indonesia, berpotensi menjadi 
(persoalan serius) jika negara dalam keadaan bahaya, karena memungkinkan 
terjadinya disparitas arus infomasi sehingga pemerintah lamban beraksi saat 
waktu tanggap darurat (response time), terutama pada peristiwa-peristiwa yang 
terjadi di belahan Indonesia bagian tengah dan timur.

Sebagai negara kepulauan yang memerlukan strategi pertahanan dan keamanan yang 
terintegrasi antara daerah satu dengan daerah lain, perbedaan waktu dapat 
menjadi hambatan pengambilan keputusan dan perintah komando operasi yang dapat 
dilaksanakan secara serentak dan bersamaan di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam konteks ini, wacana penyatuan zona waktu Indonesia yang belakangan 
dilempar Menko Perekonomian Hatta Rajasa menjadi penting dan logis, karena 
bukan semata-mata menyangkut pertimbangan ekonomi dan bisnis, namun juga aspek 
keamanan dan pertahanan negara.

Selama ini, tanpa disengaja pembagian zona tiga waktu berpretensi 
mengotak-kotakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sehingga 
menimbulkan kesan masyarakat yang bermukim di wilayah Indonesia bagian timur 
dan tengah dianaktirikan dibandingkan masyarakat yang berada di Indonesia 
bagian barat yang cenderung mendapatkan akses informasi lebih cepat karena 
berada di dekat pusat kekuasaan.

Melemahnya rasa kebersamaan dan perasaan bersatu rakyat dalam payung NKRI 
beberapa dekade belakangan ini, secara langsung atau tidak langsung juga 
dikontribusikan oleh keberadaan zona waktu yang terkesan membagi Indonesia ke 
dalam tiga wilayah.

Karena itu, ide penyatuan zona waktu Indonesia yang digagas sejak 2005 oleh 
Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi (KMNRT) dan belakangan marak 
diperbincangkan diharapkan dapat memperkuat kembali rasa persatuan bangsa 
Indonesia.

Di sisi lain tiga zona waktu Indonesia bukanlah sesuatu yang given. Indonesia 
memiliki sejarah yang cukup panjang dalam penentuan zona waktu. Di masa 
kolonial Belanda, tepat 1 Mei 1908 pemerintah Hindia Belanda menetapkan waktu 
Jawa Tengah sebagai waktu mintakad (GMT+7:12), waktu Batavia berselisih 12 
menit dari waktu mintakad. 

Di luar Jawa dan Madura, waktu mintakad sama sekali tidak diatur. Pada 22 
Februari 1918 keluar beleid yang menentukan waktu Padang 39 menit terlambat 
dari waktu Jawa Tengah. Balikpapan dipergunakan +8:20 lebih dahulu dari GMT. 

Daerah lain ditentukan oleh Hoofden van Gewestelijk Bestuur in de 
Buitengewesten (penguasa daerah). Di antaranya, Karesidenan Bali dan Lombok 
menggunakan Waktu Bali, 22 menit maju dari waktu Jawa Tengah. 

Perubahan besar tejadi 11 November 1932, berdasarkan Bij Gouvernment Besluit 
van 27 Juli 1932 No 26 Staatsblad No 412. Hindia Belanda dibagi menjadi enam 
zona waktu dengan selisih 30 menit.

Waktu mintakad berubah total selama pendudukan Jepang. Demi efektivitas operasi 
militer, waktu Indonesia ditentukan mengikuti waktu Tokyo (GMT+9). Setelah 
merdeka, pada 1950 zona waktu Indonesia dibagi enam wilayah. Masing-masing 
berbeda tiga puluh menit. 

Tiga belas tahun kemudian keluarlah Keputusan Presiden RI Nomor 243 Tahun 1963 
yang membagi Indonesia tiga zona waktu. Pada era Orde Baru, Presiden Soeharto 
menerbitkan Keppres Nomor 41 Tahun 1987, yang membagi zona waktu Indonesia 
menjadi tiga dengan perbedaan masing-masing satu jam. 

Ide penyatuan zona waktu Indonesia semakin dimungkinkan setelah pada akhir 
November 2011, 50 ilmuwan dunia yang berkumpul di sebuah kota sebelah barat 
laut London berkesimpulan kecepatan rotasi bumi yang terus berubah-ubah 
mengakibatkan Greenwich Mean Time (GMT) tidak dapat lagi dijadikan patokan 
waktu dunia.

Di sisi lain banyak negara di dunia sejak lama tidak menggunakan GMT patokan 
penentuan zona waktunya.

Karena itu guna membangkitkan kembali rasa persatuan dan nasionalisme, 
penyatuan zona waktu adalah sebuah keharusan. Dengan satu waktu, seluruh rakyat 
dari Sabang sampai Merauke merasakan ikatan yang kokoh, merasakan satu negara, 
satu bangsa, satu bahasa dan satu waktu: waktu Indonesia. 

*Penulis adalah anggota DPD RI asal Kepulauan Riau.

[Non-text portions of this message have been removed]


 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke