http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/03/20/ArticleHtmls/Generasi-Korup-20032012012004.shtml?Mode=0
Generasi Korup
Budi Hatees, PENELITI DI MATAKATA INSTITUT
Anak muda adalah korban, boneka yang merasa dirinya dipercayai oleh atasannya.
Sayang-nya, Wakil Ketua Komisi Pem berantasan Korupsi Busyro Mu-qoddas menyebut
mereka seba-gai hasil regenerasi dan kaderisasi koruptor di lembaga peme-
rintahan dan partai politik.
Salah satu sajak Toto Sudarto Bachtiar yang pantas dibaca ulang akhir-akhir ini
adalah “Pahlawan Tak Dikenal“. Sajak ini bercerita tentang anak muda yang mati
dengan sebuah lubang peluru bundar di dadanya. Ceritanya tentang heroisme anak
muda yang tak takut mati muda untuk merebut kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada zaman pergerakan, di masa hiruk-pikuk setelah Sukarno-Hatta
memproklamasikan kemerdekaan RI, darah anak muda bangsa ini tumpah di tanah.
Tak terhitung jumlahnya, darah mereka rembes dari luka-luka bekas peluru di
tubuhnya, sedangkan di bibir mereka terukir senyuman.“Senyum bekunya ingin
berkata: aku sangat muda,“tulis Toto Sudarto Bachtiar dalam sajaknya yang
terkenal itu.
Kita memang selalu menghadapi perang. Setelah merdeka, bahkan setelah puluhan
tahun merdeka, bangsa ini selalu dalam situasi perang. Sementara sebelumnya
kita berperang melawan kolonialisme, akhir-akhir ini musuh yang kita hadapi
adalah diri kita sendiri--orangorang yang telah sukses belajar banyak dari
kolonialisme sehingga berhasrat besar menghidupkan kolonialisme yang baru.
Kolonialisme baru tidak membutuhkan senjata penghancur seperti artileri dan
peralatan tempur yang canggih. Hanya dibutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang
andal tentang siapa sesungguhnya yang harus dilawan, sehingga bisa dipahami
siapa yang lebih dulu harus dilemahkan.
Dan, kita tahu kemudian, anak muda dengan segenap energi dan emosi mereka yang
senantiasa labil merupakan entitas yang pertama kali harus dilemahkan. Inilah
yang dilakukan para koruptor di negeri ini, yang melancarkan perlawanan sengit
terhadap segala upaya pemerintah dalam menghapus penjajahan oleh tindak pidana
korupsi dalam segala dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan
melemahkan para anak muda. Koruptor merekrut anakanak muda, memberi mereka
harapan yang indah tentang gaya hidup glamor. Kita pun mencatat anak-anak muda
muncul di lingkungan aparat pemerintah, memiliki peran besar, sehingga bisa
mengakses dana negara dengan mudah. Di lingkungan partai politik, anak-anak
muda juga punya tempat khusus, seakan-akan mereka memiliki cukup kemampuan
untuk mengelola sebuah partai sebagaimana seharusnya.
Sesungguhnya keberadaan anak muda di dalam institusi-institusi besar itu lebih
mirip boneka si Gale-gale di Pulau Samosir. Si Gale-gale muncul di hadapan
publik seakan-akan lantaran mampu berdiri sendiri, bergerak sendiri, dan menari
tortor, padahal ada tali yang menggerakkannya.
Anak-anak muda di institusi-institusi besar itu tidak pernah menyadari bahwa
mereka lebih mirip si Galegale. Ia diberi peran besar, tanggung jawab yang luas
untuk menentukan masa depan institusi yang dipimpinnya, tapi kemudian
dilemahkan dengan meruntuhkan citra dirinya sebagai entitas yang menyebabkan
kerusakan institusi. Mereka, anak-anak muda itu, kemudian mendapat cap sebagai
koruptor yang dibiarkan sendiri menghadapi proses peradilan di hadapan para
penegak hukum.
Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Partai Demokrat, sesungguhnya
karakteristik anak muda yang digerakkan oleh tali untuk mengeruk dana-dana
besar guna membiayai kegiatan partai. Tali-tali dipegang oleh para elite partai
yang duduk di lembaga legislatif, yang kemudian mengarahkan sang boneka agar
ikut dalam sejumlah tender proyek yang dibiayai dana Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara.
Bagi publik, sangat mengherankan bagaimana bisa anggota legislatif terlibat
dalam urusan proyek pembangunan Wisma Atlet SEA Games. Tapi bukan hal yang
mengherankan jika kita memahami bagaimana pertarungan para elite partai politik
untuk bisa mengelola anggaran negara. Semuanya berkaitan, juga dengan kedudukan
para menteri di lingkungan jajaran birokrat. Jika menteri berasal dari elite
partai, sudah galib bahwa seluruh proyek APBN di lingkungan kementerian itu
pasti menjadi hak elite partai si menteri.
Tentu situasi ini memperburuk iklim di lingkungan birokrasi pemerintah. Ketika
menteri melanggengkan korupsi dengan membangun jaringannya, para pejabat
birokrat akan mengambil kesempatan ikut larut dalam situasi buruk itu. Tentu
para pejabat memiliki si Galegale lain yang bisa digerak-gerakkan sesuai
keinginan mereka, seperti halnya yang terjadi di lingkungan Direktorat Jenderal
Pajak.
Anak muda adalah korban, boneka yang merasa dirinya dipercayai oleh atasannya.
Sayangnya, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Busyro Muqoddas me nyebut
mereka sebagai hasil regenerasi dan kaderisasi koruptor di lembaga pemerintahan
dan partai politik. Publik pun sesungguhnya memiliki penilaian yang sama. Bagi
publik, terlibatnya sejumlah anak muda sebagai pelaku tindak pidana korupsi
menunjukkan korupsi telah beranak-pinak.
Tapi pendapat seperti ini pada akhirnya hanya akan mengandung risiko yang tak
remeh terhadap masa depan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita tak bisa
menyalahkan anak muda, karena sesungguhnya keterlibatan mereka lebih disebabkan
oleh citra mereka yang selama ini paling bersih dari perkara korupsi.
Sejak persoalan korupsi merebak di negeri ini, sebagian besar yang menjadi
terpidana kasus korupsi berasal dari generasi tua. Anak-anak muda justru
menjadi sosok yang paling bersemangat mengkritik keterlibatan para generasi tua
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat anak-anak muda untuk
memprotes sosok tua yang tetap ingin tampil, seperti kritik yang diberikan
kepada para pensiunan TNI yang ingin menjadi pemimpin, sesungguhnya membawa
pengaruh besar.
Para generasi tua secara perlahan-lahan memberi kesempatan kepada generasi muda
untuk tampil, tapi pengalaman generasi tua memaksa mereka tidak sepenuhnya
memberi peran. Dengan tali-tali di tangan, para generasi tua menggerakkan
anak-anak muda yang diberi kesempatan untuk tampil, lalu mengatur mereka
sebagai alat demi memenuhi hasrat generasi tua untuk tetap berkuasa.
Pada tataran inilah bisa dibilang kedewasaan berpikir dan pengalaman anak-anak
muda masih rendah, sehingga mereka terlalu cepat merasa puas atas apa yang
didapatnya. Anak-anak muda tidak menyadari sesungguhnya mereka hanya alat dan
diperalat. Mereka baru tersentak ketika mulai terjerembap dan ditinggalkan
seperti halnya dialami Muhammad Nazaruddin di tubuh Partai Demokrat.
Sesungguhnya perilaku korup tidak bisa dilekatkan pada suatu generasi tertentu.
Perilaku korup melekat pada diri setiap manusia. Karena itu, terhadap anakanak
muda yang terlibat korupsi, kita hanya bisa prihatin karena persoalan korupsi
belum bisa diatasi di negeri ini sambil mengenang situasi ketika Toto Sudarto
Bachtiar menulis sajaknya yang terkenal itu.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Post message: [email protected]
Subscribe : [email protected]
Unsubscribe : [email protected]
List owner : [email protected]
Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/