Ref: Kalau demikian halnya, tinggal tunggu punah masyarakatnya saja.
http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=37523 JUMAT, 22 Maret 2012 | BBM Naik, Maluku Kian Miskin Jakarta, AE.- Pengamat Ekonomi dari Universitas Hasanudin, Syarkawi Rauf mengatakan, daerah yang paling menanggung beban kenaikan bahan bakar minyak (BBM) adalah Provinsi Maluku. Selain itu, Papua dan Papua Barat. Alasannya, penduduk wilayah tersebut termiskin di Indonesia. Demikian disampaikan Syarkawi Rauf, saat Diskusi Ekonomi Fajar Media Center (FMC) yang digelar di Graha Lembang Sembilan Jakarta, kemarin. Selain Syarkawi, turut hadir Komisaris PT Media Fajar yang juga Wakil Ketua Kadin dan Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, Mustafa Kufung (Koordinator FMC), serta Nur Hayat (Kepala Perwakilan FAJAR Jakarta). “Maluku adalah wilayah yang paling menanggung kenaikan BBM. Papua dan Papua barat juga demikian. Tapi tentu yang paling merasakan adalah Maluku, selain karena merupakan wilayah kepulauan yang memerlukan biaya tinggi, tentu kondisi daerahnya berbeda dengan Papua dan Pupua Barat yang merupakan wilayah tambang,” tandas Syarkawi. Dia menjelaskan, meskipun saat ini Maluku memiliki ladang minyak abadi, yakni Blok Masela, namun bukan berarti minyak di wilayah tersebut akan murah. Karena regulasi mengatur perminyakan di Indonesia tidak memungkinkan itu. Misalkan soal Migas regulasinya yang mengendalikan adalah pemerintah pusat, mulai dari proses penelitian ladang minyak tersebut. Sampai pada tender, dan eksplorasi. Sama halnya dengan Indonesia secara umum, meski negara ini termasuk penghasil minyak, namun minyak tidak akan murah di Indonesia. Banyak alasannya yang melatari hal tersebut. Karena itu, kata dia, pemerintah tidak boleh lagi menggantungkan sumber energi Indonesia pada BBM. Pemerintah harus mencari sumber energi alternatif. Syarkawi menjelaskan, ladang-ladang minyak Indonesia sangat terbatas. Namun tingkat produksi minyak Indonesia saat ini sebut Syarkawi, masih sama pada 1978 lalu, sekitar 1,2 juta barel. Pada 1978 kata Syarkawi, penduduk Indonesia masih 130 juta kepala. "Sekarang dengan produksi yang sama dan penduduk yang bertambah, membuat status kita beralih dari pengekspor minyak menjadi pengimpor minyak, " jelasnya. Karena itu, Indonesia tidak boleh terlalu bergantung kepada BBM. Negeri ini sebut dia, sangat kaya dengan sumber energi alternatif selain BBM. Hanya saja, peneliti terkadang kesulitan melakukan penelitian pengembangan energi alternatif. Persoalannya, dana penelitian yang dialokasikan pemerintah ke lembaga penelitian, masih sangat kecil. Anggaran penelitian sebut Syarkawi, hanya sekitar 0,5 persen dari GDP. Jadinya mengimpor lagi teknologi dari luar yang sudah jadi. Padahal, Indonesia memiliki sumber energi alternatif seperti, matahari untuk solar cell, juga kaya akan tumbuhan yang bisa jadi biofuel. "Tapi lagi-lagi kita harus terbentur pada persoalan anggaran," jelasnya. Langkah lainnya sebut Syarkawi adalah mengendalikan demand BBM. Pengendalian demand sebut dia, dilakukan dengan menggalakkan transportasi massal. Tapi ini juga harus bekerja keras, sebab catatan masyarakat transportasi, penggunaan transportasi massal seperti kereta api di dunia, yang paling rendah adalah Indonesia. "Harus ada transportasi publik yang nyaman di kota-kota besar. Ini untuk mengalihkan masyarakat, dari transportasi pribadi ke transportasi publik," pungkas Chief Economist BNI Wilayah Makassar itu. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
