Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree


I'm comin' home, I've done my time
Now I've got to know what is and isn't mine
If you received my letter telling you I'd soon be free
Then you'll know just what to do
If you still want me
If you still want me

Whoa, tie a yellow ribbon 'round the ole oak tree
It's been three long years
Do ya still want me (still want me)
If I don't see a ribbon 'round the ole oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon 'round the ole oak tree

Bus driver, please look for me
'cause I couldn't bear to see what I might see
I'm really still in prison
And my love, she holds the key
A simple yellow ribbon's what I need to set me free
I wrote and told her please

Whoa, tie a yellow ribbon 'round the ole oak tree
It's been three long years
Do ya still want me (still want me)
If I don't see a ribbon 'round the ole oak tree
I'll stay on the bus
Forget about us
Put the blame on me
If I don't see a yellow ribbon 'round the ole oak tree

[Instrumental Interlude]

Now the whole damned bus is cheerin'
And I can't believe I see
A hundred yellow ribbons 'round the ole oak tree

I'm comin' home, mmm, mmm

(Tie a ribbon 'round the ole oak tree)
(Tie a ribbon 'round the ole oak tree)
(Tie a ribbon 'round the ole oak tree)

(Tie a ribbon 'round the ole oak tree)
(Tie a ribbon 'round the ole oak tree)
(Tie a ribbon 'round the ole oak tree)

⁠
Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang 
pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. 

Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak 
pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan
ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu
memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia 
mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bus menuju ke utara, ke kota 
besar, ke kehidupan yang baru. Bersama beberapa temannya dia memulai bisnis
baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. 
Sex, gambling, drug. 
Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. 
Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan 
menggunakannya untuk menipu uang orang.

Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam 
penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara. Menjelang akhir masa 
penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu 
keluarganya.

Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan 
betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia 
berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin 
sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri
suratnya dengan menulis, 

"Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun
jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih
mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada 
satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. 
Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. 
Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bus, dan akan terus 
menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan 
anak-anak seumur hidupku."

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat 
balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima
suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya?
Dia naik bus menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White
Oak.

Dia sangat sangat gugup. Seisi bus mendengar ceritanya, dan mereka meminta 
kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan. Kita
mesti lihat apa yang akan terjadi."

Hatinya berdebar-debar saat bus mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak 
berani mengangkat kepalanya.

Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata 
menetes di matanya. 
Dia tidak melihat sehelai pita kuning... 
tidak ada sehelai pita kuning.
tidak ada sehelai...
Melainkan seratus helai
pita-pita kuning, bergantungan di pohon beringin itu. Seluruh pohon itu 
dipenuhi pita kuning!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika.

Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini.

Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon 
Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 
1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973. Sebuah lagu
yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa 
yang ditorehkan lagu tersebut.

Isteri, pacar dan sobat yang baik, apakah Anda juga bisa memaafkan orang-orang 
yang telah berbuat salah kepada Anda? 
Isteri si pemabuk itu
telah memberikan begitu besar kesetiaannya dan mau memaafkan suaminya.

Sumber: Tidak Diketahui

Ch@​​™
pin: 21EF6D92 



Powered by Telkomsel BlackBerry®

------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke