http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/04/08/ArticleHtmls/DIDEPAK-DARI-KOALISI-PKS-Mainkan-Politik-Tumbal-08042012001020.shtml?Mode=0


DIDEPAK DARI KOALISI PKS Mainkan `Politik Tumbal'
JAKARTA
    
    
Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Ari Dwipayana, mengatakan Partai 
Keadilan Sejahtera (PKS) sedang menunggu keputusan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono untuk menentukan nasibnya dalam koalisi partai pemerintah. Menurut 
dia, PKS kini berusaha mendapatkan simpati khalayak jika ternyata didepak 
keluar dari Sekretariat Gabungan. “PKS berhitung untuk dapat perhatian publik,“ 
kata Ari di Jakarta kemarin.

Posisi PKS di Sekretariat Gabungan (Setgab) goyah seusai Rapat Paripurna Dewan 
Perwakilan Rakyat untuk menentukan kenaikan harga bahan bakar minyak pada 
Sabtu-Ahad pekan lalu. Sikap PKS berbeda dengan Partai Demokrat, Golkar, Partai 
Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan Pembangunan, 
yang tergabung dalam koalisi. Koalisi mendukung kebijakan pemerintah yang 
hendak menaikkan harga BBM. Selasa malam lalu, Setgab sepakat mendepak PKS.

Ari mengatakan kecil kemungkinan PKS bersikap tegas mundur. Pilihan yang paling 
baik diambil PKS, kata dia, adalah menyerahkan kepada Yudhoyono. Sumber di 
kalangan Istana menyatakan, PKS tidak ingin mundur sukarela. Maunya, kata dia, 
PKS ditendang. Jika didepak, citra PKS naik. Sebab, PKS punya alasan untuk 
menyatakan rela berkorban, menjadi tumbal, dikeluarkan dari koalisi demi 
membela rakyat untuk menolak kenaikan harga BBM.
“PKS ingin dapat poin dengan jadi tumbal,“ kata sumber itu.

Senada dengan itu, Direktur Riset Charta Politika Yunarto Wijaya menyatakan 
ragu PKS akan mengambil sikap. Yunarto mengatakan saat ini PKS tengah memainkan 
politik “wait and see“ dengan melempar bola nasibnya kepada Presiden. “Ini 
cerdiknya PKS,“ kata Yunarto.

Ia mengatakan PKS akan lebih untung jika menunggu keputusan Yudhoyono ketimbang 
menentukan sikap sendiri.
Dengan strategi seperti itu, PKS tak perlu mempertaruhkan citranya di depan 
Yudhoyono.Yunarto mengatakan, jika Yudhoyono mengeluarkan PKS dari koalisi, 
belum tentu itu akan menguatkan citra Yudhoyono. “Bolanya ada di Presiden,“ 
katanya.

Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Achmad Mubarok, belum bisa memastikan 
apa keputusan Yudhoyono terhadap PKS. “Beliau kan politiknya santun. Mari 
tunggu saja,“ kata dia. Menurut Mubarok, pekan depan Demokrat akan mengadakan 
pertemuan khusus untuk membahas koalisi, khususnya PKS. Rencananya, pertemuan 
tersebut dihadiri Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Menanggapi hal ini, Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq menyatakan akan 
membicarakannya dengan Sekretariat Gabungan.
Menurut dia, Setgab tak bisa mendepak PKS begitu saja.
“Akan ada pembicaraan bersama dengan Setgab. Kesepakatan tidak bisa dibatalkan 
sepihak,“ kata Luthfi. Menurut dia, PKS punya kontrak khusus dengan Presiden. 
Namun ia menolak menjabarkan isi kontrak khusus tersebut.“Itu tidak harus 
dibuka ke publik. Itu antara yang bersepakat saja,“ kata Luthfi.

ANGGA SUKMA WIJAYA | ANANDA BADUDU | FRANSISCO ROSARIANS | SUNUDYANTORO Mantan 
Presiden Partai Keadilan Sejahtera Tifatul Sembiring angkat bicara soal desakan 
agar partainya dikeluarkan dari Sekretariat Gabungan partai pendukung 
pemerintah. Menurut dia, PKS sudah berkeringat sejak awal untuk mendukung 
Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden. “Beda dengan yang lain. Kami sudah 
berkeringat dari awal. Kami menggerakkan seluruh mesin PKS,” kata Tifatul 
seusai acara peluncuran biografinya berjudul Sepanjang Jalan Dakwah di Galeri 
Indosat, Jakarta, kemarin.

Ia menegaskan, PKS hanya punya kontrak dengan Demokrat dan Presiden Yudhoyono, 
bukan dengan partai anggota koalisi lain. “Tidak ada kontrak dengan Partai 
Persatuan Pembangunan. Golkar baru datang setelah pemilihan presiden se
lesai. Jangan samakan. Partai Golkar dikasih hadiah,”katanya.

Menurut Tifatul, sejak awal PKS sudah tegas tetap ingin berada di koalisi 
hingga 2014. Namun, jika dalam perjalanan ada beda pendapat, Tifatul 
menganggapnya wajar. “Sebenarnya saya lihat kedua-duanya tidak jadi menaikkan 
harga BBM (bahan bakar minyak) pada 1 April lalu. Kami juga berharap tidak naik 
karena harga minyak dunia sudah mulai turun,”katanya.

Soal pergeseran posisi di kabinet setelah PKS dikucilkan dari Sekretariat 
Gabungan (Setgab), Tifatul menyatakan menyerahkan sepenuhnya kepada 
Presiden.“Itu hak prerogatif Presiden. Kami di PKS menyerahkan kepada 
Presiden,”katanya.

Politikus Partai Golkar, Azis Syamsuddin, enggan mengomentari pernyataan 
Tifatul. “Saya no comment. Kami lihat perkembangannya,”kata Azis . Tapi suara 
keras datang dari Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Happy Bone Zulkar
naen. Ia menyatakan koalisi pemerintah di parlemen masih kuat jika PKS keluar 
dari koalisi.

Ia mengatakan, jika PKS beroposisi, partai koalisi memiliki 366 suara dan 
oposisi punya 194 suara. Menurut dia, pada saat ini komposisi suara di parlemen 
adalah 423 suara koalisi dan 127 suara oposisi. Kekuatan koalisi tidak akan 
berubah bila PKS, yang memiliki 67 suara, keluar dan menjadi oposisi. “Ini 
saatnya Presiden menunjukkan diri sebagai pemimpin,“ kata Happy dalam diskusi 
di Cikini, Jakarta, kemarin.

Reaksi keras datang dari Ketua Partai Demokrat Ruhut Sitompul. Ia mengatakan 
nasib PKS di Setgab sudah tamat. Partai koalisi sudah sepakat mendepak PKS. 
Menurut Ruhut, sikap PKS yang setengah hati berkoalisi dengan pemerintah sudah 
mencapai puncaknya. “Sudah sejak deklarasi SBY-Boediono, PKS itu seperti 
itu,“kata Ruhut.

ANGGA SUKMA WIJAYA | FRANSISCO ROSARIANS | PRIHANDOKO | ANANDA BADUDU | 
SUNUDYANTORO

    
TOP
    
Powered by Pressmart Media Ltd
    
    

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke