http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/aceh-di-gerbang-pilihan-krusial


Aceh di Gerbang Pilihan Krusial
Diterbitkan : 7 April 2012 - 8:37pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Pilkada Aceh 
2012)

Diarsip dalam:
Aceh
Pilkada

Senin 9 April, Aceh akan memilih gubernur dan wakil gubernur serta 17 Walikota 
dan Bupati. Ada lima pintu gerbang menuju masa depan Aceh. Namun hanya tiga 
yang terungkap secara menarik.
Di bawah Cagub, Abi Lampisan, Aceh bermusyarawarah untuk menjalankan Shari'ah. 
Sedangkan mantan Gubernur Irwandi Yusuf, berjanji meneruskan program-program 
lamanya. Pasangan Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf, menawarkan pelaksanaan 
sepenuhnya MoU Helsinki, kemandirian dan kesejahteraan. 
Mampukah para calon menjaga demokrasi yang damai dan tertib untuk mengawal cita 
cita kesejahteraan itu?
Qanun jinayah
Yang paling jenaka tak pelak lagi adalah Mohammad Tajuddin alias Abi Lampisan. 
Satu-satunya pria berjubah putih di Aceh ini tak tanggung tanggung mengumbar 
impiannya. Dia berjanji akan ikut mencambuk para PNS bila bersalah, bahkan 
berterus terang setuju dengan qanun jinayah alias potong tangan bagi pencuri.
Di bawah kepemimpinannya, Aceh, katanya, akan kembali ke kejayaan Iskandar 
Muda. Selebihnya, cukup dengan musyawarah saja, maka segala masalah Aceh akan 
selesai. Dalam debat tv semalam, janji-janji Abi ini disambut dengan gelak 
tawa. Dia tak dianggap serius dan akan segera masuk kotak.
Debat normatif
Kelima pasangan dalam debat TV itu beretorika normatif. Hanya Cagub, mantan 
Wagub Muhammad Nazar tampil tangkas dengan cerita kongkrit. Debat itu hanya 
menjadi panggung senyum belaka. Pada akhirnya, momentum kepentingan mapan dan 
kemampuan memikat elektorat di desa-desa-lah yang akan menjadi penentu 
ketimbang program-program mereka.
Sebuah survey yang ditarik dari masa pra kampanye segera dilampaui oleh 
kenyataan yang berkembang di masa kampanye. Menurut hasil survey ORI, dua 
pasangan paling menonjol adalah kelompok independen bernomor 2, pasangan 
Irwandi-Muhyan, dan pasangan nomor 5, Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf yang 
disingkat 'Zikir' alias doa berrsama memuji Allah.
Serba gratis
Irwandi diduga akan meraih sekitar 22 persen, dan Zikir 46%. Tetapi dua 
kampanye besar terakhir, yaitu Irwandi di Banda Aceh dan Partai Aceh di 
Beureunuen, Pidie, menunjukkan wajah Aceh yang lebih nyata ketimbang panggung 
senyum di tv mau pun survey tadi.
Irwandi memaparkan akan melanjutkan program kesehatan gratis JKA, menjanjikan 
sekolah gratis hingga SMU, listrik gratis hingga 2 amper, dan memperbaiki 
infrastruktur. Apakah pendidikan cuma-cuma sejauh itu dimungkinkan, pemerintah 
pusat sendiri meragukannya. Kalangan kritik menunjuk pengobatan gratis itu 
menjadi riskan, bahkan berbahaya, jika tidak dikawal pelayanan profesional.

MoU Helsinki

Sebaliknya, Partai Aceh (PA) tampil dengan janji akan menyempurnakan 
pelaksaanaan MoU Helsinki dan UUPA (Undang Undang Pemerintahan Aceh), 
memandirikan ekonomi Aceh, serta meningkatkan kesejahteraan.
Memang pertumbuhan Aceh di bawah Gubernur Irwandi masih di bawah angka nasional 
(5% di bawah 6,5%) dan angka kemiskinannya pun lebih tinggi (20% di banding 
17%). Namun Partai Aceh harus menghadapi tuduhan-tuduhan gencar, yang juga 
dinyatakan secara terbuka oleh Irwandi, mengenai peran PA dibalik teror dan 
kekerasan.
Cagub PA Zaini Abdullah hanya mengembalikan masalahnya kepada Kapolda yang 
sejauh ini tidak pernah memberi konfirmasi tentang tuduhan tuduhan tersebut.

Politikus tangkas

Kampanye kelompok independen Irwandi dan PA-nya Zaini menunjukkan trend politik 
populis dan trend politik kesejahteraan. Muzakkir Manaf, alias Mualem (artinya 
pakar kemiliteran), sang mantan panglima tentaranya GAM, telah berkembang 
menjadi politikus yang tangkas berbahasa awam, memancing selera populer dan 
mampu membuat rakyat terkesima.
Dengan Zaini yang didukung kalangan elit dan cendekia Banda Aceh, pasangan 
Zikir terbukti mampu membuat Aceh menjadi merah. Semerah warna partai maupun 
bendera GAM.
Simbolisme ini penting karena PA mencoba menarik dukungan rakyat Aceh yang 70% 
hidup di pedesaan. Dan dengan janji janji perdamaian di dalam kerangka NKRI, PA 
mencoba meyakinkan rakyat akan masa depan yang damai dan sejahtera. Tapi soal 
kesejahteraan, PA belum bisa menunjukkan bukti. Dalam hal ini, ada dugaan 
kelompok Irwandi lebih cepat mengembangkan kaitan dan keuntungan dengan 
kelompok-kelompok bisnis kuat di Jakarta.

Tionghoa Aceh

Namun, yang menarik pula, pertama kali masyarakat Tionghoa-Aceh yang mewakili 
baik kaum bisnis mau pun ulama Konghucu, memberi dukungan terbuka kepada PA 
yang merupakan isyarat harapan dan kredibilitas bagi PA.
Sebaliknya Irwandi harus menghadapi kritik yang berkembang seputar korupsi dan 
salah urus lingkungan hidup. Soal populisme, kelompok Irwandi pun tampil dengan 
gaya Sofyan Dawood, mantan kombatan yang mampu memikat rakyat seperti Muzakkir 
Manaf. Tapi apakah popularitasnya sebesar Mualem, menurut kalangan pengamat, 
ini amat diragukan.
Walhasil, masa depan Aceh boleh jadi akan diwarnai oleh PA-nya Zaini dan 
kelompok Irwandi. PA yang berbicara tentang perdamaian yang langgeng sesuai MoU 
Helsinki sebenarnya mencoba menanggapi akar rumput yang belum sama sekali bebas 
dari trauma masa konflik. Dengan modal inilah diduga PA dapat meraih 
kemenangan. Hanya PA yang mengedepankan perdamaian berdasarkan MoU Helsinki dan 
menanggapi nasib para janda dan anak dari para syuhada.

Jakarta

Tetapi untuk itu PA harus sekaligus meyakinkan Jakarta akan keteguhannya untuk 
tetap di dalam NKRI. Di sini PA harus membayar dengan merekrut empat jenderal, 
seorang diantaranya mantan Pangdam Mayjen Soenarko yang merupakan jenderal 
paling keras pasca-Helsinki terhadap pendukung GAM. Sekaligus PA ingin menggaet 
dukungan elektorat Aceh Tengah, Gayo dan Bener Meriah, tempat tempat Soenarko 
(yang beristrikan seorang perempuan Gayo) dulu menggalang milisi.
Tak heran, ini menjadi bahan ejekan terang-terangan oleh Sofyan Dawood dari 
kelompok Irwandi. Sebaliknya, para jenderal, terutama Soenarko yang diduga 
bekerja untuk Gerindra, ingin menarik keuntungan demi peluang partai-partai 
mereka pada Pemilu dan Pilpres 2014.
Jika Jakarta berharap keuntungan politik dari hasil Pemilukada Aceh ini, maka 
parnas (partai-partai nasional) tak boleh plin-plan dengan berkaki dua (Golkar 
dan PKS semuanya punya dua kaki, satu di PA, satu lagi di Irwandi), tapi harus 
berkonsolidasi. Hanya dengan cara itu, parnas dapat mendampingi PA dan pemenang 
Pemilukada lainnya, untuk ikut mengatur Aceh.
Aceh sendiri, dengan parlok dan independen, harus mampu melampaui masa awal 
demokrasi yang kekanak-kanakan dengan permainan provokasi, intimidasi dan 
kekerasan itu, untuk menuju demokrasi yang tertib.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke