Refl: Dalam preamble UUD NKRI dikatakan bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa. Jadi kalau NKRI telah mengakui kemerdekaan Bosnia, Slovenia, Kroat dan Kosovo yang lepas dari Yugoslavia, maka patut juga diakui kemerdekaan Sudan Selatan dan Tuareq.
http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/04/07/ArticleHtmls/TUAREG-DEKLARASIKAN-KEMERDEKAAN-MALI-UTARA-07042012016002.shtml?Mode=0 TUAREG DEKLARASIKAN KEMERDEKAAN MALI UTARA BAMAKO Meminta dunia mengakui negara Azawad. Pemberontak Tuareg kemarin memproklamasikan kemerdekaan kawasan Mali utara menjadi negara Azawad. “Komite Eksekutif Gerakan Nasional Pembebasan Azawad (MNLA) menyeru dunia internasional agar segera mengakui negara Azawad,“ kata Sekretaris Jenderal kelompok MNLA Tuareg, Billal Ag Acherif, dalam situs resminya. Pernyataan ini muncul setelah Tuareg berhasil menguasai tiga kota penting di Azawad, yakni Kidal, Gao, dan Timbuktu, pekan lalu. Dalam pernyataan kemerdekaannya, kelompok itu berjanji akan mendirikan negara demokrasi berdasarkan Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Negara baru itu juga tetap mengakui perbatasan dengan negara tetangga yang telah ada sebelumnya. “Kami akan menerima peran dan tanggung jawab untuk mengamankan kawasan ini,“ujar Ag Acherif. Seiring dengan deklarasi kemerdekaan, para pemberontak pun mengumumkan gencatan senjata untuk mengakhiri konflik dengan tentara Mali. Namun deklarasi ini mendapat tanggapan dingin. Bekas penjajah Mali, Prancis, menolak pernyataan kemerdekaan tersebut. “Deklarasi sepihak yang tidak didukung negara-negara Afrika lain tak memiliki arti bagi kami,“ ujar Menteri Pertahanan Prancis Gerard Longuet. Terbaginya Mali menjadi dua wilayah ini merupakan titik terendah sejak kemerdekaan negara di Afrika Barat tersebut dari penjajahan Prancis pada 1960. Selama hampir lima dekade, pemerintah yang berpusat di kawasan selatan itu terlibat konflik dengan suku Tuareg di daerah Gurun Sahara, yang terletak di utara. Diskriminasi terhadap suku nomaden tersebut memicu konflik berkepanjangan. Masalah semakin pelik ketika sejumlah anggota tentara level menengah Mali mengkudeta Presiden Amadou Toumani Toure pada 21 Maret lalu.Toure dianggap tidak becus mengatasi pemberontakan Tuareg yang semakin panas sejak mereka terlepas dari konflik internal Libya pada Januari lalu. Kekuatan Tuareg pun semakin meningkat berkat dukungan Al-Qaidah dan kelompok militan Islam lainnya. Akibat kudeta ini, kondisi Mali semakin lemah karena dunia inter nasional menolak kepemimpinan baru di negara tersebut. Berbagai negara donor menghentikan bantuan keuangan. Dalam situasi anarkistis inilah Tuareg berhasil menancapkan kekuasaannya di kawasan utara Mali. Negara-negara tetangga Mali yang terkena imbas kekacauan politik itu pun menerapkan sanksi ekonomi dan diplomatik untuk menumbangkan junta militer Kapten Amadou Sanogo. “Kami berusaha agar situasi di Mali kembali normal,“ucap Menteri Luar Negeri Burkina Faso Djibril Bassole. Adapun Perhimpunan Militer Negara Afrika Barat (ECOWAS) akan mengirim 3.000 anggota pasukannya ke Mali untuk memulih kan situasi. “Ada keinginan kuat dari seluruh negara ECOWAS untuk mengatasi krisis di Mali,“tutur Panglima Militer Pantai Gading Soumaila Bakayoko, meski belum ada tanggal pasti. Suasana panas pun semakin memuncak setelah pemberontak bersenjata menculik tujuh diplomat Aljazair dari kantor konsulat mereka di Kota Gao, Mali bagian utara, Kamis lalu. Menteri Luar Negeri Aljazair menegaskan, hingga kini pihaknya terus mencari keberadaan mereka. Menurut para saksi mata kepada AFP, kelompok bersenjata tersebut menaikkan bendera hitam Salafi sebagai tanda kekuasaan di wilayah tersebut. REUTERS | AL JAZEERA | BBC | AP | SITA PLANASARI A TOP Powered by Pressmart Media Ltd [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
