http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/04/15/ArticleHtmls/Cari-Angin-Presiden-2014-15042012003009.shtml?Mode=1


Cari Angin Presiden 2014
Toriq Hadad, WARTAWAN TEMPO
    

    
USAHA saya menghindar dari Dul Simo, seorang kawan lama, akhirnya gagal. Dia 
memergoki saya di tempat tukang pangkas rambut langganan saya. Bukan apa-apa. 
Dia sedang gandrung bicara topik yang justru paling tak ingin saya bahas 
sekarang ini: calon presiden 2014.

Benar saja. Dia langsung bicara soal itu.“Jadi, kita pilih presiden yang tua 
atau muda, Mas?” Saya jawab asal-asalan,“Pilih Barack Obama.” Dulu Dul Simo 
menganggap Presiden Amerika yang masuk Gedung Putih pada usia 47 tahun itu 
terlalu muda. Dia pendukung berat Gus Dur, yang menjadi presiden pada usia 59 
tahun. Saya berharap dia kesal, terus pergi, dan saya aman menikmati pijatan 
tukang pangkas rambut.

Ternyata Dul tak mendebat.“Kita cocok, Mas. Saya sudah punya daftar calon 
presiden,”ujarnya, menyodorkan secarik kertas. Ada 25 nama di sana. Melihat 
nama sejumlah tokoh gaek, saya terpancing berkomentar.“Lo, kok orang-orang tua 
juga kamu daftar. Mestinya mereka masuk museum, Dul.” Dul menarik kursi lebih 
dekat.“Mas, sampean pilih Barack Obama. Itu cocok dengan saya, namanya 
berakhiran ‘a’. Coba lihat daftar saya. Tak satu pun calon yang namanya 
berakhir dengan ‘o’. Lupakan Sukarno, Soeharto, Megawati Soekarno,Yudhoyono. 
Mendatang ini bukan lagi era ‘o’. Kedengaran kuno. Terasa bagian dari masa 
lalu. Jadi, setiap calon yang namanya ‘o’ langsung saya coret.” Ini “teori”baru 
buat saya.“Wah, ini namanya diskriminasi, Dul.

Orang-orang itu tak memilih namanya sendiri. Orang tuanya yang memilihkan. 
Pantas saja dalam daftarmu tak ada nama Djoko Suyanto atau Prabowo Subianto. 
Masak, mereka harus ganti nama dulu supaya bisa dicalonkan?” Dul terus 
bicara.“Setelah nama ‘o’ saya sisihkan, saya hapus calon yang berprofesi sama 
dengan presiden-presiden sebelum ini.

Tak ada lagi politisi, militer, ilmuwan, dan tokoh agama.” Saya cepat 
menyela,“Jadi, kamu sisihkan profesinya favorit kamu, Gus Dur?” “Oh, kalau Gus 
Dur itu pemikir, Mas. Saya tak sisihkan pemikir dari daftar, tapi bolehlah 
profesinya sebagai tokoh agama saya coret,”jawab Dul. Dia masih terus 
berkata-kata.“Kemudian saya hapus juga nama-nama yang pernah dikait-kaitkan 
dengan korupsi.

Punya potensi menggunakan kekuasaan untuk bisnis pribadi. Tidak taat bayar 
pajak. Punya riwayat merusak alam. Tak meletakkan kepentingan Republik di atas 
segalanya.” Mata saya terpejam, karena guntingan rambut berguguran dari kepala. 
Begitu melek, Dul Simo sudah menyodorkan satu daftar lagi berisi kurang dari 
sepuluh nama.“Ini daftar yang lolos seleksi kedua saya, Mas,”ia menjelaskan. 
Dia memasukkan nama pengusaha, dosen, wartawan, eksekutif lembaga 
internasional, ekonom, kepala daerah.

Melihat saya tak bereaksi melihat daftar calon presidennya, Dul Simo bertanya 
dengan nada agak tinggi.“Jadi, sampean setuju atau bagaimana, nih? Kalau 
setuju, akan saya sosialisasikan ke segala penjuru,”katanya sengit. Saya 
memberinya kode untuk diam. Soalnya, tukang pangkas sedang mengerik sisa-sisa 
rambut di belakang kepala dengan pisau cukur. Salah-salah kerik, tengkuk saya 
bisa tersayat.

“Begini, Dul. Calon presiden saya mesti memenuhi kriteria 6 S,” ujar saya, 
mengakhiri penantian Dul.“Dia harus sevisioner Sukarno, setegas Soeharto, 
sepintar Habibie, sehumanis Gus Dur, sehatihati Yudhoyono, dan bisa selembut 
Megawati. Nah, coba koreksi daftarmu dengan kriteria saya.” Dul kelihatan 
berpikir keras. Saya pun asyik menikmati pijatan tukang pangkas. Menjelang 
keluar dari barbershop itu, dia menyodorkan selembar kertas.“Ini daftar terbaru 
presiden kita, Mas.”Saya bolak-balik kertas itu: isinya kosong. ●

    
TOP
    
Powered by Pressmart Media Ltd
    
    

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke