SBY itu kan sama spt lu, sama2 bajingan tukang ngibul. From: ajeg <[email protected]> >To: [email protected] >Sent: Sunday, April 29, 2012 5:25 AM >Subject: [proletar] fwd: SBY Bersedia Minta Maaf > > > > >Janji adalah kata-kata yang wajib diperjuangkan. Dan, >menurut si Burung Merak, WS Rendra, perjuangan adalah >pelaksanaan kata-kata. Pelaksanaan janji. > >Si BeYe jelas cuma pengumbar impian. Tidak ada yang >dia perjuangkan ketika berkata akan menjadi presiden >pertama yang menyamar sebagai sopir truk untuk memergoki >pungutan liar di Pantura. Juga, tidak ada tanda-tanda >Si BeYe mau mempertanggungjawabkan harga kebutuhan pokok >yang tetap melonjak kendati rencana menaikkan harga >minyak kini tinggal pepesan kosong. > >Lalu, untuk apa kita menaruh kepercayaan pada orang yang >kebanyakan bicara tapi bingung bekerja itu? > >Boleh saja Si BeYe beralasan bingung karena bisingnya >masukan dari staf-staf khusus presiden yang jumlahnya >belasan mulut itu - belum lagi ditambah tawaran dari >partai-partai koalisi. Yang pasti, selain memboroskan uang >rakyat, lembaga Staf Khusus telah menghidupkan kembali >lembaga Aspri (asisten pribadi) di awal era Soeharto. >Begitu juga dengan Dewan Pertimbangan Presiden, yang hanya >mengganti papan nama dari "Dewan Pertimbangan Agung" (DPA) >yang sudah dihapus dari UUD'45. > >Silakan kalau Si BeYe mau minta maaf atas pelanggaran HAM >masa lalu. Keluar dari mulutnya sendiri pun kata maaf itu >patut diragukan ketulusannya, apalagi ini cuma keluar dari >mulut anggota wantimpres. > >Yang logis saja, bagaimana bisa Si BeYe minta maaf untuk >korban pelanggaran HAM masa lalu sedangkan untuk korban yang >masa kini (TKI, lumpur Bakrie dll) dia tidak berbuat >sebagaimana mestinya. Taruhlah maaf itu cuma dikhususkan >untuk yang masa lalu, sebelum kepresidenannya, tetap saja lucu >kenapa baru diwacanakan sekarang menjelang jabatannya tamat, >dan bukan ketika dia baru menjabat. Selain sangat terlambat, >juga tidak ada jaminan dia berani minta maaf untuk kasus >Kudatuli dan Semanggi. > >Semoga kita tetap sehat lahir-batin untuk bisa percaya >begitu saja kepada orang yang telah dibaptis Forum Lintas >Agama sebagai tukang bohong. > >Katakan "TIDAK" untuk Si BeYe, dan mari kita laksanakan. > >- > >http://www.youtube.com/watch?v=hstgaQRe0-0 > >pak soeharto (mengundurkan diri) >digantikan (bapak beje habibie) >beje habibie (tak terpilih lagi) >digantikan (bapak gus dur) >bapak gus dur (tak terpilih lagi) >digantikan (ibu megawati) >megawati (tak terpilih lagi) >digantikan >kurakura ninja..! > >--- "ASAHAN" <a.alham1938@...> wrote: > >> Maaf adalah sebuah kata >> Dari kata berlahiran segumpal janji >> Segumpal janji adalah sekedar kata >> Saudaraku sependeritaan >> Kita berpisah tak dalam satu perahu >> Karna tahayul dan mimpi yang tak sama >> ASAHAN. >> >> >> ----- Original Message ----- >> From: arif.harsana@... >> >> > http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4f98c115c6c91/sby-bersedia-minta-maaf >> > Kamis, 26 April 2012 >> > >> > SBY Bersedia Minta Maaf >> > >> > "Akan dibentuk juga Komite Khusus untuk menyelesaikan kasus >> > pelanggaran HAM berat. >> > >> > >> > Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Albert Hasibuan mengatakan >> > Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersedia meminta maaf kepada >> > para korban pelanggaran HAM berat. Albert mengaku ditugaskan >> > presiden untuk menyiapkan langkah-langkah terkait penuntasan >> > kasus pelanggaran HAM berat itu. >> > >> > Sebagai tindak lanjut, Albert telah mengadakan pertemuan >> > setidaknya lima kali dengan para korban pelanggaran HAM berat >> > yang diadvokasi oleh Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak >> > Kekerasan (Kontras). Sejumlah peristiwa terkait pelanggaran HAM >> > berat misalnya tragedi pembunuhan massal 1965 - 1966, Tanjung >> > Priok, Talang Sari dan kasus Semanggi. >> > >> > Serangkaian pertemuan dengan para korban dan keluarga korban itu >> > bermaksud untuk mencari masukan terhadap penyelesaian kasus >> > pelanggaran HAM berat. Sejumlah hal yang turut dibahas adalah >> > pemenuhan hak para korban. Albert menyebut beberapa hak para >> > korban itu di antaranya kompensasi, restitusi dan rehabilitasi. >> > >> > Sebagaimana janji Presiden untuk menyelesaikan masalah ini, Albert >> > melanjutkan, Wantimpres akan merancang konsep untuk mengurangi >> > penderitaan para korban. Setelah konsep itu tuntas dibahas maka >> > akan diajukan kepada presiden untuk disetujui. Albert berjanji >> > akan menyelesaikan konsep itu segera. >> > >> > "Rencana permintaan maaf itu sebagai entry point untuk >> > menyelesaikan masalah pelanggaran HAM berat masa lalu itu. >> > Sekaligus mendorong kami membuat konsep," kata Albert kepada >> > wartawan usai bertemu dengan para korban di gedung Wantimpres >> > Jakarta, Rabu (25/4). >> > >> > Walau konsep itu belum selesai dibuat, Albert menggambarkan bahwa >> > nanti akan dibentuk semacam komite khusus yang menangani masalah >> > pelanggaran HAM berat masa lalu. Komite itu akan bekerja sesuai >> > mandat dari Presiden. Kerja-kerja dari komite itu diantaranya >> > menilai apakah pelanggaran HAM dalam kasus tertentu dibawa ke >> > pengadilan HAM ad hoc atau negosiasi, masalah kompensasi dan lain >> > sebagainya. Albert juga optimis presiden akan merespon positif >> > konsep itu. >> > >> > Lebih lanjut Albert menjelaskan bahwa Komite itu nantinya akan >> > terus ada sampai persoalan pelanggaran HAM berat masa lalu dapat >> > diselesaikan secara tuntas. Albert tidak mengetahui secara pasti >> > apakah Komite ini akan dibentuk lewat Keputusan Presiden atau >> > kebijakan Presiden lainnya. Dia berharap agar mandat Presiden >> > akan memberi kewenangan yang cukup bagi komite untuk bergerak. >> > Albert menyebutkan beberapa kewenangan yang ada pada komite >> > misalnya menentukan kompensasi yang diterima para korban, >> > rehabilitasi, restitusi dan lainnya. >> > >> > Pada kesempatan yang sama, Koordinator KontraS, Haris Azhar >> > mengingatkan, sebelumnya Presiden dalam berbagai pertemuan dengan >> > para korban menjanjikan penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat. >> > Sayangnya janji itu belum dipenuhi sampai saat ini. >> > >> > Setidaknya terdapat dua hal yang ditekankan Haris kepada >> > Wantimpres untuk mendesak Presiden membuat kebijakan atas >> > penyelesaian kasus ini. Pertama, mendesak Wantimpres supaya >> > membantu Presiden merumuskan suatu kebijakan bagaimana memastikan >> > lembaga hukum dan politik bekerja. Kedua memperhatikan >> > situasi-situasi yang khas dalam setiap kasus pelanggaran HAM >> > berat. Misalnya peristiwa 1965 - 66 memiliki kekhasan tersendiri, >> > begitu pula dengan kasus lain. >> > >> > Selain itu Haris juga menekankan kepada Wantimpres agar Presiden >> > bisa merespon beberapa situasi penting. Misalnya para korban yang >> > dimiskinkan secara politik, kesehatan, hak sebagai warga negara >> > dan lain-lain. Oleh karenanya pemerintah harus segera memberi >> > bantuan-bantuan tanpa mengurangi proses penyelesaian kasus >> > pelanggaran HAM berat dari sisi hukum dan politik. Bagi Haris >> > langkah yang cukup strategis jika Presiden membuat suatu >> > kebijakan untuk memastikan bahwa para korban berhak mendapat >> > kebenaran, keadilan dan perbaikan kondisi. >> > >> > "Ini semacam patokan dari korban. Jadi kalau Presiden mau minta >> > maaf, silahkan. Tapi itu bukan yang utama. Setelah minta maaf ada >> > agenda besar yang harus dituntaskan," tegas Haris kepada wartawan >> > usai mendampingi 25 orang perwakilan korban dari berbagai kasus >> > pelanggaran HAM berat di gedung Wantimpres Jakarta, Senin (25/4). >> > >> > Pada kesempatan itu para korban dan keluarganya berharap kepada >> > Wantimpres untuk segera membuat rumusan kebijakan untuk Presiden >> > dalam penyelesaian kasus ini. Salah satunya diutarakan perwakilan >> > dari korban tragedi 1965 - 1966, Bedjo Untung. Dia mengatakan >> > para korban dan keluarganya sangat menderita selama puluhan >> > tahun. Oleh karena itu dia berharap agar Presiden dapat >> > menerbitkan kebijakan penuntasan kasus pelanggaran HAM berat ini >> > dengan cepat. Mereka juga berharap agar Presiden bukan sekedar >> > meminta maaf, tapi juga langkah konkrit selanjutnya. >> > >> > *** >> >> >> [Non-text portions of this message have been removed] > > > > >
[Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Post message: [email protected] Subscribe : [email protected] Unsubscribe : [email protected] List owner : [email protected] Homepage : http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
